Cok Raka yg baik, dkk
Sensus Belanda di tahun 1920-an membagi kasta manusia Bali. Mereka (Belanda dan rakyat Bali yg dijajah) terjebak bingung, akhirnya mereka menganggap Cokorda yg paling tinggi di kelas satria. Padahal tak ada sejarahnya di Buleleng ada gelar Anak Agung apalagi Cokorda. Kalo ada, itu pasti gelar pemberian Belanda. Panji Tisna yg menjadi Ketua Dewan Raja-raja Bali, nama beliau I Gusti Nyoman Panji Tisna, ayah beliau I Gusti Putu Djelantik. Di Puri Karangasem dan Tabanan juga seperti itu.
Coba tanya biang Bulan, apakah ayah beliau almarhum Dr. Djelantik nama yg tertera di ijazah SR (sekolah rakyat) beliau: AA Made Djelantik atau I Gusti Made Djelantik?
Biasanya orang memanggil sebagai Gung atau Anak Agung, atau Ida Cokorde, untuk penghormatan, sementara nama di ijazah mereka tetap I Gusti Ngurah Putu dll.
Putu, Made, dan Gde dll yg sekarang dikenal sebagai "nama jaba" itu sesungguhnya nama para kesatria Kediri. Ada tersurat pendek di sebuah prasasti Jawa Tengah jaman Kediri awal. Coba juga simak desertasi James Danandjaja tentang Trunyan.
Sekarang nama Putu, Gede, Made dll, dianggap nama "pinggiran" oleh lingkar satria dan brahmana. Ini tak lain cara lingkar ini melakukan politik segragasi, ekslusivisme dgn jalan hijrah ke gelar-gelar yg lebih meninggi. Inilah sejarah politik pemisahan elit dan kawula. Ledakan pertumpahan darah thn 1965-1967 tak lepas dari kusut-kumasut politik segragasi dan dendam antar kedua kubu.
Baru setelah jaman Belanda dan awal kemerdekaan, gelar I Gusti hijrah dari menjadi AA. Di Klungkung dan Gianyar semenjak jaman Belanda (campurtangan Belanda) "para AA" menjadi "Tjokorda".
Sebagai contoh nyata yg sangat menarik disampaikan di sini, sebuah keluarga di Buleleng Barat, ada yg sebagian memakai gelar, sebagian tidak, itupun kontruksi kolonial. Keluarga tsb di Buleleng Barat memang "soroh arya", tapi betul2 berijazah I Gusti semenjak jaman Belanda setelah salah satu pemuda anggota keluarganya di jaman Belanda meminang seorang I Gusti Ayu dari jro lain dan tidak diijinkan, lalu menuntut ke Pemerintah Belanda bahwa mereka setara, mereka juga "soroh arya" dgn berbagai bukti-bukti regalia bekas kerajaan, seperti keris2, pusaka2, lontar2 dll. Persidangan itu memenangkan mereka dgn memberi gelar I Gusti kepada pihak yg meminang itu. Jadilah ia bergelar I Gusti dan pernikahan menjadi setara.
Contoh lain terjadi jg dlm keluarga mantan bupati Buleleng Hartawan Mataram, asal Buleleng Timur, yg kembali memakai gelar Gusti mereka utk "sebuah alasan pernikahan". Ini saya dengar dari keluarga di sekitar beliau.
Begitulah kami di Buleleng. Kasta itu tak menjadi penting tanpa kastil (sistem pemerintahan dan kekuasaan nyata).
Kasta lebih menjadi artefak peninggalan kolonial, entah kolonial Belanda, kolonial Majapahit, Kolonial Kediri atau kerajaan Bali Kuna.
Apakah saya makan lungsuran atau tidak dari keluarga lain: TERGANTUNG. Ibu mengajari saya utk tidak meminta makanan, apapun. Jadi saya tak makan lungsuran dari Ida Bagus atau Sir Williem. Ini bukan lantaran saya terlahir di keluarga Arya. Ibu saya bilang, lungsuran sering tak sehat karena makanan dan sesajinya sering dikerubungi lalat atau kena debu dan hujan. Lungsuran semacam itu sebaiknya tak dimakan oleh manusia dari kasta apapun, kecuali kebal disentri.
Pesan saya utk Cok Raka, jgn terjebak KONTRUKSI WELANDA (penjajah Belanda), jgn terjebak kontruksi sejarah. Coba baca lagi deh buku "BALI ABAD 19" karya Ide AA Gde Agung. Atau buku kasta tulisan pak Kembar Kerempun. Utk soal stratifikasi sosial Bali Pegunungan silahkan baca "The Custodian of Sacred Mountain", by R. Rueter. Atau desertasi Prof Semadi Astra tentang "Birokrasi Bali Kuna abad XII".
Kasta itu kontroksi sejarah. Kalo menenggok ke kasta di India silahkan baca penelitian awal Weber dan penelitian para Weberian. Terakhir berkembang wacana subaltern studies. Ini sebuah refleksi total terhadap kontruksi kasta di India.
Gandhi berpesan utk tak terjebak pada perpecahan kasta. Gandhi memahami bahwa rakyat India adalah brotherhood in dharma. Yg menindas dan memecah lewat kasta serta mengkontruksi ketimpangan adalah kolonialisme dan berpuncak pada penjajahan Inggris. Merdeka dari keterjajahan adalah isu lebih penting. Kemerdekaan jasmaniah dan rohaniah.
Jaman telah beranjak, dunia telah sedikit demi sedikit beranjak dari jebakan kasta. Hanya yg oon dan dodol yg suka terjebak. Ada yg jauh lebih penting dari klaim kesucian darah (keturunan), yaitu kebersihan pikiran dan kesucian hati.
Om Shanti and salam Lebaran..
Sugi Lanus (gelar saya: Sarjana Sastra Bali. Inipun hampir kena DO kelamaan salah-pergaulan lupa kuliah).
From: "rakabali78" <rakabali78@yahoo.com>
Date: Mon, 14 Sep 2009 13:02:08 -0000
To: <bali-bali@yahoogroups.com>
Subject: [bali-bali] Lungsuran.....
Halo,
Mau nanya, apa bener di bali masih dipraktek-kan "tidak boleh membagi lungsuran" dengan orang dari kasta lebih rendah?: http://www.indonesi
Wah, kalau iya, repot dong. Kalau misalnya istri sendiri dari kasta lebih rendah gimana dong, masak gak boleh berbagi lungsuran ama istri? Kalau begitu, mungkin ada benarnya kata tante saya untuk tidak nikah ama orang yang dari kasta lebih rendah..., harus cokorda..., minimal anak agung lah....
*Drooooooll*
*Kabur....*
-Raka-
Raka Angga Jananuraga
__._,_.___
Tidak ada komentar:
Posting Komentar