shanti , senyum senyum sampul nggak pakai prangko.
--- In bali-bali@yahoogroups.com, sugilanus@... wrote:
>
> Loh gimana sih dik Anton Muhajir ini, bukannya Tri Hita Karana itu sdh diganti filososis Dwi Hita Par-tai: 1, Partai eceran dan 2, Partai besar. Pengeraknya partai juga. Jadi implementasinya sdh berhasil menurut Dwi Hita Par-tai itu..
>
> Ampura bli Gung niki Shanti lagi resek...
>
>
>
>
>
>
>
>
> Sent from my BlackBerry®
> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
>
> -----Original Message-----
> From: Anton Muhajir <antonemus@...>
>
> Date: Thu, 16 Jul 2009 06:50:32
> To: baliblogger<baliblogger@yahoogroups.com>
> Cc: bali-bali<bali-bali@yahoogroups.com>; <balebengong@yahoogroups.com>; <baligati@yahoogroups.com>
> Subject: [bali-bali] Bali, Cuma Tinggal Cerita
>
>
> sekadar komen. Tri Hita Karana ini mirip kitab suci agama-agama, bagus di
> konsep lemah di tataran praktis. THK itu jadi sekadar jargon, bukan di
> pelaksanaan. dan palemahan yg selalu jadi korban. :((
>
> --
>
> http://regional.kompas.com/read/xml/2009/07/16/02011581/Bali..Cuma.Tinggal.Cerita
>
> Bali, Cuma Tinggal Cerita
>
> Kamis, 16 Juli 2009 | 02:01 WIB
>
> DENPASAR, KOMPAS.com - Mantan Menteri Lingkungan Hidup Emil Salim merasa
> khawatir dalam dua puluh tahun ke depan pariwisata Bali ditinggalkan orang
> akibat kesalahan para penentu kebijakan, baik pihak eksekutif maupun
> legislatif.
>
> Pihak eksekutif maupun legislatif, selama ini sering kurang tepat dalam
> mengambil keputusan terkait pengelolaan sumber daya budaya dan lingkungan
> hidup, katanya saat berkunjung ke Bali Safari and Marine Park, Gianyar, Rabu
> (15/7).
>
> Untuk bisa mempertahankan Bali agar tetap menarik kunjungan wisatawan,
> katanya, dalam setiap mengambil keputusan pembangunan dan pengelolaan
> pariwisata, pemerintah bersama DPRD harus tetap berpedoman pada konsep Tri
> Hita Karana. Ini merupakan konsep tradisional Hindu Bali, yang menekankan
> pentingnya menjaga keselarasan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia
> dan manusia dengan alam sekitar.
>
> Menurut Emil Salim, sudah seharusnya para penentu kebijakan di Bali tetap
> berpijak pada Tri Hita Karana, yang merupakan salah satu kearifan budaya
> Pulau Dewata.
>
> "Tolong disampaikan kepada eksekutif dan legislatif di Bali, agar jangan
> hanya memikirkan kepentingan ekonomi sesaat saja. Pikirkan keberlangsungan
> pariwisata Bali yang hijau dan alami di masa yang akan datang," ujar Emil
> Salim.
>
> Di era otonomi daerah ini, katanya, seharusnya para penentu kebijakan di
> Bali tidak hanya memikirkan pendapatan asli daerah (PAD) semata, yang salah
> satunya diperoleh dari pemberian izin pembangunan hotel, vila dan rumah
> makan di lokasi-lokasi yang seharusnya tetap dibiarkan hijau.
>
> Emil Salim juga mengatakan bahwa kondisi alam Bali saat ini berada di ambang
> kehancuran akibat eksploitasi pariwisata yang berlebihan.
>
> Banyaknya vila dan hotel yang melanggar sempadan pantai dan jalur hijau,
> menunjukkan bahwa para penentu kebijakan belum memahami konsep pembangunan
> pariwisata yang sudah dibuat sejak pertengahan tahun 1970. "Padahal di tahun
> 1970-an dan 1980-an wisatawan mancanegara datang berlibur ke Bali untuk
> melihat alam dan budaya masyarakat Bali yang tidak dapat dijumpai di negara
> asal mereka. Wisatawan itu datang untuk melihat sistem subak, sawah
> terasering, serta pemandangan alam yang begitu luar biasa," ujar Emil Salim.
>
> Tetapi sekarang, semua itu nyaris tidak dapat ditemui karena di
> tengah-tengah sawah sudah ada vila mewah, atau hotel dan bangunan lainnya
> yang memiliki ketinggian melebihi ketinggian pohon kelapa.
>
> Emil Salim juga memberi contoh maraknya pembangunan vila di beberapa
> kabupaten di Bali, yang akan mempercepat kerusakan secara sporadis alam dan
> lingkungan sekitarnya. "Kalau di tengah-tengah sawah terasering kemudian
> dibangun vila mewah, sudah pasti akan memotong jalur air, dan air yang
> seharusnya untuk subak serta pertanian akhirnya habis untuk puluhan hingga
> ratusan vila di satu tempat," katanya.
>
> Oleh karena itu, ia mengimbau agar para penentu kebijakan di Bali, baik
> eksekutif maupun legislatif, kembali berpijak pada konsep nenek moyang Hindu
> Bali, yakni Tri Hita Karana.
>
> Dengan demikian, Bali akan tetap menarik dikunjungi wisatawan mancanegara
> karena pembangunan pariwisata dilakukan secara berkelanjutan dan ramah
> lingkungan, katanya. - XVD - Sumber : Ant
>
> --
> Anton Muhajir
> www.rumahtulisan.com - Personal Blog
> www.balebengong.net - Balibased Citizen Journalism
>
------------------------------------
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:bali-bali-digest@yahoogroups.com
mailto:bali-bali-fullfeatured@yahoogroups.com
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
bali-bali-unsubscribe@yahoogroups.com
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar