Senin, 2009 Mei 04
Rombongan Asian People Movement Against ADB Dihadang Polisi di 4 Titik di Bali
Pagi ini Senin, 4 Mei 2009, kelompok sipil dari 8 negara Asia dan kelompok masyarakat serta non goverment organisation (NGO) baik level nasional maupun lokal dari Indonesia yang akan menyuarakan hasil-hasil deklarasi dari pertemuannya beberapa hari di Denpasar mengenai praktek jerat hutang ADB, ketika menuju Lapangan Mumbul daerah Nusa Dua Bali tertahan oleh pihak kepolisian dengan alasan yang tidak jelas serta mengada-ada.
Kelompok pertama dari rombongan Walhi dan Seafish for Justice yang berasal dari 5 negara, tertahan di Polsek Kuta Selatan, negosiasi yang dilakukan nyaris tidak membuahkan hasil, walaupun kelompok ini sudah memberkan nama-nama partisipan dan tujuan keberangkatan kali ini adalah untuk menyuarakan hasil-hasil deklarasinya. Awalnya di cek poin pertama Nusa Dua rombongan yang memang terjebak dalam arus lalu lintas menuju Nusa Dua, ketika akan berbalik arah menuju Lapangan Mumbul tiba-tiba polisi langsung memberhentikan rombongan yang terdiri dari 3 mobil tersebut, dan hendak mengambil perlengkapan rombongan. Karena negosiasi alot dan menimbulkan perhatian bagi para partisipan yang hendak menuju acara ADB, kemudian mereka langsung mengawal untuk dibawa ke Polsek untuk dimintai keterangan.
Kelompok kedua yang terdiri dari petani, nelayan dan para aktivis yang terdiri dari laki-laki dan perempuan yang mengendarai bus dan sebuah mobil untuk mengarahkan peserta yang berangkat dari Denpasar, ketika di Perempatan Benoa tiba-tiba polisi melakukan blokade oleh satu kompi pasukan dan memaksa bus untuk berhenti dan berbalik arakh kembali ke Denpasar. Negosiasi yang dilakukan akhirnya mengambil keputusan bahwa kelompok kedua ini bersedia pulang ke Denpasar asalkan kelompok pertama dari rombongan Walhi harus dilepaskan dan pengembalian peralatan aksi yang disita polisi.
Penahanan paralel juga dilakukan terhadap satu rombongan yang tidak menuju arah lapangan Mumbul, melainkan mau ke Denpasar, akan tetapi karena plat mobil sudah teridentifikasi sebagai bagian kelompok penentang ADB, maka rombongan yang tidak tahu apa-apa inipun diberhentikan paksa dipinggir jalan dan diperiksa hingga penggeledahan tas.
Bahkan massa petani yang berasal dari daerah Jembrana, Bali yang tergabung dalam Aliansi Petani Indonesia, juga ditahan di wilayah Kuta. Rombongan yang terdiri dari massa petani inipun, dipaksa mundur dan diintrogasi polisi di pinggir jalan. Kendaraan dan tas digeledah, polisi juga mengambil peralatan yang sudah disipakan petani untuk menyuarajkan keprihatinannya.
Pnahanan paralel yang dilakukan polisi terhadap kelompok masyarakat Asia yang menolak ADB di Bali ini jelas-jelas menunjukkan ketidakberpihakan aparat terhadap nasib bangsa dan rakyat yang menolak dimiskinkan oleh proyek hutang luar negeri.
Akhirnya 4 (empat) rombongan ini di lepas dengan pengawalan super ketat dan berkumpul di meeting poin lapangan timur Renon Denpasar untuk melanjutkan aksi ke Konjen Amerika dan Konjen Jepang, seperti yang dilakukan pada dua hari sebelumnya untuk menegaskan sikap-sikap masyarakat sipil asia terhadap kedua negara pemilik saham terbesar di ADB tersebut.
Aksi kemudian ditutup dengan membacakan Deklarasi Bali 2009 di depan Konjen Jepang dan kembali berkumpul di Renon Timur.
Rombongan Asian People Movement Against ADB Dihadang Polisi di 4 Titik di Bali
Pagi ini Senin, 4 Mei 2009, kelompok sipil dari 8 negara Asia dan kelompok masyarakat serta non goverment organisation (NGO) baik level nasional maupun lokal dari Indonesia yang akan menyuarakan hasil-hasil deklarasi dari pertemuannya beberapa hari di Denpasar mengenai praktek jerat hutang ADB, ketika menuju Lapangan Mumbul daerah Nusa Dua Bali tertahan oleh pihak kepolisian dengan alasan yang tidak jelas serta mengada-ada.
Kelompok pertama dari rombongan Walhi dan Seafish for Justice yang berasal dari 5 negara, tertahan di Polsek Kuta Selatan, negosiasi yang dilakukan nyaris tidak membuahkan hasil, walaupun kelompok ini sudah memberkan nama-nama partisipan dan tujuan keberangkatan kali ini adalah untuk menyuarakan hasil-hasil deklarasinya. Awalnya di cek poin pertama Nusa Dua rombongan yang memang terjebak dalam arus lalu lintas menuju Nusa Dua, ketika akan berbalik arah menuju Lapangan Mumbul tiba-tiba polisi langsung memberhentikan rombongan yang terdiri dari 3 mobil tersebut, dan hendak mengambil perlengkapan rombongan. Karena negosiasi alot dan menimbulkan perhatian bagi para partisipan yang hendak menuju acara ADB, kemudian mereka langsung mengawal untuk dibawa ke Polsek untuk dimintai keterangan.
Kelompok kedua yang terdiri dari petani, nelayan dan para aktivis yang terdiri dari laki-laki dan perempuan yang mengendarai bus dan sebuah mobil untuk mengarahkan peserta yang berangkat dari Denpasar, ketika di Perempatan Benoa tiba-tiba polisi melakukan blokade oleh satu kompi pasukan dan memaksa bus untuk berhenti dan berbalik arakh kembali ke Denpasar. Negosiasi yang dilakukan akhirnya mengambil keputusan bahwa kelompok kedua ini bersedia pulang ke Denpasar asalkan kelompok pertama dari rombongan Walhi harus dilepaskan dan pengembalian peralatan aksi yang disita polisi.
Penahanan paralel juga dilakukan terhadap satu rombongan yang tidak menuju arah lapangan Mumbul, melainkan mau ke Denpasar, akan tetapi karena plat mobil sudah teridentifikasi sebagai bagian kelompok penentang ADB, maka rombongan yang tidak tahu apa-apa inipun diberhentikan paksa dipinggir jalan dan diperiksa hingga penggeledahan tas.
Bahkan massa petani yang berasal dari daerah Jembrana, Bali yang tergabung dalam Aliansi Petani Indonesia, juga ditahan di wilayah Kuta. Rombongan yang terdiri dari massa petani inipun, dipaksa mundur dan diintrogasi polisi di pinggir jalan. Kendaraan dan tas digeledah, polisi juga mengambil peralatan yang sudah disipakan petani untuk menyuarajkan keprihatinannya.
Pnahanan paralel yang dilakukan polisi terhadap kelompok masyarakat Asia yang menolak ADB di Bali ini jelas-jelas menunjukkan ketidakberpihakan aparat terhadap nasib bangsa dan rakyat yang menolak dimiskinkan oleh proyek hutang luar negeri.
Akhirnya 4 (empat) rombongan ini di lepas dengan pengawalan super ketat dan berkumpul di meeting poin lapangan timur Renon Denpasar untuk melanjutkan aksi ke Konjen Amerika dan Konjen Jepang, seperti yang dilakukan pada dua hari sebelumnya untuk menegaskan sikap-sikap masyarakat sipil asia terhadap kedua negara pemilik saham terbesar di ADB tersebut.
Aksi kemudian ditutup dengan membacakan Deklarasi Bali 2009 di depan Konjen Jepang dan kembali berkumpul di Renon Timur.
__._,_.___
Tidak ada komentar:
Posting Komentar