Senin, 02 Maret 2009

[bali-bali] Re: Mencari Tempat Diskusi di Denpasar

mahap ya.. ikut nyeletuk ,
sangat jarang orang Bali discusi art , setahu saya kami di Bali is
the living art itself.
Saya teringat ketika pembuatan film 'leyak' plus minus 30 th yang
lalu di Art centre , kebetulan ada salah satu actrees yang nyeletuk,
koq orang Bali nggak ada yang nyambut ada actor datang dari Jkt sih?
hehehe... as far as i am concern ,Balinese artist far out class
actor and actrees Indonesia , seperti Pak Kakul or Cokot dll.

Why should we discuss arts when we already living it in everyday life
as Balinese.
Semasih muda dulu , waktu masih nari topeng , biasanya sehabis
sembahyang , sudah nyaluk penganggo , kami berbinacang bincang
sebentar , untuk mensepakati lakon , than off we go , no script , ne
reherseal , just do it...( Nike).

Mungkin disana bedanya , art for the sake of art , than there's art
for commercial and art as a part of ritual.
For Balinese , last night you are in centre stage , entertaining ,
tomorrow morning , ambil cangkul bertani lagi..
Personaly for me , that's the real artist.
Live it , breath it , drink it , eat it , make it...

Bali art performance , you only have chance to get it right , one
take for one scene.
In movie production you can have 10 or 15 take , maybe more..
plus Mr. Editor will fix it , not to mention SFX computerise.
I know this for a fact , coz i have worked in several movie
production here in the Gold Coast.
So, what is there to discuss about?
Every person in Bali is an artist , paling tidak bisa buat kuwangen,
porosan atau tipat bantal , ( kalau saya hanya bisa buat tipat
taluh).
Jadi ,jangan merendahkan Bali dalam soal seni.
Kenapa Bali harus mencontoh seni Jkt? seharusnya sebaliknya donk?
Kalau mau contoh berfilmria , langsung aja contoh Hollywood ( kalau
punya 100 M US nganggur).
Enough said .

shanti is geleng geleng kepala.

--- In bali-bali@yahoogroups.com, Anton Muhajir <antonemus@...>
wrote:
>
> berbagi informasi ini. mungkin ada yg mau menambahkan..
>
> tengs
>
> --
> http://www.balebengong.net/opini/2009/03/03/mencari-tempat-diskusi-
di-denpasar.html

>
> Mencari Tempat Diskusi di Denpasar
>
> Pekan lalu, Ana, teman yang baru tinggal di Bali mengeluh tentang
> ketertinggalannya soal wacana film. Teman itu lahir dan besar di
Jakarta.
> Dia pernah bekerja di Timor Leste sebelum bekerja di Bali sejak
sekitar
> Oktober lalu. Obrolan kami terjadi ketika kami diskusi kecil soal
Slumdog
> Millionare, film pemenang delapan kategori di Oscar tahun ini.
>
> Ketertinggalan wacana itu, kata Ana, karena kurangnya tempat
diskusi di
> Denpasar. Dia sih membandingkan kondisi Bali dengan Jakarta. Kalau
di
> Jakarta, ceritanya, mau diskusi soal seni misalnya bisa di Taman
Ismail
> Marzuki (TIM). Atau, contoh lain, soal peluncuran buku bisa di
Aksara,
> Kemang. Dan seterusnya..
>
> Pendapat Ana ada benarnya. Salah satu yang membuat saya iri dengan
kota
> seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta memang banyaknya tempat
diskusi di
> kota-kota itu. Di tiap kota itu setahu saya banyak tempat untuk
diskusi apa
> saja. Tema diskusinya juga bisa apa saja mulai dari yang paling
kiri sampai
> paling kanan. Dari yang paling metal sampai paling alim.
>
> Nah, di Bali memang kurang tempat diskusi. Saya pernah berpikiran
bahwa itu
> semua karena tidak adanya orang yang membuat. Kurang lebih semua
hanya mau
> terima ada diskusi tapi tidak ada yang memulai. Maka, saya pernah
> mencobanya. Membuat sebuah tempat ngobro di daerah Renon. Saya dan
tiga
> teman lain pernah urunan menyewa rumah Rp 11 juta per tahun di
kawasan
> tengah kota ini agar ada tempat untuk kumpul. Kami membuat
beberapa agenda:
> diskusi, nonton film, juga warung kecil di sana.
>
> Tapi memang tidak bertahan lama. Setahun berdiri, tempat itu kami
tutup.
> Mahalnya biaya sewa dan kurangnya antusias orang untuk datang –
juga mungkin
> karena kami kurang bisa promosi- membuat kami akhirnya menyerah
untuk
> sementara. Menciptakan komunitas itu lebih banyak kami lakukan
lewat dunia
> maya.
>
> Pengalaman gagal membuat tempat diskusi itu sekaligus memberikan
pelajaran:
> memang tidak mudah menciptakan kultur diskusi di Bali.
>
> Meski demikian, bukan berarti tidak ada tempat diskusi di Bali.
Ada kok.
> Tapi memang tak sebanyak di Jakarta, Jogja, atau Bandung. Inilah
sebagian
> tempat itu.
>
> *Taman 65* <http://taman65.wordpress.com/>
> Alamatnya di Jl WR Supratman, Kesiman, denpasar Timur. Tempat
diskusi ini
> berupa kompleks rumah keluarga besar Bali. Di bagian tengah
beberapa rumah
> itu ada halaman luas, sekitar 10 x 8 meter persegi. Lapangan
rumput ini yang
> selalu jadi tempat diskusi. Pembicara dan peserta selalu lesehan,
duduk di
> tikar atau malah di atas rumput.
>
> Diskusi terakhir yang saya ikuti adalah Jumat ( 27/2) lalu.
Diskusi dari
> pukul 8 malam ini membahas soal Politik Jajak Pendapat dengan
narasumber
> Bodrek Arsana, yang sering melakukan jajak pendapat dan quick
count dengan
> Lembaga Survey Indonesia (LSI).
>
> Diskusi di Taman 65 itu dilakukan lesehan. Sangat santai meski
temanya
> termasuk berat bagi banyak orang. Mungkin karena latar belakang
keluarga
> besar di sini memang pemikir. Salah satunya adalah Degung
Santikarma,
> Antropolog Indonesia yang sekarang mengajar di salah satu kampus
di Amerika
> Serikat.
>
> Tema diskusi di Taman 65 sangat beragam meski sebagian besar soal
sosial
> politik budaya. Tapi pernah juga diskusi soal kesehatan reproduksi
atau HIV
> dan AIDS, nonton film bersama, juga konser musik mini.
Pembicaranya juga
> beragam. Marie Alkatiri, mantan perdana menteri Timor Leste,
pernah jadi
> pembicara di sini juga. Pernah juga ada orang dengan HIV/AIDS
(ODHA). Juga
> mantan tahanan politik di Pulau Buru.
>
> Oh ya nama Taman 65 memang diambil dari peristiwa kekerasan pada
tahun 1965.
> Beberapa anggota keluarga besar ini adalah korban kekerasan pada
saat itu
> karena dianggap berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Nama
> Taman 65, kata Gung Alit, salah satu tetua di sini dalam satu kali
obrolan
> santai, diambil untuk mengingat bahwa kekerasan itu memang ada dan
harus
> diingat sebagai pelajaran agar tidak terjadi lagi. Rekonsiliasi,
kata Gung
> Alit, tidaklah berarti melupakan apa yang pernah terjadi. Kurang
lebih
> begitulah..
>
> *Museum Sidik Jari*
> Tempat diskusi ini ada di Jl Hayam Wuruk, Tanjung Bungkak,
Denpasar Timur.
> Sebenarnya tempat ini adalah museum lukisan-lukisan yang dibuat
menggunakan
> sidik jari. Selain ruang pamer, ada pula wantilan. Nah, diskusi
digelar di
> wantilan belakang museum ini. Peserta lesehan di lantai, begitu
pula
> pembicaranya.
>
> Tema diskusi umumnya soal budaya, khususnya sastra. Bisa jadi
karena salah
> satu penggagas diskusi ini adalah komunitas Sahaja, komunitas anak-
anak muda
> –sebagian masih sekolah di SMU dan mahasiswa semester baru- yang
bergiat di
> bidang sastra dan budaya.
>
> Warih Wisatsana, penyair di Bali, salah satu orang yang intens
mengadakan
> diskusi bersama anak-anak didiknya di Komunitas Sahaja ini. Dia
sering jadi
> moderator pula dalam diskusi-diskusi di sini.
>
> Seperti penggagasanya, peserta diskusi juga rata-rata pelajar dan
mahasiswa.
> Diskusi terakhir yang saya ikut di sini adalah soal buku karya
Christine
> Jordis, penulis dari Perancis. Diskusi pada pertengahan Desember
lalu itu
> dihadiri penulisnya langsung dengan moderator Darma Putra, dosen
Fakultas
> Sastra Universitas Udayana Bali. Karena Pak Darma, begitu saya
biasa
> menyebut dia, ini pula saya ikut diskusi itu.
>
> Penyelenggara diskusi di sini macam-macam. Selain Komunitas
Sahaja, kadang
> juga Yayasan Lembaga Indonesia Perancis atau Alliance Française
Denpasar
> yang mengadakan diskusi ini. Toko buku Toga Mas, yang berada di
bagian depan
> dari museum ini juga sering menjadi penyelenggara diskusi tersebut.
>
> Selain tempat diskusi di Taman 65 dan Museum Sidik Jari, ada juga
beberapa
> komunitas diskusi di Denpasar. Dua di antaranya adalah Soup Chat
dan aliansi
> lembaga swadaya masyarakat (Alase) Bali.
>
> *Soup Chat*
> Komunitas ini salah satu dari banyak komunitas di Bali yang rajin
menggelar
> diskusi. Dan ajeg. Maksudnya bisa berjalan secara konsisten sejak
pertama
> kali diadakan pada November 2006. Tiap bulan komunitas ini
menggelar diskusi
> dengan tempat yang berpindah-pindah.
>
> Menurut website mereka <http://www.soupchat.org/about.htm>,
komunitas ini
> berangkat dari semangat berbagi dan keinginan untuk mengenal serta
> menghargai berbagai macam manusia dengan latar belakang cinta
profesi dan
> hidup yang berbeda. "Sungguh pada masa itu kami rindu dengan
suasana
> komunitas. Suatu suasana di mana sekumpulan manusia saling
mengenal dan
> peduli satu sama lain. Komunitas yang heterogen dan saling
berinteraksi pada
> suatu lingkungan," tulis mereka di websitenya.
>
> Seperti namanya, Soup Chat memang berdiskusi sambil nyeruput
semangkuk sup.
> Untuk bisa menyantap semangkuk sup nikmat ini, peserta cukup
membayar Rp 10
> ribu. Namun sup hanya jadi menu pembuka. Menu utama mereka adalah
tema
> diskusi itu sendiri. Ada kisah jalan-jalan, karya arsitektur,
pengamatan
> kota tua, dan lain-lain. Ini sebagian yang sudah penah
didiskusikan: sulap,
> logika ilusi, kefir, kehidupan koral Indonesia, feng shui,
Tejakula, demo
> sushi, belajar origami, ilustrasi komik, soup market, demo
menyambung
> adenium, nonton film bersama, dan dongeng untuk anak.
>
> Intinya tema diskusi sangat beragam. Saya hanya pernah satu kali
ikut
> diskusi ini. Itu pun sebagai cheerleader untuk Arief Budiman alias
> Kang Ayip<http://www.ayipbali.com/>,
> pencetus Bali Creative
Community<http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/>,
> yang menyajikan tema tentang potensi industri kreatif Bali.
Diskusi pada
> Agustus tahun lalu ini juga menghadirkan tema paragliding. Metode
diskusi
> sangat santai. Ada yang bisa lesehan, berdiri, nungging –Hehe-, dan
> lain-lain. Pokoknya suka-suka peserta.
>
> Oh ya, diskusi ini terbuka untuk umum. Siapa saja boleh ikut.
Selain punya
> website, mereka juga punya mailing list, yang sayangnya kurang
aktif. Kalau
> mau ikut agenda diskusi, silakan gabung di sana.
>
> *Alase Bali*
> Aliansi LSM se-Bali (Alase Bali) memang baru terbentuk sekitar
tiga bulan
> lalu. Namun cikal bakalnya sudah lama. LSM sering kali mengadakan
diskusi
> bersama di Bali. Atau setidaknya diskusi oleh satu LSM tapi
dihadiri LSM
> lain. LSM di Bali yang ikut pun tak jauh dari yang itu-itu juga:
Walhi Bali,
> Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI) Bali, Lembaga Bantuan
Hukum (LBH)
> Bali, Kalimajari, Yayasan Wisnu, Mitra Bali, dan seterusnya.
>
> Sebenarnya aliansi LSM ini pernah punya satu tempat nongkrong
sekalian untuk
> diskusi. Tempatnya di –dulu disebut- JIKA, singkatan dari Jaringan
Informasi
> Kerja Alternatif dengan Ngurah Karyadi sebagai tukang kompornya.
Lokasinya
> di Jl Tjok Agung Tresna, Renon. Kantor ini pada awalnya sekalian
jadi
> semacam sekretariat bersama beberapa LSM seperti Walhi, PBHI,
Linmas, dan
> Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar. Tapi kini tempat itu
sudah
> jarang dipakai diskusi karena ruangan tempat diskusi sudah jadi
kantor
> pengacara.
>
> Tema diskusi tidak jauh dari tema lingkungan dan politik. Sangat
serius.
> Misalnya tentang kerusakan lingkungan, pelanggaran hak asasi
manusia (HAM),
> dan seterusnya. Salah satu tema diskusi yang saya ikut terakhir
kali, Jumat
> (20/2) lalu, adalah soal dinamika politik dalam perspektif HAM di
Hotel Inna
> Jalan Veteran Denpasar. Tema diskusi ini menarik tapi sayang
sedikit yang
> hadir. Dari sekitar 50 peserta yang hadir ya sebagian besar
kalangan aktivis
> LSM yang itu-itu saja. Ibaratnya 4L, lu lagi lu lagi..
>
> Selain tempat dan komunitas diskusi di atas, ada juga beberapa
diskusi yang
> digelar secara insidentil. Tempatnya tidak pasti. Begitu juga
temanya. Bali
> Blogger Community <http://baliblogger.org/> (BBC), di mana saya
jadi salah
> satu anggotanya, beberapa kali bikin diskusi juga. Bahkan kini kami
> berencana membuat diskusi rutin tiap bulan sekali. Silakan tunggu
saja
> undangan selanjutnya. [#]
>
>
> --
> Anton Muhajir
> www.rumahtulisan.com - Personal Blog
> www.balebengong.net - Balibased Citizen Journalism
>


------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:bali-bali-digest@yahoogroups.com
mailto:bali-bali-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
bali-bali-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Tidak ada komentar: