Sabtu, 04 September 2010

BALI INFO - MUHAMMAD BAHAGIA TANPA MENAFKAHI

 

TANGGAPAN BAHAGIA TANPA NAFKAH

 

 

To Rud :

  1. Keinginan anda untuk membawa sosok Nabi Muhammad saw ke kehidupan masa kini dengan membenturkan kehidupan poligaminya dengan UU Perkawinan, Peraturan tentang PNS, ngopi bareng di warung pak Broto dan berkumpul bersama ibu-ibu PKK untuk kemudian anda puas menertawakannya sampai ngakak, bagi saya tertarik memberikan berkomentar bahwa :
    • Mungkin anda bukan sosok penganut ajaran agama yang penuh dengan nilai-nilai kasih. Ini terbukti karena anda hanya bisa ngakak saat melihat orang lain berada pada "jalan yang salah" menurut anda. Saya yakin tuhan anda tidak pernah mengajarkan manusia untuk menertawakan manusia yang lain apalagi yang sedang butuh pertolongan.

 

JAWABAN SAYA:

>  Apa anda dari agama Islam?! Saya senang jika anda memang beragama Islam,

    sebab kalimat anda  di atas telah memberikan sebuah pengakuan yang teramat

    penting, bahwa nabi anda: Muhammad  bukanlah nabi yang sempurna sebagai

    mana yang didengung-dengungkan orang selama ini. Anda telah membuat pernyata

    an bahwa Muhammad "JATUH" oleh masalah poligaminya. Terimakasih!

>  Pernyataan anda ini sekaligus telah menguburkan "kesalahan saya yang tidak

     mengamalkan ajaran kasih." Sebab kenyataannya perbuatan saya yang menghina,

     dan menindas-nindas Keislaman membuahkan "hasil" yang jauh lebih besar man

     faatnya daripada dosa saya yang tidak mempraktekkan ajaran kasih Kristen!

    Sebab pernyataan tentang "KEJATUHAN MUHAMMAD" ini setidaknya sangat

    memberikan andil untuk mencelikkan mata banyak orang yang terkhilafkan oleh

    pemujaan terhadap kesempurnaan sang nabi. Selanjutnya, ini akan mengerem

   laju kesombongan kaum Muslim dan membuat mereka berpikir – merekonstruksi

   keimanan mereka!

>  Anda jangan lupa, bahwa setiap pergerakan itu adalah suatu bentuk perlawanan

    atau peperangan, atau permusuhan. Musa melawan Firaun, Elia melawan Ahab,

    ALLAH melawan Iblis, dan YESUS melawan orang-orang Farisi, Saduki dan ahli-

    ahli Taurat Yahudi. Tentu saja saya juga melawan Muhammad!

    Kalau suatu keadaan sudah berjalan dengan benar sesuai dengan kehendak

     ALLAH, nggak mungkin ALLAH membuka pertentangan. Atau, kalau suatu keada

     an masih berada dalam ambang batas toleransi, ALLAH juga nggak mungkin akan

     turun tangan mengambil tindakan. Tapi kalau keadaan sudah keluar jauh dari ba

     tas toleransi, jelas keadaan ini mengundang ALLAH untuk mengendalikannya.

>  ALLAH memang MAHAKASIH, dan orang Kristen memang harus mempunyai "ka

    sih" itu. Tapi kasih itu bukan sesuatu yang murahan, yang diobralkan kepada sem

    barangan orang saja. Ada yang layak menerimanya dan ada yang tidak layak mene

    rimanya. Nah, bukankah kita semua kini telah mengetahui bahwa Muhammad bu

    kanlah manusia yang layak untuk menerima kasih itu?!

    Jadi, saya kira saya sudah bertindak menurut apa yang sepatutnya.

==========================================================

    • Melihat semangat anda dalam hal meningkatkan dan memperluas pengetahuan tentang sebuah keyakinan yang akhirnya memperkuat kebenaran atas klaim tentang logika anda dalam melihat kesalahan Islam, maka jika keinginan anda akan kehadiran sosok Nabi Muhammad pada masa sekarang bisa terwujud saya yakin 1000% bahwa anda adalah orang yang pertama kali masuk Islam setelah melihat dan berdiskusi dengannya karena anda termasuk orang yang cerdas yang dapat dengan mudah menerima logika kebenaran.

 

JAWABAN SAYA:

Apakah yang anda maksudkan sebagai kebanggaan anda terhadap Muhammad adalah tentang keadilannya di dalam membuat hukum-hukum dalam Keislaman?! Misalnya: Hukum Harta Gono-gini, Hukum Perang, Hukum Warisan antara laki-laki dengan perempuan, Hukum Kejahatan Sipil dengan model potong tangan, potong kepala, dan lain-lainnya?!

Bukankah itu jiblakan yang divariasi dari Hukum Taurat Yahudi?! Lagipula itu semua adalah hukum- hukum keduniawian, yang kalau dalam Kristen, hukum-hukum demikian itu sudah diserahkan kepada pemerintahan setempat. Kekristenan sudah tidak mau mengurusi hukum tetek-bengek yang begituan lagi. Kelasnya sudah meningkat kearah hal-hal yang rohaniah. Sudah nggak ngurus Gono-gini, nggak ambil pusing soal harta warisan dan nggak mau untuk menghakimi sesamanya!

Karena itu, jikalaupun Muhammad hidup di zaman ini dan berdiskusi dengan saya, maka segala macam konsep berpikirnya tidak akan mempengaruhi saya sedikitpun. Atau, bukankah saat ini saya juga sedang berhadapan dengan "Muhammad" sendiri, yang telah menjelma ke dalam diri umat-umat

nya?!

Nah, silahkan anda ajukan ajaran-ajaran Muhammad yang anda anggap membanggakan itu, mari kita adu dengan ajaran Kristen!  Maka kita akan tahu bahwa ajaran Muhammad itu bukanlah apa-apa!

=======================================================================

  1. Saat anda menulis tentang "duel" antara komandan dan prajurit sebagai analogi atas ketidaksetujuan sebagian kelompok ummat Islam atas poligami dan anda mengajak orang lain menertawakannya, kemudian menyamakan Islam bagai Titanic yang sombong akan segera tenggelam adalah pendapat yang kurang komprehensif. Anda seharusnya tahu bahwa jangankan antara komandan dan prajurit, antar ayah dan anakpun dapat dipastikan sering banyak perbedaan pendapat. Ketika anda adalah anak balita yang dilarang oleh ayah anda makan makanan yang mengandung MSG, bisa jadi anda marah dan kalau perlu anda banting pintu atau bahkan minggat. Kini anda tahu bahwa larangan ayah anda saat itu sangat beralasan dan ilmiah karena MSG bisa berbahaya buat kesehatan. So, perbedaan pendapat sangat mungkin disebabkan oleh tingkat pemahaman yang tidak sama terhadap satu masalah. Dan Titanic Islam, Titanic Kristen, Budha, Hindu dan yang lainnya tidak akan runtuh, hancur dan tenggelam hanya karena perbedaan pendapat tentang MSG atau masalah-masalah yang kecil.

 

JAWABAN SAYA:

Bagaimana bisa anda anggap adanya "masalah yang kecil" di hadapan pengikut-pengikut fanatis Muhammad, jika suatu hal yang paling kecil yang diperbuat oleh Muhammad, selalu mereka besar-besarkan menjadi seolah-olah hal itu benar-benar besar dan penting?!

Bagaimana pula kita ini hendak melakukan tawar-menawar terhadap hukum dan ketetapan kebenaran ALLAH, untuk menganggap kecil arti suatu penyimpangan?! Mesin saja nggak mau bekerja dengan baik jika tidak benar-benar presisi ukurannya?!

Atau, tidak tahukah anda bahwa segala sesuatu yang besar itu selalu dimulai dari hal yang kecil?!

Suatu kesalahan kecil yang dimaafkan, lama kelamaan akan menjadi suatu kesalahan yang sangat besar, yang akhirnya menjadi tidak lagi berasa itu suatu kesalahan dan semakin sulit untuk dipulih kan ?!

Selanjutnya, forum diskusi ini istilahnya sudah bukan "beda pendapat." Sebab bukan antara orang -orang yang seiman. Di sini kita bukan sedang memperbincangkan "sebuah" kitab, melainkan sudah berbagai-macam kitab. Di sini kita beradu paham; kita duel!

Istilah "beda pendapat" cocoknya untuk penafsiran "sebuah" ayat, yang penafsiran itu sama-sama tidak disertai pembuktian, melainkan hanya sekedar rekaan-rekaan saja. Tapi di sini kita berbicara dengan mengutamakan fakta dan bukti.

Kalau "beda pendapat" konsepnya memang harus saling menghormati, sebab posisinya berada dalam level yang sama, yaitu sama-sama "ngarang"-nya. Tapi di sini kita bekerja untuk saling menjatuhkan berdasarkan kekuatan pembuktiannya. Karena itu konsepnya yang kalah harus menghormati yang menang, bukan lagi "saling" menghormati. 

=======================================================================

  1. Istri menuntut harta kepada suami adalah logis, saya setuju. Tapi Nabi Mumammad berpoligami dalam keadaan miskin anda anggap sebagai salah perhitungan dan gegabah mari kita diskusikan. Sejarah telah mencatat bahwa pada masanya Nabi Muhammad telah diakui kecerdasan dan profesionalitas dalam berniaga sehingga menjadikan orang-orang termasuk dari kalangan Yahudi dan  Nasrani juga senang dan percaya untuk berbisnis dengannya. Sehingga logika sehat kita pasti berpikir bahwa dia adalah seorang businessman yang hebat dan kaya raya. Apalagi saat ada aturan tentang pembagian harta rampasan perang bahwa mayoritas adalah haknya Nabi Muhammad. Maka semakin yakinlah bahwa dia adalah orang terkaya pada zamannya. Kalau ternyata realitas yang ada kesehariannya selalu berada dalam kekurangan ini semoga bisa jadi bukti bahwa semangatnya bersedekah demi kepentingan orang lain telah jauh melewati batas-batas logika berpikir kita.

 

JAWABAN SAYA:

Mengapa anda katakan sedekah itu "memiskinkan?!" Bukankah konsep Islam yang selalu didengung-dengungkan adalah setiap amalan akan mendapatkan pembalasan?!

Lalu, apa pula yang menjadi bukti adanya kedekatan hubungan antara Muhammad dengan allah-nya?!

Masak Muhammad diperlakukan seperti orang biasa, sementara "Shalawat" allah beserta malaikatnya konon itu berarti memuliakan Muhammad?! Sudahkah anda memperhitungkan keistimewaan Muham-mad jika dibandingkan dengan nabi-nabi Yahudi?! Lahir biasa, hidup biasa, ajaran biasa, mujizat di planet Bulan, terbang ke Mesjidil Aqsa ketika mesjid itu masih belum dibangun?! Sekarang, dalam masalah materi-pun bisa sampai kemiskinan oleh sebab sedekahnya yang "luar-biasa?!" Seperti apa itu luar biasanya sedekahnya?! Dari cerita Hadist-kah itu?! Begitu percayakah anda dengan Hadist?! Atau, mengapa anda membiarkan diri anda diperbudak oleh keharusan percaya terhadap hal-hal yang bertentangan dengan nalar dan hati nurani?!

======================================================================

  1. Paus Roma Katolik gak kawin demi konsentrasi ngurusin ummat, ketika ini anda anggap sebagai sikap yang benar, maka saya melihat ada inkonsiatensi pada diri anda dan ini menjadikan kecerdasan anda ternoda. Logika anda berpikir dan menyimpukan bahwa tuhan anda belumlah menjadi sempurna sebelum ada Yesus (anaknya) atau manusia pada umumnya belum sempurna ketika belum ada seorang anak dari keturunannya yang memanggilnya bapak. Lantas mana mungkin anda menganggap sikap Paus Roma Katolik yang tidak kawin dan otomatis tidak punya anak dapat anda anggap sebagai sikap yang benar ??? Kalau demikian anda tidak konsisten karena punya dua pendapat yang berbeda untuk satu kasus yang sama. Seharusnya kalau Paus Roma tidak kawin dan tidak punya anak anda harus menganggap bahwa sosok Paus adalah manusia yang tidak sempurna dan haruskah kita percaya ajaran-ajaran dari manusia yang tidak sempurna ???

 

JAWABAN SAYA:

Kristen tidak pernah melarang orang kawin! Justru Kristen menentang orang atau lembaga yang "melarang" orang kawin, seperti lembaga kepausan ini. Dalam kontek ini yang saya kutip adalah alasan mereka di dalam melarang orang kawin itu adalah supaya "pekerja gereja" bisa mencurahkan perhatiannya kepada pelayanan umat. Nah, alasan ini sekalipun bukan kebenaran, namun memenuhi asas rasional jika itu diadukan kepada diri Muhammad yang poligami. Sebab rasional kita mengatakan bahwa perkawinan monogami saja sudah sangat menyita waktu, lebih-lebih lagi poligami. Sebab perka winan itu ' kan bukan cuma hubungan biologis semata-mata?! Ada faktor nafkah yang menuntut konsentrasi kita, ada faktor managemen keluarga, ada faktor problema keluarga dan masalah pendidik

an anak-anak – ini bukan hal yang main-main!

Selanjutnya, masalah kesempurnaan sebagai manusia! Saya mengatakan bahwa kesempurnaan seo rang manusia itu terjadi pada saat kelahiran seorang anak, sementara saya membenarkan posisi Paus dan YESUS yang tidak kawin sebagai suatu kesempurnaan juga. Ini konteknya yang berbeda!

Bahwa YESUS tidak kawin adalah dalam rangka kesempurnaan buat kekudusan-NYA. Paus tidak kawin adalah dalam rangka kesempurnaan pekerjaannya[profesionalisme]. Sedangkan orang yang kawin adalah untuk kesempurnaan kemanusiaannya. – Satu hal dikorbankan untuk kesempurnaan hal yang lainnya!

Mereka Hidup Bahagia Tanpa Nafkah

Hidup ini memiliki skenario pasang-surut. Kebahagiaan dan kesedihan datang silih berganti. Keceriaan dan duka nestapa adalah suatu hal bermakna. Keduanya seperti dua sisi koin yang membentuk satu kesatuan. Hampa terasa bila kebahagiaan tidak pernah diiringi dengan kesedihan, karena keindahannya dapat terabaikan. Sebab itu, kemiskinan jadi pilihan. Ya..,pilihan hidup baginda Rasulullah Saw dan keluarganya!
Rasulullah Saw pernah diberikan tawaran oleh Allah Swt untuk menjadi seorang nabi sekaligus raja, atau seorang nabi yang hanya rakyat jelata. Maka Rasul Saw memilih untuk menjadi sekedar abdan nabiyan, seorang nabi yang menjadi rakyat jelata saja. Itulah pilihan Nabi Saw. Dan beliau amat paham atas konsekuensi dari pilihannya.

Suatu hari kota Madinah gempar. Semua penduduk merasa khawatir sehingga mereka harus hadir. Ya, mereka semua hadir di depan rumah Rasulullah Saw yang sempit.
Sementara pintu rumah tertutup, maka semua ummat pun duduk bersimpuh di tanah menanti kabar dari dalam rumah.

Kekhawatiran mereka adalah sudah sekian lama Rasulullah Saw tidak keluar dari sana , dan sempat terlihat oleh mata mereka beberapa istri Rasulullah Saw datang dan masuk ke dalam rumah untuk menyelesaikan sebuah masalah. Menurut mereka... rumah tangga Rasulullah Saw dalam sebuah dilema. Karenanya, mereka semua turut berduka. Kisah ini disampaikan oleh Imam Muslim dalam kitab shahihnya.

Tibalah Abu Bakar turut hadir di depan rumah Rasulullah. Sesaat kemudian, ia memohon izin untuk masuk ke dalam. Ia pun diizinkan. Melihat hal itu, Umar bin Khattab pun melakukan hal yang sama. Lalu, iapun diizinkan. Keduanya, sudah berada di dalam rumah. Dalam ruangan rumah yang sempit terlihat oleh mereka, Rasulullah Saw duduk terdiam dan dikelilingi oleh seluruh istri beliau. Anehnya, semuanya terdiam dan
tidak ada yang berbicara sedikitpun.
Demi melihat kekakuan disana, Umar pun berinisiatif untuk berkelakar seraya berkata, "Wahai Rasul, kalau saja Binti Kharijah (istri saya) meminta nafkah berlebih, pasti akan aku cekik lehernya!" Benar saja, Rasulullah Saw pun tersenyum begitu mendengar kelakar Umar. Kemudian Rasul Saw menimpali dengan sabdanya,
"Wahai Umar, seperti yang kau lihat... semua istri yang mengelilingiku saat ini, mereka semua meminta nafkah dariku!"
"Oh...!!" Umar dan Abu Bakar Ra mengeluarkan nada yang sama tanda mengerti. Jadi karena hal nafkah, semua istri Rasulullah Saw hadir dan berkumpul di rumah ini.
Rupanya mereka semua sedang menyidang dan menghakimi diri Rasulullah Saw demi menuntut nafkah. Malu!!! Itulah yang dirasakan oleh Abu Bakar dan Umar.
Keduanya langsung bergegas menghampiri putri mereka yang dijadikan istri oleh Rasulullah Saw. Abu Bakar menghampiri Aisyah Ra, dan Umar mendekati Hafshah.
Lalu kedua leher mereka pun dicekik dari belakang oleh ayah masing-masing.

Sambil mencekik, Abu Bakar dan Umar pun berkata kepada anak mereka, "Apakah kalian tidak malu untuk meminta nafkah yang tidak dimiliki oleh Rasulullah Saw?"
Aisyah dan Hafshah pun panik dan memohon ampun kepada ayah mereka. Kedua ayah itu tidak beringsut dari tindakan mereka. Hingga akhirnya, Rasul Saw pun
menengahi dengan memberi isyarat kepada Abu Bakar dan Umar untuk menyudahi tindakan mereka.
Sebuah kejadian yang memalukan bagi Abu Bakar dan Umar, dan rasa malu itupun akhirnya dirasakan oleh Aisyah kemudian yang berubah jadi manisnya kenangan.
Memang, Aisyah pernah merasakan kegetiran hidup bersama Rasulullah Saw sebab ketiadaan nafkah. Namun saat sang suami terkasih itu telah tiada... ketiadaan nafkah baru dapat dipahaminya sebagai sebuah episode hidup yang memang mendatangkan kebahagiaan.

Ketiadaan nafkah bisa mendatangkan kebahagiaan. ..!
Hari itu Aisyah Ra sedang di beranda. Lamunannya mengawang ke langit mengenang suami terkasih yang telah berpulang ke haribaan Allah Swt. Kali ini, ia ditemani seorang keponakannya yang bernama Urwah. Ia hadir di sana demi menghibur sang bibi yang sedang sedih kesepian.

Dalam pembicaraan mereka berdua, entah mengapa Urwah seolah tertarik untuk melempar tanya, "Wahai bibi, tolong ceritakan kepadaku bagaimana kalian membina
rumah tangga?"

Sambil tersenyum getir, Aisyah mencoba mengulang kembali kenangan indah yang paling berkesan saat ia masih menjadi istri baginda Rasul. Tak kuasa menahan
perasaan kangen terhadap sang suami tercinta, Aisyah Ra pun memulai sambil menghela nafas panjang. "Demi Allah wahai keponakanku. Sungguh kami pernah melihat bulan sabit berganti di langit sampai 3 kali berturut-turut dalam dua bulan. Selama itu tidak
pernah tungku api menyala di seluruh rumah istri Rasulullah Saw."
Aisyah Ra masih tetap tersenyum meskipun kalimat itu telah terhenti. Mendengarnya, Urwah kaget dan langsung merespon, "Wahai bibi, bagaimana kalian bisa bertahan
hidup bila sedemikian?" pertanyaan ini meluncur dari bibirnya seolah tak percaya dan respon yang sama mungkin akan keluar dari diri kita bila mendengar hal sedemikian.

Aisyah lalu menjawab, "Dengan dua benda hitam; yaitu korma dan air yang tidak jernih. Namun terkadang beberapa tetangga Rasulullah Saw dari golongan Anshor yang memiliki domba suka mengirimkan susu kepada kami untuk diminum." Hadits Muttafaq Alaihi. Subhanallah! Itulah kebahagiaan keluarga bumi yang berhati langit. Ketiadaan materi tidak membuat mereka panik, berespon keras atau meminta cerai dari Rasulullah Saw. Benar, episode hidup keluarga ini telah dipertontonkan Allah Swt kepada ummat dan kita semua, bahwa pilihan hidup bahagia meski tak berlandaskan materi dapat dijalankan dengan damai.
Lalu bagaimana pengkondisian terhadap keluarga yang shalih itu dilakukan oleh Rasulullah Saw? Jawabannya adalah dengan cara senantiasa berhubungan dan berpasrah diri kepada Allah Swt Yang Maha Memelihara, Menjaga dan Menjamin Rezeki setiap hamba-Nya. Bukankah Allah telah berjanji,
"Siapa yang bertawakkal (berpasrah diri) kepada Allah, maka Allah akan menjamin hidupnya"? (QS.65:3)
Benar saja, meski tiada nafkah yang dapat diberikan kepada keluarga, beberapa tetangga dan shahabat dari suku Anshar sering mengirimkan makanan dan minuman kepada Ahlul Bait Rasulillah. Seperti yang tergambar dalam hadits berikut ini:
Dari Anas Ra, "Nabi Saw menggadaikan baju besinya dengan sejumlah tepung gandum. Karenanya, aku pun datang kepada Nabi Saw dengan membawa roti gandum dan minyak sayur. Sungguh aku pernah mendengar beliau Saw bersabda, "Keluarga Muhammad tidak pernah memiliki satu sha' gandum baik pada waktu pagi maupun sore."
HR. Bukhari

Keluarga Muhammad Saw tidak pernah memiliki nafkah yang cukup untuk menghidupi hari-hari mereka. Akan tetapi kehidupan mereka berjalan mulia dan keharmonisan pun masih tetap mereka miliki.
Jika mereka bisa hidup bahagia tanpa keberadaan nafkah, lalu bagaimana dengan kita? Semoga Allah Swt berkenan memberikan manisnya kebahagiaan seperti itu!
Amien.

 



__._,_.___
Recent Activity:
MARKETPLACE

Hobbies & Activities Zone: Find others who share your passions! Explore new interests.


Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.


Get great advice about dogs and cats. Visit the Dog & Cat Answers Center.

.

__,_._,___

Tidak ada komentar: