Minggu, 18 Januari 2009

Re: Bls: [bali-bali] Open Letter from Mahathir to Barack Obama

Ben, jangan terpaku kepada pengertian ritual yang selama ini kita lakukan. Bagi saya kegiatan setiap hari yang saya lakukan merupakan sebuah ritual. Dan ritual adalah merupakan bagian dari sebuah belief sistem dan belief sistem itu adalah hasil dari rekayasa manusia yang tentunya tidak akan bisa berlaku sepanjang jaman.
 
Salam,
P.Kesuma
 
 
--- On Mon, 12/1/09, ngurah beni setiawan <setiawan_beni@yahoo.com> wrote:
From: ngurah beni setiawan <setiawan_beni@yahoo.com>
Subject: Bls: [bali-bali] Open Letter from Mahathir to Barack Obama
To: bali-bali@yahoogroups.com
Date: Monday, 12 January, 2009, 3:12 PM

Pak Putu.
 
Maaf, bisa bapak jelaskan apa yang bapak maksud dengan "Ritual2 yang kita lalukan selama ini sudah tidak mampu mengatasi berbagai masalah yang sedang kita hadapi". Ritual apa maksudnya?
 
Lalu apa yang Bapak maksud dengan ritual baru? Mohon pencerahannya.
 
Karena tyang agak bingung jika menyelesaikan masalah dengan pendekatan ritual. Masalah diselesaikan yang dengan kerja nyata. Baru ataupun lama, Ritual bukan solusi sebuah masalah.

rahajeng, 
ngurah beni setiawan
P Save a tree...please don't print this e-mail unless you really need to



Dari: Putu Kesuma <putukesuma@yahoo. com>
Kepada: bali-bali@yahoogrou ps.com
Terkirim: Senin, 12 Januari, 2009 15:07:07
Topik: Re: [bali-bali] Open Letter from Mahathir to Barack Obama

Setuju Pak KS.
 
Bangsa kita memang menderita amnesia yang sangat luar biasa.Tidak pernah mampu belajar dari sejarah.
 
Dan penyakit itu hanya akan bisa kita atasi dengan awareness. Ritual2 yang kita lalukan selama ini sudah tidak mampu mengatasi berbagai masalah yang sedang kita hadapi. Jadi sudah saatnya kita menciptakan ritual2 baru untuk menyadarkan diri kita kepada jati diri kita.
 
Kayakinan saya, tanpa kembali ke jati diri,  kita hanya akan menuju kehancuran.
 
Pilihan ada di tangan kita masing2.
 
P.Kesuma

Apapun sukumu, apapun agamamu, kau orang Indonesia. Aku cinta Kau. Whoever you are, wherever you are from, you are human being. I love you ~ NIM(National Integration Movement).


--- On Fri, 9/1/09, Bali Sunshine <bali_sunshine@ indo.net. id> wrote:
From: Bali Sunshine <bali_sunshine@ indo.net. id>
Subject: [bali-bali] Open Letter from Mahathir to Barack Obama
To: bali-bali@yahoogrou ps.com
Date: Friday, 9 January, 2009, 10:29 AM

Dear All,
 
Dalam ajaran Catur Guru ada 4 yang harus dihormati, salah satunya adalah Guru Wisesa. Wisesa bisa diartikan sebagai orang atau dalam hal ini Bangsa yang punya lebih banyak kuasa (power) atau yang lebih pintar. Sesananing orang yang lebih bodoh patut  menghormati yang lebih pintar. Tidak ada logika kalau yang lebih bodoh menasihati orang yang lebih pintar. Nuansa menasehati bahkan menggurui sangat kental dalam surat terbuka ini. Ini sudah termasuk  langgiana - congkak (ungkapan orang Bali seperti untuk anak yang tidak hormat pada orang tua atau yang lebih senior). Lebih2  bersikap offensive dan menantang seperti yang terjadai di medan laga saat ini. Salah2 siapa yang akan terkubur di tanahnya sendiri. Seperti yang sudah terjadi disebelahnya. 
 
Kalau kita menyadari bahwa kita lebih bodoh daripada mereka, bersikaplah rendah hati, dan belajarlah dari mereka agar kita mendapat sedikit kepintaran dari mereka. Mana mungkin orang yang lebih bodoh bisa mengalahkan orang yang lebih pintar. Agar bisa bebas dari ketergantungan mereka maka bersikaplah lebih humble, belajar dan bekerjalah lebih giat agar mudah2an suatu hari kita bisa menyamai mereka.(saya jadi ingat dengan ungkapan Bp.Wiratha Ketua Kadin Bali : Sudah bodoh/miskin, belagu pula. Ini dilontarkan ketika menyarankan untuk pembatalan VoA yang dasar pertimbangannya asas resiprocal kepada negara2 yang nota bene pemasok wisatawan ke negara kita)
 
Bagi saya yang bodoh ini, ada begitu banyak ukuran yang semestinya sudah kita sadari (mulat sarira) bahwa kita memang (jauh) lebih bodoh dari mereka. Listrik, TV, Mobil, Motor, Telpon, Komputer, dll, dst, dlsb, semua dari mereka. Kita bisa seperti sekarang ini (yang hanya bisa mengandalkan kekayaan alam dari bumi kita) juga berkat bantuan teknologi mereka dalam melakukan explorasi dan ekspoitasi minyak bumi, tambang, dll.
 
Kita sering berkeyakinan bahwa kita memiliki kebijaksanaan yang lebih dari mereka. Padahal ini sangat subyektif. Keyakinan ini tidak lebih dari mungain jit, misalnya melalui ungkapan2 : bangsa yang agamais, berbudaya tinggi, sopan santun, berbudi perkerti luhu, dll. Tapi kenyataannya tidak lebih dari pepesan kosong atau slogan2 yang menina-bobokkan kita sebagai bangsa, di tengah kenyataan korupsi yang meraja-lela, rendahnya disiplin, meraja-lelanya materialisme & konsumerisme, rendahnya kesadaran untuk menjaga kelestarian alam, (seperti deforestasi besar2an yang mengakibatkan bencana banjir menjadi agenda rutin setiap musim hujan, dan kebakaran & polusi asap di musim kemarau sampai ekspor ke negara tetangga), dll.
Dan yang lebih mengerikan adalah keyakinan yang subyektif (Agama) begitu dibela mati2an dengan darah dan nyawa. Sehingga menjadi sia2lah Tuhan menganugrahkan kehidupan bagi mahluk terurama Manusia yang nota bene dikaruniai paling lengkap dengan Bayu, Sabda, dan Idepnya (ini menurut keyakinan subyektif saya). Apa yang diyakini telah memisahkan secara tegas antara kelompok dan bukan kelompoknya, sehingga jauh dari kebijaksanaan yang universalist.
 
Dari segi kadar kebijaksanaan, tidak mungkinlah mereka (Barat) yang lebih rendah dari kita. Suatu contoh : mereka  duluan yang telah pergi ke Bulan dan melihat Bumi ini sebagai lonely planet. Merekalah yang lebih dulu melihat bahwa planet ini adalah satu yang melahirkan kebijaksanaan yang universalist. Dan ini nampak lebih nyata dengan tumbuhnya kesadaran mereka yang lebih tinggi dari pada kita dalam usaha2 menjaga ekosistemnya di planet ini, terutama hutan tropis paru paru dunia. Yang langgiana adalah kita yang justru menuntut mereka untuk mendanai/mendonor penyelamatan hutan tropis. Padahal kitalah yang sewajibnya menjaganya karena kita yang pertama-tama akan kena dampak bencananya seperti yang telah rutin sekarang dirasakan (banjir dan kebakaran rutin). Kalau mau minta bantuan kepada mereka ya mbok yang sopan, dan lebih humble-lah, jangan menuntut (demanding). Karena sekali lagi, kita bangsa yang lebih bodoh dari mereka dan kita sepatutnya menghormati orang yang lebih pintar dari kita. Wong ini untuk kepentingan kita sendiri. Dari sisi ini saya setuju 100% dengan WALHI,  untuk gagasan Moratorium Penebangan Hutan-nya, dan salut untuk Provinsi Aceh yang telah melakukannya lebih dahulu karena hak otonominya (bagaimana dengan daerah lain yang tidak punya hak yang sama ?). Please jangan katakan bahwa deforestasi ini dilakukan lebih banyak oleh daerah dan perambah hutan (yang hanya barefoot), sedangkan hanya pemegang ijin HPH (dari pusat) yang bisa memobilisasi buldoser secara massive melakukan deforestasi. Juga please stop mengkambing- hitamkan oknum bagi orang2 yang sebenarnya mempunyai kuasa dan diback-up.
 
Contoh lain dari kebijaksanaan mereka yang lebih tinggi adalah, mereka lebih bisa menghargai warisan budaya dunia yang bahkan sangat primitif seperti Bali, Toraja, Asmat, dll, tercermin dari gemarnya mereka mengunjungi daerah2 serupa sebagai tujuan wisatanya. Beda jauh dengan kita, yang sebaliknya karena keyakinan akibat pengaruh budaya tertentu justru rajin melakukan penghancuran terhadap situs situs kuno warisan leluhur kita sendiri.
Jangankan budaya manusia, budaya hewan juga mereka hargai seperti terlihat dari tayangan2 Animal Planet, Discovery Channel. Merekalah yang lebih dulu sibuk menyelamatkan habitat Orang Hutang di Borneo, dengan tindakan nyata dan sokongan2 dananya. Yang kita lakukan malah hanya menuntut.  Ya Leluhur2 hamba, Ya Tuhan, dari mana kami memperoleh budaya negatif seperti ini ?
 
Pernah termuat dalam koran, pejabat kita mewajarkan Singapura dan Malaysia menikmati asap kiriman dari terbakarnya hutan kita. Alasan mereka ; Singapura menampung dana2 dalam negeri yang rajin di transfer ke negara itu. Malaysia : juga ikut mengkonversi hutan untuk kebun sawit dan perambah hutan mereka ikut mengapalkan kayu2 hutan tropis ke negara mereka. Logika apa ini yang mereka pakai ? Kalau Malaysia melakukan Investasi kebun disini siapa yang telah memberi izin ? Kalau mereka yang melakukan pembalakan liar, sudah tidak berdayakah aparat kita untuk menjaga wilayah bangsanya ? Sekarang denga sikap menuntut kita mengharapkan negara tetangga untuk ikut menanggulangi masalah ini. Dengan sikap seperti inikah  kita menyebut diri sebagai bangsa yang besar ?
Setahu saya sikap budaya asli Nusantara itu selalu menjaga kerukunan dengan tetangga, mengedepankan gotong royong, dll. Kalau mau minta tolong yang sopanlah. Loh ini koq malah kita sebagai tetangga bersikap kurang ajar dan menuntut tidak pada tempatnya.
 
Message dari The Excelency Mr. President sangat jelas : For those who seek the peace we will fully support them, and for those who always seek war, we will beat them.
Pilihan telah diberikan, semestinya ditanggapi dengan positif dan dijadikan mementum. Saya sangat setuju 100% dengan Bli Putu Kusuma, mari kita kembali kepada jati diri sifat2 asli budaya nusantara, mulat sarira, santun, berbudi perkerti, gotong royong, ulet, rajin dan bekerja keras. Mungkin dengan cara ini kita bisa lebih konsisten ikut menjaga ketertiban, kedamaian, dan keamanan dunia sperti amanat UUD '45.
 
Salam,
KS



No virus found in this incoming message.
Checked by AVG - http://www.avg. com
Version: 8.0.176 / Virus Database: 270.10.2/1872 - Release Date: 1/2/2009 1:10 PM


New Email names for you!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!


Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat.
Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang!


Get your new Email address!
Grab the Email name you've always wanted before someone else does! __._,_.___

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Tidak ada komentar: