| "Yang paling menonjol dari budaya India adalah kecintaannya pada tradisi. Kecintaan yang dari prespektif Raam Punjabi (seorang pelaku industri entertaintment berdarah India) justru sulit menerima kebhinekaan. Bisa kita lihat bagaimana India dan Pakistan yang tak bisa bersatu. Raam menyampaikan kegagumannya pada Indonesia yang bisa mengidolakan bintang Bollywood, sosok dari luar Indonesia. Sesuatu yang sulit terjadi di India. Cerminan rakyat Indonesia bisa menerima kebhinekaan dan mengelola kerukunan agama."
### Pak Wibi, tanggapan saya sebelumnya berdasar kutipan di atas ini. "India punya 21 bahasa tapi tetap memasukkan bahasa Inggris sebagai bahasa pemersatu. Sedangkan Indonesia punya 300 bahasa daerah tapi tak perlu menyertakan bhs Inggris/Belanda sebagai bhs pemersatu."
### Dalam hal ini saya kira Indonesia lebih beruntung. Dalam sisi sisi lain, dengan menggunakan bahasa Inggris sebagai salah satu bahasa nasional, India lebih beruntung: aksesnya kepada ilmu pengetahuan lebih mudah, tenaga kerja mereka yang terdidik lebih mudah diterima di lingkungan global. Dengan menggunakan bahasa Inggris sebagai salah satu bahasa Nasional, di samping bahasa Hindi, bahasa-bahasa daerah yang lain tetap dipelihara, karena mereka tetap menjadi bahasa yang hidup di wilayah pemakainya. "Film Indonesia kebanyakan isinya dakwah? tidak juga, kebanyakan film Indonesia sekarang film komedi yang tidak lucu".
### Ya, dalam hal ini saya mungkin salah. Saya jarang nonton film Indonesia (kecuali film Warkop Kasino, Dono, Indro, di TV sekalipun telah diputar berulang-ulang). Saya hanya membaca ulasannya di media massa. Dan yang diulas itu kebanyakan film dakwah agama, akhir-akhir ini. "Pak Putra pasti tidak tinggal di Indonesia lagi ya? :-)"
### Pak Wibi, saya bermukin di Jakarta. Pulang ke Bali paling banyak 2 x setahun. Saya tidak pernah berada di luar Indonesia lebih dari tiga minggu. Itupun jarang-jarang sekali. NP.Putra
--- Pada Kam, 2/10/08, Wibisono Sastrodiwiryo <wibi.sastro@gmail.com> menulis:
Dari: Wibisono Sastrodiwiryo <wibi.sastro@gmail.com> Topik: Re: Bls: Bls: [bali-bali] THE RISE OF INDIA Kepada: bali-bali@yahoogroups.com Tanggal: Kamis, 2 Oktober, 2008, 1:57 PM
--- In bali-bali@yahoogrou ps.com, madra suta <madra_suta@ ...> wrote: > > > ### Apa benar Raam > Punjabi bicara begitu pak? > Raam hanya mengatakan kekagumannya pada masyarakat Indonesia yang lebih bisa menerima kebhinekaan dalam soal tradisi seni dan budaya dibanding India menurut pandangan dia. Kemudian dalam pandangan saya, ini berkaitan erat dengan kebudayaan India yang merupakan hasil dari budaya continent sedangkan Indonesia merupakan hasil budaya kepulauan. > Apakah ini tanda India sulit menerima > kebhinekaan, menurut Raam Punjabi? Menurut saya Pak, bukan menurut Raam. > Dan apakah hal semacam itu mungkin di > Indonesia? Mudah-mudahan? > Menurut saya Indonesia lebih bisa menerima kebhinekaan dibanding India, tanpa mengatakan India tidak bisa menerima kebhinekaan. India juga bisa dari semua data yang anda berikan. India punya 21 bahasa tapi tetap memasukkan bahasa Inggris sebagai bahasa pemersatu. Sedangkan Indonesia punya 300 bahasa daerah tapi tak perlu menyertakan bhs Inggris/Belanda sebagai bhs pemersatu. Mungkin Pak Putra agak sedikit salah paham. Saya tidak mengatakan India tidak bisa menerima kebhinekaan tapi relatif lebih sulit dibanding Indonesia atau dengan kata lain Indonesia lebih beragam dan dilihat dari struktur konflik karena perbedaan dalam tataran komunitas yang ada, Indonesia lebih harmonis dalam keberagaman dibanding India. Ini menurut saya loh ya. > > ### Kalau soal > mengidolakan bintang  film ya mungkin saja > karena film mereka cocok dengan selera mereka. Tapi ini bukan ukuran penolakan > terhadap kebhinekaan, saya kira. Menurut saya ini punya hubungan yang sangat erat dengan latar belakang budayanya. Bicara soal India bicara satu kultur yaitu kultur India sedangkan bicara Indonesia bicara soal multikultur. > Mereka mungkin tidak mengagumi tokoh film > Indonesia, mungkin karena isinya kebanyakan dakwah? > Film Indonesia kebanyakan isinya dakwah? tidak juga, kebanyakan film Indonesia sekarang film komedi yang tidak lucu. Pak Putra pasti tidak tinggal di Indonesia lagi ya? :-) BTW saya belum sempat nonton Laskar Pelangi, ini film fenomenal, mirip film petualangan sherina yang menginspriasi sineas muda untuk berkarya. Suksma Wibi |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar