| Lomba Jurnalistik PKB Mubazir MEMANG kompetisi dalam bidang jurnalistik di ajang Pesta Kesenian Bali selama ini memiliki tujuan yang sangat mulia dan maha agung. Selain menghargai profesi jurnalistik melainkan juga dalam upaya membangun sikap kritis terhadap pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan Bali khususnya dalam ranah Pesta Kesenian Bali. Namun, dalam pelaksanaannya sangat sarat dengan kepentingan kelompok tertentu dan jauh dari nilai proporsional dan profesionalitas serta netralitas. Secara umum memang keputusan juri tidak bisa diganggu gugat, tapi semestinya penilaian lebih mengacu pada realitas dan juga penegasan dalam syarat penilaian. Tentunya, hal ini dalam upaya pencitraan moralitas dan budaya yang lebih bermartabat. Ironisnya, dalam lomba jurnalistik PKB selama ini cenderung terdapat pemenang dari pihak penyelenggara, yakni Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang notabena termasuk dalam ketetapan surat keputusan Gubernur. Hal ini tentunya secara transparan sudah menunjukkan sikap yang kurang empati dan terpuji terhadap profesionalitas sebagai seorang pemimpin. Semestinya, hal semacam itu tidak harus terjadi kalau saja pihak yang terkait dalam hal ini masih memiliki rasa hormat dan budaya malu. Tak hanya itu dalam lomba fotografi juga masih belum mengalami perubahan yang signifikan dalam penilaiannya, meskipun sejatinya yang duduk dalam dewan kurasi atau juri sudah termasuk mempuni dan profesional di bidangnya. Semestinya mereka yang ikut berlomba benar-benar diseleksi secara selektif dengan batasan yang lebih jelas tak semata hanya melihat dari hasil karyanya, sehingga mampu memunculkan talenta yang bersifat regenerasi secara sinergis dan dinamis. Selama ini terkesan mereka yang ikut lomba semestinya sudah layak duduk di dewan kurasi atau juri malahan secara terus menerus menjadi pemenang. Lantas kapan talenta baru akan bisa muncul dan memiliki kesempatan bertumbuh secara sinergis, kalau proses penilaian yang salah urus itu malahan dianggap menjadi budaya. Atas situasi ini, banyak pihak pun mulai secara lebih berani mencibir bahwa kompetisi dalam dunia jurnalistik dan fotografi PKB selama ini termasuk mubazir. Hanya sebuah pemborosan, bukan menjadi wadah dalam menggeliatkan semangat sportivitas dan kreativitas dalam membangun budaya kritis yang lebih bijaksana dan bermoral. Sebut saja, Ketut Abbas, penulis lepas dan wartawan pinisepuh yang dipercaya mengurus media center PKB 2009. Dia mengakui sangat prihatin dengan kondisi tersebut. Karena tidak berpedoman pada realitas dan kenyataan di lapangan. Bahkan secara tegas mengatakan kecewa dengan kinerja penyelenggara lomba baik jurnalistik maupun fotografi. "Ini sama halnya dengan pembohongan publik," sentilnya. Menurutnya, bila lomba jurnalistik dan fotografi di ajang PKB terus-terusan seperti ini tentunya akan menjadi mubazir dan bahkan malahan dianggap sebagai proyek kepentingan kelompok tertentu. "Ke depan hal ini tidak boleh terjadi," tegasnya, yang diamini Agung Bawantara, penulis dan juga wartawan Jalan-Jalan Bali. Bahkan Agung, yang juga penulis buku dongeng anak-anak ini berharap panitia PKB ke depan lebih selektif untuk menentukan lembaga dan personalnya sesuai profesionalitas dan netralitasnya. "Jangan sampai kompetisi jurnalistik dan juga fotografi PKB ini malahan mencoreng citraan profesi wartawan," sesalnya. Tak hanya itu, Made Santha, kabid perfilman dan kesenian Disbud Bali, juga mengaku kaget dengan kejadian itu dan prihatin. Semestinya mereka sadar dirilah tidak sampai menodai citraan lembaganya. "Kita menyerahkan pelenyelenggaraan lomba kepada PWI tentunya dengan harapan proporsional dan propesional itu bisa terjaga dengan baik, karena memang semua pihak telah mengetahui lembaga tersebut," ujarnya, sembari akan mengadakan evaluasi terhadap pelaksanaan lomba jurnalistik itu. (ija) |
__._,_.___
Tidak ada komentar:
Posting Komentar