| sebuah even lagi menanti. setelah rbla dengan melibatkan pegiat sastra seluruh indonesia, kini giliran para musisi bali dari berbagai aliran musik berkesempatan untuk mengapresiasi karya kreatifnya, dedikasi dan loyalitasnya terhadap kebangkitan blantika musik bali melalui radar bali music award 2009, bagi para musisi yang punya nyali dan merasa bertanggung jawab dengan keberadaan dan eksistensi blantika musik bali sehingga mampu sejajar dengan blantika musik nusantara, ayo ramai-ramai kumpulkan karyanya dan segara setorkan ke panitia rbma 2009, buruan waktu sangat terbatas. inilah saatnya ajang para musisi bali menunjukkan kebesaran dan kemegahan nyalinya dalam melawan hegemoni kekuasaan yang termarjinalkan. ayo tunggu apalagi buruan dan gedor semua pintu dan jendala hati para dermawan untuk bangkit-...bangkit...bangkit. jaya musik bali ..... cuplikan even sebelumnya kerjasama radar bali dengan para pegiat sastra.....yang puncak sabtu 23 mei 2009 di gedung ksirarnawa art center denpasar...... grafis Radar Bali Literary Award 2009 Lima Terbaik Cipta Puisi Nasional 2009 No. Nama Asal Puisi 1. Kadek Surya Kencana Bali Aku Akan Menjemputmu Bila Hujan Telah Reda 2. Elizabeth Permatasari Bali Anak Pantai 3. Fitri Yani Lampung Fiksi Keenam: Di Depan Pintu Pertokoan 4. Dwi Setyo Wibowo Jogjakarta Maling Arloji 5. Ayu Wulan Dwi Putri Bali Menghapus Namamu, Dik Dewan Juri Tan Lioe Ie Eka Pranita Dewi Warih Wisatsana. Pemenang Baca Puisi SMP se-Bali No. Nama Sekolah Puisi Juara I I Gede Catur Wira Natanegara SMPN 2 Denpasar Negeri Kereta Api Juara II Dian Anggara Putri SMPN 5 Denpasar Negeri Kereta Apik Juara III Ni Made Dwi Suriantini SMP Kristen Harapan Menghapus Namamu, Dik Pemenang Berbakat 1. I Dewa Gede Kevinda Thobias Adiya SMP Dyatmika Penyair 2. Natya Nindyagitaya SMP N 1 Denpasar Menghapus Namamu, Dik 3. Lutfan Dwi Jayadi SMP Pemecutan Menghapus Namamu, Dik 4. Ni Made Mahaputri Paramitha SMP N 3 Denpasar Penyair 5. Maydi Zevanya Sirait SMP N 7 Denpasar Sophia Dewan Juri Riki Damparan Putra Eka Pranita Dewi dr. Nyoman Sutarsa Pemenang Baca Puisi Umum se-Bali No. Nama Sekolah Puisi Juara I Gede Indra Prayogi Teater Antariksa, SMA N 7 Denpasar Negeri Kereta Api Juara II Putu Diah Utari Teater Limas, SMA N 5 Denpasar Di Gaza Tahun Tidak Berganti Juara III Virgina P. Sanni Teater Blabar, SMA N 4 Denpasar Penyair Peraih Award Terpujikan A.A Ayu Ngurah Dinni Saraswati P Karangasem Aku Akan Menjemputmu Bila Hujan Telah Reda Pemenang Berbakat 1. I Kadek Surya Kencana Undiksha Di Gaza Tahun Tidak Berganti 2. Ketut Trisnayani SD Dyatmika Anak Pantai 3. Putu Novianti Sri Cahyani SMA N 3 Denpasar Aku Akan Menjemputmu Bila Hujan Telah Reda 4. Putu Ratih Listiani Teater Angin, SMA N 1 Denpasar Sophia Dewan Juri Ida Bagus Darmasuta Oka Rusmini Phalayasa Pemenang Dramatisasi Puisi se-Bali No. Nama Tim/Grup Sekolah Puisi Juara I Teater Tiga SMA N 3 Denpasar Aku Akan Menjemputmu Bila Hujan Telah Reda Juara II Teater Angin A SMA N 1 Denpasar Sophia Juara III Teater Limas SMA N 5 Denpasar Di Gaza Tahun Tidak Berganti Peraih Award Terpujikan Teater Angin SMA N 1 Denpasar Anak Pantai Dewan Juri Wayan Sunarta Hendra Utay I Nyoman Sura S.Sn Radar Bali Literary Award 2009 Lautan Histeria, bertabur Bintang DENPASAR - Malam penganugrahan apresiasi susastra Radar Bali Literary Award (RBLA) 2009, Sabtu (23/5) lalu berlangsung heboh. Ratusan penonton dan peserta lomba berbaur hingga membikin sesak ruang ber-AC di gedung Ksirarnawa Art Center Denpasar. Bahkan sejumlah penonton terpaksa meluber di lantai satu karena kehabisan tempat duduk. Tak dinyana udara pun semakin panas meski ruangan ber-AC. Terlebih lagi, ketika histeria penonton tak henti-hentinya membahana. Entah ketika melontarkan yel-yel: Radar Bali…Yes, Penyair Bali Jaya..Jaya..Jaya!, dengan penuh semangat maupun saat pembacaan para nominator melalui layar proyektor. Begitu mengetahui masuk nominasi mereka secara spontanitas sontak berteriak histeris heboh sambil berjingkrak-jingkrak. Layaknya sedang menyaksikan penganugrahan award selebritis nasional. Acara ini semakin memikat hati karena dibumbui dengan dagelan dan joke-joke segarnya yang cukup menggelitik oleh pembaca acara Dek Jun Bintang dan Yupi. Sehingga selain menjadi lautan histeria penonton, ajang award susastra berupa Cipta Puisi Nasional, Baca Puisi dan Dramatisasi Puisi se-Bali yang memperebutkan piala Gubernur Bali, Wali Kota Denpasar dan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Bali ini juga mendadak bertabur bintang. Hal ini karena untuk kali pertama para pegiat susastra berbakat dan kreatif di Bali kebanjiran penghargaan dalam beragam katagori. Sejumlah pejabat pun turut hadir menjadi saksi sejarah bagi penganugrahan apresiasi susastra kali perdana di Bali, besutan Radar Bali (Jawa Pos Group) dan Komunitas Sahaja bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan Bali. Hadir diantara; Gianyar, Tjokorda Oka Artha Ardana alias Cok Ace, Erwin Suryadharma, Kabag Humas mewakili Wali Kota Denpasar, Putu Suardika selaku Kepal Biro Humas dan Protokoler Bali mewakili Gubernur Bali, Made Mangku Pastika, IGA Rai Wardani mewakili Kadis Pendidikan Pemuda dan Olahraga Bali. Tak ketinggalan hadir pula Direktur Radar Bali, Justin Maurits Herman. Bahkan peserta Lomba Cipta Puisi Nasional, yakni Fitri Yani yang berasal dari Lampung dan Dwi S. Wibowo dari Yogyakarta pun turut hadir memeriahkan malam penganugrahan seni sastra tersebut. Sebagai Peraih Lima Terbaik Lomba Cipta Puisi se-Indonesia mereka mengaku sangat senang dan tidak menyangka bahwa karyanya bakal lolos dan berhasil menyisihkan 1.570 naskah puisi lainnya. Bahkan mereka mengakui inilah kali pertamanya ke Bali. Ketiga peraih Lima Terbaik Lomba Cipta Puisi Nasional yang berasal dari Bali juga hadir. Gubernur Bali, yang diwakili oleh Karo Humas dan Protokol, Putu Suardika, memberikan sambutan dan menyampaikan bahwa Beliau sangat bahagia dengan adanya kegiatan-kegiatan positif sebagaimana yang diselenggarakan oleh Radar Bali dan Komunitas Sahaja bekerjasama dengan Disbud Bali. Di samping itu, Beliau juga menyatakan salut kepada segenap panitia, atas upaya dan dedikasinya dalam mengembangkan kesusastraan, tidak hanya di Bali, tapi juga di nusantara. Agenda seni ini sangat strategis sebagai ruang untuk generasi muda dalam mengembangkan bakat dan minatnya yang pada giliran berikutnya mampu tumbuh sebagai insan yang kreatif dan berkepribadian. Diharapkan kegiatan apresiasi kebahasaan dan kesusastraan berupa Radar Bali Literary Award 2009, dalam upaya meningkatkan semangat berbahasa membaca, menulis serta mengapresiasi sastra bagi para remaja dan masyarakat bisa berlanjut secara reguler sebagai bagian dari pelestarian dan pengembangan seni budaya Bali ke depan, khususnya dalam bidang susastra. Hal senada juga dilontarkan Bupati Gianyar, Cok Ace. Menurutnya even ini sebagai wadah positif dalam menepis pengaruh negatif dari pergaulan bebas remaja kekinian. Dengan kegiatan edukasi berbasis seni ini punya nilai manfaat ganda. Mampu menambah wawasan dan pengetahuan secara akademik sekaligus juga sebagai ajang pelestarian dan pengembangan seni budaya Bali terkait seni sastra yang memang selama ini terkesan termarjinalkan. "Saya salut dengan ajang penganugrahan apresiasi susastra ini. Karena mampu melahirkan penyair berbakat dan kreatif Bali. Sehingga perlu dilanjutkan sebagai agenda reguler dalam melestarikan dan mengembangkan seni budaya terutama seni sastra ke depan," ujarnya bangga. Menurutnya, dengan semakin banyak penyair berbakat dan kreatif bermunculan pada gilirannya sudah pasti akan mampu menumbuhkan dan meningkatkan mentalitas kreatif bagi masyarakat Indonesia pada umumnya dan Bali khususnya. Ajang penganugrahan bagi para penyair tingkat nasional dan daerah ini dimeriahkan beragam atraksi yang cukup memikat dan menggelitik. Diawali penampilan pembacaan puisi oleh Indra Prayogi, berjudul Negeri Kereta Api karya Firdaus Aden, dan AA Ayu Ngurah Dinni Saraswati P, dengan puisi karya Kadek Surya Kencana berjudul Aku Akan Menjemputmu Bila Hujan Telah Reda, yang diiringi dengan alunan menyayat hati instrumen musik biola dan cello oleh musisi Farabi Music School, Denpasar. Imajinasi liar penonton pun semakin digiring ke dalam gugahan esensi dari rasa puitika yang terbesit dalam teks puisi nominator dari ajang lomba Cipta Puisi Nasional, yang melibatkan sekitar 1.570 naskah puisi. Disamping baca puisi juga dimeriahkan dengan pementasan dramatisasi puisi dari Teater Tiga SMAN 3 Denpasar, mengapresiasi naskah puisi berjudul Aku Akan Menjemputmu Bila Hujan Telah Reda, yang disutradarai oleh Kadek Yomi Octania, dramatisasi puisi dari Teater Angin A, SMAN 1 Denpasar, yang mengapresiasi naskah puisi bertajuk Sophia, karya Ganda Cipta, yang disutradarai oleh Santiasa Putra. Kemudian diselingi dengan peluncuran buku kumpulan Naskah Cipta Puisi Nasional sekaligus penyerahan secara simbolis kepada perwakilan Gubernur Bali. Dan, akhirnya ditutup dengan suguhan musik dari musisi music school, Dwiki Darmawan, asuhan Oka Orpicka. Namun, sebelumnya tak ketinggalan aksi para model dari Profil Art Entertainment, dalam suguhan tarian kontemporer berjudul Kembalikan Baliku, yang mengapresiasi karya Guru Soekarno Putra. Melalui ajang apresiasi susastra RBLA ini diharapkan puisi mampu bangkit menjadi obat penyembuh bathin yang keruh. Hal ini mengingat kekuasaan dan kegiatan politik terlampau mendominasi, sehingga puisi layak sebagai cermin ketulusan. Ketika kekuasaan membawa manusia mendekati arogansi, puisi mengingatkannya kepada keterbatasannya. Ketika kekuasaan mendangkalkan wilayah kepedulian manusia, puisi mengingatkannya betapa kaya keberagaman eksistensi. Dan, ketika kekuasaan menjadi kotor dan ketidakadilan, puisi membersihkannya. Nyoman Wija, SE.Ak, selaku ketua panitia mengakui ajang apresiasi ini secara standar estetika, pastilah belum ditempatkan memberi gugahan, namun hendaknya, gugahan melalui lomba kali ini, mengingatkan semua pihak, betapa pentingnya untuk membersihkan diri dengan puisi, menjadikan puisi untuk mengajak mereka yang mabuk oleh demokrasi, untuk bangkit ke rasa peduli, kepada rasa malu, untuk menghargai pula keragaman eksistensi, perdamaian dalam dialog yang setara. Piala Radar Bali Literary Award 2009 ini di desain secara khusus dan merupakan persembahan dari para kreator seni Jenggala Keramik, Jimbaran. Bagi para peserta yang telah memperoleh juara pada lomba kali ini, panitia mengucapkan selamat. Dan bagi peserta yang belum berhasil kali ini, bisa berpartisipasi lagi pada Radar Bali Literary Award berikutnya. (ija) Diusulkan Masuk MURI Buku Naskah Puisi RBLA 2009 AWALNYA peluncuran buku kumpulan naskah puisi dari lomba Cipta Puisi Nasional dalam malam penganugrahan apresiasi sastra Radar Bali Literary Award 2009, Sabtu (23/5) lalu di gedung Ksirarnawa Art Center Denpasar hanya sebatas sebagai sebuah dokumentasi. Buku ini memuat sebanyak 1.570 naskah puisi yang merupakan kumpulan karya pegiat sastra dari seluruh Indonesia, mulai Aceh, Jakarta, Jogjakarta, Bandung, Sulawesi, hingga Papua, termasuk juga Bali. Sejumlah penyair lawas Bali termasuk juga para pemenang lima besar dalam lomba Cipta Puisi Nasional RBLA 2009 ini merasa kaget dan bangga. Bahkan Fitri Yani yang Berasal Lampung dan Dwi Setyo Wibowo dari Jogyakarta merasakan baru kali pertama melibat buku naskah puisi setebal dan sebanyak ini. "Saya rasa buku ini sangat layak untuk diusulkan masuk MURI," ujar Dwi Setyo Wibowo, penyair yang sudah aktif menulis puisi sejak masih duduk di bangku SMP ini. Hal senada juga dilontarkan Pengamat Sastra serta Intelektual Muda Bali dr.Nyoman Sutarsa. Memang panitia tak ada niat untuk mengusulkan buku ini masuk MURI. Rasanya perlu untuk lebih memberi greget dari ajang apresiasi susastra RBLA 2009 ini. "Seingat saya belum ada buku puisi yang berisikan naskah puisi sebanyak 1.570," katanya, sembari berharap buku puisi ini diusulkan masuk MURI. Sementara, ketua panitia, Nyoman Wija, SE, Ak mengakui memang tak ada pemikiran untuk itu, karena niat awalnya buku puisi setebal 710 halaman ini hanya sebagai bentuk dokumentasi dari kegiatan RBLA 2009. Namun, kalau ada usulan untuk itu (masuk MURI) mungkin memang perlu dipertimbangkan. "Pastinya, semua itu saya kembalikan kepada para penyair sendiri karena mereka yang lebih berhak mengenai hal tersebut," kilahnya. (ija) Catatan Dari Radar Bali Literary Award 2009 (1) Upaya Puisi Meraih Jati Diri AJANG apresiasi susastra Radar Bali Literary Award 2009 sudah usai. Sejumlah penghargaan dalam beragam katagori seni sastra juga sudah berikan kepada para penyair muda berbakat dan kreatif. Mulai dari pemenang utama, berbakat dan terpujikan. Dalam tiga jenis lomba, yakni Cipta Puisi Nasional, Baca Puisi dan Dramatisasi Puisi 2009. Para pemenang dari kalangan pelajar SMP, SMA, Mahasiswa hingga Umum sontak tersenyum sumringah. Pun juga pihak panitia merasa lega dan plong atas hasil kerjanya selama lima bulan ini. Lantas, apakah yang telah dan hendak diraih ? Memang beragam kritik dan saran pun secara perlahan mulai bergulir dari berbagai pihak khususnya kalangan seniman, praktisi, akademisi, pemerhati seni budaya dan lainnya terkait apresiasi susastra RBLA 2009. Intinya, sebagian besar dari mereka memberi apresiasi positif dan mengakui ajang seni susastra besutan Radar Bali (Jawa Pos Group) dan komunitas Sahaja bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan (Disbud) Bali ini sebagai langkah konkret dan sangat strategis dalam membangun proses kreatif inovatif di bidang seni budaya. Tan Lie Ie, pinisepuh penyair Bali mengaku sangat salut dengan kerja keras panitia dan begitu pula semangat para pegiat sastra dari kalangan pelajar dalam mengikuti ajang apresiasi susastra perdana di Bali dan terbesar. Ide kreatif panitia dalam menggagas even seni budaya terkait susastra ini patut diacungi jempol. Karena meski minim dana, tapi acaranya terkesan sangat wah dan megah. "Inilah sebuah kebangkitan baru bagi para pegiat sastra di Bali yang mesti dirayakan sebagai upaya dalam menguatkan jati diri seni budaya Bali dalam membangun harkat dan martabat bangsa," tegasnya bangga. Hal senada juga dilontarkan Oka Rusmini, penyair Bali. Menurutnya, even RBLA yang perdana ini termasuk sangat sukses dan tak pernah menyangka puncak acaranya akan semegah ini. Dengan ratusan penonton dari kalangan pelajar menyesaki tempat acara, di gedung Ksirarnawa Art Center Denpasar. Bahkan meluber hingga lantai satu. Cukup fantastis. "RBLA adalah Oscar bagi para pegiat seni sastra," tegasnya, sembari berharap even apresiasi ini mampu bergulir secara reguler dan lebih didukung lagi baik dari sisi media maupun pihak birokrasi pemerintahan. Dalam kegiatan lomba Cipta Puisi RBLA diikuti oleh peserta dari berbagai daerah di Indonesia yang selama ini telah dikenal dengan aktivitas susastranya, seperti Yogyakarta, Jakarta, Bandung, Lampung, Padang, Semarang, Tasikmalaya, dan daerah-daerah lain termasuk di dalamnya Papua. Dari 1570 naskah yang memenuhi syarat untuk dinilai, segera terasa bahwa karya-karya tersebut bukan hanya menghadirkan musikalitas kata yang terjaga dan metafor yang cukup segar, tetapi terbukti pula memikat dewan juri, untuk menerka-duga proses penciptaannya. Bahkan menurut dewan juri, Warih Wisatsana boleh jadi hal ini disebabkan oleh adanya ketentuan lomba yang mewajibkan peserta untuk menyikapi tema yang telah ditentukan panitia, yakni "Perubahan, Kemanusian, dan Lingkungan" Walau topik itu terkesan longgar dan menawarkan aneka kemungkinan, namun tetaplah menuntut penciptanya untuk kreatif dan inovatif, agar puisi yang dihasilkan tetap terjaga, yakni unik dalam pengucapan serta memiliki kedalaman renungan yang penuh pesan. Dengan kata lain, tema tersebut bisa menjadi halangan atau batu sandungan, terlebih bila peserta tak cukup tekun mengolahnya dalam suatu proses kontemplasi yang membutuhkan keuletan serta kesabaran tersendiri. Dalam konteks lomba, kematangan penyair teruji dan tercermin dari upayanya untuk menyikapi batasan yang telah ditetapkan panitia, dan bahkan kuasa melampauinya guna melahirkan suatu puisi yang padu dan utuh dalam keseluruhan. Kehadiran sebuah puisi menjadi memikat bukan semata-mata karena kandungan maknanya ataupun pilihan bahasa ungkapnya, melainkan juga pada bagaimana proses puisi itu tercipta. Setiap penyair pada galibnya memiliki cara dan proses kreatifnya tersendiri dalam berkarya. Tidak sedikit yang malahan beranggapan masing-masing puisi pada dasarnya lahir melalui jalan kreasi yang berbeda. Kenyataan ini menyiratkan bahwa dalam dunia penciptaan tersedia sebuah ruang untuk merayakan kebebasan berkreativitas yang mengandung aneka kemungkinan tak terduga. Lantaran itu pula, menarik bagi kita mencermati serta menelisik lebih jauh, gerangan apakah yang terjadi sewaktu bunyi dan arti luluh menyatu melahirkan paduan kata atau metafor yang tidak hanya indah namun sekaligus penuh hikmah. Secara umum, puisi-puisi lomba kali ini cenderung mengedepankan muatan pesan. Seakan-akan si penciptanya hendak menyatakan kepada pembaca bahwa makna yang tersurat adalah tentang sesuatu yang terkait dengan tematik yang disodorkan panitia. Tema "Perubahan, Kemanusian, dan Lingkungan" diterjemahkan menjadi puisi yang lebih menegaskan pernyataan daripada suatu gambaran kenyataan hasil proses kontemplatif yang panjang. Tidak heran bila kebanyakan penyair, tercermin dari judul dan pilihan katanya, tergelincir pada problematik dasar penciptaan, di mana puisi-puisinya penuh dengan ungkapan yang klise, verbal dan artifisial. Dalam hal penilaian tentu saja tidak mudah menetapkan pemenang dalam suatu lomba seni, terlebih lagi cipta puisi. Unsur subjektivitas jelaslah tak terhindarkan, karena memang begitulah sifat karya seni yang meskipun coba didekati secara objektif namun tak mungkin menjadi sungguh-sungguh eksak seperti bilangan perkalian dalam matematika yang hasilnya boleh dikata selalu jelas dan pasti. Keluasan medan tafsir seperti itulah yang sedari awal disadari oleh ketiga dewan juri, Tan Lie Ie, Warih Wisatsana, dan Eka Pranita Dewi. Karenanya menolak untuk menggunakan penilaian berdasarkan penjumlahan angka-angka, melainkan lebih mengedepankan suatu perdebatan penuh argumentasi yang didasari oleh catatan-catatan masing-masing terhadap kekhasan, kekuatan atau juga kelemahan puisi-puisi yang kemudian dinominasikannya menjadi yang terbaik. Dalam tahapan berikutnya, setelah dewan juri menyodorkan nominator, terbuka pula suatu ruang eksplorasi penilaian yang mencoba merangkum unsur-unsur subjektif ke arah yang lebih objektif, di mana puisi-puisi unggulan ditimbang ulang kekuatan dan kelemahannya. Beberapa puisi tersisih justru karena terkesan terlampau memaksakan tema hadir di dalam puisinya. Sementara yang terpilih berhasil menciptakan puisi yang terbilang utuh, di mana muatan pesan, baik tersirat ataupun tersurat, mengemuka secara lebih wajar. Dengan demikian, RBLA sebagai upaya untuk menempatkan puisi secara terdepan dalam ruang bacaan seni budaya kekinian semakin punya greget. Artinya tidak kehilangan ruh dan taksunya (jati diri,-red) sebagai daya saing bangsa dan juga dalam upaya mencetak masyarakat yang lebih bermartabat dan berbudi pekerti yang luhur. (nyoman wija) Catatan Dari Radar Bali Literary Award 2009 (2-habis) Tepis Budaya Instan, Sambut Olimpiade Sastra 2010 SEBAGAI ajang apresiasi sudah barang tentu kegiatan Radar Bali Literary Award 2009 sangatlah jauh dari nilai komersil. Lomba ini sangat idialis dan bersifat nirlaba. Sehingga selayaknya diberi apresiasi tinggi dalam upaya menepis budaya instan di era global kekinian. Kenapa ? Kecenderungan budaya instan, panorama semu yang ditampilkan televisi dan teknologi multimedia lainnya, terbukti bukan lagi sekadar ancaman, melainkan adalah kenyataan sehari-hari yang mencemaskan. Sikap lalai dan abai, secara perlahan tapi pasti memang telah merasuki cara pandang dalam menyikapi hubungan sosial yang terjadi di tengah masyarakat. Maka itulah, kehadiran Radar Bali Literary Award 2009 dapat dimaknai sebagai sebuah upaya untuk memperjuangkan budaya tanding terhadap apa yang disebut pseudo-budaya modern ala kapitalisme di negeri ini. Sehingga apresiasi susastra ini harus mampu digelar secara reguler tahunan dalam upaya pelestarian dan pengembangan seni budaya Bali ke depan. Hal ini mengingat, puisi sebagai karya seni, dengan segala kelebihan dan keterbatasannya, menyodorkan kepada khalayak sebuah ruang renung untuk sejenak kita undur dari kerutinan yang melenakan. Sebuah ruang kontemplasi, dimana pembaca memperoleh kesempatan untuk mengalami ulang sentuhan emosi yang mendasar (empati dan simpati) dan berguna untuk mencegah kita hanyut dalam pola hidup yang mekanis; serba efektif, efisien, dan rapi, akan tetapi tidak manusiawi. Puisi yang jauh dari perhitungan untung rugi materi merupakan sebuah antitesa untuk laku kapital global yang berwatak rakus dan menghalalkan segala cara. Tradisi puitika masa kini memang secara dramatis diabaikan, ditempatkan hanya sebagai pemanis semata. Padahal, dengan keadaan saat ini, dimana kekuasaan dan kegiataan politik menjadi informasi yang sesak kepada masyarakat, memamerkan wajah telanjangnya akan keadaan proses demokrasi, yang dalam batas tertentu jauh dari sifatnya, yakni; sedemikian rupa memenangkan hati rakyat sebaliknya secara sistematik mentradisikan pembiaran pertumbuhan proses pembodohan menyubur, dianggap sebagai hal biasa dan sudah barang tentu sifat jujur, kerja keras, tata krama, dengan enteng diremehkan, menjadi rumah yang kelak menjadi warisan menyedihkan bagi generasi yang akan datang. Radar Bali Literary Award 2009 yang dimulai dengan Lomba Cipta Puisi se-Indonesia serta dilanjutkan dengan Lomba Baca Puisi dan Dramatisasi, dapat diandaikan sebagai semacam oase di tengah pergaulan kreatif dan berkesenian di Bali teman Sahaja, sebuah komunitas seni anak muda yang cukup teruji dan gigih ini, patut didukung agar menjadi agenda tahunan yang prestisius. Sementara itu, penghargaan pun layak diberikan kepada Radar Bali (Jawa Pos Group) yang membuka peluang kerjasama sehingga lomba penuh idealisme ini dapat terselenggara. IB Darmasuta, pengamat sastra mengaku salut atas kerja keras dan kegigihan panitia, terutamanya Nyoman Wija, sebagai jurnalis dan juga fotografer mampu menghargai profesinya, terbukti tak berhenti menggagas dan terus bersinergi dengan pegiat seni untuk mengadakan kegiatan seni dan budaya yang penuh makna. Ke depan, apa yang telah dicapai hari ini, sudah layak dan sangat patut dirayakan kembali sebagai sebuah tradisi. "Dengan demikian, oase ini bukan sekadar tempat singgah atau berteduh, melainkan sungguh sebagai ruang publik untuk pegiat seni berkreativitas secara berkelanjutan," tegasnya. Perlu diketahui bahwa ajang apresiasi susastra RBLA ini merupakan ajang proses kreatif penciptaan puisi, membacakannya dan mendramakannya, dengan tujuan untuk mengajak seluruh masyarakat untuk menyadari pentingnya puisi di era demokrasi Indonesia, yang terlalu banyak porsinya memamerkan ambisi kekuasaan, ambisi politik yang justru latar belakang besarnya adalah kenyataan negara Indonesia adalah negara yang menjadikan korupsi sebagai kebiasaan. Dalam kesempatan ini, panitia juga mengucapkan selamat kepada para pemenang, selamat berproses kreatif, gugahlah terus seluruh anak bangsa, sehingga negara Indonesia benar-benar menemukan kesejatiannya sebagai negara bhinneka yang bermartabat dan jaya. Marilah melalui ajang apresiasi RBLA 2009 ini kita sambut ajang apresiasi susastra berupa Olimpiade Sastra 2010 mendatang. (nyoman wija) |
__._,_.___
Tidak ada komentar:
Posting Komentar