Senin, 01 Juni 2009

Bls: [bali-bali] Re: Filsafat Sepak Bola dalam Geguritan Darmapada

Bli Ngurah,
tyang dulu sempat jadi anggota VIGA (victoria indonesia golf Assoc).
waktu masih di Melb , tapi karena style mainnya style Ninja jadi tyang bosen ( habis tee off , nggak pernah kelihatan di fair way , selalu disemak satu kesemak yang lain , seperti ninja)...

Terpaksa golf clubnya jadi payasan gudang , lebih baik nguyeng pales.

lare..lare. jalan jani luas mancing...
mancing be beboso , nyalian betok masih kanggo..

shanti ,dapet nggak dapet ikan , yang penting pulang bau amis.. oops..


--- In bali-bali@yahoogroups.com, ngurah beni setiawan <setiawan_beni@...> wrote:
>
> Bli Gung,
>
> Jangan mendiskreditkan golf seperti itu dong. Nanti para pecinta caddy bisa nguaamuk...
>
> *mecande semengan 
> ngurah beni setiawan
> P Save a tree...please don't print this e-mail unless you really need to
>
>
>
>
> ________________________________
> Dari: IGusti Agung <agungpindha@...>
> Kepada: bali-bali@yahoogroups.com
> Terkirim: Selasa, 2 Juni, 2009 05:59:55
> Topik: [bali-bali] Re: Filsafat Sepak Bola dalam Geguritan Darmapada
>
>
>
>
>
>
> kelupaan... nambah guyon dikit ya..
> masih mending seperti foot ball , ditendang kiri kanan , dikejar lagi.. ditendang lagi.. tapi suatu saat ada juga yang nangkap , sampai dipeluk , walaupun nantinya ditendang lagi oleh penangkap.
>
> Lebih sial kalau bola golf , sudah dipukul jauh jauh..
> dikejar lagi ( kadang ngejarnya pakai cart ) , dipukul lagi pakai club/stick yang lain , akhirnya dimasukkan ke lobang..
> Aneh......
> Kalau saya main golf dirumah , caranya lain ,
> justru sticknya yang masuk kelobang , bolanya nunggu diluar..hihi. .
>
> Shanti is lari kebirit , dikejar Mbokyu Bulan bawa sapulidi...
>
> --- In bali-bali@yahoogrou ps.com, "IGusti Agung" <agungpindha@ ...> wrote:
> >
> >
> > hehehe... paaas sekaleee... "pepesan kosong " ...
> >
> > "Eko sat viprah bahuda vaddanti"
> > Dari sekian banyak nama sebutan Hyang Widdhi , salah satunya
> > Sang Sunia aka sepi aka kosong, bola...?
> > mau ikut main bola atau jadi penonton ? Sebaik baiknya pemain sepak bola , akan selalu kalah hebat dengan penonton , karena "katanya"
> > penonton adalah peamain yang terbaik.. hihihi...
> >
> > shanti lenih suka mancing ikan , daripada nanjung bal ,
> > karena pulang bawa ikan , apang ade darang... nasi...
> >
> >
> >
> > --- In bali-bali@yahoogrou ps.com, Sugi Lanús <sugilanus@> wrote:
> > >
> > > Puan dan Tuan,
> > >
> > > Di tengah suasana "kosong" PILPRES, tulisan berikut saya bagi buat
> > > teman-teman (dimuat BALIPOST Minggu Paing, 31 Desember 2006), mudah-mudahan
> > > belum basi.
> > >
> > > Salam hangat,
> > > SL*
> > > ** *
> > >
> > > *Mencari dan Mendalami Isi Kosong
> > > *Filsafat Sepak Bola dalam Geguritan Darmapada
> > >
> > > *Sugi Lanus
> > > *
> > >
> > > *HIDUP* seperti bermain bola. Kita kejar beramai-ramai. Kita perebutkan.
> > > Kita tendang. Lalu, kembali kita kejar, dan seterusnya. Demikian sebuah
> > > pengandaian hidup dalam Geguritan Darmapada. Karya sastra geguritan, yang
> > > tahun penulisannya belum terjejaki itu, saya baca di sebuah perpustakaan
> > > lontar di Denpasar, sekitar sepuluh tahun silam.
> > >
> > > Karena geguritan itu cukup unik -barangkali satu-satunya karya sastra
> > > tradisional yang memakai metafor bola dalam sebuah *pada*-nya -- tiap kali
> > > musim bola (baca: kejuaraan dunia sepak bola), yang datang seperti tahun
> > > kabisat empat tahun sekali, saya langsung teringat geguritan itu. Lebih
> > > lanjut geguritan itu memberi sebuah pertanyaan: Kenapa kita mengejar
> > > bundaran yang isinya kosong (puyung)?
> > >
> > > Kosong. Demikian kuat kata itu. Betulkah hidup kita yang diandaikan sedang
> > > mengejar kosong? Bukankah sepak bola tidak terletak pada bola yang kosong,
> > > tapi terletak pada permainan, kekompakkan, keterampilan, strategi, kesabaran
> > > dan daya tahan? Kalau hal-hal tersebut lebih penting dari ''bola kosong'',
> > > apakah sebuah ''turnamen kehidupan'' bisa menjadi ada tanpa kehadiran bola
> > > yang dalamnya puyung itu?
> > >
> > > Bola menggelinding di atas rumput hijau. Pada saat kejuaraan dunia sepak
> > > bola, gelindingan bola itu. Seperti para penonton bola yang ''rela''
> > > bergoyang-goyang, mengecat rambut dan memulas muka dengan warna-warni, sedia
> > > begadang hingga pagi, demikian pula jalannya kehidupan: Kekosongan ''bola
> > > kehidupan'' itu membuat kita rela melakukan berbagai hal. Geguritan itupula
> > > menyebutkan banyak hal aneh diperbuat orang karena tertipu ''kosong''.
> > > Sekian banyak orang menjadi nekad menjalani kehidupan, berani korupsi dan
> > > bahkan melenyapkan kengerian sendiri untuk membunuh sesama.
> > >
> > > Dalam kearifan yang terwariskan dalam ungkapan manusia Bali, tatujon idupe
> > > ngalih isin puyung, tujuan hidup untuk mencari-mendalami isi kosong. Dari
> > > ungkapan ini kita mendapati bahwa: Kosong itu adalah lapisan terluar dari
> > > sebuah esensi kehidupan. Seperti telur, ia barulah kulit atau cangkang telur
> > > belaka.
> > >
> > > Tim-tim bola punya cara tersendiri untuk menunjukkan ''aliran''-nya. Ada
> > > yang lebih mengutamakan kecepatan, kekuatan, bahkan kekerasan. Ada pula yang
> > > mengutamakan keindahan dalam permainannya. Sebuah tim mempunyai jalan dan
> > > strategi sendiri untuk memenangkan pertandingan. Apakah dengan demikian,
> > > kehidupan adalah sebuah pertandingan yang harus dimenangkan? Ataukah
> > > bagaimana cara kita menjalani turnamen itu?
> > >
> > > Masih tersisa kenangan, ketika itu Ghana kalah dari Brasil, untuk menuju
> > > babak seperempat final World Cup 2006, orang-orang Ghana di negerinya
> > > terdiam. Tetapi, sesaat kemudian, mereka bernyanyi dan bergoyang, mereka
> > > tetap berpesta di jalan-jalan di negerinya. Tentunya mereka bukan merayakan
> > > kekalahan, tapi sebuah ''kemenangan' '. Ini sebuah catatan dalam peradaban
> > > bola: Mereka sedang menunjukkan pada kita bahwa keberhasilan Ghana untuk
> > > bisa masuk ke turnamen kejuaraan dunia itu saja adalah hal yang harus
> > > dirayakan. Negara itu bukan lagi sebuah negara yang hanya jadi penonton.
> > > Mereka telah bisa turut andil.
> > >
> > > Turut andil adalah inti dari swadharma. Begitulah, orang Bali menegaskan
> > > berkali-kali, bukan hanya dalam Geguritan Darmapada, bahwa yang sangat
> > > penting bagi manusia adalah tahu akan Swadharma-nya. Tahu swadharma adalah
> > > tahu akan panggilan dirinya sebagai manusia. Menjadi tersadar untuk
> > > terlibat, ikut turut andil dalam kehidupan. Putu Wijaya, seorang penulis
> > > kelahiran Bali, punya ungkapan menarik, agar kita menjalani hidup ini tidak
> > > hanya sekadar ''penumpang gelap''. Semangat untuk tidak sekadar jadi
> > > ''penumpang gelap'' ini adalah panggilan swadharma. Orang Bali menekankan
> > > kepada semua orang harus mengikuti panggilan dharmanya (baca: kewajibannya)
> > > masing-masing. Barangkali, itu sebabnya banjar-banjar di Bali sedemikian
> > > ketat mewajibkan warganya untuk hadir dalam kegiatan-kegiatan banjar, turut
> > > andil, bukan sekadar menonton, tapi berkarya. Sayang, terkadang panggilan
> > > banjar tersebut diterima sebagai ''wahyu yang jatuh dari langit'', yang tak
> > > boleh dikaji ulang, tak boleh di-reinterpretasi. Kehidupan banjar pun akan
> > > menjadi kering, pertemuan-pertemuan tidak punya daya aktualitas. Aktivitas
> > > di sekitarnya pun cenderung berjalan dalam sebuah simulasi (simulacrum) yang
> > > menjemukan.
> > >
> > > Kata swadharma menuntut pencapaian seseorang. Tidak masalah seorang
> > > terlahir dalam keluarga apapun, sepanjang ia mampu menjawab dan memenuhi
> > > panggilan swadharma-nya, ia adalah orang terhormat. Pemenuhan diri akan
> > > panggilan dari dalam diri kita, dan penuh sukacita menjalaninya, menjadi
> > > pintu untuk memasuki arti swadharma. Swadharma bukan sekadar didapatkan dari
> > > keluarga tempat kita dilahirkan. Swadharma adalah panggilan bathin untuk
> > > ambil bagian dalam kehidupan ini. Dengan demikian, swadharma adalah penemuan
> > > perseorangan, bukan faktor genetika atau trah. Ini persoalan pencapaian
> > > seseorang kalau ia menekuninya dengan kesungguhan.
> > >
> > > Semangat untuk memberi peran pada sebuah ''turnamen kehidupan'' menjadi
> > > penting, walhasil, memang mengejar bola kosong bukanlah inti dari peri
> > > kehidupan. Seperti ritual-ritual di Bali, yang dicibir sebagai roles without
> > > meaning (aturan-aturan tanpa makna). Bukan makna artifisial ritualnya yang
> > > perlu kita pertentangkan, tapi hakikat keterlibatan kita yang patut
> > > dihayati, termasuk keterlibatan untuk menafsirnya ulang, dan merevitalisasi
> > > semangat yang digelorakan di dalamnya. Bahkan, keterlibatan untuk
> > > mempersoalkan dan menolaknya pun juga terkadang dibutuhkan.
> > >
> > > Ritual-ritual, kalaupun kita sepakat menyebutnya sebagai aturan-aturan
> > > tanpa makna, maka dalam aturan-aturan itulah ada ruang-ruang kosong untuk
> > > menghayati ''kekosongan' ', yang dalam ungkapan Bali disebut sebagai
> > > Sanghyang Embang. Seperti mengejar bola yang kosong, bukan bola kosong itu
> > > yang harus dipertentangkan dan dipertanyakan, tapi semuanya terletak pada:
> > > Bagaimana kita menjalani permainan bagaimana kita menghayati ''kekosongan' '
> > > itu.
> > >
> > > Geguritan Darmapada memberi kita cara lain melihat bola. Bola, dalam
> > > geguritan tersebut, adalah sebuah metafor yng menggelinding; terbuka untuk
> > > ditafsir dan dikomentari. Setidaknya ada tiga hal yang perlu digarisbawahi
> > > dari ''pembacaan' ' Geguritan Darmapada; puyung, swadharma, Sanghyang Embang.
> > > Kekosongan (puyung) yang diwakili bola yang mengelinding, yang bisa dijawab
> > > dengan keterlibatan dan penghayatan peran (swadharma), sehingga kehidupan
> > > seseorang berpuncak pada pencapaian hakikat keheningan (Sanghyang
> > > Embang).///SL/ //
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > --
> > > 'The greatest event of our age is the meeting of cultures, meeting of
> > > civilizations, meeting of different points of view, making us understand
> > > that we should not adhere to any one kind of single faith, but respect
> > > diversity of belief. That is what we should attempt to do. The iron curtain,
> > > so to say, which divided one culture from another, has broken down. It is
> > > good that we recognize and emphasize the need of man to regard other people,
> > > their cultures, their beliefs etc. to be more or less on the same level as
> > > our own cultures and our own civilizations. It is not a sign of weakening
> > > faith; it is a sign of increasing maturity. If man is unable to look upon
> > > other people's cultures with sympathy and if he is not able to co-operate
> > > with them, then it only shows immaturity on the part of the human
> > > individual. We need co-operation, not conflict. It requires great courage in
> > > such difficult days as the present to speak of peace and co-operation. It is
> > > more easy to talk of enemies, of conflict and war. We should try to resist
> > > that temptation. Our attempt should always be to co-operate, to bring
> > > together people, to establish friendship and have some kind of a right world
> > > in which we can live together in happiness, harmony and friendship. Let us
> > > therefore realize that this increasing maturity should express itself in
> > > this capacity to understand what other points of view are'.
> > >
> > > -Professor Sarvepalli Radhakrishnan, philosopher, President of India, his
> > > speech for the inauguration of the The Indian Institute of Advanced Study on
> > > 20 October 1965. http://www.iias. org/
> > >
> > >
> > >
> > > --
> > > 'The greatest event of our age is the meeting of cultures, meeting of
> > > civilizations, meeting of different points of view, making us understand
> > > that we should not adhere to any one kind of single faith, but respect
> > > diversity of belief. That is what we should attempt to do. The iron curtain,
> > > so to say, which divided one culture from another, has broken down. It is
> > > good that we recognize and emphasize the need of man to regard other people,
> > > their cultures, their beliefs etc. to be more or less on the same level as
> > > our own cultures and our own civilizations. It is not a sign of weakening
> > > faith; it is a sign of increasing maturity. If man is unable to look upon
> > > other people's cultures with sympathy and if he is not able to co-operate
> > > with them, then it only shows immaturity on the part of the human
> > > individual. We need co-operation, not conflict. It requires great courage in
> > > such difficult days as the present to speak of peace and co-operation. It is
> > > more easy to talk of enemies, of conflict and war. We should try to resist
> > > that temptation. Our attempt should always be to co-operate, to bring
> > > together people, to establish friendship and have some kind of a right world
> > > in which we can live together in happiness, harmony and friendship. Let us
> > > therefore realize that this increasing maturity should express itself in
> > > this capacity to understand what other points of view are'.
> > >
> > > -Professor Sarvepalli Radhakrishnan, philosopher, President of India, his
> > > speech for the inauguration of the The Indian Institute of Advanced Study on
> > > 20 October 1965. http://www.iias. org/
> > >
> >
>
>
>
>
>
> Sikap Peduli Lingkungan? Temukan jawabannya di Yahoo! Answers. http://id.answers.yahoo.com
>


------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:bali-bali-digest@yahoogroups.com
mailto:bali-bali-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
bali-bali-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Tidak ada komentar: