Senin, 23 Maret 2009

Re: [bali-bali] NYEPI

Mbak Laras yang baik...ikut nimbrung ya :)
 
Paparan simple, straight forward dan terasa indah pada saat dia disampaikan dengan suasana emosi yang damai dan mutual respect.
 
Beginilah memang keberadaan kita semua yang semuanya " berbeda" karena proses perputaran hidup itu sendiri dan eksistensi awal yang juga berbeda. Ini realitas.
 
Setuju dengan Mbak Laras, memang harus diakui bahwa banyak paparan Bang Leo memberikan referensi untuk direnungkan lebih jauh...dan selanjutnya terserah pendapat, keyakinan, dan pelaksanaan kita masing-masing.
 
Yang paling penting adalah di dalam kebebasan itu kita bisa saling menghormati satu sama lain, apapun agama, keyakinan atau secara umum warna "keberadaan" kita.
 
Selamat menyambut hari Nyepi kepada saudara-saudaraku yang merayakan dan salam Kasih kepada saudara-saudaraku yang lain.
 
Surya  

--- On Mon, 3/23/09, Laraslia <laraslia@yahoo.com> wrote:

From: Laraslia <laraslia@yahoo.com>
Subject: Re: [bali-bali] NYEPI
To: bali-bali@yahoogroups.com
Date: Monday, March 23, 2009, 10:26 AM

Bagus sekali renungannya Mbok. Maaf saya ikutan nimbrung. Nyepi karena satu dan lain hal akhirnya menjadi rutinitas saya di perumnas 10 tahun terakhir. Saat tahun ini mau permisi pulang kampung, mumpung libur panjang, yang ada malah didemo 'keluarga' saya di perumnas. Ya sudah, akhirnya nyepi diperumnas lagi.

Kalau Buffet selaku pengelola dalam laporan tahunannya selalu membuat pengakuan dosa atas kesalahan pengambilan keputusan, maka saya disini, mengambil momen nyepi, sebagai murid juga ingin mengucapkan terima kasih kepada guru guru saya (bukan pengakuan dosa, kalo murid ngaku dosa kan nilainya dikurangi).
Khususnya kepada bang leo, berkat penjelasan HAM kebebasan berpendapat, saya bisa melatih kata2 dan emosi saya, bisa memantapkan jalan saya, tujuan saya, termasuk jg mengasah kesadaran saya. Betul bli surya bilang, dalam kesadaran itu sendiri akan selalu ada tingkatannya. Dan bahwa setiap orang memainkan perannya masing2, saya menjadi sangat mensyukuri peran yg sy lakonkan sekarang.

Kembali ke laptop! Dalam tulisan mbok gayatri sempat disinggung bahwa surga sebagai persinggahan, bukan tujuan. Sedikit terbalik dg kami di islam. Bahwa hiduplah yg menjadi persinggahan, hidup adalah proses.
Bagaimanapun, surga adalah tujuan kami. Dan neraka adalah mimpi buruk kami. Untuk mencapai itu, kami harus benar2 memperhatikan proses itu sendiri. Tidak hanya banyak2an bersedekah atau mendirikan masjid, tapi lebih ke prosesnya, bagaimana uang itu diperoleh.


Demi tujuan itu, kami harus memperhatikan aturan, kami harus menahan diri seumur hidup. Karena godaan dan kesalahan selalu ada, minimal 5x sehari kesempatan diberikan untuk memohon ampunan dan reintrospeksi/ refresh.

Siapa bilang kami tidak suka bersenang senang, mengumbar hawa nafsu, ngajum, dipuji orang atas kemolekan kami ? karena tujuan tersebut salah satunya, kami harus menahan diri.

Setelah mencari uang dgn susah payah, kenapa juga kami harus menyisihkan 2,5% zakat utk simiskin ? Lagi2 karena tujuan tersebut kami harus ikhlas.

Seumur hidup kami adalah puasa, menahan diri. Seumur hidup adalah ritual dan ujian. Tahajud dan dzikir adalah meditasi kami. Sholat adalah yoga kami. Belum lagi ujian tahunan berupa puasa sebulan penuh untuk menguji pengendalian emosi kami, bagaimana agar kami bisa tetap bermanfaat dgn segala keterbatasan kami.

Selamat Tahun Baru. Selamat reintrospeksi.


---- Original message ----
From: Asana Viebeke Lengkong <asanasw@indo. net.id>
Sent: 22 Mar 2009 04:27 +00:00
To: <bali-bali@yahoogrou ps.com>, <bali@lp3b.or. id>
Subject: [


--delete--
Dalam konteksnya kini nyepi mendapatkan padanan kemanfaatan yakni: betapa pengobatan kepada bhuwana itu ternyata dapat dilakukan dengan brata penyepian. Bertemulah kearifan timur dengan keresahan global dalam persoalan lingkungan. Namun sunya sebagi tujuan menjalankan dharma, menetapkan surga adalah persinggahan, tidaklah sebagai tujuan. Sebab hidup adalah proses. Yang dulu, kini dan nanti sebenarnya bertumpukan dalam putaran hidup seseorang. Di situlah nyepi menjadi sangat kontemplatif: sejenak memahami ketika mengawali itu yang 'diam yang relatif, itu yang gelap dia juga relatif, semuanya dalam tata krama hubungan antar manusia didharmakan, dijalankan sebagai aturan: kemudian menjadi pegangan ketika memulai 'keterjagaan awal". Nyepi selalu mendatangkan hentakan di malam hari, desau senyap di siang hari.

--delete--


-----
 Dikirim menggunakan telepon selular Sony Ericsson



__._,_.___


Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Tidak ada komentar: