Friends, Berikut kumpulan jawaban yang saya berikan selama beberapa hari terakhir dan telah saya posting juga di Milis Spiritual-Indonesia <http://groups.yahoo.com/group/spiritual-indonesia>. Enjoy ! (Leo) + Mata Ketiga is MATA BATIN. Sebagian orang Mata Ketiga-nya itu sudah melotot and tidak pernah sleeping. Jadi, the mata akan melanglang buana, dari langit kesatu, kedua, blah blah blah... sampe langit ke tujuh. Sampe disana the mata akan bertanya kepada Allah. Ya Allah, apakah masih ada langit lagi ? ... Terus Allah juga akan melotot. For your information, yang namanya Allah itu mata-nya melotot terus. Allah itu full of Mata Ketiga. As a matter of fact, the substance that makes up the Allah itu completely terdiri dari Mata Ketiga yg juga cuma SIMBOL saja. Dan, Allah itu MARAH2 ditanya seperti itu. Udah tau kok tanya lagi, begitu kata si Allah sambil ngeloyor pergi karena sudah ditunggu oleh para bidadari Surga yg telanjang bulat. Nah, telanjang bulat itu juga SIMBOL, simbol dari transparansi. Jadi, bukan hanya penyelenggaraan negara yg harus transparan, para bidadari JUGA harus transparan. Transparan itu artinya bugil. Nah, kalo bugil kan asik tuh, so Allah itu akhirnya bisa FULLY enjoy the bodies. Bodies itu Bodhi. Bodhisatva artinya satwa yang punya body as well as BUDI. Budi is budi pekerti alias ETIKA, artinya kalo enjoy bidadari telanjang, plis tanya musti bayar apa nggak. Kalo gratis, artinya bisa pulang fully satisfied tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Nah, kurang lebih seperti itulah yg namanya Perjalanan Spiritual. Perjalanan spiritual bisa juga dibilang sebagai Miraj. Miraj is MIRAGE dalam Bahasa Perancis dan Inggris. Artinya NAIK KE ATAS. Naik ke atas itu BISA diartikan sebagai naik ke langit pertama, kedua,... blah blah blah sampe ke langit ketujuh, as well as NAIK bidadari. Tapi harus be careful juga. Lihatlah the bidadari, telanjang apa nggak. Kalo telanjang artinya itu ASLI bidadari dari Surga. Kalo tidak telanjang, artinya itu JABLAY. Dan the jablay biasanya TIDAK gratis alias musti pake rupiah or dollar bayarnya. Dan yang itu TIDAK oke. Yang oke itu yang gratis dan telanjang, dan cara enjoynya dengan dinaiki. Naikin aja, Miraj aja, enjoy aja! So, you KNOW yourself bahwa semuanya itu SIMBOL saja. Nah, simbol itu bahasa juga, bahasa dari Alam Bawah Sadar di diri manusia. Mungkin segala kisah tentang the "Allah" itu bisa dibilang sebagai ALLEGORY juga yg artinya penggunaan berbagai SIMBOL untuk mengungkapkan sesuatu yg berada beyond human languages. Bahasa kesadaran manusia yg ASLI itu berupa SIMBOL, bahasa piktorial, tetapi karena kita masyarakat manusia yg menggunakan bahasa percakapan, maka simbol2 itu diterjemahkan ke dalam bahasa ucapan DAN tulisan. Semua tradisi atau agama menggunakan SIMBOL, dan simbol itu perlu INTERPRETASI. Kalau Mata Batin / Mata Ketiga di diri kita terbuka, maka kita bisa melakukan interpretasi dengan jujur dan apa adanya. Tetapi, kalau kita penuh dengan vested interest untuk membela kepentingan satu golongan tertentu, maka interpretasi kita itu akan BIAS. Bias artinya ada "sedikit" pemutar-balikkan. Sampai saat ini, bahasa saya yang guyon2 itu ternyata, alhamdulilah, bisa juga membantu banyak teman2 untuk TERBUKA Mata Ketiganya / Mata Batinnya. Mereka akhirnya bisa melihat bahwa ESSENSI itu ternyata berbeda jauh dari interpretasi yang umum. Mereka akhirnya BISA melihat juga apa essensi dari Ikhlas dan Pasrah itu tanpa merasa perlu mengikuti segala cuap2 yg dijejalkan oleh orang2 agamis. Ikhlas dan pasrah itu berlaku untuk semua manusia, Muslim maupun Muslam,... sama sekali tidak ada bedanya. Dan itu BISA dicapai bahkan tanpa perlu segala penyiksaan diri melalui amal ibadah yg sebenarnya merupakan mekanisme kontrol sosial agar pikiran2 manusia bisa disetir oleh para ulama dan penguasa. Tetapi, untuk sampai ke PENGERTIAN seperti itu, jalannya juga tidak mudah. Sebagian orang akan memaki-maki karena merasa belief system mereka jatuh kedodoran. Lha, yang kedodoran mereka sendiri kok menyalahkan saya ? ... Tetapi, perlahan-lahan akhirnya mereka BISA melihat bahwa saya memberikan INTERPRETASI tentang ESSENSI. Yang spiritual itu yang essensial, dan bukan segala pernak-pernik yang diributkan seperti kebakaran jenggot itu. God is always united with the spirits that live in each and everyone of us. That's the essence, essensi. Dan essensi itu sudah ada sejak semula TANPA perlu segala syariat. God's love itu UNCONDITIONAL. Kenapa bisa unconditional ? ... Karena essensinya itu SAMA. Bagaimana spirit bisa menghakimi spirit ? ... Tidak bisa toh ? Nah, dari apa yg saya pelajari dari literatur maupun pengamatan langsung atas para manusia2 dari berbagai backgrounds, memang pada dasarnya spirits atau ROH yg ada di manusia2 itu BERHUBUNGAN. Spirit yg ada di anda itu SAMA PERSIS dengan spirit yg ada di saya, di manusia2 lain yg pernah hidup dan sekarang sudah meninggal, di manusia2 lain yg masih hidup sampai sekarang, dan di manusia2 yg akan dilahirkan. Sama persis. Terkadang saya pakai istilah KESADARAN / CONSCIOUSNESS. Ini adalah kesadarah ROH. Jadi, secara essensial tidak ada gunanya segala yg namanya amal ibadah, karma dharma, dan segala KONSEP lainnya yg asalnya dari agama2 dan bertujuan untuk memanipulasi manusia2 lain demi tujuan di dunia ini saja. So, saya ini percaya kepada REALITAS TUNGGAL, we are always one. Tidak diciptakan dan tidak bisa musnah. Tanpa penghakiman, tanpa perlu mengumpulkan pahala melalui amal dan ibadah. On the other hand, saya juga REALISTIS. A realist accepts the fact bahwa kita ini MASIH manusia hidup. Masih hidup di dunia ini sebagai manusia biasa2 saja. Kalau kita melanggar hukum, maka bisa diciduk oleh hukum. Oleh hukum MANUSIA, dan bukan hukum Allah. Allah itu cuma a convenient term, cuma istilah yg dipakai agar kita BISA mengkomunikasikan sesuatu yg memang ada di dalam kesadaran di diri kita. Inilah gaya bahasa saya yg paling gamblang. Tetapi untuk menjelaskan hal ini susah sekali karena pikiran manusia itu masih "terbelenggu" oleh segala macam konsep2, terutama yg berasal dari agama2. Konsep itu imagination, emangnya apaan kalo bukan imagination ? Yet men don't live by imagination alone, harus ada yang konkrit dan nyata juga seperti reinkarnasi dari DN Aidit yang muncul di facebook kemarin. You know what, ternyata DN Aidit, gembong PKI yang gimana gituh had the same birthdate as me, which is on July 30th. Tapi Aidit was shot dead AFTER I was born. Dar der dor ! So, berarti I am NOT his reincarnation. Another possibility should have been Dr. Sutomo, the founder of Budi Utomo yang juga lahir on July 30th. Budi Utomo was a Kejawen-based organization. Spiritually old fashioned and maybe susah to resurrect today ketika banyak adik2 kita bacaannya itu James Redfield (the Celestine Prophecy), Neale Donald Walsch (Conversations with God), dan sejenisnya yang jelas2 INCOMPATIBLE dengan Sadulur Papat Kalima Pancer walaupun benernya COMPATIBLE juga kalau saya yang menjelaskan dengan gaya ngeyel2 ngeselin like this... -- Everything is related to any other thing. Synchronicity is the rule. Ada konsep yang baru juga, namanya Luminosity. Dan possibly MANY other things with akhiran "ity". Iti is ET, which means Extra Terrestrial which... will finally lead us back to the PRIMORDIAL issue; that is whether we are ET or not. My answer: ET or not ET, so what gitu lho ! ... Men do NOT live by imagination alone but by every word that comes from the SOURCE of his or her inspirations. Inspiration is revelation. Who it is who reveals the thing to us is NOT the issue. Yang penting we are inspired, and the THING is revealed within us. And what is revealed might have included bits and pieces or fragments of our past reincarnations. Saya sendiri sampai sekarang enggan untuk menggunakan konsep reinkarnasi yang BISA membuat sebagian orang bingung. Pengertian reinkarnasi itu mengikuti asumsi WAKTU sebagai garis lurus. Jadi ada past, present dan future. Kalau kita hidup di masa lalu, lalu mati, maka sekarang lahir kembali, dan nanti mati, lalu akhirnya akan lahir lagi. Dan begitu seterusnya sampai akhirnya masuk Nibbana/Nirvana dan tidak lahir kembali. Konsep reinkarnasi biasanya dikaitkan dengan Karma dan Dharma. Kalau karmanya lebih banyak, maka reinkarnasi berikutnya menjadi orang yang malang. Kalau dharmanya lebih banyak, maka reinkarnasi berikutnya menjadi orang yang bernasib baik. Nah, pengertian reinkarnasi seperti itu dianut oleh manusia2 masa lalu. Mungkin juga MASIH banyak orang yang memiliki pengertian seperti itu. Ada juga yang merasa bahwa ada SOUL MATE dari kehidupan sebelumnya menanti di kehidupan kali ini. Kalau dulu pernah gimana gituh, maka the ROMANCE akan dilanjutkan di kehidupan ini... -- Sebagaimana layaknya suatu belief system, maka reinkarnasi itu NETRAL. Cuma konsep saja. Yang bisa membuat perbedaan itu manusianya sendiri. For instance, kalau saya percaya bahwa there is one soul mate waiting for me, maka saya akan menunggu dia terus. Kalau saya percaya bahwa seseorang itu PASTI merupakan soul mate saya, maka saya akan terus menunggu orang itu, walaupun semua BUKTI menunjukkan bahwa saya cuma ber-ILLUSI saja. Lalu saya harus bagaimana ? ... Jawab: Tergantung dari saya sendiri. It's my life. Kalau saya MAU menerima suatu belief system, maka saya sendirilah yang akan menanggung konsekwensinya, termasuk babak belur menunggu si soul mate yang mungkin tidak merasa dan tidak perduli kalau dia itu PERNAH ada gimana2 dengan saya di masa lalu. So, everything is a CHOICE, pilihan. Kalau kita mau menjalani, maka tidak ada seorangpun yang bisa menghalangi. Sebenarnya sama saja seperti AGAMA2 yang betapapun tidak masuk akalnya TETAP saja dijalani oleh manusianya. Menurut saya reinkarnasi itu cuma suatu belief system atau imajinasi saja. Sama saja seperti konsep Surga dan Neraka di dalam agama2 Semitik. Pada pihak lain, yg namanya "imajinasi" itu juga merupakan "realitas". Kalau kita mau menganggap suatu imajinasi sebagai suatu realitas, maka jadilah itu. Kalau kita tidak mau, maka tidak jadilah. Contoh: kata "Allah" yang seenak udelnya dipakai oleh orang2 agama itu sebenarnya merupakan KATA BENDA, kata benda abstrak. Tetapi KESADARAN yg ada di manusia yg "beriman" memberikan kata "Allah" itu suatu ENERGI sehingga "Allah" bisa muncul dan berbicara blah blah blah... Pedahal yg berbicara itu adalah Kesadaran (Consciousness) di diri manusianya sendiri, dan "Allah" disitu cuma KATA BANTU saja untuk mengkomunikasikan sesuatu yang muncul dari Kesadaran manusia -- So, keberadaan makhluk Extra Terrestrial termasuk dalam kategori belief system juga, sama seperti agama2 juga. Kalau kita percaya adanya ET, maka cepat atau lambat kita akan "menjadi" ET, bahkan akan menganggap orang lain sebagai ET. Nah, lalu bisa muncullah segala "penjelasan" tentang ET yang katanya "tidak terbantahkan" . Kalau sudah pada tahap itu, apa bedanya dengan agama2 yang mengajarkan bahwa IMAN pada "Allah" sebagai sesuatu yang mutlak, blah blah blah... ? So segalanya yang dipercayai itu merupakan belief systems. Belief systems itu artinya sistem kepercayaan atau IMAJINASI yg DIPERCAYA. Kalau kita percaya, ya jadilah. Kalau tidak percaya, ya tidak jadilah. Tantangannya sekarang adalah belief systems yg seperti apa yg MAU kita ciptakan. Kalau agama2 itu sudah CORRUPT, maka modifikasi seperti apa yg MAU kita adakan ? ... That's the question. Ujung2nya kita ini harus logis dan rasional, dan itu BUKAN seperti apa yg diteriak-teriakan oleh orang2 agama itu yg sesumbar bahwa mereka logis dan rasional tetapi kalau dipertanyakan asumsinya maka akan memaki-maki. Saya bilang semua agama2 itu BUATAN MANUSIA. Memangnya agama2 dibuat oleh ET ? ... All belief systems are man-made. Everything is full of wonders, hence wonderful. Ada yang memang ASLI sudah seperti itu seperti tubuh kita sendiri, dan ada yang PALSU karena merupakan hasil dari olah pikir manusia. Nah, hasil olah pikir manusia itu namanya AGAMA. Agama2 bekerja berdasarkan asumsi2 yg dibuat oleh manusia tetapi di-HARAM-kan untuk dipertanyakan dengan ancaman NERAKA. Kalau mau tanya kepada ulama, siap2 aja masuk neraka. Pedahal, the neraka cuma ada di mulut si ulama aja. Surga juga. Surga dan Neraka cuma ada di mulut si ulama, dan di hati mereka yg percaya to such sahibul hikayat. So, we could repeat the question here, is it REALLY wonderful ? ... Jawab: Jelas tidak. Segala sesuatu yg disadarkan pada KETAKUTAN is NOT wonderful melainkan ugly. Kalau harus puasa karena takut masuk neraka, itu ugly, jelek. Kalau harus berdoa karena harus mengumpulkan pahala, maka itu sangat ugly, jelek banget. Yg bagus itu kalau kita mau MENJADI DIRI SENDIRI. Nah, menjadi diri sendiri is biasa2 saja, dan bukan petantang petenteng dengan Ilmu Nafs, blah blah blah... yg dibuat oleh para insan kurang kerjaan sambil merem melek ngitungin biji2an di tangan mereka. Possibly that way WAS suitable in the past. Tapi the jaman wis lewat. Kita ini hidup di Abad ke 21 M dimana segalanya serba instant, including God. Allah itu seperti Indomie Gelas, tinggal masukin air panas aja, lalu dikocok-kocok en bisa langsung dinikmati. Allah is CREATED by the human mind untuk dinikmati. Tetapi, kalau orang masa lalu created Allah as a monster yang SADIS dan menuntut segala macam sembah sujud, maka we now have an OPTION to create a better Allah. Allah model Mie Gelas is ok because abis dimakan gelasnya bisa langsung dibuang dan tidak perlu dicuci. Azas Utilitas is the norm. Kegunaannya itu apa ? Kalau untuk dinikmati, ya HARUS bisa dinikmati. Tetapi memang ada juga sebagian manusia yang MASOCHISTIC dan mau menikmati Allah yang sadis. Biar aja, it's THEIR lives... -- Some people have even recently said that Allah was INTRODUCED by ET. According to my humble opinion, the ET itu tidak lain dan tidak bukan adalah HUMANS, alias manusia biasa2 saja, no different than you, me, and anybody else. Kalau mengikuti ROSO (Boso Jowo, artinya semacam INTUISI juga), maka agama itu tidak jadi begitu saja, melainkan ada prosesnya. So, tidak benar kalo ada yg bilang agama itu jatuh gedebuk dari atas langit seperti botol Coca-cola di film box office "the Gods Must be Crazy" itu. Tidaklah, tidak begitu prosesnya... -- The actual prosess should have begun di Alam Bawah Sadar. Jadi, calon nabi itu sudah sering mendengar kisah para nabi Yahudi yg diceritakan oleh orang2 dekatnya. Walaupun si calon nabi itu buta huruf, dia itu jelas TIDAK budeg, jadi bisa mendengar segala kisah2 itu. Nah, orang2 dekat si nabi itu merupakan manusia2 yg TAKUT kepada "Adonai". Adonai itu adalah sebutan bagi Tuhan yg asalnya dari Palestina. Musa menuliskannya sebagai "JHVH", tetapi kata itu HARAM untuk diucapkan, sehingga si calon nabi itu menyebut Tuhan dengan kata ganti. Bukan "Adonai", melainkan "Allah". Jadi, kata "Allah" di Bahasa Arab adalah sinonim dari kata "Adonai" di Bahasa Yahudi. So, akhirnya "Allah" mulai meraja lela di Alam Pikiran si calon nabi sampai suatu saat terjadilah CATHARSIS (istilah Psikologi yg artinya semacam luapan emosi). So, ketika waktunya pas, terjadilah catharsis di diri si calon nabi yg MERASA didatangi oleh "Jibril". Nah, si "Jibril" itulah yg ET. Extra Terrestrial. Dan ET itu berasal dari Alam Bawah Sadar si calon nabi itu sendiri yg setelah itu lalu diakui sebagai nabi. Yg saya tuliskan di atas BUKAN hasil pergumulan intelektual melainkan hasil ketak ketik menggunakan 10 jari tangan sehingga bisa BEBAS tanpa harus dibatasi oleh segala syariat. Nah, yang namanya agama juga seperti itu, semuanya BEBAS menggunakan imajinasi yg ada di manusianya sendiri, Allah being a convenient term untuk digunakan. Saya sendiri bisa menggunakan istilah Allah dengan mencontohkan bahwa orang BISA bikin Allah yang model "kucing garong" atau "kucing biasa". Allah yg muncul di kesadaran manusianya itu akan mengikuti KONSEP yg dibuat. Kalau konsepnya membuat Allah menjadi "kucing garong", ya jadilah itu. Kalau konsepnya membuat Allah menjadi "kucing biasa", ya jadilah itu. Nah, setelah konsep itu jadi, perlulah segala MEKANISME syariat dibuat. Dibuatnya juga dengan membawa nama Allah yg sekarang sudah sedikit lebih "pasti" karena sudah diberi status sebagai "kucing garong" atau "kucing biasa"... -- Dikatakanlah bahwa kalau meninggalkan Allah yg sifatnya "kucing garong", maka manusia akan masuk "neraka". Kalau mengikuti perintah Allah yg seperti "kucing garong" maka akan memperoleh pahala yg bisa dikumpulkan melalui amal dan ibadah sehingga akhirnya setelah mati akan memperoleh tempat yg layak di sisi Allah, in this case Allah yg sifatnya seperti "kucing garong" itu, yaitu akan mencakar kiri kanan kalau ketahuan menggarong. Tetapi cara menghadapi Allah model itu mudah saja, yaitu tinggal ambil sapu saja. Allah yg model begitu akan kabur duluan SEBELUM sapu mengenai tubuhnya. Kenapa ? ... Jawab: Karena Allah sebagai a kucing garong itu cuma SHADOW. Cuma bayangan saja, a phantasm yang dibuat oleh manusia2 PRIMITIF. Manusia primitif adalah manusia BIASA yg hidup di masa lalu, hundreds of years ago, dimana belum ada Psikologi, Psikoanalisa, Ilmu Politik, Filsafat, Perbandingan Agama, dsb... Manusia primitif yang mengaku bertemu "Jibril" itu sama saja seperti manusia sekarang yang mengaku bertemu "Jibril". Jibrilnya itu TIDAK ADA. Saya menggunakan istilah "Allah" sebagai padanan dari istilah "God" dalam Bahasa Inggris. Istilah "Tuhan" itu sinonim dengan istilah "Lord", dan bukan "God". So, "Tuhan" itu sinonim dengan istilah "Lord", sinonim dengan istilah "Gusti" dalam Bahasa Jawa, dan sinonim dengan istilah "Illah" dalam Bahasa Arab. Menurut saya, nama pribadi Tuhan yang maha esa itu TIDAK ADA yang fixed. Kalaupun namanya "Allah", maka kita BISA menelusuri bahwa nama itu sudah ada di Jazirah Arab mungkin sejak 2,000 tahun lalu, dan memang TELAH dipakai oleh orang2 Yahudi dan Kristen keturunan Arab. Nama "Allah" sudah ada sebelum Islam datang. Nah, orang2 Yahudi dan Kristen keturunan Arab menyebut Tuhan/Illah sebagai "Allah". Orang2 Yahudi yg ASLI Yahudi sendiri menyebut Tuhan sebagai "Adonai" (mungkin dari Bahasa Aramaic) karena orang2 Yahudi itu HARAM untuk menyebut nama "JHVH" (Jehovah atau Jahveh). Dan untuk merujuk kepada "JHVH" itu akhirnya mereka menggunakan istilah "Adonai". Istilah "Allah" sendiri digunakan oleh orang2 Arab yg mengikuti tradisi Yahudi. So, yg mungkin ASLI nama pribadi dari Tuhan itu adalah "JHVH" dan BUKAN "Allah" -- Tetapi memang ada BANYAK salah kaprah juga disini, yg berasal dari penerjemahan dari satu bahasa ke bahasa lainnya. And, in my own opinion semuanya itu KONSEP saja. Segala Asma Al Husna itu juga cuma KONSEP saja, ya filsafat juga sebenarnya. Kalau bukan filsafat memangnya apaan ? So, in the end, kalau kita mau JUJUR, tidak ada yg datang berbentuk gelondongan jatuh dari langit. Semuanya itu merupakan hasil REFLEKSI / KONTEMPLASI / PEMIKIRAN dari manusia biasa2 saja, dimulai dari Musa yg bilang bahwa nama Tuhan itu "JHVH" dan sangat suci sehingga tidak boleh disebut. Orang2 Yahudi menyebut the "JHVH" sebagai "Adonai", dan orang2 Arab menyebutnya sebagai "Allah" yg MUNGKIN merupakan permainan kata dari istilah "Illah" (Illah = Tuhan = Berhala). Hence: Tiada Illah, selain Illah yang namanya Allah. Allah being a KATA PENGGANTI untuk "JHVH". Memang ada banyak salah pengertian yg berasal dari penerjemahan dari satu bahasa ke bahasa lainnya, termasuk ketika TRANSFER dari alam pemikiran Yahudi ke alam pemikiran Arab. Tentu saja pengertian tentang Allah itu berbeda karena anda MUNGKIN akan ngotot bahwa Allah adalah A, B, C, blah blah blah... Dan Allah bukan D, E, F, blah blah blah... --Nah, menurut saya hal tersebut WAJAR saja karena anda membicarakan tentang KONSEP. We are entitled to hold ANY concept. Ini bukan tentang salah atau benar, melainkan HAM Kebebasan Berpendapat yang JUGA menyangkut kebebasan berpendapat tentang agama dan konsep Allah-nya. Agama itu perlu RE-INTERPRETASI walaupun sebagian ulama2 itu tetap NGOTOT sampai sekarang bahwa segalanya itu tidak boleh di-reinterpretasi which is THEIR own opinion yang sah saja. Jadi, segala ngotot2an itu SAH karena menyangkut HAM tiap orang untuk berpendapat... -- Lalu apa yang saya lakukan ? Jawab: I just be myself. Saya kan pake label "Spiritual" yang artinya juga TIDAK JELAS. Karena tidak jelas, then everybody is FREE to speak up his or her opinion. Anything is oke2 saja. Cuma konsep saja kok, ngapain diributin ? Yang penting itu adalah ESSENSI dan bukan segala konsep yang kalo diomongin biasanya memang suka bikin sebagian orang kebakaran jenggot itu. Nah, dalam hal ini bahkan mungkin nasib saya termasuk beruntung juga because maybe saya telah banyak berbuat baik in my past reincarnation. Ulil Abshar Abdalla mungkin berbuat banyak kejahilan in his past reincarnation sehingga sekarang menjadi orang yang SUCI (suci = suka dicaci). Tapi saya lihat dia jalan terus saja, dan memang harusnya jalan terus saja. Kita ini sudah berada di masa Post Modern, masa mau terus menerus pakai konsep yang berasal dari jaman Post Jahilliyah ? Today is Post Modern and NOT Post Jahilliyah... I am completely for Spiritualitas Plural. I always urge people to go on and express their diverse opinions, especially about spirituality. Sebenarnya, yg saya lakukan adalah MONOLOGUE. Most of my writings are monologues dengan harapan agar mereka yg membaca bisa somewhat terbantu untuk menelusuri sendiri apa yg ingin ditelusurinya. Anda mungkin tahu left brain and right brain berikut ramifikasinya. Nah, cara saya komunikasi itu menggunakan cara ZIGZAG antara kedua kutub ekstrim itu. Untuk mencapai sesuatu yg cuma bisa dirasakan saja, kita tidak bisa sepenuhnya menggunakan konsep2 seperti menaiki suatu anak tangga imajiner. Kalau bisa rasional, maka saya akan rasional. Tetapi ada sebagian STEPS dari anak tangga imajiner itu yg tidak bisa dilalui dengan selamat kalau kita menapaki dengan cara biasa. Memang bentuknya "anak tangga", tetapi anak2 tangga itu tidak semuanya terbuat dari bahan yg sama, sehingga terkadang kita harus "melompat". Terkadang harus "merangkak". Nah, kalau sudah berakrobat seperti itu artinya sudah masuk dalam domain bahasa SIMBOLIK yg biasanya cuma dimengerti kalau pakai ROSO. Roso itu Bahasa Jawa, dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia istilahnya itu INTUISI. We could only intuit it, then we have to walk accordingly, eyes closed (Inilah pengertian IMAN yg sesungguhnya). So, akhirnya kita jalan saja terus dengan intuisi itu, kita rasakan saja terus. Dan kalaupun mau dibicarakan, memang bahasa yg paling pas itu bahasa SIMBOLIK seperti digunakan oleh orang2 SUFI itu. Tasawuf itu banyak menggunakan bahasa simbolik. Sebagian menggunakan logika bahasa normal, tetapi selebihnya menggunakan bahasa simbolik. Akhirnya bagaimana ? ... Akhirnya orang2 yg mengikuti tulisan saya akan juga mengambil jalan ROSO / INTUISI itu. Dijalaninya bersamaan, yg logical dan juga yg intuitive. Dan yg intuitive itu yg asalnya dari "Mata Ketiga/Mata Batin", dan memang perlu KULTIVASI juga yg bisa dilakukan melalui wirid, meditasi, dll. Image dari the Mata Ketiga or Mata Batin yang menurut saya terletak di KELENJAR PINEAL atau GOD SPOT yang adanya di belakang titik antara kedua alis mata. So, kita bisa diam saja dengan IKHLAS dan PASRAH dan merasakan bahwa the KESADARAN yang ada di diri kita itu ternyata SATU dengan the Source yang bisa kita sebut sebagai the Divine atau Allah. We are always one, have always been one, and will always be one with THAT. + Lalu tadi pagi seorang rekan pria mengirimkan email per japri ke saya dengan komentar sbb: "Pak Leo, saya kok heran dengan bapak. Setiap komentar bapak tentang lembaga2 agama begitu kritis, dan sangat membuat telinga saya pun merah padam... he... he... he... soalnya terasa disentilin berulang2. Tapi ada hal yang membuat saya surprise adalah penyelaman bapak dalam perjalanan bathin yang bapak ceritakan membuat saya merinding. Rasanya saya cemburu sekali... deh. Pengen bisa menyelam seperti bapak. Saya akan sangat bersyukur kalo bapak bersedia mengajak saya menyelam bersama-sama. Salam dalam selalu... Om shanty... shanty... shanty." Yang juga telah saya jawab di Milis SI <http://groups.yahoo.com/group/Spiritual-Indonesia/message/27547> sbb: Thanks for the comment. Sebenarnya saya menulis BUKAN untuk diri sendiri, melainkan untuk mereka yang bertanya kepada saya. Not for my sake, but for the sake of other people. Nah, banyak dari kita ini kan MASIH bingung2 di-indoktrinasi oleh segala ajaran2 agama yang konon HARAM untuk dipertanyakan. Saya ini tidak mempertanyakan ajaran2 agama, tetapi saya cuma menunjukkan bahwa semua ajaran agama2 itu merupakan BUATAN MANUSIA, termasuk segala konsep tentang Allah yang dengan semena-mena digunakan oleh orang2 beragama. Nah, KONSEP ALLAH itu berguna, bisa membantu kita manusia untuk menapaki kemanusiaan kita. Tetapi ketika konsep itu telah menjadi USANG sehingga wanita2 harus membungkus tubuhnya dari atas kepala sampai ujung kaki dengan alasan bahwa Allah akan memuliakan wanita yang membungkus tubuhnya seperti lemper, maka the time has come to strip the KONSEP ALLAH. Kita bilang saja bahwa Allah sendiri TIDAK perduli wanita mau no bra ataupun mau berjilbab. Allah itu cuma PROYEKSI dari apa yang kita pikirkan tentang "Allah". Allah yang ASLI itu sendiri mencintai semua manusia secara UNCONDITIONAL. Kalau harus conditional atau ber-syariat, maka jelas itu BUKAN Allah yang asli, melainkan hanya merupakan konsep Allah, dan disini adalah konsep Allah yang inferior dalam arti TIDAK menghormati HAM. Hak Azasi Manusia itu bermacam ragam, termasuk kebebasan berpendapat, kebebasan beragama, kebebasan berkumpul dan berserikat, tetapi konsep Allah yang menginjak-injak HAM itu bilang bahwa semua HAM itu harus ditundukkan di bawah "Allah". Nah, "Allah" itu sendiri BENDA MATI, merupakan KONSEP saja. Kok manusia2 hidup mau ditundukkan di bawah "Allah" ? So, akhirnya MATA KETIGA or MATA BATIN di diri kita itu terbuka sejelas-jelasnya dan mengerti bahwa: Ohhh.... ternyata yang namanya "Allah" itu cuma konsep doang yang adanya di ulama2 itu yang mau menjadi JURU BICARA ALLAH sehingga manusia2 lain bisa diinjak-injak HAM-nya, as well as disetir pikirannya. Dan semuanya itu dilakukan BUKAN demi Surga yang juga cuma konsep saja, melainkan demi keduniawian semata yang, secara konkrit, bisa berbentuk uang dan suara dalam pemilu. Memang begitu kok faktanya, kita bicara jujur saja. Semua ulama2 itu kalau bisa TETAP ingin anda itu bodoh dan menurut ketika dijejali segala "keinginan" Allah. Pedahal itu keinginan si ulama sendiri. Dan ini ada di SEMUA agama2. Bukan hanya agama tertentu saja, walaupun manifestasinya lebih banyak di agama tertentu yang memang jauh terbelakang dibandingkan agama2 lainnya. Nah, lalu SPIRITUALITAS yang asli itu bagaimana ? ... Menurut saya, spiritualitas yang asli itu adalah MENJADI DIRI SENDIRI. Anda bisa menjadi diri sendiri saja, dan bertemu dengan ALLAH yang ASLI yang adanya di dalam KESADARAN di diri anda. Dan itu bisa anda lakukan bahkan tanpa menggunakan segala konsep2 tentang amal ibadah demi mengumpulkan pahala di Surga yang antara lain memiliki bonus berupa para bidadari telanjang bulet. Nggak lah, kita ini bukan manusia Arab primitif yang harus diiming-imingi oleh pahala. Kita ini tahu bahwa KESADARAN yang ada di diri kita selalu terhubung dengan Allah / God / the Source / All That Is. Baik kita beragama maupun tidak, kita itu selalu connected dengan Allah yang ASLI yang adanya di dalam Kesadaran di diri kita. + My old time friend, namanya Mbak Lona dan tinggal di Pekanbaru, Riau, tiba2 menawarkan diri to become my "interpreter" (We have known each other about 2 years, but never met, cuma pernah bicara di telpon once), dan beginilah tulisnya, juga di Milis SI <http://groups.yahoo.com/group/Spiritual-Indonesia/message/27548>: "Hihihihihihihihihi... Kalau baca semua posting Mas Leo jangan baca teksnya dehk... pusing... karena kita semua kebanyakan pakai konsep... apalagi bicara agama... Kita akan merasa di intimidasi dan dilecehkan dengan semua pernyataannya... Upssss... nah loh.....???? Tapi kalau baca... lepaskan dulu konsep yang ada pada diri kita semuanya... Baca saja... Mas Leo sedang tidak berargumen dengan siapa2.... beliau sedang melalang buana... sedang trance (akh masa' sihk... hiks... hiks.. .hiks) ... sedang mengajak kita berbicara tentang Tuhan... dalam arti universal... sedang berbagi penemuannya perjalanan dirinya... apa yang dialaminya... melepaskan Tuhan dari konsep pikiran manusia dari aturan2 yang dibuat agama... agar Tuhan yang kita lihat bukan lagi sebagai hasil pikiran ciptaan manusia tapi sebagai yang bisa diterima apa adanya oleh diri tanpa harus takut... tanpa dibatasi oleh batasan-batasan diri... tapi menerima Tuhan dalam suatu kesadaran yang tidak terkonsep... tetapi pentingnya pencarian diri sejati dan mengalami lebih baik dengan pembuktian... dan dimana Tuhan dapat diterima secara utuh... benarkah? Ahk lagian kalau saya sihk melihatnya... baca terussssssss... perjalanan "mati sebelum mati itu panjang" ... mau alamikan?.... spiritual perlu dimulai dengan mengalaminya bukankah demikian?... baca jangan teksnya tulisannya... baca yang tersirat... apa lagi kalau orang lagi trance begitu (hahahahhahah a)... Lanjuuuuuut Mas Leo... biar Siswa SI tambah Lang ling lung... dan akhirnya jadi biasa2 saja.... Salam trance, (Lona)" Nah, saya kan jadi SALTING ketauan belangnya sama Mbak Lona (belang being a SYMBOL only here because I have no belang2 in fact), sehingga akhirnya saya jawab aja, sbb: Thanks Mbak Lona, Kok bisa nangkep ESSENSI dari apa yang aku tulis seh ? ... Kalau bisa nangkep berarti the Mata Ketiga or Mata Batin itu udah MELOTOT, persis sama seperti "Allah" yang, according to my opinion, matanya itu selalu melotot. Yg sebagian orang masih BINGUNG adalah fakta bahwa yg namanya syariat agama itu merupakan CIPTAAN MANUSIA. Allah yg dimengerti di dalam agama2 itupun merupakan PROYEKSI dari manusia sendiri. Tetapi para ulama dari semua agama itu ingin TETAP memaksakan pendapatnya bahwa yg mereka khotbahkan adalah Allah yg asli. Malah ada yang sesumbar bahwa inilah "Allah" berikut simbolnya, dan digantung setinggi langit. Pedahal itu cuma SIMBOL saja, dan essensinya itu ada di dalam KESADARAN di manusianya sendiri. Nah, Kesadaran / Consciousness merupakan KUNCI dari segala labyrinth ini. Kita harus balik kepada manusia pribadi per pribadi. Setiap manusia itu sooner or later harus bisa mengambil kesimpulan siapakah "Allah" itu . Apakah cuma figment dari imajinasi saja ? ... Jawabannya tentu saja YES and NO. Yes, the Allah merupakan figment dari imajinasi sebagian orang dan MAU dipaksakan untuk diterima. Manifestasi dari Allah as a figment of imagination ini namanya "Syariat", dan itu ada di agama mana saja. Tetapi jawabannya bisa juga "no". No, the Allah itu ASLI. Tetapi Allah yang asli itu harus ditemui sendiri, kita harus MASUK ke dalam Kesadaran di diri kita sendiri dan find out ourselves bahwa Allah yang ASLI itu ternyata TIDAK BERSYARIAT. Ternyata Allah yang asli itu mencintai manusia tanpa syarat, tanpa syariat. Namanya UNCONDITIONAL LOVE, cinta yang tidak bersyariat.... Nah, tetapi perjalanannya itu panjang, dan jatuh bangun, bahkan terguling-guling. Kita bisa saja terjerambab dan masuk ke dalam lingkaran setan dalam salah satu agama bersyariat, lalu kita bisa terjebak dalam merry go round yang namanya "New Age", lalu menjadi atheist. Lalu, setelah semuanya itu dijalani akhirnya kita kembali kepada diri kita sendiri saja dengan IKHLAS dan PASRAH, kita diam saja. Dan, ketika kita diam saja dengan ikhlas dan pasrah, the Allah yang ASLI itu bisa tiba2 muncul di dalam Kesadaran kita. Siddharta Gautama mengalami itu, dan kita semua BISA mengalaminya. |
New Email names for you!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does! __._,_.___
Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___

Tidak ada komentar:
Posting Komentar