Selasa, 03 Maret 2009

Re: [bali-bali] Mencari Tempat Diskusi di Denpasar

Pak Darma yth,

Terima kasih pula atas komennya yang panjang. Bolehkah saya masukkan di Bale Bengong juga.

Suksma..

2009/3/4 Darma Putra <idarmaputra@yahoo.com>

Anton bagus genjing....
Terima kasih, sudah menulis topik menarik untuk kita tentang tempat diskusi. Bolehlah saya tambahkan.
 
Yang diperlukan pertama-tama bukanlah tempat diskusi, tetapi orang yang senang atau sudi diskusi. Kalau ada orang yg suka ngobrol, pasti kemudian menemukan tempat, entah di warung, ruko, tepi jalan semacam Malioboro. Sebaliknya, kalau tempat ditetapkan dulu, belum tentu ada orang mau datang, makanya tak heran kalau sampeyan dkk rugi ngontrak ruko buat lokasi diskusi.
 
Jangan lupa, bahwa sejak dulu kelompok diskusi selalu ada di Denpasar dan sekitarnya dan oleh karena itu tempat diskusi senantiasa juga ada, walau lokasinya pindah-pindah. Tahun 1970-an/1980-an, Pak Sukada (dosen sastra Unud, mantan redaktur sastra Bali Post) sering ngadain diskusi mingguan di Arta Centre atau Gedung Merdeka, diikui penggemar sastra dan teater. Kelompok ini juga baca puisi di radio-radio, RRI dan Menara. Kadang diskusi dilaksanakan di rumah Sukada, di rumah Boyke Karang, di rumah Abu Bakar. Seniman yang hadir juga bermutu, seperti Nh Dini dan Putu Wijaya. Sesekali, rombongan pergi ke Toyabungkah berdiskusi dengan Sutan Takdir. Sepanjang jalan dari Kedisan ke Toyabungkah (karena belum ada kendaraan), di lembah Batur yang sunyi senyap sore menjelang petang anggota rombongan baca puisi, seolah si Batur adalah penontonnya. Mungkin itu namanya narsis, istilah yang belum populer saat itu.
 
Tahun 1980-an, Debra Yatim pernah bikin Kine Club Bali, kerjanya mutar film-film berbagai negeri. Pernah mereka putar film Jepang yang menarik, Tokyo Monogatari, tempatnya di Hotel Bali Hyatt, wah mewah...ah.  Peserta dimhonkan donasi semampunya. Setelah itu, pindah dari satu hotel ke hotel lain, darisatu tempat ke tempat lain, dan bubar karena orang yang diskusi nggak ada, padahal tempat banyak. Lalu ada kelompok Sanggar Minum Kopi awal 1990-an, diskusi di kantor Kompas Gatsu atau di sebuah rumah di Batan Moning (Jl Wahidin), juga ada Sanggar Posti tempat ngumpul-ngumpulnya seniman/budayawan di bilangan Sanglah. Warung Budaya kemudian dibuka oleh para seniman/kartunis di Art Centre, sesekali diskusi malam, siang seniman juga nongkrong, tapi tidak lama. Warung Budaya itu pun tak berfungsi, coling down.
 
Popo menyediakan Verandahnya juga untuk diskusi, bedah buku, dll menampilkan berbagai pembicara penting dari Rendra sampai GM Sudharta. Rumah pelukis Wianta juga sempat menjadi tempat ngumpul, pernah disinggahi penyair Sitor Situmorang dan gajah-gajah seniman lainnya. Seperti Anton telah tulis, Museum Sidik Jari juga jadi lokasi diskusi-diskusi dan aktivitas seni lainnya. Darga Galery sempat jadi lokasi sesekali juga. Tak pernah sunyi, walau mungkin tak semeriah di Jakarta.
 
Orang yang suka diskusi tidak akan pernah habis, generasi akan berganti, maka dari itu tempat diskusi akan selalu ada. Hanya saja siklus hidupnya pendek-pendek, tapi jangan khawatir, hilang satu akan diganti kelompok lain dengan tempat diskusi lain, gaya diskusi lain, tema diskusi lain, motiviasi diskusi lain. Sepanjang ada orang yg suka diskusi, sepanjang itu lokasi akan muncul. Makanya, kalau Anton dkk ada uang, jangan menyewa ruko untuk diskusi secara permanen, sebaiknya uang itu untuk membiayai diskusi, tempat bisa nomaden...sehingga intel (pentium) repiot melecaknya.



--
Anton Muhajir
www.rumahtulisan.com - Personal Blog
www.balebengong.net - Balibased Citizen Journalism



__._,_.___


Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Tidak ada komentar: