Senin, 02 Februari 2009

Re: [bali-bali] Re: Analisis Mendalam Tentang Agama, Tuhan dan Negara

ujung-ujungnya, gimanapun, lakar kenkenang ja, ya minoritas harus mangalah dari mayoritas. Ini mamang sudah menjadi realitas even di jaman modern sekalipun.
 
Tidak ada pilihan lain, Saya mengajak sameton Bali untuk biarlah kita menjadi orang yang bodoh. Yang selalu mulat sarira (metilesang raga), dan menjauhkan diri dari sikap congkak.
Daripada menjadi orang bodoh (atau merasa pintar) tapi tidak tahu diri dan congkak, sehingga menukar 1300 dengan 13.
 
Salam,
KS
 
 
----- Original Message -----
Sent: Tuesday, February 03, 2009 11:59 AM
Subject: [bali-bali] Re: Analisis Mendalam Tentang Agama, Tuhan dan Negara


wow...wow... ini koq ke personal??
Mohon semeton sami , kalau ada yang didiscusikan , apapun
bentuknya ( anything at all). Mohon jangan dibawa ke individu.
Jangan ikut seperti Amrosi cs . yang menjadikan sesuatu personal.
Pro dan contra itu sudah biasa dalam discussion , tapi usahakanlah
hanya sebatas pendapat , tidak lebih.
Ingat kita sebenarnya satu ( dalam atman ), juga satu dalam bangsa.
Disamping kita berasal dari satu leluhur , pendiri tanah air ini.
Guna discussion , hanya untuk lebih tahu dan mengenal diri.
Asal kita mengerti perbedaan pendapat kita sebenarnya hanya dari
sudut pandang kita masing- masing.
Tujuan kita satu untuk , belajar menghargai pendapat semeton yang
lain , untuk kebaikan kita semua , untuk Bali , untuk Indonesia.

Jangan sampai menjadi personal hanya unutk membela bentuk penjajahan,
baik penjajahan ekonomi dan politidari Negara Adi kuasa ( Amrik) ,
maupun penjajahan agama ( dari Arab ).
Bukankah sudah cukup kita kehilangan keluarga kita di Sari club
dan Jimbaran??
Enough is enough....... Please guys... nothing personal.

shanti is not smiling anymore.

--- In bali-bali@yahoogroups.com, Ketut Abdulpaulus
<ketutabdulpaulus@...> wrote:
>
> jadi terkekeh-kekeh baca komentar pak lili gundik tentang
paradigma toleransi yang katanya harus di ubah. hehehehe. bukan nya
pak tuh cara pikirnya yang belum sempurna tentang toleransi, agama
dan extremis, agama di
> pukul rata dengan kesalahan kelompok extremes nya, kalo pak lebih
> luas bergaul, mungkin akan mengerti agama itu apa, toleransi itu
seperti apa, dan ektrimis itu apa, men cuman nengil di bali sebagai
mayoritas cuman kebencian gen tepuk, sing bise menyame braye. tidak
bisa memaknai penuh arti toleransi, apakah toleransi hanya harus di
pahami oleh kaum minoritas saja? atau toleransi boleh tidak di
mengerti oleh kaum mayoritas? kalo paklili gundik mengerti, tentunya
bisa membedakan ektremis dan agama lalu bisa menyimpulkan toleransi
itu sendiri.
>
> tak ingin menggurui sih, tapi sekarang dah banyak guru yang salah,
dan gelar s1 sampai s8 tak menjamin prilaku dan cara pandang sebagai
orang yang terdidik :D . satu lagi, belajar lah toleransi mulai dari
dalam hati kita sendiri. toleransi tak akan terwujud dari sebuah
rasa kebencian, tidak berdiri diatas agama, tapi lebih pada sebuah
rasa ingin nya ada suasana damai dan saling memahami.jangan sampe
dengan komen-komen seperti lili gundik menimbulkan kembali
psikologis orang untuk menjadi ekstrimis, makanya saya sarankan lagi
belajar mengerti apa itu extrimis, kenapa dan kenapa bisa terjadi,
sejarah nya sudah dari dulu ada, salah satu contoh tindakan kamikaze
yang dilakukan tentara jepang, apakah itu ajaran agama? BOM bunuh
diri pemberontak IRA , apakah itu agama? trus bom bunuh diri macan
tamil di sri langka? itu kah agama?
>
> untuk lebih mengerti dan lebih memahami itu apa? dekati, pelajari,
dan berusahalah menjadi orang yang tidak membenci dulu, jangan hanya
asumsi orang lain, yang kebetulan orang lain itu juga emang
menganggap itu sebuah ajaran. Oke lili gundik? belajar dari pak gede
prama deh, itu spiritual murni dan mengerti hidup seperti apa
toleransi itu.
>
> eh sorry salah tulis LILI GUNDI ya bukan Gundik
>
> salam dari Paul
>
> nak bali ni nengil di jakarta sebagai minoritas. merasa aman dan
nyaman di sini penuh toleransi, tak ada yangs eperti lili gundik
>
>
>
>
>
> ________________________________
> From: Lili Gundi <lili_gundi@...>
> To: bali-bali@yahoogroups.com
> Sent: Saturday, January 31, 2009 6:33:41 PM
> Subject: Re: [bali-bali] Re: Analisis Mendalam Tentang Agama,
Tuhan dan Negara
>
>
> Ah masak sih pak agung? Kok hari gene masih seperti jaman
inquisisi aja?
> Kasiman deh.
>
>
>
>
> ________________________________
> From: IGusti Agung <agungpindha@ yahoo..com>
> To: bali-bali@yahoogrou ps.com
> Sent: Friday, January 30, 2009 11:11:41 AM
> Subject: [bali-bali] Re: Analisis Mendalam Tentang Agama, Tuhan
dan Negara
>
>
>
> hi..hi..hi..
> hello pasukans ,
> kemarin ketika rapat BOS , saya dimarah.
> "Tidak boleh nulis agama !"
> Nah... pokoknya saya gak ada nulis masalah agama ya..?
> Makasih pasukans lain yang nulis agama ( yang belum dimarah).
> saya selamat.... na..na...na. ..na.
>
> shanti si smiling.
>
> --- In bali-bali@yahoogrou ps.com, Lili Gundi <lili_gundi@ ...>
wrote:
> >
> > Kita harus merobah paradigma tentang toleransi. Kita harus
> menghormati (hak azasi) seluruh dan setiap manusia, apapun
> keyakinan agamanya, bahkan termasuk yang tidak beragama dan
atheis.
> Tetapi terhadap agama, kita berikan toleransi, setelah dia lulus
> dari ujian akal kritis serta kode moral yang diterima secara
> universal.
> > Agama-agama, kitab sucinya, pendirinya, harus dianalisis secara
> mendalam. Dari analisis itu kita ketahui ada agama-agama yang
> mengajarkan kebencian dan kekerasan; ada agama-agama yang
> mengajarkan persaudaraan universal dan welas asih. Dengan
permohonan
> maaf, harus dikatakan agama-agama Semitik mengajarkan yang
pertama;
> agama-agama Timur mengajarkan yang kedua. Mengapa demikian? Agama-
> agama Timur didirikan oleh para maharesi yogi dan filsuf.
> > Agama Semitik itu didirikan oleh para petani berpindah,
pengembala
> ternak nomaden gurun pasir yang keras atau karyawan dagang buta
> huruf. Mereka pada umumnya adalah atau bertindak sebagai kepala
> suku yang berjuang mempertahankan sukunya dari tekanan suku lain
> yang lebih besar, atau ingin memperluas wilayahnya dengan merebut
> tanah-tanah suku lain, dan membunuh lawan-lawannya, menawan mereka
> yang takluk untuk dijual sebagai budak, atau dijadikan pemuas
seks.
> Tuhan (yang) mereka (persepsikan) hampir sama dengan sifat-
sifatnya
> (kepala suku itu).. Tuhan-tuhan itu hanya membela sukunya
> (pengikutnya) saja, dan memusuhi suku (pengikut keyakinan) lain.
> Bahkan ada Tuhan yang ikut sibuk terlibat dalam urusan ranjang
> kepala suku itu. Ini pastilah bukan Tuhan menciptakan alam
semesta.
> Ini adalah tuhan suku, yang telah jatuh menjadi pelayan
> domestik..
> > Itulah sebabnya di dalam kitab suci mereka kita temukan
kebencian,
> permusuhan dan perintah kekerasan terhadap suku atau pemeluk
> keyakinan lain.
> > Dalam Torah Yahudi (Perjanjian Lama Kristen) ada narasi
kebencian
> terhadap orang Mesir, Kanaan, dan Filistin. Bahkan Yahweh ikut
> mengirimkan bencana wabah kepada orang Mesir. Di dalam Perjanjian
> Baru ada narasi kebencian dan kekerasan terhadap orang Yahudi,
> karena dituduh membunuh Yesus, dan para "God Killers" ini
mengalami
> hidup yang sulit selama berabad-abad di Eropa Kristen, berpuncak
> pada holocaust di Jerman, yang tidak diakui oleh pak
Ahmaddinejad .
> Juga ada kebencian dan permusuhan terhadap orang Roma yang
menindas
> para missionaris Kristen Awal. (Andaikata sebatas Kotbah di Atas
> Bukit, Kristen adalah agama damai).
> > Di dalam Quran ada perintah kebencian dan kekerasan, mula-mula
> terhadap orang Arab Mekkah, kemudian terhadap orang Yahudi Medina,
> lalu terhadap Kristen Syiria, Parsi Iran dan akhirnya terhadap
> seluruh manusia yang tidak beragama Islam.. Isinya sebagian besar
> polemik, pertengkaran, kutukan dan ancaman. Selain dimasukkan
neraka
> janaman secara abadi, para kafir penyembah berhala itu juga dapat
> atau harus dibunuh.
> > Para pendiri agama juga harus disorot oleh kode moral. Apakah
> selama hidupnya dia berprilaku moral atau tidak. Apakah dia hidup
> dari keringatnya sendiri, atau menjarah harta orang lain?
Bagaimana
> kehidupan seksualnya? Apakah dia dapat mengendalikan nafsu
> seksualnya atau malah mengumbarnya?
> > Terhadap agama-agama yang mengajarkan doktrin jahat dan
berbahaya
> ini bagaimana sikap kita?
> > "Toleransi" kritis. Artinya toleransi tidak mematikan pemikiran
> kritis, pemikiran kritis tidak berarti mencari musuh. Justru
> pemikiran kritis yang telah menghantarkan manusia pada
peradabannya
> sekarang ini. Dan pemikiran kritis ini akan terus membawa kita
> kepada kemajuan lebih jauh, tidak hanya di bidang sains dan
> teknologi, tetapi dan terutama dibidang moral dan spiritual,
> dimana .kebencian dan kekerasan – termasuk yang konon datang
> dari "tuhan" - akan ditolak oleh sebagian besar, kalau pun tidak
> oleh seluruh manusia. Savere aude, beranilah menggunakan pikiran.
> Itulah pencerahan, menurut Immanuel Kant.
> > Tabik
> > LGS
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > ____________ _________ _________ __
> > From: Cokorda Raka Angga Jananuraga <rakabali78@ ...>
> > To: bali-bali@yahoogrou ps.com
> > Sent: Wednesday, January 28, 2009 9:34:50 PM
> > Subject: [bali-bali] Re: Analisis Mendalam Tentang Agama, Tuhan
> dan Negara
> >
> >
> > Tulisan yang bagus. Tapi mungkin bagi yang males baca panjang-
> panjang,
> > mungkin bisa diringkas sebagai berikut:
> >
> > "Kacau nih indonesia gara-gara fundamentalisme agama gurun
> (islam)".
> >
> > [islam gak disebut-sebut dalam tulisan aslinya, mungkin supaya
PC,
> > politically correct, tapi, kita kan gak perlu PC terus kan?]
> >
> > -Raka-
> >
> > --- In bali-bali@yahoogrou ps.com, Bulantrisna Djelantik
<btrisna@
> >
> > wrote:
> > >
> > > Tulisan yang sangat bagus dan memberi pencerahan, terimakasih
> untuk
> > sdr
> > > Surya, Biang Bulan
> > >
> > > 2009/1/28 Nusantara Jaya <nusantarajaya69@ ...>
> > >
> > > > Pak Suarsawan saudaraku, terima kasih sebuah tulisan gedoran
> > pikiran
> > > > dan nurani yang berkecamuk menyaksikan fakta hidup di dunia
> ini
> > dan asupan
> > > > pagi yang lumayan memprovokasi pikir setelah liburan Imlek.
> > > >
> > > > Saya tertarik untuk minta pendapat dan berbagi jikalau waktu
> > mengijinkan
> > > > kita untuk bertemu.
> > > >
> > > > Surya
> > > >
> > > > --- On *Tue, 1/27/09, ptsuarsawan <ptsuarsawan@ ...>* wrote:
> > > >
> > > > From: ptsuarsawan <ptsuarsawan@ ...>
> > > > Subject: [bali-bali] Analisis Mendalam Tentang Agama, Tuhan
> dan
> > Negara
> > > > To: bali-bali@yahoogrou ps.com
> > > > Date: Tuesday, January 27, 2009, 4:01 AM
> > > >
> > > >
> > > > Analisis Mendalam Tentang Agama, Tuhan dan Negara
> > > >
> > > > Siapa tidak risau melihat kenyataan yang terjadi di
Indonesia.
> Ada
> > > > berbagai agama besar dengan umatnya yang besar (terutama
> Islam),
> > namun
> > > > kasih sayang, kebenaran dan keadilan malah nyaris tidak ada.
> Atau
> > > > justru sebaliknya, kekerasan, kerusuhan, pembunuhan, ketidak
> > adilan,
> > > > korupsi dan berbagai pelanggaran HAM justru terjadi di
> Indonesia
> > dan
> > > > barangkali mencapai index prestasi nomor wahid didunia.
> Demikian
> > pula
> > > > yang terjadi dengan di negara2 yang kental sekali agamanya,
> > seperti
> > > > negara2 Amerika Latin (Colombia, Argentina, Bolivia),
> Philipina
> > (jaman
> > > > Marcos), negara2 Timur Tengah, Pakistan, Aljasair,
Afganistan,
> > dst.
> > > > Apanya yang salah? Berikut ini adalah butir2 analisis yang
> > mendalam
> > > > tentang Agama, Tuhan, dan Bangsa.
> > > >
> > > > Dalil 1.
> > > > Tuhan itu tidak beragama, jadi Ia berlaku adil bagi semua
> manusia.
> > > > Agama adalah sekedar sarana untuk mengenalkan Tuhan, namun
> Tuhan
> > > > sendiri tidak beragama.
> > > >
> > > > Dalil 2..
> > > > Agama mempunyai keterbatasan yang cukup mencolok seperti
> > disebutkan
> > > > dalam kitab-kitab suci Al- Quran dan Injil. Misal dalam Al-
> Quran
> > > > ditandaskan bahwa apabila semua ajaran Allah SWT dituliskan,
> maka
> > > > tinta sebanyak samudera rayapun tidak akan mencukupi.
Demikian
> > pula
> > > > dengan Injil yang menandaskan apabila semua ajaran Isa
Almasih
> > > > dituliskan maka buku setebal gunungpun tidak akan bisa
memuat.
> Ke
> > > > "Mahabesaran Tuhan" tidak mungkin cukup diwadahi dalam buku
> > setebal
> > > > kitab suci. Ke "Mahabesaran Tuhan" juga tercermin pada luas
dan
> > > > dalamnya ilmu pengetahuan. Dengan terbatasnya kitab suci,
ini
> > berarti
> > > > umat beragama diminta untuk lebih banyak belajar ilmu beserta
> > > > kebenarannya diluar kitab suci masing2 agama (jadi isi
masing2
> > kitab
> > > > suci ternyata hanya sedikit sekali!). Dengan banyak belajar
> diluar
> > > > kitabsuci, diharapkan IQ, EQ dan Iman terus berkembang
> sejajar,
> > tidak
> > > > timpang, dan tidak fanatik. Bila orang hanya dalam pada sisi
> > "Iman"
> > > > saja, maka ia mudah diperalat oleh para politisi.
> > > >
> > > > Dalil 3.
> > > > Pencapaian puncak pemahaman agama adalah religiositas.
Ibarat
> > kuliah,
> > > > ini adalah Philosophy Degree atau gelar Doktor. Setelah
> bergelar
> > > > Doktor, maka ilmu lebih penting daripada almamaternya. Kalau
> baru
> > > > taraf kuliah, seorang mahasiswa masih suka memamerkan
> identitas2
> > > > universitasnya. Demikian pula dengan agama, Tuhan dengan
sifat
> > dasar
> > > > Nya ("Maha Pengasih dan Penyayang") menjadi lebih penting
> daripada
> > > > agama itu sendiri, atau bahkan agama menjadi tidak perlu
lagi.
> > Jadi,
> > > > kalau sudah mumpuni keagamaan seseorang, bukan agamanya yang
> > penting,
> > > > melainkan religiositasnya yang amat sangat penting. Ia tidak
> lagi
> > > > tersekat-sekat oleh kotak sempit yang disebut agama.
> Religiositas
> > > > setingkat lebih atas daripada agama. Religiositas dapat
> diperoleh
> > > > tanpa melalui agama. Salah satu definisi umum tentang
> religiositas
> > > > adalah sbb.: sikap hatinurani, batin dan pikiran manusia
yang
> > selalu
> > > > diarahkan kepada perbuatan baik, kasih sayang, kebenaran dan
> > keadilan.
> > > >
> > > > Dalil 4.
> > > > Agama adalah sesuatu yang abstrak dan sulit dicerna, oleh
> sebab
> > itu
> > > > sebaiknya tidak diberikan kepada anak-anak yang belum dewasa
> > > > (disekolah dasar), apalagi dipaksakan sebagai pendidikan
agama
> > (ini
> > > > pelanggaran HAM, agama adalah kebebasan untuk memilih);
kalau
> > sebagai
> > > > pengajaran tentang berbagai agama, ini penting dan perlu
> diajarkan
> > > > (misalnya keanekaragaman agama beserta ciri mereka masing2).
> > Sebaiknya
> > > > agama sebagai pendidikan (untuk menarik pengikut baru)
> diberikan
> > > > kepada manusia dewasa, waktu kecil cukup diberikan budi
> pekerti.
> > Kalau
> > > > sejak kecil sudah dicuci otak dengan agama, maka hasilnya
mirip
> > > > Indonesia saat ini. Bukan kekeluargaan atau kasih sayang
> melainkan
> > > > kecurigaan, 'keterkotakan' (SARA) dan bahkan kekerasan yang
> justru
> > > > muncul. Dinegara modern seperi USA, Jepang, Korsel, Taiwan,
> > Inggris,
> > > > Australia, dst. agama memang tidak boleh diberikan pada
anak2
> SD
> > > > sebagai pendidikan(kecuali sekolah yang berafiliasi dengan
> agama
> > > > tertentu), namun sebagai pengajaran (transfer of knowledge)
> yang
> > > > mengajarkan berbagai agama beserta karakteristiknya
> diperbolehkan,
> > > > pendidikan agama adalah merupakan tanggung jawab orang tua.
> Untuk
> > > > anak, yang lebih baik dan lebih penting adalah budi pekerti.
> Budi
> > > > pekerti mengajarkan sopan-santun, taat hukum, keadilan dan
> hidup
> > > > bersosial secara baik. Benarkah dan pernahkah Nabi Muhammad
> SAW
> > dan
> > > > Nabi Isa mengarahkan agama kepada anak2? Tidak kan? Oleh
sebab
> > itu,
> > > > kasihanilah para anak2 dengan tidak membebani otak mereka
> kepada
> > > > pengetahuan yang belum saatnya; dan yang lebih penting dan
> > mendasar:
> > > > agama syarat dengan dogma2 yang beku, bila diajarkan secara
> kurang
> > > > tepat justru akan membelenggu kecerdasan anak2, bahkan
justru
> > anak2
> > > > akan mulai terkotak-kotak sejak dini! Masih ingin
> > > > bukti? Lihatlah prestasi masyarakat RRC yang komunis,
ternyata
> > lebih
> > > > religius, tidak main membunuh orang (maling ayam dan
pencopet),
> > > > prestasi olahraga dan IPTEK nya hebat, pemerintahnya bisa
> > menghidupi
> > > > 1,2 milyar (lima kali penduduk kita), berani menghukum mati
> para
> > > > pelaku KKN, dst.. Kemudian, tentang kualitas pendidikan,
> Indonesia
> > > > berada dibawah Vietnam (yang komunis). Pendidikan dan
> pengajaran
> > agama
> > > > harus disertai penekanan tentang keterbatasan agama, sejarah
> hitam
> > > > agama (misal: Katholik diabad 17 yang membuat Eropa mundur,
> dan
> > Islam,
> > > > bila tidak hati2, diabad ini
> > > > bisa mengalami hal yang serupa dengan Katholik diabad 17),
> semua
> > agama
> > > > besar pernah mengalami pasang surut dalam sejarah, semua
agama
> > juga
> > > > mengalami perpecahan internal (Katholik-Protestan , Syiah-
> Suni,
> > dst);
> > > > penekanan cita2 pemahaman tertinggi agama yang disebut
> > religiositas,
> > > > dan penekanan kemungkinan penyalahgunaan agama untuk
politik!
> > Agama
> > > > juga selalu jauh tertinggal (terbirit-birit) dalam
> perkembangannya
> > > > dibandingkan ilmu pengetahuan. Dengan penekanan demikian,
umat
> > yang
> > > > mendalami agama mempunyai wawasan yang luas, tidak arogan
dan
> > terbuka!
> > > >
> > > > Dalil 5.
> > > > Agama bukan jaminan moralitas, kesejahteraan, kedamaian dan
> > keadilan.
> > > > Lihat saja, ada berbagai agama besar di Indonesia, namun
> > persaudaraan,
> > > > perdamaian dan keadilan justru tidak ada. Demikian pula
> korupsi
> > justru
> > > > meraja lela. Para elit (militer, politik dan birokrat), yang
> > notabene
> > > > berpendidikan dan berjabatan tinggi justru merupakan sebab
> utama
> > > > kehancuran bangsa Indonesia. Yang diatas rajin korupsi namun
> bebas
> > dan
> > > > terhormat, yang dibawah: begitu menangkap pencuri ayam
langsung
> > > > dibakar begitu saja! Di Amerika Latin yang didominasi agama
> > Katholik,
> > > > seperti Meksiko, Brasil, Argentina, dan Colombia, juga
> didominasi
> > > > kekerasan dan korupsi, demikian pula Pilipina. Di Timur
Tengah
> > > > (negara2 Arab), Pakistan, Aljasair, Afganistan, Irak,
> Iran,dst...,
> > > > kekerasan dan pelanggaran HAM luarbiasa. TKW kita di Timur
> Tengah
> > > > menjadi salah satu bukti nyata.. Sebaliknya, negara RRC yang
> > komunis
> > > > justru menampilkan kesejahteraan, kedamaian dan keadilan,
> koruptor
> > > > kelas kakap justru tegas ditembak mati. Kesejahteraan yang
> timbul
> > > > dalam agama seringkali hanya terjadi pada para birokrat
> (pemimpin)
> > > > agama itu sendiri. Penegakan hukum lebih menjamin tingginya
> > > > moralitas dan pertumbuhan ekonomi, yang pada akhirnya akan
> > memberikan
> > > > kesejahteraan, kedamaian dan keadilan bagi rakyat.
> > > >
> > > > Dalil 6.
> > > > Agama Harus Menghormati Budaya Setempat.
> > > > Semua agama besar di Indonesia berasal dari luar negeri,
maka
> bias
> > > > budaya pasti ada. Artinya, budaya asing mendompleng agama
akan
> > masuk
> > > > dan mempengaruhi budaya lokal. Alangkah sedihnya kita,
apabila
> di
> > > > Malioboro, seorang menyapa dengan Amitaba ..... (Budha, bhs.
> Cina),
> > lalu
> > > > dijawab yang lainnya dengan Assalam ...... (Islam, bhs.
Arab),
> > kemudian
> > > > ada lagi yang menyahut Syallom ..... (Kristen, bhs. Yahudi),
> tak
> > > > ketinggalan ada yang berkata Hong wilaheng .... (Hindu, bhs.
> > Hindi);
> > > > kemudian ada yang menjawab secara rasional, sopan dan
> nasionalis:
> > > > Selamat Siang. Demikian pula dengan budaya berpakaian,
alangkah
> > > > sedihnya apabila blangkon dan surjan Yogya terdesak oleh
> pakaian
> > Arab
> > > > atau sari India. Memeluk agama asing haruslah tidak boleh
> > mengorbankan
> > > > budaya setempat. Yang paling menakutkan adalah penjiplakan
cara
> > > > berpikir dan berperilaku, misalnya menganggap ilmu
pengetahuan
> dan
> > > > teknologi itu "setan" yang harus dijauhi, dan kekerasan demi
> > pembelaan
> > > > agama, konsep yang salah "right or wrong for my religion"
(sisi
> > > > "wrong" sangat berbahaya bagi kesehatan nurani). Bayangkan
> bila
> > kita
> > > > tidak kritis diberbagai bidang, pinjaman uang (utang) luar
> negeri
> > yang
> > > > bersyarat telah membelit kita, kurs nilai mata uang yang
jauh
> dari
> > > > keadilan telah menjajah kita, dan budaya asing yang
> mendominasi
> > budaya
> > > > kita lewat agama telah menghantui kita, lalu kita mau jadi
> bangsa
> > apa?
> > > >
> > > > Dalil 7.
> > > > Agama mudah diperalat.
> > > > Oleh para elit politik maupun penipu biasa, agama sering
> > diperalat.
> > > > Kesetiaan dan ketaatan hampir seratus persen kepada Tuhan
> melalui
> > > > agama disalah gunakan oleh 'manusia cerdas tapi jahat'.
Antara
> > Agama
> > > > dan partai politik sudah sulit dibedakan. Antara filsafati
> yang
> > suci
> > > > bersih dan politik yang hitam kelam bercampur baur. Umat
> beragama
> > > > bingung, apakah ia sedang mendengarkan sabda Tuhan atau
orasi
> > politik
> > > > yang ulung dari seorang Dai (misalnya Dai sejuta umat), atau
> > apakah ia
> > > > sedang ada di mesjid atau sedang ada di kantor partai
politik?
> > Awas,
> > > > jika para politisi di Jakarta ahli mempolitisir agama,
apalagi
> > para
> > > > pakar politik Barat yang bagaimanapun kita harus akui
> > > > kualitasnya lebih unggul daripada para politisi kita, mereka
> pasti
> > > > juga ikut dan lebih pandai menggunakan jurus politisasi
agama.
> > Dengan
> > > > politisasi agama, kasih sayang dimanipulasi menjadi
kekerasan
> dan
> > > > bahkan pembunuhan, dan bangsa ini akan terjebak dan dibuat
> sibuk
> > > > mengurusi hal2 yang tidak penting (biarkan masyarakat
beragama
> > > > sendiri), sedangkan para politisi dari negara modern
> (pemerintah
> > > > asing) bebas dan sibuk 'mencuri' kekayaan alam kita yang
luar
> > biasa
> > > > kayanya. Lihatlah fakta kekerasan dan pembunuhan di negara2
> yang
> > > > agamis seperti: Colombia, Argentina, Aljasair, Afganistan,
> > Pilipina,
> > > > Indonesia, Bosnia, Yugoslavia, dst. Kasus penyerbuan Amerika
ke
> > > > Taliban, dipakai oleh regim ORBA untuk mengalihkan perhatian
> > bangsa
> > > > kepada hal lain yang tidak banyak manfaatnya atau justru
> merugikan
> > > > negara! Seandainya saja, kesetiakawanan umat Islam
> dipergunakan
> > untuk
> > > > hal yang baik dan nasionalis, misalnya saja jihad melawan
KKN,
> > > > pelanggaran HAM dan mafia peradilan, hasilnya akan bukan
main!
> > > > Indonesia akan maju pesat sekali; sayang sekali, tongkat
> komando
> > agama
> > > > Islam saat ini masih ditangan orang2 Regim Orde Baru!
Sehingga
> > > > kesetiaan umat terhadap Tuhan justru disalah gunakan untuk
adu
> > domba,
> > > > pengalihan perhatian dan pembodohan bangsa! Didalam negeri
> sendiri
> > > > sudah begitu banyak masalah (macetnya agenda Reformasi),
tapi
> > justru
> > > > masih dicarikan penyakit baru yaitu dengan melibatkan diri
> > kepersoalan
> > > > luar negeri yang kurang relevan! Inilah keculasan manusia2
> Orde
> > Baru,
> > > > demi keselamatan regim dari segala tuntutan dahsyat bangsa
atas
> > > > tindakan selama 32 tahun, mereka rela membodohi bangsanya
> sendiri!
> > > > Dinegara yang patuh hukum, para pelaku regim ORBA ini
pastilah
> > sudah
> > > > mengalami hukuman yang sangat berat dan setimpal, banyak
dari
> > mereka
> > > > yang pantas untuk mendapat hukuman mati. Namun saat ini,
> mereka
> > masih
> > > > dihormati justru oleh para dosen, pakar, mahasiswa,
jurnalis,
> dan
> > kaum
> > > > agamawan. Aneh bin ajaib!
> > > >
> > > > Dalil 8.
> > > > Agama dapat menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi
> > (IPTEK).
> > > > Lihatlah sejarah Eropa diabad 17 an. Agama Katholik saat itu
> > sering
> > > > menghukum ilmuwan, dengan alasan ilmuwan itu membuat
> pernyataan
> > yang
> > > > dianggap bertentangan dengan isi Injil. Ilmuwan besar yang
> > dikucilkan
> > > > antara lain adalah Copernicus dan Darwin. Pada abad itu
ketika
> > agama
> > > > Katholik begitu dominan, Eropa justru mengalami jaman
> kegelapan.
> > > > Sekarang, lihatlah perbedaan antara negara Amerika Latin
(yang
> > dominan
> > > > agamanya) dan USA serta Kanada (yang dominan
> religiositasnya) .
> > Sangat
> > > > kontras sekali, misalnya saja antara USA dan Meksiko yang
> > berbatasan.
> > > > USA sangat modern, makmur, tentram, sebaliknya Meksiko,
> padahal
> > mereka
> > > > sama2 pendatang dari Eropa. Negara-negara Islam juga sama
saja,
> > > > katakan saja Turki (Bosnia, Albania) adalah negara Islam
paling
> > > > modern, ternyata masih jauh dibelakang negara2 Eropa dalam
> IPTEK
> > dan
> > > > kemakmuran. Selama pemahaman agama itu masih sempit
(fanatisme
> > agama,
> > > > bukan religiositas) , maka selama itu pula negara akan
> terjebak
> > dalam
> > > > hiruk pikuk eforia agama.
> > > > Bandingkan pula dengan pemahaman demokrasi kita, yang baru
> tarap
> > > > belajar dan eforia, dengan negara2 Eropa/USA. Kita juga
dibuat
> > > > tercengang dengan para ilmuwan negara komunis, misal RRC,
> mereka
> > maju
> > > > pesat, lihat negara kita dibanjiri otomotif produk mereka.
> Berapa
> > ribu
> > > > jam belajar yang sudah dihabiskan oleh anak-anak SD untuk
> > "menghapal"
> > > > hal yang belum saatnya dipelajari (agama asing beserta
bahasa
> dan
> > > > budayanya)? Bukankah anak2 itu ibarat di "brain washing"
> sehingga
> > daya
> > > > kreativitas dan daya saing mereka untuk tingkat dunia
menjadi
> > rendah
> > > > sekali. Hasilnya apa? Toh mirip P4, PMP, dst. Sementara itu,
> > setelah
> > > > SD, kita harus menghabiskan sekian ribu jam pelajaran lagi
> untuk
> > > > belajar dan mengejar ketertinggalan dalam bahasa Inggris,
lalu
> > kapan
> > > > SDM kita bisa maju kalau kita tidak effisien dalam
menggunakan
> > waktu
> > > > dalam pendidikan?
> > > >
> > > > Dalil 9.
> > > > Semakin udara suatu bangsa penuh polusi doa puja-puji kepada
> > Tuhan,
> > > > semakin rusak moral bangsa itu.
> > > > Kalau kita amati, seringkali tembok-tembok ditulisi: Ngebut,
> > benjut;
> > > > Yang Kencing disini hanyalah anjing; Daerah bebas narkotik;
> > Dilarang
> > > > buang sampah disini; dst... Dinegara maju yang masyarakatnya
> sudah
> > > > mencapai religiositas, tulisan2 berisi ancaman dan aturan
kasar
> > > > semacam itu sudah tidak ada lagi, sebab aturan itu sudah
> tertulis
> > > > dihati sanubari mereka semenjak dini/kecil, yaitu melalui
> > pendidikan
> > > > budi pekerti. Begitu pula dengan masalah agama, semakin bumi
> > nusantara
> > > > ini dipenuhi polusi suara yang keras dan
> > > > hingar bingar tentang agama (Tabliq Aqbar, istigotsah, azan
> > masjid,
> > > > koor gereja, dsb.), semakin menandakan bahwa masyarakatnya
> masih
> > > > sekedar pandai berdoa, sekedar bosa-basi agama, namun tidak
> pandai
> > > > melaksanakan ajaran agama. Siang maling atau korupsi,
> > > > malam meditasi atau berdoa. Ucapan dan tindakan sangat
kontras
> > > > berbeda. Lihatlah kelihaian para politisi Orde Baru dalam
ber
> > "agama",
> > > > kemudian lihatlah "track record" mereka. Alhamdulilah,
seratus
> > delapan
> > > > puluh derajat bedanya! Dapat kita katakan, apa yang terjadi
di
> > > > Indonesia adalah pelecehan agama, bukan penghormatan agama,
> > apalagi
> > > > pengamalan agama! Pelecehan agama akan menyebabkan
kehancuran
> > moral
> > > > suatu bangsa (Tuhan menurunkan hukum Nya!).
> > > >
> > > > Dalil 10
> > > > Agama dapat melunakan hukum negara melalui persepsi yang
salah.
> > > > Dalam agama Islam dikenal konsep pengampunan total terhadap
> dosa2
> > > > manusia oleh Tuhan dalam event2 tertentu, misalnya dibulan
> > pengampunan
> > > > "Ramadhan" atau saat2 naik Haji ke Mekah, demikian pula
dalam
> > agama
> > > > Nasrani dikenal konsep pengampunan total terhadap dosa2
> manusia
> > oleh
> > > > Tuhan asal percaya kepada Yesus Kristus. Dengan sifatNya
yang
> > "Maha
> > > > Pengasih dan Penyayang" (perhatikan kata Maha), maka bagi
> Tuhan
> > itu
> > > > memang mungkin.. Namun hal ini sering disalah gunakan oleh
para
> > > > koruptor, pelanggar HAM, elit politik dan birokrat. Agama
bagi
> > mereka
> > > > menjadi sarang persembunyian yang enak dan nyaman (kasus
> islah),
> > > > apalagi apabila sekian persen dari hasil kejahatan mereka,
> lalu
> > mereka
> > > > sumbangkan untuk membangun masjid, gereja dan rumah yatim
> piatu
> > (model
> > > > Robin Hood), dengan demikian walau bandit mereka tetap
> dihormati
> > oleh
> > > > umat setempat. Ulama, pastor dan pendeta harus menandaskan
> bahwa
> > > > kejahatan manusia juga harus dipertanggung jawabkan didepan
> > manusia
> > > > (pengadilan) , jadi tidak hanya vertikal melainkan
> horisontalpun
> > > > penting! Ulama, pastor dan pendeta harus rajin ke DPR,
> Kejagung,
> > > > presiden , dst., dalam hal membela kebenaran/moral, tanpa
harus
> > > > berpolitik praktis, mereka harus merasa malu dengan daya
juang
> > para
> > > > mahasiswa/LSM dalam hal pembelaan moral dan kebenaran!
Mereka,
> > para
> > > > agamawan, juga harus malu kepada seorang wanita ceking yang
> gigih
> > > > membela manusia melarat dan
> > > > tertindas, yang bernama Wardah Hafidz, yang tidak takut
> > mengorbankan
> > > > keamanan hidupnya! Mana ada ulama, pastur, pendeta atau
biksu,
> > yang
> > > > turun tangan membela tukang becak, pnjual asongan, dst.,
> secara
> > nyata?
> > > > Mana ada dari mereka yang menuntut tuntasnya kasus BLBI,
> Trisakti,
> > > > Priok, KKN, uang hibah haram, dst.?
> > > >
> > > > Dalil 11.
> > > > Tuhan itu demokratis, sedangkan agama seringkali otoriter.
> > > > Tuhan tidak melarang manusia untuk tidak beragama, karena
Tuhan
> > > > sendiri pada dasarnya tidak beragama. Tuhan mengharapkan
agar
> > manusia
> > > > mencapai pemahaman tertinggi yang disebut religiositas
melalui
> > > > berbagai sarana seperti agama, "agama lokal" (misal
Kejawen),
> dan
> > ilmu
> > > > pengetahuan. Keotoriteran agama nampak pada keinginan mau
> > menangnya
> > > > sendiri seperti melarang berbagai hal yang tidak sepaham dan
> ingin
> > > > menjadi anak emas dinegara yang majemuk/pluralis!
> > > >
> > > > Penutup
> > > > Agama itu penting, namun bukan segala-galanya. Belajar agama
> harus
> > > > sampai mencapai tingkat tertinggi yaitu religiositas.
> Keterbatasan
> > > > agama (iman/keyakinan) yang inherent harus diimbangi dengan
> > > > perkembangan IQ dan EQ. Semua agama, berasal dari negara
> asing,
> > maka
> > > > kita wajib waspada dan bisa memilahkan antara ajaran agama
dan
> > budaya.
> > > > Kita janganlah dibiasakan meniru adat istiadat, pakaian,
> budaya,
> > > > apalagi cara pikir atau bahkan kekerasan yang mendompleng
agama
> > > > (melalui politik praktis). Manusia yang sudah mencapai
derajat
> > > > Religiositas yang tinggi, sudah tidak lagi mementingkan
> wadahnya
> > yaitu
> > > > agama, melainkan lebih mementingkan isi (intisari/makna)
suatu
> > ajaran
> > > > agama, sehingga ia menjadi manusia bebas merdeka yang tidak
> > > > tersekat-sekat lagi. Berbahagialah orang yang tidak beragama
> namun
> > > > mempunyai religiositas yang tinggi, sebab ia akan bebas
> merdeka
> > dimana
> > > > saja, kapan saja, dilingkungan apa saja, dan Tuhan selalu
> > menyertai
> > > > dia! Tingkat pemahaman agama di Indonesia, seperti juga
dalam
> hal
> > > > demokrasi, masih dalam tingkatan rendah sekali, masih tahapan
> > > > eforia/kulit, seperti Eropa abad 17 an, oleh sebab itu, mari
> kita
> > > > perbaiki bersama!
> > > >
> > > > Akhir kata, marilah beragama secara baik, santun, sehat,
> rasional
> > dan
> > > > berwawasan luas, sebab agama sangat mempengaruhi budaya,
> budaya
> > sangat
> > > > mempengaruhi pola-pikir dan tindak tanduk suatu bangsa!
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > >
> >
>



No virus found in this incoming message.
Checked by AVG - www.avg.com
Version: 8.0.233 / Virus Database: 270.10.16/1929 - Release Date: 02/01/09 18:02:00


__._,_.___


Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Tidak ada komentar: