Sabtu, 22 Agustus 2009

Re: [bali-bali] Fw: TARI PENDET + OLEG DI KLAIM MALAYSIA



Bukan cuman pendet, Oleg juga di claim kayaknya.
Tadi baru saya baru liat iklan acara "Enigmatic Malaysia" yang posternya ada tari Oleg (bagian cewek).
Acaranya di siarin di Discovery Channel. Saya blom nonton, premier nya besok jam 6 sama jam 11 malem.


2009/8/21 Sugi LanĂºs <sugilanus@gmail.com>
 

Dear all,

Kita berurusan malaysia tak usai2, dari perbatasan pulau, teroris sampai urusan lagu2 daerah.

Kawan saya Radhar Panca Dahana sangat benarnya: "Masak presiden kita nyanyinya lagu pop mlulu?"

Sesekali SBY bikin album kumpulan lagu daerah termasuk Rasa Sayange di dlmnya, ini kan bisa menjadi symbolic cultural re-claiming. Peluncurannya yg serius. Undang duta besar Malaysia dan para sahabat. Bu Presiden sesekali jadi produser documentary movie tarian2 nusantara. Pak Jro Menbudpar mekidung atau gabung ngigel kecak (kalo tak bisa nari cukup bilang cak-cak-cak). Sesekali pak Jro ajak penari Pendet mentas di Twin Tower KL atau di Putra Jaya, biar tahu kalo Pendet itu lahir di Bali.

Diplomasi kebudayaan intinya.

Monto gen, liu munyi lek ati.

Suksma,
SL


From: Ni Made Dwidiani
Date: Fri, 21 Aug 2009 10:35:32 +0100
To: <pcmibali@yahoogroups.com>
Subject: PCMI: TARI PENDET DI KLAIM MALAYSIA
 

Dear all,
Mungkin sdh tahu yaa?
 

Malaysia Klaim Tari Pendet Bali

By Republika Newsroom
Rabu, 19 Agustus 2009 pukul 19:09:00
 
Malaysia Klaim Tari Pendet Bali
 
TARI PENDET: Seorang nenek yang mendet saat "Usaba Sambah" di Pura Puseh, Sengkidu Karangasem.
JAKARTA--Malaysia kembali mengklaim budaya Indonesia -- tarian pendet, Bali -- menjadi budaya mereka yang dicantumkan dalam iklan visit year mereka. Sebelumnya, mereka telah mengklaim angklung, reog Ponorogo, batik, Hombo Batu, dan Tari Folaya.
Budayawan, Radhar Panca Dahana, mengatakan pengklaiman budaya Indonesia oleh Malaysia untuk kesekian kalinya merupakan kesalahan pemerintah Indonesia sendiri. "Ya tidak apa-apa lah, kita juga suka mengambil budaya lain untuk untuk promosi," katanya kepada Republika, Rabu (19/8).

Ia menilai kecolongan budaya tersebut sebenarnya sebuah cermin atau refleksi. Ia menilai kita terluka dan malu, karena kita sadar sebagai pemilik kebudayaan itu kita tidak memperhatikannya. "Selama ini kebudayaan dipinggirkan, pemerintah dan masyarakat tak lagi peduli," ujarnya.

Sedangkan negara lain, seperti Malaysia, kata Radhar, membutuhkan ekstensi kebudayaan, karena kebudayaan adalah senjata terbaik untuk diplomasi internasional. Potensi bisnisnya bagus. "Malaysia tahu mereka kekurangan budaya, mereka pintar melihat kebudayaan negara tetangganya, dan mereka menghargai budaya untuk mencari keuntungan, sedangkan pemerintah kita tidak peduli. Hanya peduli pada olahraga dan program lainnya," katanya.

Untuk itu, kata Radhar, kedepannya agar Indonesia tidak kecolongan lagi, pemerintah harus perhatikan kebudayaan itu. "Kita majukan budaya kita supaya kita ada di depan, munculkan budaya kita dalam upacara-upacara, acara-acara, jangan lagu-lagu masa kini yang dinyanyikan oleh Presiden kita," tandasnya. she/kpo
 



--
Riko

Learn to Let Go, Adapt to Change


__._,_.___


Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Tidak ada komentar: