Sabtu, 03 Januari 2009

Re: [bali-bali] Sisi lain daria situasi di Bali saat ini.

Upaya pengislaman Bali sudah dimulai ketika Raden Fatah menguasai Majapahit dengan mengkhianati ayahnya atas nasehat Walisongo. Dia kirim utusan ke Gelgel. Tetapi utusan ini dikalahkan oleh raja Gelgel (lupa namanya, Waturenggong atau Dalem Bungkut) dalam debat dan adu kesaktian. Karena gagal, utusan ini takut kembali ke Jawa. Dia menetap di Gelgel. Raja Gelgel memberinya tempat tinggal, dan ketika mati ia dikuburkan di Satra (Satria?, yang dari Klungkung dapat mengecek hal ini). Begitulah kemurahan hati raja Bali pada waktu itu. Bayangkan kalau hal yang sama terjadi dengan orang Bali Hindu yang ingin mengindukan Raden Fatah, ia sudah pasti dibunuh, sebagaimana Syech Siti Jenar dan Ki Ageng Penging, keturunan terakhir dari Brawijaya IV yang tetap beragama Hindu, dibunuh oleh R. Fatah, juga atas nasehat Walisonggo.

Dengan kedatangan Belanda ke Nusantara, proyek pengislaman Bali tertunda. Para penguasa Islam berada pada pihak defensif.

Pada waktu kemerdekaan, proyek pengislaman Bali bangkit kembali. Departemen agama RI yang dikuasai oleh orang-orang NU tidak mengakui agamanya orang Bali sebagai agama resmi. Para intelektual Bali waktu itu membrontak dengan mendirikan departemen agama sendiri di Denpasar. Bung Karno yang sebagian berdarah Bali, sebenarnya bersimpati, tetapi dia takut kepada para ulama Islam. Hampir 16 tahun setelah merdeka   yaitu pada tahun 1961  barulah agama Hindu dimasukkan menjadi satu Bagian di Depag. 

Dalam kurun waktu itu sampai setelah jatuhnya Suharto, Islam masih menjadi oposisi pemerintah. Setelah reformasi, Islam sudah mulai kuat di bidang politik maupun ekonomi. Proyek pengislaman Bali tampak mulai mendapat perhatian penuh.

Baru-baru ini, ketika orang-orang ribut tentang makna jihat terkait pelaksanaan hukuman mati Amzozy dkk, Drs Haji Amidhan, salah seorang ketua MUI mengatakan, Indonesia bukan dar ul Islam (wilayah Islam), bukan pula dar ul harb  (wilayah perang), tetapi wilayah dakwah. Ini satu kategori baru yang sebenarnya tidak ada di dalam sejarah Islam.

Yang dimaksud wilayah dakwah tentu daerah-daerah di mana non-Muslim adalah  mayoritas, seperti Bali, NTT, Sulut, dan Papua.  Dakwah ada beberapa jenis, yaitu dakwah  secara lisan (dakwah bi lisan) seperti yang dilakukan oleh penjual kaligrafi itu, dan dakwah bil saif, dakwah dengan pedang, seperti yang dilakukan oleh kelompok Amrozy. Jadi sebetulnya wilayah dakwah tidak ada bedanya dengan dar ul harb.  

Mereka semata-mata menjalankan perintah agamanya untuk menegakkan Islam satu-satu agama di dunia, dan Allah satu-satunya Tuhan yang dipuja oleh seluruh manusia. (Lihat hal ini dalam berbagai kutipan ayat Quran dan hadis yang saya sampaikan dalam posting tentang Wahabi).  

Bagaimana orang Bali (Hindu) menghadapi tengkulak agama baik dengan bujukan maupun dengan paksaan? Saya tidak tahu. Bukan kafasitas saya untuk memikirkan hal itu. Tetapi saya hanya  ingin orang Bali tetap bersikap dewasa, toleransi secara cerdas dan well informed.  Jangan bersikap naive seperti Majapahit jaman Brawijaya IV.

Bila anda ingin membangun Bali  hal semacam ini harus menjadi perhatian anda, kecuali Bali yang anda bangun adalah Bali yang lain.  Its up to you, my friends.   

Lanang.

   




From: Putu Kesuma <putukesuma@yahoo.com>
To: Peradah Indonesia <peradah-indonesia@yahoogroups.com>; Bali-Bali <bali-bali@yahoogroups.com>
Sent: Wednesday, December 31, 2008 11:29:27 AM
Subject: [bali-bali] Sisi lain daria situasi di Bali saat ini.

OSA,
 
Teman-teman, ini ada cerita lain dari Bali tentang situasi di Bali. Kejadiannya di rumah seorang teman yang sehari-hari berprofesi sebagai dokter dan rumahnya di salah satu pojok kota Denpasar juga menjadi tempat praktek.
 
Suatu hari, dia didatangi oleh seorang anak muda laki2(19), asal Semarang katanya. Awalnya dia bilang mau periksa dada karena merasa sesak. Sekilas teman dokter ini mengamati keliatahannya dia ok2 saja. Setelah diajak ngobrol oleh teman dokter ini di ruang praktek tentang keluhan sakitnya malah si pasien menawarkan kaligrafi arab. Teman dokter bilang bahwa dirinya tertarik dengan tradisi Islam terutama tentang Tasawuf tapi tidak ada rencana untuk membeli kaligrafi.
 
Setelah cukup lama ngobrol si pasien mengakhiri sore itu dengan tawaran " kenapa pak dokter tidak masuk Islam saja?". Teman dokter ini langsung menggrundel, dalam hatinya bilang, gendeng,  blegedof, siang2 begini jualan agama.
 
Begitu keluar pintu teman dokter ini mengikuti ternyata di luar sana banyak pasukannya dimana pare perempuannya berjilbab. Dia pikir dapat pasien, eh dapat agama. Meskipun demikin teman dokter tetap berterima kasih kepada Keberadaan kare sudah diberi agama baru oleh seorang anak muda dan berharap semoga anak muda ini berbahagia setelah "berhasil" mengajaknya pindah agama.
 
Ini bukan cerika fiktif teman-teman. Meskipun dalam perkara agama teman dokter ini merasa tidak ada apa-apanya, namun tetap berbahagia berjalan dengan keyakinan yang dia anut selama ini.
 
Ya, begitulah teman-teman sisi lain dari keadaan Bali. Bali bukan saja rame dengan para pedagang cindera mata dan berbagai makanan khas Nusantara tapi juga ada ada dagang agama.
 
OSSS,
P.Kesuma

Apapun sukumu, apapun agamamu, kau orang Indonesia. Aku cinta Kau. Whoever you are, wherever you are from, you are human being. I love you ~ NIM(National Integration Movement).


Get your new Email address!
Grab the Email name you've always wanted before someone else does!


__._,_.___

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Tidak ada komentar: