betapa mudah untuk mengungkapkan keprihatinanku melalui
kata-kata bagi orang-orang yang tertindas
dan kehilangan haknya.
Aku berdoa memohon agar
bukan hanya sekedar kata - kata yang
aku ungkapkan, melainkan kiranya kasih
akan melahirkan keprihatinan sejati bagi mereka
yang menderita, terlantar, dan tertindas yang
sungguh dinyatakan dalam perbuatan kasih.
Mereka adalah anak-anak Pencipta
mereka pun saudara-saudaraku.
Bila aku bersukacita dalam karunia penyelamatan
tolong aku untuk ikut merasakan kepedihan
dan menanggung penderitaan orang lain.
Tolonglah agar aku dengan penuh kasih
rela membagikan karunia bagiku
kepada mereka dan dengan bijaksana menemukan
cara-cara nya
__._,_.___----- Original Message -----From: IGusti AgungSent: Wednesday, February 04, 2009 7:16 AMSubject: [bali-bali] Re: HINDU CENTER BALI
Makasih sharingnya Bli Sugi,
Very valid point . Dengan rasa malu saya akui saya belum pernah
kesana , but i take your word for it.
Maafkan dalam ignorance saya mau tanya ke semua semeton yang pakar
dalam pembagian anggaran dari pemerintah Pusat ataupun daerah dalam
masalah ini .
Pertanyaan saya , kalau pemugaran atau pembuatan Pura baru ,
berapa anggaran dari pemerintah dan berapa persen sumbangan , dana
punia ?Pencerahan anda sangat saya nantikan.
Waktu di Bali terahir , saya dapat main melihat proyek ashram didekat
petang , yang menurut saya sangat besar , anggarannya sekitar 50M.
Tahap pertama sudah berjalan . I'l leave it at that point.
Kembali ke Hindu Center , bagaimana ini bisa terjadi?
Apakah PHDI Bali tidak berhak sama sekali menentukan kemana anggaran
harus ditujukan?
Apa beliau beliau yang berkarya disana merasa malu punya kantor yang
kelihatan bagus?
Mungkin HCB harus punya staff penggali dana , atau kurangi
bebantenan, dan sumbangkan anggaran banten kesana.. he..he..
sorry ngomong asbun.
Silahkan semeton lain , bagaimana ??
shanti si bingum lagi.
--- In bali-bali@yahoogroups.com , Sugi LanĂºs <sugilanus@...> wrote:
>
> Majeng ring semeton,
>
> KANTOR PHDI BALI, di Jalan Ratna Denpasar sama sekali tak
menandakan
> bahwa inilah KANTOR PUSAT PERADABAN Hindu Bali (BALI HINDU CENTER).
>
> Beberapa minggu lalu saya ikut seminar di kantor ini, tak ada
tempat
> untuk berseminar sehingga undangan duduk di halaman dengan korsi-
korsi
> yang kakinya terendam air hujan. Sepatu dan sandal para peserta
rapat
> harus basah dan masuk lumpur: Pulang dari kantor PHDI saya merasa
> pulang dari sawah!
>
> Raka Santri, pensiunan wartawan Kompas, yang menjadi ketua panitia
> seminar menyampaikan banyak peneliti asing, yang kagum dan tertarik
> melakukan riset terhadap Hindu Bali, selalu nyasar tak mengenali
> kantor PHDI tersebut. Mereka tak percaya kalau umat Hindu Bali yang
> mampu membangun ribuan Pura yang sedemikian mewah dan mahal,
ternyata
> tak punya perpusatakaan, pengarsipan dan gedung yang memadai untuk
> disebut sebagai kantor pusat "peradaban Hindu-Bali".
>
> Saya menganjak teman-teman yang hobby diskusi agama ("mengagamakan
> diskusi") untuk membicarakan hal ini.
>
> Belajar dari kasus Majapahit: Apakah peradaban Hindu-Bali yang
> sedemikian besar ini akan nasibnya sama dengan peradaban
> Hindu-Majapahit, yang baru dibangunkan sebuah Trowulan Center
setelah
> peradabannya terkubur?
>
> Masukan saya: Bali perlu dibangun sebuah Hindu Center yang serius
> menjadi pusat studi dan riset, juga menjadi "rumah" umat Hindu-Bali
> untuk memperbincangkan religi-adat-budaya secara terbuka dan penuh
> kejernihan. Sekalipun Bali punya PUSDOK (Pusat Dokumentasi) tapi
> Pusdok berurusan dengan naskah-naskah 'mati', sedangkan sebuah
Hindu
> Center berurusan dengan sebuah agama yang hidup dan bertumbuh.
>
> Sebagai pembanding, Lombok sedang membangun sebuah IC (Islam
Center)
> dengan budget sebesar 150 miliar dan akan segera selesai
(ditargetkan)
> tahun ini. Beritanya di bawah email saya ini.
>
> Rahajeng,
> Sugi Lanus
>
>
> http://sasak.org/berita/ agama/592- rp-150-miliar- untuk-bangun-
ic.html
>
> RP 150 MILIAR UNTUK BANGUN ISLAM CENTER
>
> Mataram [Sasak.Org] Rencana Pemprov NTB untuk membangun Islamic
Center
> (IC) di depan masjid raya Mataram diperkirakan akan membutuhkan
dana
> sebesar Rp. 150 miliar. Sedangkan luas lahan yang akan dibutuhkan
> seluas 4,5 hektar, dan dengan asumsi tidak ada hambatan yang
berarti
> pembangunanya akan selesai dalam jangka waktu satu tahun. Hal
tersebut
> diungkapkan oleh konsultan pembangunan Islamic Center, Ir. Zulkifli
> Yusuf Minggu (1/2) kemarin.
>
> "Bangunan Islamic Center itu nantinya sangat megah" ungkap
Zulkifli.
> Dijelaskan lebih lanjut olehnya bahwa nantinya didalam Islamic
Center
> tersebut akan dibangun ruangan besar khusus untuk pertemuan-
pertemuan
> seperti rapat, seminar, weddings, dan lain sebagainya dimana
ruangan
> tersebut dapat dipergunakan untuk skala nasional maupun
internasional.
>
> Disamping itu juga akan dibuat ruangan khusus untuk menujang
kegiatan
> pendidikan, organisasi kemasyarakatan, serta museum
Islam "keinginan
> kita, Islamic Center ini nantinya merupakan symbol dari pulau
Lombok
> sebagai pulau seribu masjid" jelasnya. Nantinya juga akan dibangun
> sebuah menara yang tingginya menyaingi Monas yakni setinggi 99
meter.
> Blue Print rencana pembangunan Islamic Center tersebut menurut
> Zulkifli sudah ada dan tinggal menunggu persetujuan Gubernur saja.
>
> Ketika ditanya mengenai lokasi pembangunan Islamic Center yang
> direncanakan di depan Masjid Raya Mataram yang saat ini dilokasi
> tersebut berdiri gedung SDN 5 Mataram dan Pasar Dasan AGung serta
> gedung KONI, Zulkifli menjelaskan kemungkinan lokasi DN 5 Mataram
dan
> pasar Dasan Agung akan di tukar guling, sementara gedung KONI akan
di
> pindahkan "nanti kita akan lihat lahan mana yang cocok untuk SD dan
> pasar tersebut" ujar Zulkifli. [WKS-1]
>
>
>
>
> --
> 'The greatest event of our age is the meeting of cultures, meeting
of
> civilizations, meeting of different points of view, making us
> understand that we should not adhere to any one kind of single
faith,
> but respect diversity of belief. That is what we should attempt to
do.
> The iron curtain, so to say, which divided one culture from
another,
> has broken down. It is good that we recognize and emphasize the
need
> of man to regard other people, their cultures, their beliefs etc.
to
> be more or less on the same level as our own cultures and our own
> civilizations. It is not a sign of weakening faith; it is a sign of
> increasing maturity. If man is unable to look upon other people's
> cultures with sympathy and if he is not able to co-operate with
them,
> then it only shows immaturity on the part of the human individual.
We
> need co-operation, not conflict. It requires great courage in such
> difficult days as the present to speak of peace and co-operation.
It
> is more easy to talk of enemies, of conflict and war. We should
try to
> resist that temptation. Our attempt should always be to co-
operate, to
> bring together people, to establish friendship and have some kind
of a
> right world in which we can live together in happiness, harmony and
> friendship. Let us therefore realize that this increasing maturity
> should express itself in this capacity to understand what other
points
> of view are'.
>
> -Professor Sarvepalli Radhakrishnan, philosopher, President of
India,
> his speech for the inauguration of the The Indian Institute of
> Advanced Study on 20 October 1965. http://www.iias.org/
>
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___
Tidak ada komentar:
Posting Komentar