Maksud Pak Emil baik dan caring dengan kelanjutan tourism di Bali,
but...... ( ada tapinya ini dikit ).
Sebagai tokoh , seharusnya beliau menyempatkan diri untuk merasakan
hidup dan bekerja sebagai petani barang beberapa bulan.
Put yourself in their shoes (.. eh.. petani nggak pakai sepatu ya?)
I rephrase that , put your head in their hat .(kalau jaman dulu topong klangsah , sekarang topong golkar / PDI dll , lengkap dengan baju kaosnya).
Coba nyangkul sawah 40 are , terus ditanamai bibit ( hati hati pinggangnya pak ) ,terus jaga air malam malam agar nggak disabotage oleh petani di hulu , misi menahin pundukan hujan hujan , belum lagi
padinya dirusak orang nyuluh lindung dan kakul (seperti saya).
habis itu nigtig padi di tengai tepet ( kalau panennya bagus).
Waktu musim nggak kebagian air , coba nigtig kedele 2 kwintal,
disiang bolong sambil garuk garuk leher gatal.
Tapi dapet nasi ketela , berisi sayur daun kacang urap ,pindang kucing dan sambel kencur , kalau nasib lagi baik ,dapet juga telor rebus sebutir (atau mungkin telor itu karena ada saya disana).
Setelah itu , ingat juga bawa panenannya pulang , menek jurang tuwun pangkung , bolak balik.
Kemudian baru hitung perbandingan hasil dan jerih payah petani kita.
Kalau sudah merasakan itu , dan tetap mau mempertahankan profesi sebagai petani , baru saya angkat topi , you are a better person than i am.
Baiknya rasakan itu dulu , baru ngomong .
Paling tidak , seperti yang saya bilang dimilis ini (ketika baru mulai) . bebaskan pajak tanah sawah untuk paman dan saudara saya dikampung , untuk Bali saja dulu .
"Katanya" petani itu tulang punggung negara , kalau pemerintah tidak berusaha memperingan beban mereka dan menghargai jerih payah mereka ,
than who will?
shanti , that's my opinion .. put up or shut up !
--- In bali-bali@yahoogroups.com, Anton Muhajir <antonemus@...> wrote:
>
> sekadar komen. Tri Hita Karana ini mirip kitab suci agama-agama, bagus di
> konsep lemah di tataran praktis. THK itu jadi sekadar jargon, bukan di
> pelaksanaan. dan palemahan yg selalu jadi korban. :((
>
> --
>
> http://regional.kompas.com/read/xml/2009/07/16/02011581/Bali..Cuma.Tinggal.Cerita
>
> Bali, Cuma Tinggal Cerita
>
> Kamis, 16 Juli 2009 | 02:01 WIB
>
> DENPASAR, KOMPAS.com - Mantan Menteri Lingkungan Hidup Emil Salim merasa
> khawatir dalam dua puluh tahun ke depan pariwisata Bali ditinggalkan orang
> akibat kesalahan para penentu kebijakan, baik pihak eksekutif maupun
> legislatif.
>
> Pihak eksekutif maupun legislatif, selama ini sering kurang tepat dalam
> mengambil keputusan terkait pengelolaan sumber daya budaya dan lingkungan
> hidup, katanya saat berkunjung ke Bali Safari and Marine Park, Gianyar, Rabu
> (15/7).
>
> Untuk bisa mempertahankan Bali agar tetap menarik kunjungan wisatawan,
> katanya, dalam setiap mengambil keputusan pembangunan dan pengelolaan
> pariwisata, pemerintah bersama DPRD harus tetap berpedoman pada konsep Tri
> Hita Karana. Ini merupakan konsep tradisional Hindu Bali, yang menekankan
> pentingnya menjaga keselarasan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia
> dan manusia dengan alam sekitar.
>
> Menurut Emil Salim, sudah seharusnya para penentu kebijakan di Bali tetap
> berpijak pada Tri Hita Karana, yang merupakan salah satu kearifan budaya
> Pulau Dewata.
>
> "Tolong disampaikan kepada eksekutif dan legislatif di Bali, agar jangan
> hanya memikirkan kepentingan ekonomi sesaat saja. Pikirkan keberlangsungan
> pariwisata Bali yang hijau dan alami di masa yang akan datang," ujar Emil
> Salim.
>
> Di era otonomi daerah ini, katanya, seharusnya para penentu kebijakan di
> Bali tidak hanya memikirkan pendapatan asli daerah (PAD) semata, yang salah
> satunya diperoleh dari pemberian izin pembangunan hotel, vila dan rumah
> makan di lokasi-lokasi yang seharusnya tetap dibiarkan hijau.
>
> Emil Salim juga mengatakan bahwa kondisi alam Bali saat ini berada di ambang
> kehancuran akibat eksploitasi pariwisata yang berlebihan.
>
> Banyaknya vila dan hotel yang melanggar sempadan pantai dan jalur hijau,
> menunjukkan bahwa para penentu kebijakan belum memahami konsep pembangunan
> pariwisata yang sudah dibuat sejak pertengahan tahun 1970. "Padahal di tahun
> 1970-an dan 1980-an wisatawan mancanegara datang berlibur ke Bali untuk
> melihat alam dan budaya masyarakat Bali yang tidak dapat dijumpai di negara
> asal mereka. Wisatawan itu datang untuk melihat sistem subak, sawah
> terasering, serta pemandangan alam yang begitu luar biasa," ujar Emil Salim.
>
> Tetapi sekarang, semua itu nyaris tidak dapat ditemui karena di
> tengah-tengah sawah sudah ada vila mewah, atau hotel dan bangunan lainnya
> yang memiliki ketinggian melebihi ketinggian pohon kelapa.
>
> Emil Salim juga memberi contoh maraknya pembangunan vila di beberapa
> kabupaten di Bali, yang akan mempercepat kerusakan secara sporadis alam dan
> lingkungan sekitarnya. "Kalau di tengah-tengah sawah terasering kemudian
> dibangun vila mewah, sudah pasti akan memotong jalur air, dan air yang
> seharusnya untuk subak serta pertanian akhirnya habis untuk puluhan hingga
> ratusan vila di satu tempat," katanya.
>
> Oleh karena itu, ia mengimbau agar para penentu kebijakan di Bali, baik
> eksekutif maupun legislatif, kembali berpijak pada konsep nenek moyang Hindu
> Bali, yakni Tri Hita Karana.
>
> Dengan demikian, Bali akan tetap menarik dikunjungi wisatawan mancanegara
> karena pembangunan pariwisata dilakukan secara berkelanjutan dan ramah
> lingkungan, katanya. - XVD - Sumber : Ant
>
> --
> Anton Muhajir
> www.rumahtulisan.com - Personal Blog
> www.balebengong.net - Balibased Citizen Journalism
>
------------------------------------
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:bali-bali-digest@yahoogroups.com
mailto:bali-bali-fullfeatured@yahoogroups.com
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
bali-bali-unsubscribe@yahoogroups.com
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar