Selasa, 03 Februari 2009

[bali-bali] Re: Analisis Mendalam Tentang Agama, Tuhan dan Negara

Bapak Sugi,
Menurut saya paragraph yang paling penting melenting:

"Manusia yang sudah mencapai derajat
Religiositas yang tinggi, sudah tidak lagi
mementingkan wadahnya yaitu agama, melainkan lebih
mementingkan isi (intisari/makna) suatu ajaran agama,
sehingga ia menjadi manusia bebas merdeka yang tidak
tersekat-sekat lagi. Berbahagialah orang yang tidak
beragama namun mempunyai religiositas yang tinggi,
sebab ia akan bebas merdeka dimana saja, kapan saja,
dilingkungan apa saja! Manusia semacam ini menjadi
bebas merdeka dari kepelikan/kerumitan aturan agama."

Kalau separuh saja manusia didunia bisa mencapai taraf spiritual
setinggi ini, maka tidak akan ada lagi pembunuhan, pengeboman atau
peperangan dengan mengatas namakan agama. Damailah jagad mercapada
ini.
Om shanti shanti shanti Om
Suksema,

Made Sutjita

--- In bali-bali@yahoogroups.com, Sugi Lanús <sugilanus@...> wrote:
>
> INI VERSI RAMADHAN 2001 TENTANG TOPIK BAHASAN DISKUSI INI, SILAHKAN
> BANDINGKAN DENGAN YANG BEREDAR DI BALI-BALI, YANG AKHIRNYA
BERKEMBANG
> DAN MEMBUAT JADI MEJAL-JAL (MENURUT BIANG VIEB):
>
> [VIEWS] IBU PERTIWI - Analisis Mendalam ......
> From: apakabar@...
> Date: Sun Nov 18 2001 - 14:53:05 EST
>
> Date: Sat, 17 Nov 2001 20:30:12 -0800 (PST)
> From: Ibu Pertiwi <ptw21id@...>
> Subject: Analisis Mendalam Tentang Agama, Tuhan dan Negara (Revisi)
> To: apakabar@...
> Cc: indonesian@..., ranesi@...
>
> Analisis Mendalam Tentang Agama, Tuhan dan Negara
> (Revisi)
>
> Tulisan ini merupakan edisi revisi dari tulisan yang
> sama pada dua bulan yang lalu. Edisi revisi sangat
> diperlukan mengingat datangnya bulan Ramadhan dan
> perkembangan berbagai kasus diberbagai belahan bumi,
> terutama di Indonesia. Para pembaca diminta untuk
> rasional, logis dan dewasa dalam membaca artikel yang
> sangat mendalam ini. Renungan ini sangat bagus untuk
> bahan Tarawih dan berbagai kegiatan pendalaman
> keagamaan/filsafati.
>
> Saudaraku sebangsa dan setanah air, siapa yang tidak
> risau melihat kenyataan yang terjadi di Indonesia. Ada
> berbagai agama besar dengan umatnya yang besar
> (terutama Islam), namun kasih sayang, kebenaran dan
> keadilan malah nyaris tidak ada. Atau justru
> sebaliknya, kekerasan, kerusuhan, pembunuhan, ketidak
> adilan, hibah harta haram, korupsi dan berbagai
> pelanggaran HAM malah terjadi di Indonesia, dan
> barangkali hal ini mencapai index prestasi nomor wahid
> didunia. Demikian pula yang terjadi dengan di negara2
> yang kental sekali agamanya, seperti negara2 Amerika
> Latin (Colombia, Argentina, Bolivia), Philipina (jaman
> Marcos), negara2 Timur Tengah, Pakistan, Aljasair,
> Afganistan, dst. Apanya yang salah, agama atau cara
> beragama? Berikut ini adalah butir2 analisis yang
> sangat mendalam tentang Agama, Tuhan, dan Bangsa
> (dalam bentuk dalil2 yang tidak beku/statis, silahkan
> dikembangkan).
>
> Dalil 1.
> Tuhan itu tidak beragama, jadi Ia berlaku adil bagi
> semua manusia. Agama adalah sekedar sarana untuk
> mengenalkan Tuhan, namun Tuhan sendiri tidak beragama.
>
> Dalil 2.
> Agama mempunyai keterbatasan yang cukup mencolok
> seperti disebutkan dalam kitab-kitab suci Al- Quran
> dan Injil. Misal dalam Al-Quran ditandaskan bahwa
> apabila semua ajaran Allah SWT dituliskan, maka tinta
> sebanyak samudera rayapun tidak akan mencukupi.
> Demikian pula dengan Injil yang menandaskan apabila
> semua ajaran Isa Almasih dituliskan maka buku setebal
> gunungpun tidak akan bisa memuat. Ke "Mahabesaran
> Tuhan" tidak mungkin cukup diwadahi dalam buku setebal
> kitab suci. Ke "Mahabesaran Tuhan" juga tercermin pada
> luas dan dalamnya ilmu pengetahuan. Dengan terbatasnya
> kitab suci, ini berarti umat beragama diminta untuk
> lebih banyak belajar ilmu beserta kebenarannya diluar
> kitab suci masing2 agama (jadi isi masing2 kitab suci
> ternyata hanya sedikit sekali!). Dengan banyak belajar
> diluar kitabsuci, diharapkan IQ, EQ dan Iman terus
> berkembang sejajar, tidak timpang, dan tidak fanatik.
> Bila orang hanya dalam pada sisi "Iman" saja, maka ia
> mudah diperalat oleh para politisi.
>
> Dalil 3.
> Pencapaian puncak pemahaman agama adalah religiositas.
> Ibarat kuliah, ini adalah Philosophy Degree atau gelar
> Doktor. Setelah bergelar Doktor, maka ilmu lebih
> penting daripada almamaternya. Kalau baru taraf
> kuliah, seorang mahasiswa masih suka memamerkan
> identitas2 universitasnya. Demikian pula dengan agama,
> Tuhan dengan sifat dasar Nya ("Maha Pengasih dan
> Penyayang") menjadi lebih penting daripada agama itu
> sendiri, atau bahkan agama menjadi tidak perlu lagi.
> Jadi, kalau sudah mumpuni keagamaan seseorang, bukan
> agamanya yang penting, melainkan religiositasnya yang
> amat sangat penting. Ia tidak lagi tersekat-sekat oleh
> kotak sempit yang disebut agama. Religiositas
> setingkat lebih atas daripada agama. Religiositas
> dapat diperoleh tanpa melalui agama. Salah satu
> definisi umum tentang religiositas adalah sbb.: sikap
> hatinurani, batin dan pikiran manusia yang selalu
> diarahkan kepada perbuatan baik, kasih sayang,
> kebenaran dan keadilan.
>
> Dalil 4.
> Agama adalah sesuatu yang abstrak dan sulit dicerna,
> oleh sebab itu sebaiknya tidak diberikan kepada
> anak-anak yang belum dewasa (disekolah dasar), apalagi
> dipaksakan sebagai pendidikan agama (ini pelanggaran
> HAM, agama adalah kebebasan untuk memilih); kalau
> sebagai pengajaran tentang berbagai agama, ini penting
> dan perlu diajarkan (misalnya keanekaragaman agama
> beserta ciri mereka masing2). Sebaiknya agama sebagai
> pendidikan (untuk menarik pengikut baru) diberikan
> kepada manusia dewasa, waktu kecil cukup diberikan
> budi pekerti. Kalau sejak kecil sudah dicuci otak
> dengan agama, maka hasilnya mirip Indonesia saat ini.
> Bukan kekeluargaan atau kasih sayang melainkan
> kecurigaan, 'keterkotakan' (SARA) dan bahkan kekerasan
> yang justru muncul. Dinegara modern seperi USA,
> Jepang, Korsel, Taiwan, Inggris, Australia, dst. agama
> memang tidak boleh diberikan pada anak2 SD sebagai
> pendidikan(kecuali sekolah yang berafiliasi dengan
> agama tertentu), namun sebagai pengajaran (transfer of
> knowledge) yang mengajarkan berbagai agama beserta
> karakteristiknya diperbolehkan, pendidikan agama
> adalah merupakan tanggung jawab orang tua. Untuk anak,
> yang lebih baik dan lebih penting adalah budi pekerti.
> Budi pekerti mengajarkan sopan-santun, taat hukum,
> keadilan dan hidup bersosial secara baik. Benarkah dan
> pernahkah Nabi Muhammad SAW dan Nabi Isa mengarahkan
> agama kepada anak2? Tidak kan? Oleh sebab itu,
> kasihanilah para anak2 dengan tidak membebani otak
> mereka kepada pengetahuan yang belum saatnya; dan yang
> lebih penting dan mendasar: agama syarat dengan dogma2
> yang beku, bila diajarkan secara kurang tepat justru
> akan membelenggu kecerdasan anak2, bahkan justru anak2
> akan mulai terkotak-kotak sejak dini! Masih ingin
> bukti? Lihatlah prestasi masyarakat RRC yang komunis,
> ternyata lebih religius, tidak main membunuh orang
> (maling ayam dan pencopet), prestasi olahraga dan
> IPTEK nya hebat, pemerintahnya bisa menghidupi 1,2
> milyar (lima kali penduduk kita), berani menghukum
> mati para pelaku KKN, dst. Kemudian, tentang kualitas
> pendidikan, Indonesia berada dibawah Vietnam (yang
> komunis). Pendidikan dan pengajaran agama harus
> disertai penekanan tentang: a) keterbatasan agama,
> b)sejarah hitam agama (misal: Katholik diabad 17 yang
> membuat Eropa mundur, dan Islam, bila tidak hati2,
> diabad ini bisa mengalami hal yang serupa dengan
> Katholik diabad 17), c) semua agama besar pernah
> mengalami pasang surut dalam sejarah (Budha, Hindu,
> Kristen, dan kelihatannya Islam akan segera menyusul);
> d) penekanan cita2 pemahaman tertinggi agama yang
> disebut religiositas, dan e) penekanan kemungkinan
> penyalah gunaan agama untuk politik! Agama juga selalu
> jauh tertinggal (terbirit-birit) dalam perkembangannya
> dibandingkan ilmu pengetahuan. Dengan penekanan
> demikian, umat yang mendalami agama mempunyai wawasan
> yang luas, tidak arogan dan terbuka!
>
> Dalil 5.
> Agama bukan jaminan moralitas, kesejahteraan,
> kedamaian dan keadilan.
> Lihat saja, ada berbagai agama besar di Indonesia,
> namun persaudaraan, perdamaian dan keadilan justru
> tidak ada. Demikian pula korupsi justru meraja lela.
> Para elit (militer, politik dan birokrat), yang
> notabene berpendidikan dan berjabatan tinggi justru
> merupakan sebab utama kehancuran bangsa Indonesia.
> Yang diatas rajin korupsi namun bebas dan terhormat,
> yang dibawah: begitu menangkap pencuri ayam langsung
> dibakar begitu saja! Di Amerika Latin yang didominasi
> agama Katholik, seperti Meksiko, Brasil, Argentina,
> dan Colombia, juga didominasi kekerasan dan korupsi,
> demikian pula Pilipina. Di Timur Tengah (negara2
> Arab), Pakistan, Aljasair, Afganistan, Irak,
> Iran,dst..., kekerasan dan pelanggaran HAM luarbiasa.
> TKW kita di Timur Tengah menjadi salah satu bukti
> nyata. Sebaliknya, negara RRC yang komunis justru
> menampilkan kesejahteraan, kedamaian dan keadilan,
> koruptor kelas kakap justru tegas ditembak mati.
> Kesejahteraan yang timbul dalam agama seringkali hanya
> terjadi pada para politisi dan birokrat (pemimpin)
> agama itu sendiri. Penegakan hukum negara lebih
> menjamin tingginya moralitas dan pertumbuhan ekonomi,
> yang pada akhirnya akan memberikan kesejahteraan,
> kedamaian dan keadilan bagi rakyat.
>
> Dalil 6. Agama Harus Menghormati Budaya Setempat.
> Semua agama besar di Indonesia berasal dari luar
> negeri, maka bias budaya pasti ada. Artinya, budaya
> asing mendompleng agama akan masuk dan mempengaruhi
> budaya lokal. Alangkah sedihnya kita, apabila di
> Malioboro, seorang menyapa dengan Amitaba ... (Budha,
> bhs. Cina), lalu dijawab yang lainnya dengan Assalam
> ..... (Islam, bhs. Arab), kemudian ada lagi yang
> menyahut Syallom .... (Kristen, bhs. Yahudi), tak
> ketinggalan ada yang berkata Hong wilaheng ....
> (Hindu, bhs. Hindi); kemudian ada yang menjawab secara
> rasional, sopan dan nasionalis: Selamat Siang.
> Demikian pula dengan budaya berpakaian, alangkah
> sedihnya apabila blangkon dan surjan Yogya terdesak
> oleh pakaian Arab atau sari India. Memeluk agama asing
> haruslah tidak boleh mengorbankan budaya setempat.
> Yang paling menakutkan adalah penjiplakan cara
> berpikir dan berperilaku, misalnya menganggap ilmu
> pengetahuan dan teknologi itu "setan" yang harus
> dijauhi, dan kekerasan demi pembelaan agama, konsep
> yang salah "right or wrong for my religion" (sisi
> "wrong" sangat berbahaya bagi kesehatan nurani).
> Bayangkan bila kita tidak kritis diberbagai bidang,
> pinjaman uang (utang) luar negeri yang bersyarat telah
> membelit kita, kurs nilai mata uang yang jauh dari
> keadilan telah menjajah kita, dan budaya asing yang
> mendominasi budaya kita lewat agama telah mencekam
> kita, lalu kita mau jadi bangsa apa?
>
> Dalil 7.
> Agama mudah diperalat.
> Oleh para elit politik maupun penipu biasa, agama
> sering diperalat. Kesetiaan dan ketaatan hampir
> seratus persen kepada Tuhan melalui agama disalah
> gunakan oleh 'manusia cerdas tapi jahat'. Antara
> Agama, idiologi dan partai politik sudah sulit
> dibedakan. Antara filsafati yang suci bersih dan
> politik yang hitam kelam bercampur baur. Umat beragama
> bingung, apakah ia sedang mendengarkan sabda Tuhan
> atau orasi politik yang ulung dari seorang Dai
> (misalnya Dai sejuta umat), atau apakah ia sedang ada
> di mesjid atau sedang ada di kantor partai politik?
> Awas, jika para politisi di Jakarta ahli mempolitisir
> agama, apalagi para pakar politik Barat yang
> bagaimanapun kita harus akui kualitasnya lebih unggul
> daripada para politisi kita, mereka pasti juga ikut
> dan lebih pandai menggunakan jurus politisasi agama.
> Dengan politisasi agama, kasih sayang dimanipulasi
> menjadi kekerasan dan bahkan pembunuhan; lewat
> politisasi agama, bangsa ini akan terjebak dan dibuat
> sibuk mengurusi hal2 yang tidak penting (biarkan
> masyarakat beragama sendiri), sementara itu para
> politisi dari negara modern (pemerintah asing) dengan
> bebas sibuk 'mencuri' kekayaan alam kita yang luar
> biasa kayanya. Lihatlah fakta kekerasan dan pembunuhan
> di negara2 yang agamis seperti: Colombia, Argentina,
> Aljasair, Afganistan, Pilipina, Indonesia, Bosnia,
> Yugoslavia, dst. Di Indonesia, jendral Soeharto
> beserta para jendral TNI AD telah memprovokasi massa
> NU (umat Islam) untuk membantai ratusan ribu massa PKI
> di desa2 ditahun 1965, ini untuk menutupi coup detat
> angkatan darat; pada kerusuhan/tragedi Mei 1988,
> kembali jendral Soeharto beserta para jendral TNI AD
> telah menggunakan kedok Islam untuk pembantaian umat
> Tionghoa di Jakarta dan Solo demi menyelamatkan regim
> Orde Baru, ingat seminggu sebelum kerusuhan tsb., para
> provokator telah diinstruksikan untuk menulisi rumah2
> penduduk dengan kata2 SARA yaitu:"Milik Pribumi
> Muslim". Dengan demikian, siapa yang menentang
> kekerasan dan kerusuhan ini akan dilawankan dengan
> agama Islam. Hal yang serupa juga terjadi di
> Kalimantan Barat dan Maluku, para politisi Jakarta
> "menyabung ayam" (maaf, adu domba manusia) dengan alat
> sederhana yaitu agama. Kasus terakhir yang menarik
> adalah para pensiunan jendral AD, pengabdi setia
> Soeharto, sekaligus pelanggar HAM berat seperti
> Wiranto, Hartono, Feisal Tanjung, beramai-ramai
> mendirikan ormas bernafaskan Islam; sungguh cerdik
> mereka, sembunyi ditempat yang suci! Demikian pula
> Akbar Tanjung dalam kasus dana Bulog sebesar 40
> milyar, ia gunakan lembaga Islam yang bernama Yayasan
> Rudlatul Jannah untuk sembunyi tangan. Demikian pula
> penggunaan istilah2 Islam seperti islah dan hibah
> untuk memelintir hukum. Sangat memprihatinkan bahwa
> berbagai kerusuhan di Indonesia justru diawali dari
> kumpul2 kegiatan keagamaan, misalnya sholat Jum'atan,
> Tabliq Akbar ataupun Istigozah, suatu paradoxial yang
> maha luar biasa! Pada tingkat internasional, Osama Bin
> Laden menyembunyikan kekejamannya (terorisme)
> dibelakang topeng Islam. Islam akan dilawankan dengan
> cendekiawan Barat, tentu saja para cendekiawan Barat
> tak dapat dikecoh dengan tipu muslihat picisan dan
> rendahan semacam ini; sayang sekali justru umat Islam
> dinegara berkembang yang malah terkecoh, mereka
> mengangkat teroris (Osama BL) menjadi pahlawan bahkan
> seperti Nabi! Di Indonesia, pelurusan sejarah 1965 dan
> penegakan hukumpun menjadi sulit, mengingat hambatan
> para ulama dan cendekiawan Islam yang sebagian besar
> telah "terbeli" oleh regim Orde Baru melalui money
> politics, sehingga mata hati mereka telah buta dan
> telinga mereka telah budeg tuli akan kebenaran. Dengan
> berbagai peristiwa ini, citra Islam dimata umatnya dan
> umat agama lain menjadi sangat terpuruk! Seolah-olah
> agama Islam adalah tempat persembunyian yang paling
> aman dan nyaman bagi koruptor, pelanggar HAM kelas
> berat, bahkan terorist internasional! Bukan itu saja,
> agama Islam dijadikan sarana politik untuk mencapai
> tujuan yang menghalalkan segala cara, terutama melalui
> kekerasan, intimidasi, kerusuhan bahkan pembunuhan.
> Semua kejahatan lalu berlindung dibelakang Islam,
> siapa berani mengungkapkan kerusuhan dan kejahatan ini
> akan dilawankan Islam. Seandainya saja, kesetiakawanan
> umat Islam dipergunakan untuk hal yang baik, positip,
> konstruktip dan nasionalis, misalnya saja jihad
> melawan KKN, pelanggaran HAM dan mafia peradilan,
> hibah harta haram, dst,. maka hasilnya akan bukan
> main, yakni Indonesia akan maju pesat sekali; sayang
> sekali, tongkat komando agama Islam saat ini masih
> ditangan orang2 Regim Orde Baru, sementara itu para
> pemikir dan tokoh Islam di Indonesia yang disegani
> seperti Cak Nur, Hamengku Buwono, Emha, Gus Dur,
> Wimar, Karlina Leksono, M. Sobari, Rendra, para Rektor
> Universitas, dsb., diam saja! Dengan demikian,
> kesetiaan umat terhadap Tuhan justru disalah gunakan
> untuk adu domba, pengalihan perhatian dari kasus berat
> dan pembodohan bangsa! Misalnya, kasus penyerbuan
> Amerika ke Taliban yang dipakai oleh regim ORBA untuk
> mengalihkan perhatian bangsa kepada hal lain yang
> tidak banyak manfaatnya atau justru merugikan negara!
> Didalam negeri sendiri sudah begitu banyak masalah
> (macetnya agenda Reformasi), tapi justru masih
> dicarikan penyakit baru yaitu dengan melibatkan diri
> kepersoalan luar negeri yang kurang relevan! Inilah
> keculasan manusia2 Orde Baru, demi keselamatan regim
> dari segala tuntutan maha dahsyat bangsa atas
> tindakannya selama 32 tahun, mereka rela membodohi
> bangsanya sendiri! Dinegara yang patuh hukum, para
> pelaku regim ORBA ini pastilah sudah mengalami hukuman
> yang sangat berat dan setimpal, banyak dari mereka
> yang sebenarnya pantas untuk mendapat hukuman mati.
> Namun saat ini, mereka masih dihormati justru oleh
> para dosen, pakar, mahasiswa, jurnalis, dan kaum
> agamawan. Aneh bin ajaib!
>
> Dalil 8.
> Agama dapat menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan
> teknologi (IPTEK).
> Lihatlah sejarah Eropa diabad 17 an. Agama Katholik
> saat itu sering menghukum ilmuwan, dengan alasan
> ilmuwan itu membuat pernyataan yang dianggap
> bertentangan dengan isi Injil. Ilmuwan besar yang
> dikucilkan antara lain adalah Copernicus dan Darwin.
> Pada abad itu ketika agama Katholik begitu dominan,
> Eropa justru mengalami jaman kegelapan. Contoh lain,
> lihatlah perbedaan antara negara Amerika Latin (yang
> dominan agamanya) dan USA serta Kanada (yang dominan
> religiositasnya). Sangat kontras sekali, misalnya saja
> antara USA dan Meksiko yang berbatasan. USA sangat
> modern, makmur, tentram, sebaliknya Meksiko, padahal
> mereka sama2 pendatang dari Eropa. Negara-negara Islam
> juga sama saja, katakan saja Turki (Bosnia, Albania)
> adalah negara Islam paling modern, ternyata masih jauh
> dibelakang negara2 Eropa dalam IPTEK dan kemakmuran.
> Selama pemahaman agama itu masih sempit (fanatisme
> agama, bukan religiositas), maka selama itu pula
> negara akan terjebak dalam hiruk pikuk eforia agama.
> Bandingkan pula dengan pemahaman demokrasi kita, yang
> baru tarap belajar dan eforia, dengan negara2
> Eropa/USA. Kita juga dibuat tercengang dengan para
> ilmuwan negara komunis, misal RRC, mereka maju pesat,
> lihat negara kita dibanjiri otomotif produk mereka.
> Berapa ribu jam belajar yang sudah dihabiskan oleh
> anak-anak SD untuk "menghapal" hal yang belum saatnya
> dipelajari (agama asing beserta bahasa dan budayanya)?
> Bukankah anak2 itu ibarat di "brain washing" sehingga
> daya kreativitas dan daya saing mereka untuk tingkat
> dunia menjadi rendah sekali. Hasilnya apa? Toh mirip
> P4, PMP, dst. Sementara itu, setelah SD, kita harus
> menghabiskan sekian ribu jam pelajaran lagi untuk
> belajar dan mengejar ketertinggalan dalam bahasa
> Inggris, lalu kapan SDM kita bisa maju kalau kita
> tidak effisien dalam menggunakan waktu dalam
> pendidikan? Dinegara maju, asosiasi keilmuan sangat
> maju, pertemuan mingguan keilmuan sangat intens sampai
> ditingkat kelurahan; sebaliknya di masyarakat kita,
> bila ada undangan2 mingguan warga, maka dapat ditebak,
> undangan2 itu terbatas pada kumpul2 pendalaman ayat2
> suci yang mirip brain washing dogma2 agama yang beku.
> Coba renungkan juga pernyataan seorang mahasiswa PhD
> dari Malaysia keturunan Cina: "Biarkan saja,
> masyarakat pribumi Malaysia yang Muslim (para
> ulamanya) mengenakan berbagai hukum2 ketat agamanya;
> semakin ketat semakin baik, sebab menguntungkan bagi
> kita (Cina). Biarkan mereka mengikat kaki-tangan
> mereka sendiri dengan tali temali "agama", sehingga
> mereka menjadi semakin sulit bergerak dan bernapas,
> sementara itu kita (Cina) bebas merdeka! (sebagai
> contoh, kasus perbankan versi Islam, sangat
> menguntungkan Cina Malaysia, etnik Cina sangat dominan
> dalam bidang ekonomi di Malaysia)." Tuhan
> menginginkan agar manusia ciptaan Nya dapat mengolah
> akal budi mereka setinggi langit dengan tetap
> religius, namun agamawan justru seolah-olah ingin
> mengerem laju IPTEK. Pemunculan para ulama/kyai/habib
> dilayar televisi atau radio yang jauh lebih sering dan
> lebih intens ketimbang ilmuwan, pakar dan peneliti,
> serta para politisi yang menempatkan ulama/kyai/habib
> lebih terhormat daripada ilmuwan, pakar dan peneliti
> (demi politisasi agama) tentu saja akan membawa bangsa
> Indonesia justru mundur kebelakang, karena hal ini
> akan mematikan benih keilmuan suatu bangsa.
>
> Dalil 9.
> Semakin udara suatu bangsa penuh polusi doa puja-puji
> kepada Tuhan, semakin rusak moral bangsa itu.
> Kalau kita amati, seringkali tembok-tembok ditulisi:
> Ngebut, benjut; Yang Kencing disini hanyalah anjing;
> Daerah bebas narkotik; Dilarang buang sampah disini;
> dst... Dinegara maju yang masyarakatnya sudah mencapai
> religiositas, tulisan2 berisi ancaman dan aturan kasar
> semacam itu sudah tidak ada lagi, sebab aturan itu
> sudah tertulis dihati sanubari mereka semenjak
> dini/kecil, yaitu melalui pendidikan budi pekerti.
> Begitu pula dengan masalah agama, semakin bumi
> nusantara ini dipenuhi polusi suara yang keras dan
> hingar bingar tentang agama (Tabliq Aqbar, istigotsah,
> azan masjid, koor gereja, dsb.), semakin menandakan
> bahwa masyarakatnya masih sekedar pandai berdoa,
> sekedar bosa-basi agama, namun tidak pandai
> melaksanakan ajaran agama. Siang maling atau korupsi,
> malam meditasi atau berdoa. Ucapan dan tindakan sangat
> kontras berbeda. Dr. Sarlito W. menggunakan istilah
> STMJ (bukan Susu Telor Madu Jahe, melainkan Solat
> Terus Maksiat juga Jalan Terus). Lihatlah kelihaian
> para politisi Orde Baru dalam ber "agama", kemudian
> lihatlah "track record" mereka. Alhamdulilah, seratus
> delapan puluh derajat bedanya! Dapat kita katakan, apa
> yang terjadi di Indonesia adalah pelecehan agama,
> bukan penghormatan agama, apalagi pengamalan agama!
> Pelecehan agama akan menyebabkan kehancuran moral
> suatu bangsa (Tuhan pasti menurunkan hukum Nya!).
> Terbukti, Indonesia tak pernah dapat lepas dari
> berbagai krisis.
>
> Dalil 10
> Agama dapat melunakan moral dan hukum negara melalui
> persepsi yang salah.
> Dalam agama Islam dikenal konsep pengampunan total
> terhadap dosa2 manusia oleh Tuhan dalam event2
> tertentu, misalnya dibulan pengampunan "Ramadhan" atau
> saat2 naik Haji ke Mekah, demikian pula dalam agama
> Nasrani dikenal konsep pengampunan total terhadap
> dosa2 manusia oleh Tuhan asal percaya kepada Yesus
> Kristus. Dengan sifatNya yang "Maha Pengasih dan
> Penyayang" (perhatikan kata Maha), maka bagi Tuhan itu
> memang mungkin. Namun hal ini sering disalah gunakan
> oleh para koruptor, pelanggar HAM, elit politik bandit
> dan birokrat preman. Agama bagi mereka menjadi sarang
> persembunyian yang enak dan nyaman (kasus islah dan
> hibah), apalagi apabila sekian persen dari hasil
> kejahatan mereka, lalu mereka sumbangkan untuk
> membangun masjid, gereja, kegiatan sosial, kegiatan
> ilmiah, dan rumah yatim piatu (model Robin Hood atau
> money laundring), dengan demikian walau bandit mereka
> tetap dihormati oleh umat setempat. Ulama, pastor dan
> pendeta harus menandaskan bahwa kejahatan manusia juga
> harus dipertanggung jawabkan didepan manusia
> (pengadilan), jadi tidak hanya vertikal melainkan
> horisontalpun penting! Ulama, pastor dan pendeta harus
> rajin ke DPR, Kejagung, presiden , dst., dalam hal
> membela kebenaran/moral, tanpa harus berpolitik
> praktis, mereka harus merasa malu dengan daya juang
> para mahasiswa/LSM dalam hal pembelaan moral dan
> kebenaran! Mereka, para agamawan, juga harus malu
> kepada seorang wanita ceking yang gigih membela
> manusia melarat dan tertindas, yang bernama Wardah
> Hafidz, yang tidak takut mengorbankan keamanan
> hidupnya! Mana ada ulama, pastur, pendeta atau biksu,
> yang turun tangan membela tukang becak, pnjual
> asongan, dst., secara nyata? Mana ada dari mereka yang
> menuntut tuntasnya kasus BLBI, Trisakti, Priok, KKN,
> uang hibah haram, dst.? Mereka ini hanya suka memberi
> ceramah yang indah2 dan menerima upeti dari umatnya;
> dikala rakyat kecil yang tertindas menangis, menjerit
> pilu, merintih, dan meminta pertolongan nyata serta
> menuntut perjuangan keadilan yang nyata, ternyata
> ulama dan pastor justru diam saja atau bahkan berpihak
> pada kejahatan/politikus bandit. Saat ini, ulama,
> pastur, pendeta, dsb., hanya bagaikan burung yang
> indah ocehannya namun hanya terbatas dalam sangkarnya
> (masjid/gereja), jadi tidak membumi! Moralitas bangsa
> Indonesia sangat ditentukan oleh mereka (plus para
> akademisi); jadi kerusakan moral negara mencerminkan
> juga kerusakan moral para ulama, pastor dan pendeta
> (dan para akademisi). Paling tidak sikap masa bodoh
> mereka terhadap kejahatan para kerah putih.
>
> Dalil 11.
> Tuhan itu demokratis, sedangkan agama seringkali
> otoriter; otoriter agama kadang2 sudah merambah masuk
> kearah pelanggaran HAM.
> Tuhan tidak melarang manusia untuk tidak beragama,
> karena Tuhan sendiri pada dasarnya tidak beragama.
> Tuhan mengharapkan agar manusia mencapai pemahaman
> tertinggi yang disebut religiositas melalui berbagai
> sarana seperti agama, "agama lokal" (misal Kejawen),
> dan ilmu pengetahuan. Keotoriteran agama nampak pada
> keinginan mau menangnya sendiri seperti melarang
> berbagai hal yang tidak sepaham dan ingin menjadi anak
> emas dinegara yang majemuk/pluralis! Sweeping buku2
> bagus, pelarangan ini itu, memaksa umat agama lain
> untuk menghormati dan menghayati kegiatan keagamaan,
> pembentukan wadah ulama atau pengkotakan cendekiawan
> atas dasar agama serta pengucilan ilmuwan adalah
> contoh lain otoritarian agama. Seringkali, otoritarian
> agama ini sebenarnya telah berubah menjadi pelanggaran
> HAM yang tidak disadari; misalnya suara azan masjid
> yang luar biasa kerasnya di keheningan malam/pagi,
> dimana manusia yang lelah bekerja sedang enak tertidur
> pulas atau seorang yang sakit keras sedang membutuhkan
> keheningan, yang kesemuanya itu menjadikan mereka
> sangat terganggu privacynya; contoh berikutnya adalah
> khotbah yang hingar bingar lewat speaker disiang hari
> bolong yang menggelegar bagaikan halilintar, semua
> orang disekitar pengkotbah seolah-olah dipaksa untuk
> mendengarkan kotbah ulama ini; contoh lain
> pelanggaran HAM adalah penanaman ajaran yang salah dan
> bodoh kepada umat terutama anak2 yang harus menyapa
> siapa saja, kapan saja, dimana saja dengan salam khas
> keagamaannya, misalnya Assalam ...., Amitaba ....,
> Syallom... Dinegara beradab, kasus demikian tidak
> mungkin terjadi. Dengan pelanggaran HAM yang sudah
> membudaya dan tanpa disadari ini (seperti juga budaya
> korupsi), maka tidak mengherankan kalau pelanggaran
> HAM besarpun makin lama makin dirasakan bagaikan
> bagian dari kebudayaan, artinya kita tidak terkejut
> lagi dengan dibakarnya seorang maling ayam! Pemahaman
> dan penghayatan agama menjadi statis dan beku!
>
> Penutup
> Agama itu penting, namun bukan segala-galanya. Belajar
> agama harus sampai mencapai tingkat tertinggi yaitu
> religiositas. Keterbatasan agama (iman/keyakinan) yang
> inherent harus diimbangi dengan perkembangan IQ dan
> EQ. Semua agama, berasal dari negara asing, maka kita
> wajib waspada dan bisa memilahkan antara ajaran agama
> dan budaya. Kita janganlah dibiasakan meniru adat
> istiadat, pakaian, budaya, apalagi cara pikir atau
> bahkan kekerasan yang mendompleng agama (melalui
> politik praktis). Manusia yang sudah mencapai derajat
> Religiositas yang tinggi, sudah tidak lagi
> mementingkan wadahnya yaitu agama, melainkan lebih
> mementingkan isi (intisari/makna) suatu ajaran agama,
> sehingga ia menjadi manusia bebas merdeka yang tidak
> tersekat-sekat lagi. Berbahagialah orang yang tidak
> beragama namun mempunyai religiositas yang tinggi,
> sebab ia akan bebas merdeka dimana saja, kapan saja,
> dilingkungan apa saja! Manusia semacam ini menjadi
> bebas merdeka dari kepelikan/kerumitan aturan agama.
> Tingkat pemahaman agama di Indonesia, seperti juga
> dalam hal demokrasi, masih dalam tingkatan rendah
> sekali, masih tahapan eforia/kulit, seperti Eropa abad
> 17 an, oleh sebab itu, mari kita perbaiki bersama!
> Indonesia sebaiknya menjadi pusat pengembangan agama
> Islam, bukan sekedar membebek negara2 Arab (asal agama
> Islam) sebagaimana agama Kristen di export dan
> dikembangkan di benua Eropa!
>
> Negara2 maju seperti Jepang, Singapore, Korsel,
> Inggris, Perancis, Jerman, USA, Kanada, Australia,
> dst., dapat mencapai tingkat kepandaian, kemakmuran,
> keamanan, keadilan, keteraturan, setelah mereka dapat
> melepaskan diri dari pengaruh agama. Artinya, dinegara
> modern seperti mereka itu, kaum agamawannya (yang
> dogmatis beku) jumlahnya sudah kalah jauh dengan kaum
> cendekiawan yang religius (sekitar satu banding
> sepuluh). Dinegara modern, hiruk pikuk keagamaan sudah
> tidak ada lagi, agama adalah urusan individu. Dan
> karena memahami akan keterbatasan kitab suci milik
> agama, maka agama menjadi bukan segala-galanya. Buku
> yang bagus dan best seller dunia yang berjudul Runaway
> World oleh Anthony Giddens (diterjemahkan oleh
> Gramedia), dalam pembukaanya mengatakan: perkembangan
> ilmu pengetahuan dan teknologi serta pemikiran
> rasional berasal dari abad Pencerahan (Enlightenment)
> pada abad 17 dan 18 di Eropa adalah berhasil, setelah
> para pemikir Barat berhasil melepaskan diri dari
> belenggu dogma2 agama yang beku dan kaku, dan
> menggantikannya dengan akal budi dalam kehidupan
> praktis. Jadi Eropa bangkit setelah memahami
> keterbatasan agama dan memilih menjadi manusia yang
> rasional, cerdas namun religius.
>
> Penulis mengharapkan agar artikel ini menjadi bahan
> renungan yang mendalam, diskusi atau topik seminar
> yang menarik, oleh sebab itu mohon diteruskan/forward
> kepada segenap masyarakat yang kiranya sangat
> memerlukannya (lewat newsgroup/mailing list, atau
> diprint lalu dikirimkan sebagai surat berangkai lewat
> pos, tak perlu diberi alamat pengirim, terutama kepada
> para politisi, pemuka agama atau kaum fanatikus).
> Selain dikirimkan secara pribadi lewat email, artikel
> ini juga dikirimkan ke TVRI, BBC, RANESI, Radio FM,
> anggota DPR, universitas, situs:
> www.indopubs.com/archives, dst. Kepada para redaksi
> mass media (TV, koran, majalah, radio, newsgroup,
> mailing list), mohon bantuan untuk memuat tulisan ini
> pada media yang anda asuh (silahkan diedit, dan saya
> tidak menuntut bayaran). Ini semua ditulis demi
> tercapainya Indonesia yang aman tentram karena
> masyarakatnya dewasa dan santun dalam beragama. Ingat,
> salah satu akar penyebab berbagai krisis di Indonesia
> adalah "beragama", sebab agama dan budaya sangat dan
> saling pengaruh-mempengaruhi, agama sangat
> mempengaruhi budaya, dan budaya sangat mempengaruhi
> pola-pikir dan tindak tanduk suatu bangsa! Oleh sebab
> itu, sekali lagi mohon bantuan agar tulisan ini dapat
> diteruskan sehingga dapat dibaca oleh setiap insan
> warga negara Indonesia yang telah dewasa dalam
> pemikiran. Dengan berkorban tenaga dan biaya sedikit
> saja (photocopy dan perangko, bila lewat pos), anda
> telah ikut menyelamatkan masa depan Indonesia dari
> "kegelapan". Mohon tanggapan Saudara sekalian dan
> sekaligus ajakan agar anda ikut aktip produktip dengan
> pemikiran positip kreatip melalui artikel anda di
> internet (cobalah mengirim artikel anda ke situs:
> www.indopubs.com/archives, alamat email:
> apakabar@...), sekian dan terima kasih.
>
> Ibu Pertiwi
> Yang sedang berduka hati ...
>
>
> On 2/3/09, Asana Viebeke Lengkong <asanasw@...> wrote:
> > Tu... kan.... ujungnya pada majajal.... demen saaaan ati ya...
kalau udah
> > ribut gini... aku pikir kita ini lagi cari jalan untuk
menyeimbangkan
> > kerjasama dan persaingan.... tapi yang ada.... satu arah....
> > ----- Original Message -----
> > From: wiranata
> > To: bali-bali@yahoogroups.com
> > Sent: Tuesday, February 03, 2009 1:36 PM
> > Subject: Re: [bali-bali] Re: Analisis Mendalam Tentang Agama,
Tuhan dan
> > Negara
> >
> >
> >
> > He he he .... bener tuh Gung....
> >
> > Kita emang satu yaitu Homo Sapien (2 jt tahun lalu), kemudian
selanjutnya
> > menjadi Pithecanthropus Erectus/Homo Erectus (1 jt tahun lalu)
seperti yang
> > diistilahkan oleh Eugene Dubois dengan penemuan fosil di Trinil
th 1891
> > Selanjutnya ditemukan fosil diberi nama Homo Wajakensis di
daerah Wajak,
> > Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung (35.000 th lalu).
> >
> > Makane iragane aja konyangan enen enu besik, sing ada ane
paling beduur
> > ajak paling beten .....anggo gene mejajal....
> > .
> > Salam Damai & Salam Indonesia
> >
> > Wr
> >
> >
> > ----- Original Message -----
> > From: Asana Viebeke Lengkong
> > To: bali-bali@yahoogroups.com
> > Sent: Tuesday, February 03, 2009 12:14 PM
> > Subject: Re: [bali-bali] Re: Analisis Mendalam Tentang Agama,
Tuhan dan
> > Negara
> >
> >
> >
> > salah ndiri, udah dibilangin nggak usah diskusi agama, masih
aja...
> > kapok nggak.. hehehe
> > ----- Original Message -----
> > From: IGusti Agung
> > To: bali-bali@yahoogroups.com
> > Sent: Tuesday, February 03, 2009 11:59 AM
> > Subject: [bali-bali] Re: Analisis Mendalam Tentang Agama,
Tuhan dan
> > Negara
> >
> >
> >
> > wow...wow... ini koq ke personal??
> > Mohon semeton sami , kalau ada yang didiscusikan , apapun
> > bentuknya ( anything at all). Mohon jangan dibawa ke
individu.
> > Jangan ikut seperti Amrosi cs . yang menjadikan sesuatu
personal.
> > Pro dan contra itu sudah biasa dalam discussion , tapi
usahakanlah
> > hanya sebatas pendapat , tidak lebih.
> > Ingat kita sebenarnya satu ( dalam atman ), juga satu dalam
bangsa.
> > Disamping kita berasal dari satu leluhur , pendiri tanah
air ini.
> > Guna discussion , hanya untuk lebih tahu dan mengenal diri.
> > Asal kita mengerti perbedaan pendapat kita sebenarnya hanya
dari
> > sudut pandang kita masing- masing.
> > Tujuan kita satu untuk , belajar menghargai pendapat
semeton yang
> > lain , untuk kebaikan kita semua , untuk Bali , untuk
Indonesia.
> >
> > Jangan sampai menjadi personal hanya unutk membela bentuk
penjajahan,
> > baik penjajahan ekonomi dan politidari Negara Adi kuasa (
Amrik) ,
> > maupun penjajahan agama ( dari Arab ).
> > Bukankah sudah cukup kita kehilangan keluarga kita di Sari
club
> > dan Jimbaran??
> > Enough is enough....... Please guys... nothing personal.
> >
> > shanti is not smiling anymore.
> >
> > --- In bali-bali@yahoogroups.com, Ketut Abdulpaulus
> > <ketutabdulpaulus@> wrote:
> > >
> > > jadi terkekeh-kekeh baca komentar pak lili gundik tentang
> > paradigma toleransi yang katanya harus di ubah. hehehehe.
bukan nya
> > pak tuh cara pikirnya yang belum sempurna tentang
toleransi, agama
> > dan extremis, agama di
> > > pukul rata dengan kesalahan kelompok extremes nya, kalo
pak lebih
> > > luas bergaul, mungkin akan mengerti agama itu apa,
toleransi itu
> > seperti apa, dan ektrimis itu apa, men cuman nengil di bali
sebagai
> > mayoritas cuman kebencian gen tepuk, sing bise menyame
braye. tidak
> > bisa memaknai penuh arti toleransi, apakah toleransi hanya
harus di
> > pahami oleh kaum minoritas saja? atau toleransi boleh tidak
di
> > mengerti oleh kaum mayoritas? kalo paklili gundik mengerti,
tentunya
> > bisa membedakan ektremis dan agama lalu bisa menyimpulkan
toleransi
> > itu sendiri.
> > >
> > > tak ingin menggurui sih, tapi sekarang dah banyak guru
yang salah,
> > dan gelar s1 sampai s8 tak menjamin prilaku dan cara
pandang sebagai
> > orang yang terdidik :D . satu lagi, belajar lah toleransi
mulai dari
> > dalam hati kita sendiri. toleransi tak akan terwujud dari
sebuah
> > rasa kebencian, tidak berdiri diatas agama, tapi lebih pada
sebuah
> > rasa ingin nya ada suasana damai dan saling memahami.jangan
sampe
> > dengan komen-komen seperti lili gundik menimbulkan kembali
> > psikologis orang untuk menjadi ekstrimis, makanya saya
sarankan lagi
> > belajar mengerti apa itu extrimis, kenapa dan kenapa bisa
terjadi,
> > sejarah nya sudah dari dulu ada, salah satu contoh tindakan
kamikaze
> > yang dilakukan tentara jepang, apakah itu ajaran agama? BOM
bunuh
> > diri pemberontak IRA , apakah itu agama? trus bom bunuh
diri macan
> > tamil di sri langka? itu kah agama?
> > >
> > > untuk lebih mengerti dan lebih memahami itu apa? dekati,
pelajari,
> > dan berusahalah menjadi orang yang tidak membenci dulu,
jangan hanya
> > asumsi orang lain, yang kebetulan orang lain itu juga emang
> > menganggap itu sebuah ajaran. Oke lili gundik? belajar dari
pak gede
> > prama deh, itu spiritual murni dan mengerti hidup seperti
apa
> > toleransi itu.
> > >
> > > eh sorry salah tulis LILI GUNDI ya bukan Gundik
> > >
> > > salam dari Paul
> > >
> > > nak bali ni nengil di jakarta sebagai minoritas. merasa
aman dan
> > nyaman di sini penuh toleransi, tak ada yangs eperti lili
gundik
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > ________________________________
> > > From: Lili Gundi <lili_gundi@>
> > > To: bali-bali@yahoogroups.com
> > > Sent: Saturday, January 31, 2009 6:33:41 PM
> > > Subject: Re: [bali-bali] Re: Analisis Mendalam Tentang
Agama,
> > Tuhan dan Negara
> > >
> > >
> > > Ah masak sih pak agung? Kok hari gene masih seperti jaman
> > inquisisi aja?
> > > Kasiman deh.
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > ________________________________
> > > From: IGusti Agung <agungpindha@ yahoo..com>
> > > To: bali-bali@yahoogrou ps.com
> > > Sent: Friday, January 30, 2009 11:11:41 AM
> > > Subject: [bali-bali] Re: Analisis Mendalam Tentang Agama,
Tuhan
> > dan Negara
> > >
> > >
> > >
> > > hi..hi..hi..
> > > hello pasukans ,
> > > kemarin ketika rapat BOS , saya dimarah.
> > > "Tidak boleh nulis agama !"
> > > Nah... pokoknya saya gak ada nulis masalah agama ya..?
> > > Makasih pasukans lain yang nulis agama ( yang belum
dimarah).
> > > saya selamat.... na..na...na. ..na.
> > >
> > > shanti si smiling.
> > >
> > > --- In bali-bali@yahoogrou ps.com, Lili Gundi
<lili_gundi@ ...>
> > wrote:
> > > >
> > > > Kita harus merobah paradigma tentang toleransi. Kita
harus
> > > menghormati (hak azasi) seluruh dan setiap manusia, apapun
> > > keyakinan agamanya, bahkan termasuk yang tidak beragama
dan
> > atheis.
> > > Tetapi terhadap agama, kita berikan toleransi, setelah
dia lulus
> > > dari ujian akal kritis serta kode moral yang diterima
secara
> > > universal.
> > > > Agama-agama, kitab sucinya, pendirinya, harus
dianalisis secara
> > > mendalam. Dari analisis itu kita ketahui ada agama-agama
yang
> > > mengajarkan kebencian dan kekerasan; ada agama-agama yang
> > > mengajarkan persaudaraan universal dan welas asih. Dengan
> > permohonan
> > > maaf, harus dikatakan agama-agama Semitik mengajarkan yang
> > pertama;
> > > agama-agama Timur mengajarkan yang kedua. Mengapa
demikian? Agama-
> > > agama Timur didirikan oleh para maharesi yogi dan filsuf.
> > > > Agama Semitik itu didirikan oleh para petani berpindah,
> > pengembala
> > > ternak nomaden gurun pasir yang keras atau karyawan
dagang buta
> > > huruf. Mereka pada umumnya adalah atau bertindak sebagai
kepala
> > > suku yang berjuang mempertahankan sukunya dari tekanan
suku lain
> > > yang lebih besar, atau ingin memperluas wilayahnya dengan
merebut
> > > tanah-tanah suku lain, dan membunuh lawan-lawannya,
menawan mereka
> > > yang takluk untuk dijual sebagai budak, atau dijadikan
pemuas
> > seks.
> > > Tuhan (yang) mereka (persepsikan) hampir sama dengan
sifat-
> > sifatnya
> > > (kepala suku itu).. Tuhan-tuhan itu hanya membela sukunya
> > > (pengikutnya) saja, dan memusuhi suku (pengikut
keyakinan) lain.
> > > Bahkan ada Tuhan yang ikut sibuk terlibat dalam urusan
ranjang
> > > kepala suku itu. Ini pastilah bukan Tuhan menciptakan alam
> > semesta.
> > > Ini adalah tuhan suku, yang telah jatuh menjadi pelayan
> > > domestik..
> > > > Itulah sebabnya di dalam kitab suci mereka kita temukan
> > kebencian,
> > > permusuhan dan perintah kekerasan terhadap suku atau
pemeluk
> > > keyakinan lain.
> > > > Dalam Torah Yahudi (Perjanjian Lama Kristen) ada narasi
> > kebencian
> > > terhadap orang Mesir, Kanaan, dan Filistin. Bahkan Yahweh
ikut
> > > mengirimkan bencana wabah kepada orang Mesir. Di dalam
Perjanjian
> > > Baru ada narasi kebencian dan kekerasan terhadap orang
Yahudi,
> > > karena dituduh membunuh Yesus, dan para "God Killers" ini
> > mengalami
> > > hidup yang sulit selama berabad-abad di Eropa Kristen,
berpuncak
> > > pada holocaust di Jerman, yang tidak diakui oleh pak
> > Ahmaddinejad .
> > > Juga ada kebencian dan permusuhan terhadap orang Roma yang
> > menindas
> > > para missionaris Kristen Awal. (Andaikata sebatas Kotbah
di Atas
> > > Bukit, Kristen adalah agama damai).
> > > > Di dalam Quran ada perintah kebencian dan kekerasan,
mula-mula
> > > terhadap orang Arab Mekkah, kemudian terhadap orang
Yahudi Medina,
> > > lalu terhadap Kristen Syiria, Parsi Iran dan akhirnya
terhadap
> > > seluruh manusia yang tidak beragama Islam.. Isinya
sebagian besar
> > > polemik, pertengkaran, kutukan dan ancaman. Selain
dimasukkan
> > neraka
> > > janaman secara abadi, para kafir penyembah berhala itu
juga dapat
> > > atau harus dibunuh.
> > > > Para pendiri agama juga harus disorot oleh kode moral.
Apakah
> > > selama hidupnya dia berprilaku moral atau tidak. Apakah
dia hidup
> > > dari keringatnya sendiri, atau menjarah harta orang lain?
> > Bagaimana
> > > kehidupan seksualnya? Apakah dia dapat mengendalikan nafsu
> > > seksualnya atau malah mengumbarnya?
> > > > Terhadap agama-agama yang mengajarkan doktrin jahat dan
> > berbahaya
> > > ini bagaimana sikap kita?
> > > > "Toleransi" kritis. Artinya toleransi tidak mematikan
pemikiran
> > > kritis, pemikiran kritis tidak berarti mencari musuh.
Justru
> > > pemikiran kritis yang telah menghantarkan manusia pada
> > peradabannya
> > > sekarang ini. Dan pemikiran kritis ini akan terus membawa
kita
> > > kepada kemajuan lebih jauh, tidak hanya di bidang sains
dan
> > > teknologi, tetapi dan terutama dibidang moral dan
spiritual,
> > > dimana .kebencian dan kekerasan - termasuk yang konon
datang
> > > dari "tuhan" - akan ditolak oleh sebagian besar, kalau
pun tidak
> > > oleh seluruh manusia. Savere aude, beranilah menggunakan
pikiran.
> > > Itulah pencerahan, menurut Immanuel Kant.
> > > > Tabik
> > > > LGS
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > ____________ _________ _________ __
> > > > From: Cokorda Raka Angga Jananuraga <rakabali78@ ...>
> > > > To: bali-bali@yahoogrou ps.com
> > > > Sent: Wednesday, January 28, 2009 9:34:50 PM
> > > > Subject: [bali-bali] Re: Analisis Mendalam Tentang
Agama, Tuhan
> > > dan Negara
> > > >
> > > >
> > > > Tulisan yang bagus. Tapi mungkin bagi yang males baca
panjang-
> > > panjang,
> > > > mungkin bisa diringkas sebagai berikut:
> > > >
> > > > "Kacau nih indonesia gara-gara fundamentalisme agama
gurun
> > > (islam)".
> > > >
> > > > [islam gak disebut-sebut dalam tulisan aslinya, mungkin
supaya
> > PC,
> > > > politically correct, tapi, kita kan gak perlu PC terus
kan?]
> > > >
> > > > -Raka-
> > > >
> > > > --- In bali-bali@yahoogrou ps.com, Bulantrisna Djelantik
> > <btrisna@
> > > >
> > > > wrote:
> > > > >
> > > > > Tulisan yang sangat bagus dan memberi pencerahan,
terimakasih
> > > untuk
> > > > sdr
> > > > > Surya, Biang Bulan
> > > > >
> > > > > 2009/1/28 Nusantara Jaya <nusantarajaya69@ ...>
> > > > >
> > > > > > Pak Suarsawan saudaraku, terima kasih sebuah
tulisan gedoran
> > > > pikiran
> > > > > > dan nurani yang berkecamuk menyaksikan fakta hidup
di dunia
> > > ini
> > > > dan asupan
> > > > > > pagi yang lumayan memprovokasi pikir setelah
liburan Imlek.
> > > > > >
> > > > > > Saya tertarik untuk minta pendapat dan berbagi
jikalau waktu
> > > > mengijinkan
> > > > > > kita untuk bertemu.
> > > > > >
> > > > > > Surya
> > > > > >
> > > > > > --- On *Tue, 1/27/09, ptsuarsawan
<ptsuarsawan@ ...>* wrote:
> > > > > >
> > > > > > From: ptsuarsawan <ptsuarsawan@ ...>
> > > > > > Subject: [bali-bali] Analisis Mendalam Tentang
Agama, Tuhan
> > > dan
> > > > Negara
> > > > > > To: bali-bali@yahoogrou ps.com
> > > > > > Date: Tuesday, January 27, 2009, 4:01 AM
> > > > > >
> > > > > >
> > > > > > Analisis Mendalam Tentang Agama, Tuhan dan Negara
> > > > > >
> > > > > > Siapa tidak risau melihat kenyataan yang terjadi di
> > Indonesia.
> > > Ada
> > > > > > berbagai agama besar dengan umatnya yang besar
(terutama
> > > Islam),
> > > > namun
> > > > > > kasih sayang, kebenaran dan keadilan malah nyaris
tidak ada.
> > > Atau
> > > > > > justru sebaliknya, kekerasan, kerusuhan,
pembunuhan, ketidak
> > > > adilan,
> > > > > > korupsi dan berbagai pelanggaran HAM justru terjadi
di
> > > Indonesia
> > > > dan
> > > > > > barangkali mencapai index prestasi nomor wahid
didunia.
> > > Demikian
> > > > pula
> > > > > > yang terjadi dengan di negara2 yang kental sekali
agamanya,
> > > > seperti
> > > > > > negara2 Amerika Latin (Colombia, Argentina,
Bolivia),
> > > Philipina
> > > > (jaman
> > > > > > Marcos), negara2 Timur Tengah, Pakistan, Aljasair,
> > Afganistan,
> > > > dst.
> > > > > > Apanya yang salah? Berikut ini adalah butir2
analisis yang
> > > > mendalam
> > > > > > tentang Agama, Tuhan, dan Bangsa.
> > > > > >
> > > > > > Dalil 1.
> > > > > > Tuhan itu tidak beragama, jadi Ia berlaku adil bagi
semua
> > > manusia.
> > > > > > Agama adalah sekedar sarana untuk mengenalkan
Tuhan, namun
> > > Tuhan
> > > > > > sendiri tidak beragama.
> > > > > >
> > > > > > Dalil 2..
> > > > > > Agama mempunyai keterbatasan yang cukup mencolok
seperti
> > > > disebutkan
> > > > > > dalam kitab-kitab suci Al- Quran dan Injil. Misal
dalam Al-
> > > Quran
> > > > > > ditandaskan bahwa apabila semua ajaran Allah SWT
dituliskan,
> > > maka
> > > > > > tinta sebanyak samudera rayapun tidak akan
mencukupi.
> > Demikian
> > > > pula
> > > > > > dengan Injil yang menandaskan apabila semua ajaran
Isa
> > Almasih
> > > > > > dituliskan maka buku setebal gunungpun tidak akan
bisa
> > memuat.
> > > Ke
> > > > > > "Mahabesaran Tuhan" tidak mungkin cukup diwadahi
dalam buku
> > > > setebal
> > > > > > kitab suci. Ke "Mahabesaran Tuhan" juga tercermin
pada luas
> > dan
> > > > > > dalamnya ilmu pengetahuan. Dengan terbatasnya kitab
suci,
> > ini
> > > > berarti
> > > > > > umat beragama diminta untuk lebih banyak belajar
ilmu beserta
> > > > > > kebenarannya diluar kitab suci masing2 agama (jadi
isi
> > masing2
> > > > kitab
> > > > > > suci ternyata hanya sedikit sekali!). Dengan banyak
belajar
> > > diluar
> > > > > > kitabsuci, diharapkan IQ, EQ dan Iman terus
berkembang
> > > sejajar,
> > > > tidak
> > > > > > timpang, dan tidak fanatik. Bila orang hanya dalam
pada sisi
> > > > "Iman"
> > > > > > saja, maka ia mudah diperalat oleh para politisi.
> > > > > >
> > > > > > Dalil 3.
> > > > > > Pencapaian puncak pemahaman agama adalah
religiositas.
> > Ibarat
> > > > kuliah,
> > > > > > ini adalah Philosophy Degree atau gelar Doktor.
Setelah
> > > bergelar
> > > > > > Doktor, maka ilmu lebih penting daripada
almamaternya. Kalau
> > > baru
> > > > > > taraf kuliah, seorang mahasiswa masih suka
memamerkan
> > > identitas2
> > > > > > universitasnya. Demikian pula dengan agama, Tuhan
dengan
> > sifat
> > > > dasar
> > > > > > Nya ("Maha Pengasih dan Penyayang") menjadi lebih
penting
> > > daripada
> > > > > > agama itu sendiri, atau bahkan agama menjadi tidak
perlu
> > lagi.
> > > > Jadi,
> > > > > > kalau sudah mumpuni keagamaan seseorang, bukan
agamanya yang
> > > > penting,
> > > > > > melainkan religiositasnya yang amat sangat penting.
Ia tidak
> > > lagi
> > > > > > tersekat-sekat oleh kotak sempit yang disebut agama.
> > > Religiositas
> > > > > > setingkat lebih atas daripada agama. Religiositas
dapat
> > > diperoleh
> > > > > > tanpa melalui agama. Salah satu definisi umum
tentang
> > > religiositas
> > > > > > adalah sbb.: sikap hatinurani, batin dan pikiran
manusia
> > yang
> > > > selalu
> > > > > > diarahkan kepada perbuatan baik, kasih sayang,
kebenaran dan
> > > > keadilan.
> > > > > >
> > > > > > Dalil 4.
> > > > > > Agama adalah sesuatu yang abstrak dan sulit
dicerna, oleh
> > > sebab
> > > > itu
> > > > > > sebaiknya tidak diberikan kepada anak-anak yang
belum dewasa
> > > > > > (disekolah dasar), apalagi dipaksakan sebagai
pendidikan
> > agama
> > > > (ini
> > > > > > pelanggaran HAM, agama adalah kebebasan untuk
memilih);
> > kalau
> > > > sebagai
> > > > > > pengajaran tentang berbagai agama, ini penting dan
perlu
> > > diajarkan
> > > > > > (misalnya keanekaragaman agama beserta ciri mereka
masing2).
> > > > Sebaiknya
> > > > > > agama sebagai pendidikan (untuk menarik pengikut
baru)
> > > diberikan
> > > > > > kepada manusia dewasa, waktu kecil cukup diberikan
budi
> > > pekerti.
> > > > Kalau
> > > > > > sejak kecil sudah dicuci otak dengan agama, maka
hasilnya
> > mirip
> > > > > > Indonesia saat ini. Bukan kekeluargaan atau kasih
sayang
> > > melainkan
> > > > > > kecurigaan, 'keterkotakan' (SARA) dan bahkan
kekerasan yang
> > > justru
> > > > > > muncul. Dinegara modern seperi USA, Jepang, Korsel,
Taiwan,
> > > > Inggris,
> > > > > > Australia, dst. agama memang tidak boleh diberikan
pada
> > anak2
> > > SD
> > > > > > sebagai pendidikan(kecuali sekolah yang berafiliasi
dengan
> > > agama
> > > > > > tertentu), namun sebagai pengajaran (transfer of
knowledge)
> > > yang
> > > > > > mengajarkan berbagai agama beserta karakteristiknya
> > > diperbolehkan,
> > > > > > pendidikan agama adalah merupakan tanggung jawab
orang tua.
> > > Untuk
> > > > > > anak, yang lebih baik dan lebih penting adalah budi
pekerti.
> > > Budi
> > > > > > pekerti mengajarkan sopan-santun, taat hukum,
keadilan dan
> > > hidup
> > > > > > bersosial secara baik. Benarkah dan pernahkah Nabi
Muhammad
> > > SAW
> > > > dan
> > > > > > Nabi Isa mengarahkan agama kepada anak2? Tidak kan?
Oleh
> > sebab
> > > > itu,
> > > > > > kasihanilah para anak2 dengan tidak membebani otak
mereka
> > > kepada
> > > > > > pengetahuan yang belum saatnya; dan yang lebih
penting dan
> > > > mendasar:
> > > > > > agama syarat dengan dogma2 yang beku, bila
diajarkan secara
> > > kurang
> > > > > > tepat justru akan membelenggu kecerdasan anak2,
bahkan
> > justru
> > > > anak2
> > > > > > akan mulai terkotak-kotak sejak dini! Masih ingin
> > > > > > bukti? Lihatlah prestasi masyarakat RRC yang
komunis,
> > ternyata
> > > > lebih
> > > > > > religius, tidak main membunuh orang (maling ayam dan
> > pencopet),
> > > > > > prestasi olahraga dan IPTEK nya hebat,
pemerintahnya bisa
> > > > menghidupi
> > > > > > 1,2 milyar (lima kali penduduk kita), berani
menghukum mati
> > > para
> > > > > > pelaku KKN, dst.. Kemudian, tentang kualitas
pendidikan,
> > > Indonesia
> > > > > > berada dibawah Vietnam (yang komunis). Pendidikan
dan
> > > pengajaran
> > > > agama
> > > > > > harus disertai penekanan tentang keterbatasan
agama, sejarah
> > > hitam
> > > > > > agama (misal: Katholik diabad 17 yang membuat Eropa
mundur,
> > > dan
> > > > Islam,
> > > > > > bila tidak hati2, diabad ini
> > > > > > bisa mengalami hal yang serupa dengan Katholik
diabad 17),
> > > semua
> > > > agama
> > > > > > besar pernah mengalami pasang surut dalam sejarah,
semua
> > agama
> > > > juga
> > > > > > mengalami perpecahan internal (Katholik-Protestan ,
Syiah-
> > > Suni,
> > > > dst);
> > > > > > penekanan cita2 pemahaman tertinggi agama yang
disebut
> > > > religiositas,
> > > > > > dan penekanan kemungkinan penyalahgunaan agama untuk
> > politik!
> > > > Agama
> > > > > > juga selalu jauh tertinggal (terbirit-birit) dalam
> > > perkembangannya
> > > > > > dibandingkan ilmu pengetahuan. Dengan penekanan
demikian,
> > umat
> > > > yang
> > > > > > mendalami agama mempunyai wawasan yang luas, tidak
arogan
> > dan
> > > > terbuka!
> > > > > >
> > > > > > Dalil 5.
> > > > > > Agama bukan jaminan moralitas, kesejahteraan,
kedamaian dan
> > > > keadilan.
> > > > > > Lihat saja, ada berbagai agama besar di Indonesia,
namun
> > > > persaudaraan,
> > > > > > perdamaian dan keadilan justru tidak ada. Demikian
pula
> > > korupsi
> > > > justru
> > > > > > meraja lela. Para elit (militer, politik dan
birokrat), yang
> > > > notabene
> > > > > > berpendidikan dan berjabatan tinggi justru
merupakan sebab
> > > utama
> > > > > > kehancuran bangsa Indonesia. Yang diatas rajin
korupsi namun
> > > bebas
> > > > dan
> > > > > > terhormat, yang dibawah: begitu menangkap pencuri
ayam
> > langsung
> > > > > > dibakar begitu saja! Di Amerika Latin yang
didominasi agama
> > > > Katholik,
> > > > > > seperti Meksiko, Brasil, Argentina, dan Colombia,
juga
> > > didominasi
> > > > > > kekerasan dan korupsi, demikian pula Pilipina. Di
Timur
> > Tengah
> > > > > > (negara2 Arab), Pakistan, Aljasair, Afganistan,
Irak,
> > > Iran,dst...,
> > > > > > kekerasan dan pelanggaran HAM luarbiasa. TKW kita
di Timur
> > > Tengah
> > > > > > menjadi salah satu bukti nyata.. Sebaliknya, negara
RRC yang
> > > > komunis
> > > > > > justru menampilkan kesejahteraan, kedamaian dan
keadilan,
> > > koruptor
> > > > > > kelas kakap justru tegas ditembak mati.
Kesejahteraan yang
> > > timbul
> > > > > > dalam agama seringkali hanya terjadi pada para
birokrat
> > > (pemimpin)
> > > > > > agama itu sendiri. Penegakan hukum lebih menjamin
tingginya
> > > > > > moralitas dan pertumbuhan ekonomi, yang pada
akhirnya akan
> > > > memberikan
> > > > > > kesejahteraan, kedamaian dan keadilan bagi rakyat.
> > > > > >
> > > > > > Dalil 6.
> > > > > > Agama Harus Menghormati Budaya Setempat.
> > > > > > Semua agama besar di Indonesia berasal dari luar
negeri,
> > maka
> > > bias
> > > > > > budaya pasti ada. Artinya, budaya asing mendompleng
agama
> > akan
> > > > masuk
> > > > > > dan mempengaruhi budaya lokal. Alangkah sedihnya
kita,
> > apabila
> > > di
> > > > > > Malioboro, seorang menyapa dengan Amitaba .....
(Budha, bhs.
> > > Cina),
> > > > lalu
> > > > > > dijawab yang lainnya dengan Assalam ...... (Islam,
bhs.
> > Arab),
> > > > kemudian
> > > > > > ada lagi yang menyahut Syallom ..... (Kristen, bhs.
Yahudi),
> > > tak
> > > > > > ketinggalan ada yang berkata Hong wilaheng ....
(Hindu, bhs.
> > > > Hindi);
> > > > > > kemudian ada yang menjawab secara rasional, sopan
dan
> > > nasionalis:
> > > > > > Selamat Siang. Demikian pula dengan budaya
berpakaian,
> > alangkah
> > > > > > sedihnya apabila blangkon dan surjan Yogya terdesak
oleh
> > > pakaian
> > > > Arab
> > > > > > atau sari India. Memeluk agama asing haruslah tidak
boleh
> > > > mengorbankan
> > > > > > budaya setempat. Yang paling menakutkan adalah
penjiplakan
> > cara
> > > > > > berpikir dan berperilaku, misalnya menganggap ilmu
> > pengetahuan
> > > dan
> > > > > > teknologi itu "setan" yang harus dijauhi, dan
kekerasan demi
> > > > pembelaan
> > > > > > agama, konsep yang salah "right or wrong for my
religion"
> > (sisi
> > > > > > "wrong" sangat berbahaya bagi kesehatan nurani).
Bayangkan
> > > bila
> > > > kita
> > > > > > tidak kritis diberbagai bidang, pinjaman uang
(utang) luar
> > > negeri
> > > > yang
> > > > > > bersyarat telah membelit kita, kurs nilai mata uang
yang
> > jauh
> > > dari
> > > > > > keadilan telah menjajah kita, dan budaya asing yang
> > > mendominasi
> > > > budaya
> > > > > > kita lewat agama telah menghantui kita, lalu kita
mau jadi
> > > bangsa
> > > > apa?
> > > > > >
> > > > > > Dalil 7.
> > > > > > Agama mudah diperalat.
> > > > > > Oleh para elit politik maupun penipu biasa, agama
sering
> > > > diperalat.
> > > > > > Kesetiaan dan ketaatan hampir seratus persen kepada
Tuhan
> > > melalui
> > > > > > agama disalah gunakan oleh 'manusia cerdas tapi
jahat'.
> > Antara
> > > > Agama
> > > > > > dan partai politik sudah sulit dibedakan. Antara
filsafati
> > > yang
> > > > suci
> > > > > > bersih dan politik yang hitam kelam bercampur baur.
Umat
> > > beragama
> > > > > > bingung, apakah ia sedang mendengarkan sabda Tuhan
atau
> > orasi
> > > > politik
> > > > > > yang ulung dari seorang Dai (misalnya Dai sejuta
umat), atau
> > > > apakah ia
> > > > > > sedang ada di mesjid atau sedang ada di kantor
partai
> > politik?
> > > > Awas,
> > > > > > jika para politisi di Jakarta ahli mempolitisir
agama,
> > apalagi
> > > > para
> > > > > > pakar politik Barat yang bagaimanapun kita harus
akui
> > > > > > kualitasnya lebih unggul daripada para politisi
kita, mereka
> > > pasti
> > > > > > juga ikut dan lebih pandai menggunakan jurus
politisasi
> > agama.
> > > > Dengan
> > > > > > politisasi agama, kasih sayang dimanipulasi menjadi
> > kekerasan
> > > dan
> > > > > > bahkan pembunuhan, dan bangsa ini akan terjebak dan
dibuat
> > > sibuk
> > > > > > mengurusi hal2 yang tidak penting (biarkan
masyarakat
> > beragama
> > > > > > sendiri), sedangkan para politisi dari negara modern
> > > (pemerintah
> > > > > > asing) bebas dan sibuk 'mencuri' kekayaan alam kita
yang
> > luar
> > > > biasa
> > > > > > kayanya. Lihatlah fakta kekerasan dan pembunuhan di
negara2
> > > yang
> > > > > > agamis seperti: Colombia, Argentina, Aljasair,
Afganistan,
> > > > Pilipina,
> > > > > > Indonesia, Bosnia, Yugoslavia, dst. Kasus
penyerbuan Amerika
> > ke
> > > > > > Taliban, dipakai oleh regim ORBA untuk mengalihkan
perhatian
> > > > bangsa
> > > > > > kepada hal lain yang tidak banyak manfaatnya atau
justru
> > > merugikan
> > > > > > negara! Seandainya saja, kesetiakawanan umat Islam
> > > dipergunakan
> > > > untuk
> > > > > > hal yang baik dan nasionalis, misalnya saja jihad
melawan
> > KKN,
> > > > > > pelanggaran HAM dan mafia peradilan, hasilnya akan
bukan
> > main!
> > > > > > Indonesia akan maju pesat sekali; sayang sekali,
tongkat
> > > komando
> > > > agama
> > > > > > Islam saat ini masih ditangan orang2 Regim Orde
Baru!
> > Sehingga
> > > > > > kesetiaan umat terhadap Tuhan justru disalah
gunakan untuk
> > adu
> > > > domba,
> > > > > > pengalihan perhatian dan pembodohan bangsa! Didalam
negeri
> > > sendiri
> > > > > > sudah begitu banyak masalah (macetnya agenda
Reformasi),
> > tapi
> > > > justru
> > > > > > masih dicarikan penyakit baru yaitu dengan
melibatkan diri
> > > > kepersoalan
> > > > > > luar negeri yang kurang relevan! Inilah keculasan
manusia2
> > > Orde
> > > > Baru,
> > > > > > demi keselamatan regim dari segala tuntutan dahsyat
bangsa
> > atas
> > > > > > tindakan selama 32 tahun, mereka rela membodohi
bangsanya
> > > sendiri!
> > > > > > Dinegara yang patuh hukum, para pelaku regim ORBA
ini
> > pastilah
> > > > sudah
> > > > > > mengalami hukuman yang sangat berat dan setimpal,
banyak
> > dari
> > > > mereka
> > > > > > yang pantas untuk mendapat hukuman mati. Namun saat
ini,
> > > mereka
> > > > masih
> > > > > > dihormati justru oleh para dosen, pakar, mahasiswa,
> > jurnalis,
> > > dan
> > > > kaum
> > > > > > agamawan. Aneh bin ajaib!
> > > > > >
> > > > > > Dalil 8.
> > > > > > Agama dapat menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan
> > teknologi
> > > > (IPTEK).
> > > > > > Lihatlah sejarah Eropa diabad 17 an. Agama Katholik
saat itu
> > > > sering
> > > > > > menghukum ilmuwan, dengan alasan ilmuwan itu membuat
> > > pernyataan
> > > > yang
> > > > > > dianggap bertentangan dengan isi Injil. Ilmuwan
besar yang
> > > > dikucilkan
> > > > > > antara lain adalah Copernicus dan Darwin. Pada abad
itu
> > ketika
> > > > agama
> > > > > > Katholik begitu dominan, Eropa justru mengalami
jaman
> > > kegelapan.
> > > > > > Sekarang, lihatlah perbedaan antara negara Amerika
Latin
> > (yang
> > > > dominan
> > > > > > agamanya) dan USA serta Kanada (yang dominan
> > > religiositasnya) .
> > > > Sangat
> > > > > > kontras sekali, misalnya saja antara USA dan
Meksiko yang
> > > > berbatasan.
> > > > > > USA sangat modern, makmur, tentram, sebaliknya
Meksiko,
> > > padahal
> > > > mereka
> > > > > > sama2 pendatang dari Eropa. Negara-negara Islam
juga sama
> > saja,
> > > > > > katakan saja Turki (Bosnia, Albania) adalah negara
Islam
> > paling
> > > > > > modern, ternyata masih jauh dibelakang negara2
Eropa dalam
> > > IPTEK
> > > > dan
> > > > > > kemakmuran. Selama pemahaman agama itu masih sempit
> > (fanatisme
> > > > agama,
> > > > > > bukan religiositas) , maka selama itu pula negara
akan
> > > terjebak
> > > > dalam
> > > > > > hiruk pikuk eforia agama.
> > > > > > Bandingkan pula dengan pemahaman demokrasi kita,
yang baru
> > > tarap
> > > > > > belajar dan eforia, dengan negara2 Eropa/USA. Kita
juga
> > dibuat
> > > > > > tercengang dengan para ilmuwan negara komunis,
misal RRC,
> > > mereka
> > > > maju
> > > > > > pesat, lihat negara kita dibanjiri otomotif produk
mereka.
> > > Berapa
> > > > ribu
> > > > > > jam belajar yang sudah dihabiskan oleh anak-anak SD
untuk
> > > > "menghapal"
> > > > > > hal yang belum saatnya dipelajari (agama asing
beserta
> > bahasa
> > > dan
> > > > > > budayanya)? Bukankah anak2 itu ibarat di "brain
washing"
> > > sehingga
> > > > daya
> > > > > > kreativitas dan daya saing mereka untuk tingkat
dunia
> > menjadi
> > > > rendah
> > > > > > sekali. Hasilnya apa? Toh mirip P4, PMP, dst.
Sementara itu,
> > > > setelah
> > > > > > SD, kita harus menghabiskan sekian ribu jam
pelajaran lagi
> > > untuk
> > > > > > belajar dan mengejar ketertinggalan dalam bahasa
Inggris,
> > lalu
> > > > kapan
> > > > > > SDM kita bisa maju kalau kita tidak effisien dalam
> > menggunakan
> > > > waktu
> > > > > > dalam pendidikan?
> > > > > >
> > > > > > Dalil 9.
> > > > > > Semakin udara suatu bangsa penuh polusi doa puja-
puji kepada
> > > > Tuhan,
> > > > > > semakin rusak moral bangsa itu.
> > > > > > Kalau kita amati, seringkali tembok-tembok
ditulisi: Ngebut,
> > > > benjut;
> > > > > > Yang Kencing disini hanyalah anjing; Daerah bebas
narkotik;
> > > > Dilarang
> > > > > > buang sampah disini; dst... Dinegara maju yang
masyarakatnya
> > > sudah
> > > > > > mencapai religiositas, tulisan2 berisi ancaman dan
aturan
> > kasar
> > > > > > semacam itu sudah tidak ada lagi, sebab aturan itu
sudah
> > > tertulis
> > > > > > dihati sanubari mereka semenjak dini/kecil, yaitu
melalui
> > > > pendidikan
> > > > > > budi pekerti. Begitu pula dengan masalah agama,
semakin bumi
> > > > nusantara
> > > > > > ini dipenuhi polusi suara yang keras dan
> > > > > > hingar bingar tentang agama (Tabliq Aqbar,
istigotsah, azan
> > > > masjid,
> > > > > > koor gereja, dsb.), semakin menandakan bahwa
masyarakatnya
> > > masih
> > > > > > sekedar pandai berdoa, sekedar bosa-basi agama,
namun tidak
> > > pandai
> > > > > > melaksanakan ajaran agama. Siang maling atau
korupsi,
> > > > > > malam meditasi atau berdoa. Ucapan dan tindakan
sangat
> > kontras
> > > > > > berbeda. Lihatlah kelihaian para politisi Orde Baru
dalam
> > ber
> > > > "agama",
> > > > > > kemudian lihatlah "track record" mereka.
Alhamdulilah,
> > seratus
> > > > delapan
> > > > > > puluh derajat bedanya! Dapat kita katakan, apa yang
terjadi
> > di
> > > > > > Indonesia adalah pelecehan agama, bukan
penghormatan agama,
> > > > apalagi
> > > > > > pengamalan agama! Pelecehan agama akan menyebabkan
> > kehancuran
> > > > moral
> > > > > > suatu bangsa (Tuhan menurunkan hukum Nya!).
> > > > > >
> > > > > > Dalil 10
> > > > > > Agama dapat melunakan hukum negara melalui persepsi
yang
> > salah.
> > > > > > Dalam agama Islam dikenal konsep pengampunan total
terhadap
> > > dosa2
> > > > > > manusia oleh Tuhan dalam event2 tertentu, misalnya
dibulan
> > > > pengampunan
> > > > > > "Ramadhan" atau saat2 naik Haji ke Mekah, demikian
pula
> > dalam
> > > > agama
> > > > > > Nasrani dikenal konsep pengampunan total terhadap
dosa2
> > > manusia
> > > > oleh
> > > > > > Tuhan asal percaya kepada Yesus Kristus. Dengan
sifatNya
> > yang
> > > > "Maha
> > > > > > Pengasih dan Penyayang" (perhatikan kata Maha),
maka bagi
> > > Tuhan
> > > > itu
> > > > > > memang mungkin.. Namun hal ini sering disalah
gunakan oleh
> > para
> > > > > > koruptor, pelanggar HAM, elit politik dan birokrat.
Agama
> > bagi
> > > > mereka
> > > > > > menjadi sarang persembunyian yang enak dan nyaman
(kasus
> > > islah),
> > > > > > apalagi apabila sekian persen dari hasil kejahatan
mereka,
> > > lalu
> > > > mereka
> > > > > > sumbangkan untuk membangun masjid, gereja dan rumah
yatim
> > > piatu
> > > > (model
> > > > > > Robin Hood), dengan demikian walau bandit mereka
tetap
> > > dihormati
> > > > oleh
> > > > > > umat setempat. Ulama, pastor dan pendeta harus
menandaskan
> > > bahwa
> > > > > > kejahatan manusia juga harus dipertanggung jawabkan
didepan
> > > > manusia
> > > > > > (pengadilan) , jadi tidak hanya vertikal melainkan
> > > horisontalpun
> > > > > > penting! Ulama, pastor dan pendeta harus rajin ke
DPR,
> > > Kejagung,
> > > > > > presiden , dst., dalam hal membela kebenaran/moral,
tanpa
> > harus
> > > > > > berpolitik praktis, mereka harus merasa malu dengan
daya
> > juang
> > > > para
> > > > > > mahasiswa/LSM dalam hal pembelaan moral dan
kebenaran!
> > Mereka,
> > > > para
> > > > > > agamawan, juga harus malu kepada seorang wanita
ceking yang
> > > gigih
> > > > > > membela manusia melarat dan
> > > > > > tertindas, yang bernama Wardah Hafidz, yang tidak
takut
> > > > mengorbankan
> > > > > > keamanan hidupnya! Mana ada ulama, pastur, pendeta
atau
> > biksu,
> > > > yang
> > > > > > turun tangan membela tukang becak, pnjual asongan,
dst.,
> > > secara
> > > > nyata?
> > > > > > Mana ada dari mereka yang menuntut tuntasnya kasus
BLBI,
> > > Trisakti,
> > > > > > Priok, KKN, uang hibah haram, dst.?
> > > > > >
> > > > > > Dalil 11.
> > > > > > Tuhan itu demokratis, sedangkan agama seringkali
otoriter.
> > > > > > Tuhan tidak melarang manusia untuk tidak beragama,
karena
> > Tuhan
> > > > > > sendiri pada dasarnya tidak beragama. Tuhan
mengharapkan
> > agar
> > > > manusia
> > > > > > mencapai pemahaman tertinggi yang disebut
religiositas
> > melalui
> > > > > > berbagai sarana seperti agama, "agama lokal" (misal
> > Kejawen),
> > > dan
> > > > ilmu
> > > > > > pengetahuan. Keotoriteran agama nampak pada
keinginan mau
> > > > menangnya
> > > > > > sendiri seperti melarang berbagai hal yang tidak
sepaham dan
> > > ingin
> > > > > > menjadi anak emas dinegara yang majemuk/pluralis!
> > > > > >
> > > > > > Penutup
> > > > > > Agama itu penting, namun bukan segala-galanya.
Belajar agama
> > > harus
> > > > > > sampai mencapai tingkat tertinggi yaitu
religiositas.
> > > Keterbatasan
> > > > > > agama (iman/keyakinan) yang inherent harus
diimbangi dengan
> > > > > > perkembangan IQ dan EQ. Semua agama, berasal dari
negara
> > > asing,
> > > > maka
> > > > > > kita wajib waspada dan bisa memilahkan antara
ajaran agama
> > dan
> > > > budaya.
> > > > > > Kita janganlah dibiasakan meniru adat istiadat,
pakaian,
> > > budaya,
> > > > > > apalagi cara pikir atau bahkan kekerasan yang
mendompleng
> > agama
> > > > > > (melalui politik praktis). Manusia yang sudah
mencapai
> > derajat
> > > > > > Religiositas yang tinggi, sudah tidak lagi
mementingkan
> > > wadahnya
> > > > yaitu
> > > > > > agama, melainkan lebih mementingkan isi
(intisari/makna)
> > suatu
> > > > ajaran
> > > > > > agama, sehingga ia menjadi manusia bebas merdeka
yang tidak
> > > > > > tersekat-sekat lagi. Berbahagialah orang yang tidak
beragama
> > > namun
> > > > > > mempunyai religiositas yang tinggi, sebab ia akan
bebas
> > > merdeka
> > > > dimana
> > > > > > saja, kapan saja, dilingkungan apa saja, dan Tuhan
selalu
> > > > menyertai
> > > > > > dia! Tingkat pemahaman agama di Indonesia, seperti
juga
> > dalam
> > > hal
> > > > > > demokrasi, masih dalam tingkatan rendah sekali,
masih tahapan
> > > > > > eforia/kulit, seperti Eropa abad 17 an, oleh sebab
itu, mari
> > > kita
> > > > > > perbaiki bersama!
> > > > > >
> > > > > > Akhir kata, marilah beragama secara baik, santun,
sehat,
> > > rasional
> > > > dan
> > > > > > berwawasan luas, sebab agama sangat mempengaruhi
budaya,
> > > budaya
> > > > sangat
> > > > > > mempengaruhi pola-pikir dan tindak tanduk suatu
bangsa!
> > > > > >
> > > > > >
> > > > > >
> > > > > >
> > > > >
> > > >
> > >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
>
>
> --
> 'The greatest event of our age is the meeting of cultures, meeting
of
> civilizations, meeting of different points of view, making us
> understand that we should not adhere to any one kind of single
faith,
> but respect diversity of belief. That is what we should attempt to
do.
> The iron curtain, so to say, which divided one culture from another,
> has broken down. It is good that we recognize and emphasize the need
> of man to regard other people, their cultures, their beliefs etc. to
> be more or less on the same level as our own cultures and our own
> civilizations. It is not a sign of weakening faith; it is a sign of
> increasing maturity. If man is unable to look upon other people's
> cultures with sympathy and if he is not able to co-operate with
them,
> then it only shows immaturity on the part of the human individual.
We
> need co-operation, not conflict. It requires great courage in such
> difficult days as the present to speak of peace and co-operation. It
> is more easy to talk of enemies, of conflict and war. We should try
to
> resist that temptation. Our attempt should always be to co-operate,
to
> bring together people, to establish friendship and have some kind
of a
> right world in which we can live together in happiness, harmony and
> friendship. Let us therefore realize that this increasing maturity
> should express itself in this capacity to understand what other
points
> of view are'.
>
> -Professor Sarvepalli Radhakrishnan, philosopher, President of
India,
> his speech for the inauguration of the The Indian Institute of
> Advanced Study on 20 October 1965. http://www.iias.org/
>


------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:bali-bali-digest@yahoogroups.com
mailto:bali-bali-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
bali-bali-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Tidak ada komentar: