Bali Butuh Waktu Setahun
Perlu Bergerak Bersama untuk Bebas Rabies
Rabu, 4 Februari 2009 | 00:57 WIB
Denpasar, Kompas - Pulau Bali bisa bebas kembali dari rabies dalam
waktu maksimal satu tahun apabila penanganannya diperkuat dan
dipercepat. Salah satunya adalah optimalisasi vaksinasi dari daerah
terpapar (Badung dan Denpasar) ke daerah terancam.
Daerah yang terancam ini tersebar di tujuh kabupaten lain di Bali.
âSekarang keputusan ada di tangan gubernur dan pemerintah pusat. Soal
sumber daya manusia kami tidak kekurangan. Fakultas Kedokteran Hewan
Universitas Udayana siap menerjunkan 1.000 orang per hari untuk
membantu vaksinasi,â kata Dr drh Gusti Ngurah Mahardika, peneliti dari
FKH Universitas Udayana dalam Diskusi Ilmiah Percepatan Penanggulangan
Rabies yang digagas FKH Unud di Denpasar, Selasa (3/2).
Mahardika mengakui, upaya vaksinasi terhadap hewan penular rabies
(HPR), seperti anjing, kucing, dan kera, terutama anjing di Bali,
sangat berat karena populasi anjing yang tinggi dengan kerapatan
sangat padat. Berdasarkan data Yayasan Yudisthira Swarga, sebuah LSM
yang bergerak dalam pengendalian populasi anjing, jumlah anjing di
Bali sekitar 540.000 ekor atau 96 ekor per kilometer persegi. Menurut
estimasi Dinas Peternakan Bali, populasinya 360.000-400.
Namun, ia menegaskan, vaksinasi terhadap HPR dapat âmenutup gerakâ
penularan virus rabies apabila dilakukan secara optimal.
Hingga Januari lalu, vaksinasi HPR di Badung dan Denpasar belum
optimal. Vaksinasi baru dilakukan pada 36.191 ekor HPR. Jumlah ini
34,2 persen di Badung dan 26,26 persen di Denpasar dari total populasi
HPR di dua daerah itu. Di samping itu, eliminasi anjing liar di Bali
baru dilakukan terhadap 818 ekor.
âKami minta pemerintah bekerja sama dengan LSM, kalangan kampus, serta
desa adat secara lebih optimal agar lebih fokus dan tepat sasaran.
Sebab, sebenarnya virus rabies mudah dikendalikan karena penularannya
terbanyak hanya melalui gigitan. Jika bergerak bersama, maksimal satu
tahun kita bisa bebas rabies lagi,â kata Mahardika.
Praktisi hewan kecil yang juga mantan penyidik di Balai Penyidikan
Penyakit Hewan Wilayah VI Denpasar, drh Soeharsono PhD, menyatakan,
vaksinasi antirabies hanya di daerah tertular atau terpapar tidak
menjamin berhasil memotong penularan rabies secara lebih luas.
Buktinya, rabies di Bali sudah ditemukan pada anjing di Legian (Kuta
Utara) dan Denpasar. Kebijakan sama sebelumnya adalah hanya melakukan
vaksin di Kecamatan Kuta Selatan sebagai daerah ditemukannya rabies di
Bali pertama kali, September 2008.
âTetap ada kemungkinan untuk hewan penular, seperti anjing liar
bermigrasi, atau dibawa warga ke daerah lain yang belum tertular.
Apalagi vaksin baru benar-benar menjadi imunitas sekitar dua pekan
pascavaksin. Untuk itu, agar penularan rabies tidak meluas lagi,
vaksinasi harus segera digelar di luar daerah tertular atau terpapar,â
katanya. (BEN)
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___
Tidak ada komentar:
Posting Komentar