Senin, 02 Februari 2009

[bali-bali] Re: Analisis Mendalam Tentang Agama, Tuhan dan Negara

he..he..he... bener juga sih...
tapi sulit lho... kalau sudah di Bali and Indonesia , pasti dah..
senggol senggolan sama agama dan adat , lihat aja Buyan.
Atau bangunan bertingkat sampai UUP.
Len hidup di Bali sudah keweh , dipersulit lagi dengan yang beginian.
Tapi saya belum ikut ikut lho .. ( minimal sampai saat ini).
Cuman nggak seneng discussion jadi personal , itu aja sih..

shanti si smiling again , thx Vieb.


--- In bali-bali@yahoogroups.com, "Asana Viebeke Lengkong"
<asanasw@...> wrote:
>
> salah ndiri, udah dibilangin nggak usah diskusi agama, masih
aja... kapok nggak.. hehehe
> ----- Original Message -----
> From: IGusti Agung
> To: bali-bali@yahoogroups.com
> Sent: Tuesday, February 03, 2009 11:59 AM
> Subject: [bali-bali] Re: Analisis Mendalam Tentang Agama, Tuhan
dan Negara
>
>
>
> wow...wow... ini koq ke personal??
> Mohon semeton sami , kalau ada yang didiscusikan , apapun
> bentuknya ( anything at all). Mohon jangan dibawa ke individu.
> Jangan ikut seperti Amrosi cs . yang menjadikan sesuatu personal.
> Pro dan contra itu sudah biasa dalam discussion , tapi
usahakanlah
> hanya sebatas pendapat , tidak lebih.
> Ingat kita sebenarnya satu ( dalam atman ), juga satu dalam
bangsa.
> Disamping kita berasal dari satu leluhur , pendiri tanah air ini.
> Guna discussion , hanya untuk lebih tahu dan mengenal diri.
> Asal kita mengerti perbedaan pendapat kita sebenarnya hanya dari
> sudut pandang kita masing- masing.
> Tujuan kita satu untuk , belajar menghargai pendapat semeton
yang
> lain , untuk kebaikan kita semua , untuk Bali , untuk Indonesia.
>
> Jangan sampai menjadi personal hanya unutk membela bentuk
penjajahan,
> baik penjajahan ekonomi dan politidari Negara Adi kuasa (
Amrik) ,
> maupun penjajahan agama ( dari Arab ).
> Bukankah sudah cukup kita kehilangan keluarga kita di Sari club
> dan Jimbaran??
> Enough is enough....... Please guys... nothing personal.
>
> shanti is not smiling anymore.
>
> --- In bali-bali@yahoogroups.com, Ketut Abdulpaulus
> <ketutabdulpaulus@> wrote:
> >
> > jadi terkekeh-kekeh baca komentar pak lili gundik tentang
> paradigma toleransi yang katanya harus di ubah. hehehehe. bukan
nya
> pak tuh cara pikirnya yang belum sempurna tentang toleransi,
agama
> dan extremis, agama di
> > pukul rata dengan kesalahan kelompok extremes nya, kalo pak
lebih
> > luas bergaul, mungkin akan mengerti agama itu apa, toleransi
itu
> seperti apa, dan ektrimis itu apa, men cuman nengil di bali
sebagai
> mayoritas cuman kebencian gen tepuk, sing bise menyame braye.
tidak
> bisa memaknai penuh arti toleransi, apakah toleransi hanya harus
di
> pahami oleh kaum minoritas saja? atau toleransi boleh tidak di
> mengerti oleh kaum mayoritas? kalo paklili gundik mengerti,
tentunya
> bisa membedakan ektremis dan agama lalu bisa menyimpulkan
toleransi
> itu sendiri.
> >
> > tak ingin menggurui sih, tapi sekarang dah banyak guru yang
salah,
> dan gelar s1 sampai s8 tak menjamin prilaku dan cara pandang
sebagai
> orang yang terdidik :D . satu lagi, belajar lah toleransi mulai
dari
> dalam hati kita sendiri. toleransi tak akan terwujud dari sebuah
> rasa kebencian, tidak berdiri diatas agama, tapi lebih pada
sebuah
> rasa ingin nya ada suasana damai dan saling memahami.jangan
sampe
> dengan komen-komen seperti lili gundik menimbulkan kembali
> psikologis orang untuk menjadi ekstrimis, makanya saya sarankan
lagi
> belajar mengerti apa itu extrimis, kenapa dan kenapa bisa
terjadi,
> sejarah nya sudah dari dulu ada, salah satu contoh tindakan
kamikaze
> yang dilakukan tentara jepang, apakah itu ajaran agama? BOM
bunuh
> diri pemberontak IRA , apakah itu agama? trus bom bunuh diri
macan
> tamil di sri langka? itu kah agama?
> >
> > untuk lebih mengerti dan lebih memahami itu apa? dekati,
pelajari,
> dan berusahalah menjadi orang yang tidak membenci dulu, jangan
hanya
> asumsi orang lain, yang kebetulan orang lain itu juga emang
> menganggap itu sebuah ajaran. Oke lili gundik? belajar dari pak
gede
> prama deh, itu spiritual murni dan mengerti hidup seperti apa
> toleransi itu.
> >
> > eh sorry salah tulis LILI GUNDI ya bukan Gundik
> >
> > salam dari Paul
> >
> > nak bali ni nengil di jakarta sebagai minoritas. merasa aman
dan
> nyaman di sini penuh toleransi, tak ada yangs eperti lili gundik
> >
> >
> >
> >
> >
> > ________________________________
> > From: Lili Gundi <lili_gundi@>
> > To: bali-bali@yahoogroups.com
> > Sent: Saturday, January 31, 2009 6:33:41 PM
> > Subject: Re: [bali-bali] Re: Analisis Mendalam Tentang Agama,
> Tuhan dan Negara
> >
> >
> > Ah masak sih pak agung? Kok hari gene masih seperti jaman
> inquisisi aja?
> > Kasiman deh.
> >
> >
> >
> >
> > ________________________________
> > From: IGusti Agung <agungpindha@ yahoo..com>
> > To: bali-bali@yahoogrou ps.com
> > Sent: Friday, January 30, 2009 11:11:41 AM
> > Subject: [bali-bali] Re: Analisis Mendalam Tentang Agama,
Tuhan
> dan Negara
> >
> >
> >
> > hi..hi..hi..
> > hello pasukans ,
> > kemarin ketika rapat BOS , saya dimarah.
> > "Tidak boleh nulis agama !"
> > Nah... pokoknya saya gak ada nulis masalah agama ya..?
> > Makasih pasukans lain yang nulis agama ( yang belum dimarah).
> > saya selamat.... na..na...na. ..na.
> >
> > shanti si smiling.
> >
> > --- In bali-bali@yahoogrou ps.com, Lili Gundi
<lili_gundi@ ...>
> wrote:
> > >
> > > Kita harus merobah paradigma tentang toleransi. Kita harus
> > menghormati (hak azasi) seluruh dan setiap manusia, apapun
> > keyakinan agamanya, bahkan termasuk yang tidak beragama dan
> atheis.
> > Tetapi terhadap agama, kita berikan toleransi, setelah dia
lulus
> > dari ujian akal kritis serta kode moral yang diterima secara
> > universal.
> > > Agama-agama, kitab sucinya, pendirinya, harus dianalisis
secara
> > mendalam. Dari analisis itu kita ketahui ada agama-agama yang
> > mengajarkan kebencian dan kekerasan; ada agama-agama yang
> > mengajarkan persaudaraan universal dan welas asih. Dengan
> permohonan
> > maaf, harus dikatakan agama-agama Semitik mengajarkan yang
> pertama;
> > agama-agama Timur mengajarkan yang kedua. Mengapa demikian?
Agama-
> > agama Timur didirikan oleh para maharesi yogi dan filsuf.
> > > Agama Semitik itu didirikan oleh para petani berpindah,
> pengembala
> > ternak nomaden gurun pasir yang keras atau karyawan dagang
buta
> > huruf. Mereka pada umumnya adalah atau bertindak sebagai
kepala
> > suku yang berjuang mempertahankan sukunya dari tekanan suku
lain
> > yang lebih besar, atau ingin memperluas wilayahnya dengan
merebut
> > tanah-tanah suku lain, dan membunuh lawan-lawannya, menawan
mereka
> > yang takluk untuk dijual sebagai budak, atau dijadikan pemuas
> seks.
> > Tuhan (yang) mereka (persepsikan) hampir sama dengan sifat-
> sifatnya
> > (kepala suku itu).. Tuhan-tuhan itu hanya membela sukunya
> > (pengikutnya) saja, dan memusuhi suku (pengikut keyakinan)
lain.
> > Bahkan ada Tuhan yang ikut sibuk terlibat dalam urusan ranjang
> > kepala suku itu. Ini pastilah bukan Tuhan menciptakan alam
> semesta.
> > Ini adalah tuhan suku, yang telah jatuh menjadi pelayan
> > domestik..
> > > Itulah sebabnya di dalam kitab suci mereka kita temukan
> kebencian,
> > permusuhan dan perintah kekerasan terhadap suku atau pemeluk
> > keyakinan lain.
> > > Dalam Torah Yahudi (Perjanjian Lama Kristen) ada narasi
> kebencian
> > terhadap orang Mesir, Kanaan, dan Filistin. Bahkan Yahweh ikut
> > mengirimkan bencana wabah kepada orang Mesir. Di dalam
Perjanjian
> > Baru ada narasi kebencian dan kekerasan terhadap orang Yahudi,
> > karena dituduh membunuh Yesus, dan para "God Killers" ini
> mengalami
> > hidup yang sulit selama berabad-abad di Eropa Kristen,
berpuncak
> > pada holocaust di Jerman, yang tidak diakui oleh pak
> Ahmaddinejad .
> > Juga ada kebencian dan permusuhan terhadap orang Roma yang
> menindas
> > para missionaris Kristen Awal. (Andaikata sebatas Kotbah di
Atas
> > Bukit, Kristen adalah agama damai).
> > > Di dalam Quran ada perintah kebencian dan kekerasan, mula-
mula
> > terhadap orang Arab Mekkah, kemudian terhadap orang Yahudi
Medina,
> > lalu terhadap Kristen Syiria, Parsi Iran dan akhirnya terhadap
> > seluruh manusia yang tidak beragama Islam.. Isinya sebagian
besar
> > polemik, pertengkaran, kutukan dan ancaman. Selain dimasukkan
> neraka
> > janaman secara abadi, para kafir penyembah berhala itu juga
dapat
> > atau harus dibunuh.
> > > Para pendiri agama juga harus disorot oleh kode moral.
Apakah
> > selama hidupnya dia berprilaku moral atau tidak. Apakah dia
hidup
> > dari keringatnya sendiri, atau menjarah harta orang lain?
> Bagaimana
> > kehidupan seksualnya? Apakah dia dapat mengendalikan nafsu
> > seksualnya atau malah mengumbarnya?
> > > Terhadap agama-agama yang mengajarkan doktrin jahat dan
> berbahaya
> > ini bagaimana sikap kita?
> > > "Toleransi" kritis. Artinya toleransi tidak mematikan
pemikiran
> > kritis, pemikiran kritis tidak berarti mencari musuh. Justru
> > pemikiran kritis yang telah menghantarkan manusia pada
> peradabannya
> > sekarang ini. Dan pemikiran kritis ini akan terus membawa kita
> > kepada kemajuan lebih jauh, tidak hanya di bidang sains dan
> > teknologi, tetapi dan terutama dibidang moral dan spiritual,
> > dimana .kebencian dan kekerasan - termasuk yang konon datang
> > dari "tuhan" - akan ditolak oleh sebagian besar, kalau pun
tidak
> > oleh seluruh manusia. Savere aude, beranilah menggunakan
pikiran.
> > Itulah pencerahan, menurut Immanuel Kant.
> > > Tabik
> > > LGS
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > ____________ _________ _________ __
> > > From: Cokorda Raka Angga Jananuraga <rakabali78@ ...>
> > > To: bali-bali@yahoogrou ps.com
> > > Sent: Wednesday, January 28, 2009 9:34:50 PM
> > > Subject: [bali-bali] Re: Analisis Mendalam Tentang Agama,
Tuhan
> > dan Negara
> > >
> > >
> > > Tulisan yang bagus. Tapi mungkin bagi yang males baca
panjang-
> > panjang,
> > > mungkin bisa diringkas sebagai berikut:
> > >
> > > "Kacau nih indonesia gara-gara fundamentalisme agama gurun
> > (islam)".
> > >
> > > [islam gak disebut-sebut dalam tulisan aslinya, mungkin
supaya
> PC,
> > > politically correct, tapi, kita kan gak perlu PC terus kan?]
> > >
> > > -Raka-
> > >
> > > --- In bali-bali@yahoogrou ps.com, Bulantrisna Djelantik
> <btrisna@
> > >
> > > wrote:
> > > >
> > > > Tulisan yang sangat bagus dan memberi pencerahan,
terimakasih
> > untuk
> > > sdr
> > > > Surya, Biang Bulan
> > > >
> > > > 2009/1/28 Nusantara Jaya <nusantarajaya69@ ...>
> > > >
> > > > > Pak Suarsawan saudaraku, terima kasih sebuah tulisan
gedoran
> > > pikiran
> > > > > dan nurani yang berkecamuk menyaksikan fakta hidup di
dunia
> > ini
> > > dan asupan
> > > > > pagi yang lumayan memprovokasi pikir setelah liburan
Imlek.
> > > > >
> > > > > Saya tertarik untuk minta pendapat dan berbagi jikalau
waktu
> > > mengijinkan
> > > > > kita untuk bertemu.
> > > > >
> > > > > Surya
> > > > >
> > > > > --- On *Tue, 1/27/09, ptsuarsawan <ptsuarsawan@ ...>*
wrote:
> > > > >
> > > > > From: ptsuarsawan <ptsuarsawan@ ...>
> > > > > Subject: [bali-bali] Analisis Mendalam Tentang Agama,
Tuhan
> > dan
> > > Negara
> > > > > To: bali-bali@yahoogrou ps.com
> > > > > Date: Tuesday, January 27, 2009, 4:01 AM
> > > > >
> > > > >
> > > > > Analisis Mendalam Tentang Agama, Tuhan dan Negara
> > > > >
> > > > > Siapa tidak risau melihat kenyataan yang terjadi di
> Indonesia.
> > Ada
> > > > > berbagai agama besar dengan umatnya yang besar (terutama
> > Islam),
> > > namun
> > > > > kasih sayang, kebenaran dan keadilan malah nyaris tidak
ada.
> > Atau
> > > > > justru sebaliknya, kekerasan, kerusuhan, pembunuhan,
ketidak
> > > adilan,
> > > > > korupsi dan berbagai pelanggaran HAM justru terjadi di
> > Indonesia
> > > dan
> > > > > barangkali mencapai index prestasi nomor wahid didunia.
> > Demikian
> > > pula
> > > > > yang terjadi dengan di negara2 yang kental sekali
agamanya,
> > > seperti
> > > > > negara2 Amerika Latin (Colombia, Argentina, Bolivia),
> > Philipina
> > > (jaman
> > > > > Marcos), negara2 Timur Tengah, Pakistan, Aljasair,
> Afganistan,
> > > dst.
> > > > > Apanya yang salah? Berikut ini adalah butir2 analisis
yang
> > > mendalam
> > > > > tentang Agama, Tuhan, dan Bangsa.
> > > > >
> > > > > Dalil 1.
> > > > > Tuhan itu tidak beragama, jadi Ia berlaku adil bagi
semua
> > manusia.
> > > > > Agama adalah sekedar sarana untuk mengenalkan Tuhan,
namun
> > Tuhan
> > > > > sendiri tidak beragama.
> > > > >
> > > > > Dalil 2..
> > > > > Agama mempunyai keterbatasan yang cukup mencolok seperti
> > > disebutkan
> > > > > dalam kitab-kitab suci Al- Quran dan Injil. Misal dalam
Al-
> > Quran
> > > > > ditandaskan bahwa apabila semua ajaran Allah SWT
dituliskan,
> > maka
> > > > > tinta sebanyak samudera rayapun tidak akan mencukupi.
> Demikian
> > > pula
> > > > > dengan Injil yang menandaskan apabila semua ajaran Isa
> Almasih
> > > > > dituliskan maka buku setebal gunungpun tidak akan bisa
> memuat.
> > Ke
> > > > > "Mahabesaran Tuhan" tidak mungkin cukup diwadahi dalam
buku
> > > setebal
> > > > > kitab suci. Ke "Mahabesaran Tuhan" juga tercermin pada
luas
> dan
> > > > > dalamnya ilmu pengetahuan. Dengan terbatasnya kitab
suci,
> ini
> > > berarti
> > > > > umat beragama diminta untuk lebih banyak belajar ilmu
beserta
> > > > > kebenarannya diluar kitab suci masing2 agama (jadi isi
> masing2
> > > kitab
> > > > > suci ternyata hanya sedikit sekali!). Dengan banyak
belajar
> > diluar
> > > > > kitabsuci, diharapkan IQ, EQ dan Iman terus berkembang
> > sejajar,
> > > tidak
> > > > > timpang, dan tidak fanatik. Bila orang hanya dalam pada
sisi
> > > "Iman"
> > > > > saja, maka ia mudah diperalat oleh para politisi.
> > > > >
> > > > > Dalil 3.
> > > > > Pencapaian puncak pemahaman agama adalah religiositas.
> Ibarat
> > > kuliah,
> > > > > ini adalah Philosophy Degree atau gelar Doktor. Setelah
> > bergelar
> > > > > Doktor, maka ilmu lebih penting daripada almamaternya.
Kalau
> > baru
> > > > > taraf kuliah, seorang mahasiswa masih suka memamerkan
> > identitas2
> > > > > universitasnya. Demikian pula dengan agama, Tuhan dengan
> sifat
> > > dasar
> > > > > Nya ("Maha Pengasih dan Penyayang") menjadi lebih
penting
> > daripada
> > > > > agama itu sendiri, atau bahkan agama menjadi tidak perlu
> lagi.
> > > Jadi,
> > > > > kalau sudah mumpuni keagamaan seseorang, bukan agamanya
yang
> > > penting,
> > > > > melainkan religiositasnya yang amat sangat penting. Ia
tidak
> > lagi
> > > > > tersekat-sekat oleh kotak sempit yang disebut agama.
> > Religiositas
> > > > > setingkat lebih atas daripada agama. Religiositas dapat
> > diperoleh
> > > > > tanpa melalui agama. Salah satu definisi umum tentang
> > religiositas
> > > > > adalah sbb.: sikap hatinurani, batin dan pikiran manusia
> yang
> > > selalu
> > > > > diarahkan kepada perbuatan baik, kasih sayang, kebenaran
dan
> > > keadilan.
> > > > >
> > > > > Dalil 4.
> > > > > Agama adalah sesuatu yang abstrak dan sulit dicerna,
oleh
> > sebab
> > > itu
> > > > > sebaiknya tidak diberikan kepada anak-anak yang belum
dewasa
> > > > > (disekolah dasar), apalagi dipaksakan sebagai pendidikan
> agama
> > > (ini
> > > > > pelanggaran HAM, agama adalah kebebasan untuk memilih);
> kalau
> > > sebagai
> > > > > pengajaran tentang berbagai agama, ini penting dan perlu
> > diajarkan
> > > > > (misalnya keanekaragaman agama beserta ciri mereka
masing2).
> > > Sebaiknya
> > > > > agama sebagai pendidikan (untuk menarik pengikut baru)
> > diberikan
> > > > > kepada manusia dewasa, waktu kecil cukup diberikan budi
> > pekerti.
> > > Kalau
> > > > > sejak kecil sudah dicuci otak dengan agama, maka
hasilnya
> mirip
> > > > > Indonesia saat ini. Bukan kekeluargaan atau kasih sayang
> > melainkan
> > > > > kecurigaan, 'keterkotakan' (SARA) dan bahkan kekerasan
yang
> > justru
> > > > > muncul. Dinegara modern seperi USA, Jepang, Korsel,
Taiwan,
> > > Inggris,
> > > > > Australia, dst. agama memang tidak boleh diberikan pada
> anak2
> > SD
> > > > > sebagai pendidikan(kecuali sekolah yang berafiliasi
dengan
> > agama
> > > > > tertentu), namun sebagai pengajaran (transfer of
knowledge)
> > yang
> > > > > mengajarkan berbagai agama beserta karakteristiknya
> > diperbolehkan,
> > > > > pendidikan agama adalah merupakan tanggung jawab orang
tua.
> > Untuk
> > > > > anak, yang lebih baik dan lebih penting adalah budi
pekerti.
> > Budi
> > > > > pekerti mengajarkan sopan-santun, taat hukum, keadilan
dan
> > hidup
> > > > > bersosial secara baik. Benarkah dan pernahkah Nabi
Muhammad
> > SAW
> > > dan
> > > > > Nabi Isa mengarahkan agama kepada anak2? Tidak kan? Oleh
> sebab
> > > itu,
> > > > > kasihanilah para anak2 dengan tidak membebani otak
mereka
> > kepada
> > > > > pengetahuan yang belum saatnya; dan yang lebih penting
dan
> > > mendasar:
> > > > > agama syarat dengan dogma2 yang beku, bila diajarkan
secara
> > kurang
> > > > > tepat justru akan membelenggu kecerdasan anak2, bahkan
> justru
> > > anak2
> > > > > akan mulai terkotak-kotak sejak dini! Masih ingin
> > > > > bukti? Lihatlah prestasi masyarakat RRC yang komunis,
> ternyata
> > > lebih
> > > > > religius, tidak main membunuh orang (maling ayam dan
> pencopet),
> > > > > prestasi olahraga dan IPTEK nya hebat, pemerintahnya
bisa
> > > menghidupi
> > > > > 1,2 milyar (lima kali penduduk kita), berani menghukum
mati
> > para
> > > > > pelaku KKN, dst.. Kemudian, tentang kualitas pendidikan,
> > Indonesia
> > > > > berada dibawah Vietnam (yang komunis). Pendidikan dan
> > pengajaran
> > > agama
> > > > > harus disertai penekanan tentang keterbatasan agama,
sejarah
> > hitam
> > > > > agama (misal: Katholik diabad 17 yang membuat Eropa
mundur,
> > dan
> > > Islam,
> > > > > bila tidak hati2, diabad ini
> > > > > bisa mengalami hal yang serupa dengan Katholik diabad
17),
> > semua
> > > agama
> > > > > besar pernah mengalami pasang surut dalam sejarah, semua
> agama
> > > juga
> > > > > mengalami perpecahan internal (Katholik-Protestan ,
Syiah-
> > Suni,
> > > dst);
> > > > > penekanan cita2 pemahaman tertinggi agama yang disebut
> > > religiositas,
> > > > > dan penekanan kemungkinan penyalahgunaan agama untuk
> politik!
> > > Agama
> > > > > juga selalu jauh tertinggal (terbirit-birit) dalam
> > perkembangannya
> > > > > dibandingkan ilmu pengetahuan. Dengan penekanan
demikian,
> umat
> > > yang
> > > > > mendalami agama mempunyai wawasan yang luas, tidak
arogan
> dan
> > > terbuka!
> > > > >
> > > > > Dalil 5.
> > > > > Agama bukan jaminan moralitas, kesejahteraan, kedamaian
dan
> > > keadilan.
> > > > > Lihat saja, ada berbagai agama besar di Indonesia, namun
> > > persaudaraan,
> > > > > perdamaian dan keadilan justru tidak ada. Demikian pula
> > korupsi
> > > justru
> > > > > meraja lela. Para elit (militer, politik dan birokrat),
yang
> > > notabene
> > > > > berpendidikan dan berjabatan tinggi justru merupakan
sebab
> > utama
> > > > > kehancuran bangsa Indonesia. Yang diatas rajin korupsi
namun
> > bebas
> > > dan
> > > > > terhormat, yang dibawah: begitu menangkap pencuri ayam
> langsung
> > > > > dibakar begitu saja! Di Amerika Latin yang didominasi
agama
> > > Katholik,
> > > > > seperti Meksiko, Brasil, Argentina, dan Colombia, juga
> > didominasi
> > > > > kekerasan dan korupsi, demikian pula Pilipina. Di Timur
> Tengah
> > > > > (negara2 Arab), Pakistan, Aljasair, Afganistan, Irak,
> > Iran,dst...,
> > > > > kekerasan dan pelanggaran HAM luarbiasa. TKW kita di
Timur
> > Tengah
> > > > > menjadi salah satu bukti nyata.. Sebaliknya, negara RRC
yang
> > > komunis
> > > > > justru menampilkan kesejahteraan, kedamaian dan
keadilan,
> > koruptor
> > > > > kelas kakap justru tegas ditembak mati. Kesejahteraan
yang
> > timbul
> > > > > dalam agama seringkali hanya terjadi pada para birokrat
> > (pemimpin)
> > > > > agama itu sendiri. Penegakan hukum lebih menjamin
tingginya
> > > > > moralitas dan pertumbuhan ekonomi, yang pada akhirnya
akan
> > > memberikan
> > > > > kesejahteraan, kedamaian dan keadilan bagi rakyat.
> > > > >
> > > > > Dalil 6.
> > > > > Agama Harus Menghormati Budaya Setempat.
> > > > > Semua agama besar di Indonesia berasal dari luar negeri,
> maka
> > bias
> > > > > budaya pasti ada. Artinya, budaya asing mendompleng
agama
> akan
> > > masuk
> > > > > dan mempengaruhi budaya lokal. Alangkah sedihnya kita,
> apabila
> > di
> > > > > Malioboro, seorang menyapa dengan Amitaba ..... (Budha,
bhs.
> > Cina),
> > > lalu
> > > > > dijawab yang lainnya dengan Assalam ...... (Islam, bhs.
> Arab),
> > > kemudian
> > > > > ada lagi yang menyahut Syallom ..... (Kristen, bhs.
Yahudi),
> > tak
> > > > > ketinggalan ada yang berkata Hong wilaheng .... (Hindu,
bhs.
> > > Hindi);
> > > > > kemudian ada yang menjawab secara rasional, sopan dan
> > nasionalis:
> > > > > Selamat Siang. Demikian pula dengan budaya berpakaian,
> alangkah
> > > > > sedihnya apabila blangkon dan surjan Yogya terdesak oleh
> > pakaian
> > > Arab
> > > > > atau sari India. Memeluk agama asing haruslah tidak
boleh
> > > mengorbankan
> > > > > budaya setempat. Yang paling menakutkan adalah
penjiplakan
> cara
> > > > > berpikir dan berperilaku, misalnya menganggap ilmu
> pengetahuan
> > dan
> > > > > teknologi itu "setan" yang harus dijauhi, dan kekerasan
demi
> > > pembelaan
> > > > > agama, konsep yang salah "right or wrong for my
religion"
> (sisi
> > > > > "wrong" sangat berbahaya bagi kesehatan nurani).
Bayangkan
> > bila
> > > kita
> > > > > tidak kritis diberbagai bidang, pinjaman uang (utang)
luar
> > negeri
> > > yang
> > > > > bersyarat telah membelit kita, kurs nilai mata uang yang
> jauh
> > dari
> > > > > keadilan telah menjajah kita, dan budaya asing yang
> > mendominasi
> > > budaya
> > > > > kita lewat agama telah menghantui kita, lalu kita mau
jadi
> > bangsa
> > > apa?
> > > > >
> > > > > Dalil 7.
> > > > > Agama mudah diperalat.
> > > > > Oleh para elit politik maupun penipu biasa, agama sering
> > > diperalat.
> > > > > Kesetiaan dan ketaatan hampir seratus persen kepada
Tuhan
> > melalui
> > > > > agama disalah gunakan oleh 'manusia cerdas tapi jahat'.
> Antara
> > > Agama
> > > > > dan partai politik sudah sulit dibedakan. Antara
filsafati
> > yang
> > > suci
> > > > > bersih dan politik yang hitam kelam bercampur baur. Umat
> > beragama
> > > > > bingung, apakah ia sedang mendengarkan sabda Tuhan atau
> orasi
> > > politik
> > > > > yang ulung dari seorang Dai (misalnya Dai sejuta umat),
atau
> > > apakah ia
> > > > > sedang ada di mesjid atau sedang ada di kantor partai
> politik?
> > > Awas,
> > > > > jika para politisi di Jakarta ahli mempolitisir agama,
> apalagi
> > > para
> > > > > pakar politik Barat yang bagaimanapun kita harus akui
> > > > > kualitasnya lebih unggul daripada para politisi kita,
mereka
> > pasti
> > > > > juga ikut dan lebih pandai menggunakan jurus politisasi
> agama.
> > > Dengan
> > > > > politisasi agama, kasih sayang dimanipulasi menjadi
> kekerasan
> > dan
> > > > > bahkan pembunuhan, dan bangsa ini akan terjebak dan
dibuat
> > sibuk
> > > > > mengurusi hal2 yang tidak penting (biarkan masyarakat
> beragama
> > > > > sendiri), sedangkan para politisi dari negara modern
> > (pemerintah
> > > > > asing) bebas dan sibuk 'mencuri' kekayaan alam kita yang
> luar
> > > biasa
> > > > > kayanya. Lihatlah fakta kekerasan dan pembunuhan di
negara2
> > yang
> > > > > agamis seperti: Colombia, Argentina, Aljasair,
Afganistan,
> > > Pilipina,
> > > > > Indonesia, Bosnia, Yugoslavia, dst. Kasus penyerbuan
Amerika
> ke
> > > > > Taliban, dipakai oleh regim ORBA untuk mengalihkan
perhatian
> > > bangsa
> > > > > kepada hal lain yang tidak banyak manfaatnya atau justru
> > merugikan
> > > > > negara! Seandainya saja, kesetiakawanan umat Islam
> > dipergunakan
> > > untuk
> > > > > hal yang baik dan nasionalis, misalnya saja jihad
melawan
> KKN,
> > > > > pelanggaran HAM dan mafia peradilan, hasilnya akan bukan
> main!
> > > > > Indonesia akan maju pesat sekali; sayang sekali, tongkat
> > komando
> > > agama
> > > > > Islam saat ini masih ditangan orang2 Regim Orde Baru!
> Sehingga
> > > > > kesetiaan umat terhadap Tuhan justru disalah gunakan
untuk
> adu
> > > domba,
> > > > > pengalihan perhatian dan pembodohan bangsa! Didalam
negeri
> > sendiri
> > > > > sudah begitu banyak masalah (macetnya agenda Reformasi),
> tapi
> > > justru
> > > > > masih dicarikan penyakit baru yaitu dengan melibatkan
diri
> > > kepersoalan
> > > > > luar negeri yang kurang relevan! Inilah keculasan
manusia2
> > Orde
> > > Baru,
> > > > > demi keselamatan regim dari segala tuntutan dahsyat
bangsa
> atas
> > > > > tindakan selama 32 tahun, mereka rela membodohi
bangsanya
> > sendiri!
> > > > > Dinegara yang patuh hukum, para pelaku regim ORBA ini
> pastilah
> > > sudah
> > > > > mengalami hukuman yang sangat berat dan setimpal, banyak
> dari
> > > mereka
> > > > > yang pantas untuk mendapat hukuman mati. Namun saat ini,
> > mereka
> > > masih
> > > > > dihormati justru oleh para dosen, pakar, mahasiswa,
> jurnalis,
> > dan
> > > kaum
> > > > > agamawan. Aneh bin ajaib!
> > > > >
> > > > > Dalil 8.
> > > > > Agama dapat menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan
> teknologi
> > > (IPTEK).
> > > > > Lihatlah sejarah Eropa diabad 17 an. Agama Katholik saat
itu
> > > sering
> > > > > menghukum ilmuwan, dengan alasan ilmuwan itu membuat
> > pernyataan
> > > yang
> > > > > dianggap bertentangan dengan isi Injil. Ilmuwan besar
yang
> > > dikucilkan
> > > > > antara lain adalah Copernicus dan Darwin. Pada abad itu
> ketika
> > > agama
> > > > > Katholik begitu dominan, Eropa justru mengalami jaman
> > kegelapan.
> > > > > Sekarang, lihatlah perbedaan antara negara Amerika Latin
> (yang
> > > dominan
> > > > > agamanya) dan USA serta Kanada (yang dominan
> > religiositasnya) .
> > > Sangat
> > > > > kontras sekali, misalnya saja antara USA dan Meksiko
yang
> > > berbatasan.
> > > > > USA sangat modern, makmur, tentram, sebaliknya Meksiko,
> > padahal
> > > mereka
> > > > > sama2 pendatang dari Eropa. Negara-negara Islam juga
sama
> saja,
> > > > > katakan saja Turki (Bosnia, Albania) adalah negara Islam
> paling
> > > > > modern, ternyata masih jauh dibelakang negara2 Eropa
dalam
> > IPTEK
> > > dan
> > > > > kemakmuran. Selama pemahaman agama itu masih sempit
> (fanatisme
> > > agama,
> > > > > bukan religiositas) , maka selama itu pula negara akan
> > terjebak
> > > dalam
> > > > > hiruk pikuk eforia agama.
> > > > > Bandingkan pula dengan pemahaman demokrasi kita, yang
baru
> > tarap
> > > > > belajar dan eforia, dengan negara2 Eropa/USA. Kita juga
> dibuat
> > > > > tercengang dengan para ilmuwan negara komunis, misal
RRC,
> > mereka
> > > maju
> > > > > pesat, lihat negara kita dibanjiri otomotif produk
mereka.
> > Berapa
> > > ribu
> > > > > jam belajar yang sudah dihabiskan oleh anak-anak SD
untuk
> > > "menghapal"
> > > > > hal yang belum saatnya dipelajari (agama asing beserta
> bahasa
> > dan
> > > > > budayanya)? Bukankah anak2 itu ibarat di "brain washing"
> > sehingga
> > > daya
> > > > > kreativitas dan daya saing mereka untuk tingkat dunia
> menjadi
> > > rendah
> > > > > sekali. Hasilnya apa? Toh mirip P4, PMP, dst. Sementara
itu,
> > > setelah
> > > > > SD, kita harus menghabiskan sekian ribu jam pelajaran
lagi
> > untuk
> > > > > belajar dan mengejar ketertinggalan dalam bahasa
Inggris,
> lalu
> > > kapan
> > > > > SDM kita bisa maju kalau kita tidak effisien dalam
> menggunakan
> > > waktu
> > > > > dalam pendidikan?
> > > > >
> > > > > Dalil 9.
> > > > > Semakin udara suatu bangsa penuh polusi doa puja-puji
kepada
> > > Tuhan,
> > > > > semakin rusak moral bangsa itu.
> > > > > Kalau kita amati, seringkali tembok-tembok ditulisi:
Ngebut,
> > > benjut;
> > > > > Yang Kencing disini hanyalah anjing; Daerah bebas
narkotik;
> > > Dilarang
> > > > > buang sampah disini; dst... Dinegara maju yang
masyarakatnya
> > sudah
> > > > > mencapai religiositas, tulisan2 berisi ancaman dan
aturan
> kasar
> > > > > semacam itu sudah tidak ada lagi, sebab aturan itu sudah
> > tertulis
> > > > > dihati sanubari mereka semenjak dini/kecil, yaitu
melalui
> > > pendidikan
> > > > > budi pekerti. Begitu pula dengan masalah agama, semakin
bumi
> > > nusantara
> > > > > ini dipenuhi polusi suara yang keras dan
> > > > > hingar bingar tentang agama (Tabliq Aqbar, istigotsah,
azan
> > > masjid,
> > > > > koor gereja, dsb.), semakin menandakan bahwa
masyarakatnya
> > masih
> > > > > sekedar pandai berdoa, sekedar bosa-basi agama, namun
tidak
> > pandai
> > > > > melaksanakan ajaran agama. Siang maling atau korupsi,
> > > > > malam meditasi atau berdoa. Ucapan dan tindakan sangat
> kontras
> > > > > berbeda. Lihatlah kelihaian para politisi Orde Baru
dalam
> ber
> > > "agama",
> > > > > kemudian lihatlah "track record" mereka. Alhamdulilah,
> seratus
> > > delapan
> > > > > puluh derajat bedanya! Dapat kita katakan, apa yang
terjadi
> di
> > > > > Indonesia adalah pelecehan agama, bukan penghormatan
agama,
> > > apalagi
> > > > > pengamalan agama! Pelecehan agama akan menyebabkan
> kehancuran
> > > moral
> > > > > suatu bangsa (Tuhan menurunkan hukum Nya!).
> > > > >
> > > > > Dalil 10
> > > > > Agama dapat melunakan hukum negara melalui persepsi yang
> salah.
> > > > > Dalam agama Islam dikenal konsep pengampunan total
terhadap
> > dosa2
> > > > > manusia oleh Tuhan dalam event2 tertentu, misalnya
dibulan
> > > pengampunan
> > > > > "Ramadhan" atau saat2 naik Haji ke Mekah, demikian pula
> dalam
> > > agama
> > > > > Nasrani dikenal konsep pengampunan total terhadap dosa2
> > manusia
> > > oleh
> > > > > Tuhan asal percaya kepada Yesus Kristus. Dengan sifatNya
> yang
> > > "Maha
> > > > > Pengasih dan Penyayang" (perhatikan kata Maha), maka
bagi
> > Tuhan
> > > itu
> > > > > memang mungkin.. Namun hal ini sering disalah gunakan
oleh
> para
> > > > > koruptor, pelanggar HAM, elit politik dan birokrat.
Agama
> bagi
> > > mereka
> > > > > menjadi sarang persembunyian yang enak dan nyaman (kasus
> > islah),
> > > > > apalagi apabila sekian persen dari hasil kejahatan
mereka,
> > lalu
> > > mereka
> > > > > sumbangkan untuk membangun masjid, gereja dan rumah
yatim
> > piatu
> > > (model
> > > > > Robin Hood), dengan demikian walau bandit mereka tetap
> > dihormati
> > > oleh
> > > > > umat setempat. Ulama, pastor dan pendeta harus
menandaskan
> > bahwa
> > > > > kejahatan manusia juga harus dipertanggung jawabkan
didepan
> > > manusia
> > > > > (pengadilan) , jadi tidak hanya vertikal melainkan
> > horisontalpun
> > > > > penting! Ulama, pastor dan pendeta harus rajin ke DPR,
> > Kejagung,
> > > > > presiden , dst., dalam hal membela kebenaran/moral,
tanpa
> harus
> > > > > berpolitik praktis, mereka harus merasa malu dengan daya
> juang
> > > para
> > > > > mahasiswa/LSM dalam hal pembelaan moral dan kebenaran!
> Mereka,
> > > para
> > > > > agamawan, juga harus malu kepada seorang wanita ceking
yang
> > gigih
> > > > > membela manusia melarat dan
> > > > > tertindas, yang bernama Wardah Hafidz, yang tidak takut
> > > mengorbankan
> > > > > keamanan hidupnya! Mana ada ulama, pastur, pendeta atau
> biksu,
> > > yang
> > > > > turun tangan membela tukang becak, pnjual asongan, dst.,
> > secara
> > > nyata?
> > > > > Mana ada dari mereka yang menuntut tuntasnya kasus BLBI,
> > Trisakti,
> > > > > Priok, KKN, uang hibah haram, dst.?
> > > > >
> > > > > Dalil 11.
> > > > > Tuhan itu demokratis, sedangkan agama seringkali
otoriter.
> > > > > Tuhan tidak melarang manusia untuk tidak beragama,
karena
> Tuhan
> > > > > sendiri pada dasarnya tidak beragama. Tuhan mengharapkan
> agar
> > > manusia
> > > > > mencapai pemahaman tertinggi yang disebut religiositas
> melalui
> > > > > berbagai sarana seperti agama, "agama lokal" (misal
> Kejawen),
> > dan
> > > ilmu
> > > > > pengetahuan. Keotoriteran agama nampak pada keinginan
mau
> > > menangnya
> > > > > sendiri seperti melarang berbagai hal yang tidak sepaham
dan
> > ingin
> > > > > menjadi anak emas dinegara yang majemuk/pluralis!
> > > > >
> > > > > Penutup
> > > > > Agama itu penting, namun bukan segala-galanya. Belajar
agama
> > harus
> > > > > sampai mencapai tingkat tertinggi yaitu religiositas.
> > Keterbatasan
> > > > > agama (iman/keyakinan) yang inherent harus diimbangi
dengan
> > > > > perkembangan IQ dan EQ. Semua agama, berasal dari negara
> > asing,
> > > maka
> > > > > kita wajib waspada dan bisa memilahkan antara ajaran
agama
> dan
> > > budaya.
> > > > > Kita janganlah dibiasakan meniru adat istiadat, pakaian,
> > budaya,
> > > > > apalagi cara pikir atau bahkan kekerasan yang
mendompleng
> agama
> > > > > (melalui politik praktis). Manusia yang sudah mencapai
> derajat
> > > > > Religiositas yang tinggi, sudah tidak lagi mementingkan
> > wadahnya
> > > yaitu
> > > > > agama, melainkan lebih mementingkan isi (intisari/makna)
> suatu
> > > ajaran
> > > > > agama, sehingga ia menjadi manusia bebas merdeka yang
tidak
> > > > > tersekat-sekat lagi. Berbahagialah orang yang tidak
beragama
> > namun
> > > > > mempunyai religiositas yang tinggi, sebab ia akan bebas
> > merdeka
> > > dimana
> > > > > saja, kapan saja, dilingkungan apa saja, dan Tuhan
selalu
> > > menyertai
> > > > > dia! Tingkat pemahaman agama di Indonesia, seperti juga
> dalam
> > hal
> > > > > demokrasi, masih dalam tingkatan rendah sekali, masih
tahapan
> > > > > eforia/kulit, seperti Eropa abad 17 an, oleh sebab itu,
mari
> > kita
> > > > > perbaiki bersama!
> > > > >
> > > > > Akhir kata, marilah beragama secara baik, santun, sehat,
> > rasional
> > > dan
> > > > > berwawasan luas, sebab agama sangat mempengaruhi budaya,
> > budaya
> > > sangat
> > > > > mempengaruhi pola-pikir dan tindak tanduk suatu bangsa!
> > > > >
> > > > >
> > > > >
> > > > >
> > > >
> > >
> >
>

------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:bali-bali-digest@yahoogroups.com
mailto:bali-bali-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
bali-bali-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Tidak ada komentar: