Senin, 13 Juli 2009

[bali-bali] Bercermin dari Sejarah



 
Bercermin dari Sejarah
 
 
Pemandangan diatas merupakan sebuah kota kabupaten kecil yang bernama Echternach yang terletak di negara Luxembourg persis berbatasan dengan negara Jerman.
 
Sekilas kabupaten ini menunjukkan kemiripan dengan kabupaten Klungkung, yaitu penduduknya tidak lebih dari 150.000 jiwa dan kota kabupatennya kurang lebih sama dengan ukuran kota klungkung, dimana banyak orang yang memplesetkan  kota "klungkung" dengan sebutan "kota yang a klingkungan" yang artinya  sebuah kota kecil yang bisa dikenali atau di kelilingi dengan sekali putaran.
 
Persamaan kota Echternach lainnya yang bisa saya bagi di sini adalah di tengah kota Echternach juga terdapat sebuah bangunan bersejarah yaitu sebuah istana kerajaan jaman dulu yang masih terawat dengan baik hingga sekarang dan merupakan saksi bisu yang bisa menceritakan banyak kebesaran daerah tersebut di jaman dulu.
 
Dimana hal yang sama persis juga terdapat di pusat kota kabupaten Klungkung dengan bangunan sejarahnya yaitu Taman Gili Kertagosa, yang juga banyak bercerita tentang sejarah kebesaran kerajaan Klungkung di jaman dulu mulai dari kerajaan Gelgel yang berpusat di Swecapura hingga ibukota kerajaannya di pindahkan ke kota Semarapura sekarang ini.
 
 
Kabupaten Echternach ini juga menggantungkan pendapatan asli daerahnnya sama seperti kabupaten klungkung, yaitu dari Pariwisata. tapi ada satu hal yang membuat saya sedikit heran, entah apa yang membedakannya dengan kabupaten klungkung, kota Echternach ini di setiap akhir pekan, yaitu di hari Sabtu dan Minggu selalu saja padat di kunjungi oleh wisatawan baik itu wisatawan lokal ataupun wisatawan dari kota sebelah atau wisatawan dari negeri tetangga.
 
seperti kota-kota lainnya di Eropa, di setiap pusat kota Eropa baik kota besar ataupun kota kecil selalu di sediakan jalan setapak yang lebar mirip dengan trotoar paving yang sering kita jumpai di sepanjang kabupaten klungkung. pun demikian dengan kota Echternach terdapat jalan setapak atau dikenal dengan sebutan "fussgaenger" atau dalam bahasa inggrisnya walkway atau pedestrian-way dengan batu batanya mirip di perempatan kota klungkung di sekeliling Patung Kanda Pat.
 
sementara di kabupaten klungkung jalan batu bata hanya terdapat sebatas di perempatan Patung Kanda Pat saja, sedangkan di Ecternach jalan batu batanya hampir terdapat di seluruh pusat kota Echternach, yang membuat para pejalan kaki bisa dengan leluasa berjalan-jalan tanpa di ganggu oleh lalu-lintas kendaraan. di sepanjang jalan batu bata ini pun banyak bertebaran caffee pinggir jalan khas eropa dengan beberapa bangku dan meja kecilnya yang siap melayani setiap orang yang lewat untuk beristirahat melepas dahaga ataupun berhenti sejenak untuk ngobrol dengan kawan sambil di temani secangkir dua cangkir coffee.
 
Secara  umum memang tidak terdapat perbedaan yang mencolok diantara kabupaten Echternach dengan kabupaten klungkung dengan object pariwisatanya Taman Gili Kerta gosa serta Museum Semara Jaya nya. demikian juga dengan kebersihan  kedua kota ini yang saya lihat juga sama-sama bersih dan terawat indah.
 
 
Yang menjadi pertanyaannya, Apa yang membedakan pusat kota Echternach selalu padat di kunjungi oleh Turis atau wisatawan bila di bandingkan di pusat kota klungkung. Padahal pusat kota Klungkung atau lebih di kenal dengan nama Semarapura sesungguhnya memiliki nilai historis yang sama tingginya, bila di tinjau sejak  jaman kerajaan Bali jaman dulu.
 
Meminjam istilah dalam bahasa marketing, kabupaten klungkung mungkin perlu mendefinisikan dirinya sendiri lebih specifik lagi "be deterministik" apakah ingin menjadi kota dagang atau kota pariwisata budaya, seperti yang pernah di cetuskan kembali oleh maestro lukis nasional kelahiran Desa Banda Klungkung yaitu Pak Nyoman Gunarsa, yang ingin menjadikan kabupaten klungkung sebagai pusat pariwisata Budaya Bali sehingga masyarakat klungkung khususnya atau masyarakat bali pada umumnya bisa bercermin dari sejarah kebesarannya di masa lalu dimana kerajaan Bali dulunya berpusat di kabupaten Klungkung. ., jadi tidak hanya mengenal kota klungkung sebagai sebutan kota serombotan
 
pesan moral yang ingin saya sampaikan di artikel ini  bukanlah untuk mengajak kita semua terlena melamuni sejarah kebesaran di masa lalu melainkan mengajak kita semua untuk mencoba menggabungkan seluruh potensi yang ada demi kesempurnaan seperti  kebesaran sejarah masa lalu  di kemas menjadi suatu paket pariwisata yang spesifik dan unik untuk di jual kepada wisatawan. 
 
Kebesaran sejarah masa lalu tentunya bisa di jadikan sebagai "reference point"  agar kita tahu kemana melangkahkan kaki ini kedepan untuk bisa menjadi lebih baik lagi dan tentunya demi mewujudkan sebuah kebanggan "pride" yaitu bangga sebagai warga klungkung !



__._,_.___


Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Tidak ada komentar: