Dear Semeton,
Tiang sangat seneng sekali semeton sami masih bisa meluangkan waktu untuk memperhatikan dan peduli dengan Bali, biarpun pada sibuk dengan tugas dan aktivitas masing-masing. Kalau tiang perhatikan banyak sekali dan mungkin sedikit meluas (mudah2an iwang) tanggapan yang awalnya tidak bertujuan untuk ke hal-hal yang sifatnya pribadi ataupun kearah lain. Saran tiang, mari kita fokuskan atau kalau bisa arahkan usulan-usulan yang luar biasa ini ke dalam beberapa poin yang lebih realitas dan terarah sehingga pada akhirnya ada hal positif yang bisa kita berikan kepada Bali Kita.
Kalau memungkinkan, adakan suatu paruman bersama untuk mengklarifikasi usulan-usulan yang ada karena kadangkala kita tidak bisa menangkap secara utuh apa sebenarnya yang dimaksud oleh semeton kita. Hal ini juga sangat bagus bagi kita untuk lebih mengenal satu dengan lainnya yang mungkin pada pertemuan2 sebelumnya belum pernah saling kenal..seperti saya ini..he…he….
Salam kenal
Adi
From: bali-bali@yahoogroups.com [mailto:bali-bali@yahoogroups.com] On Behalf Of IGusti Agung
Sent: Tuesday, February 03, 2009 1:01 PM
To: bali-bali@yahoogroups.com
Subject: [bali-bali] Re: Analisis Mendalam Tentang Agama, Tuhan dan Negara
he..he..he... bener juga sih...
tapi sulit lho... kalau sudah di Bali and Indonesia , pasti dah..
senggol senggolan sama agama dan adat , lihat aja Buyan.
Atau bangunan bertingkat sampai UUP.
Len hidup di Bali sudah keweh , dipersulit lagi dengan yang beginian.
Tapi saya belum ikut ikut lho .. ( minimal sampai saat ini).
Cuman nggak seneng discussion jadi personal , itu aja sih..
shanti si smiling again , thx Vieb.
--- In bali-bali@yahoogroups.com, "Asana Viebeke Lengkong"
<asanasw@...> wrote:
>
> salah ndiri, udah dibilangin nggak usah diskusi agama, masih
aja... kapok nggak.. hehehe
> ----- Original Message -----
> From: IGusti Agung
> To: bali-bali@yahoogroups.com
> Sent: Tuesday, February 03, 2009 11:59 AM
> Subject: [bali-bali] Re: Analisis Mendalam Tentang Agama, Tuhan
dan Negara
>
>
>
> wow...wow... ini koq ke personal??
> Mohon semeton sami , kalau ada yang didiscusikan , apapun
> bentuknya ( anything at all). Mohon jangan dibawa ke individu.
> Jangan ikut seperti Amrosi cs . yang menjadikan sesuatu personal.
> Pro dan contra itu sudah biasa dalam discussion , tapi
usahakanlah
> hanya sebatas pendapat , tidak lebih.
> Ingat kita sebenarnya satu ( dalam atman ), juga satu dalam
bangsa.
> Disamping kita berasal dari satu leluhur , pendiri tanah air ini.
> Guna discussion , hanya untuk lebih tahu dan mengenal diri.
> Asal kita mengerti perbedaan pendapat kita sebenarnya hanya dari
> sudut pandang kita masing- masing.
> Tujuan kita satu untuk , belajar menghargai pendapat semeton
yang
> lain , untuk kebaikan kita semua , untuk Bali , untuk Indonesia.
>
> Jangan sampai menjadi personal hanya unutk membela bentuk
penjajahan,
> baik penjajahan ekonomi dan politidari Negara Adi kuasa (
Amrik) ,
> maupun penjajahan agama ( dari Arab ).
> Bukankah sudah cukup kita kehilangan keluarga kita di Sari club
> dan Jimbaran??
> Enough is enough....... Please guys... nothing personal.
>
> shanti is not smiling anymore.
>
> --- In bali-bali@yahoogroups.com, Ketut Abdulpaulus
> <ketutabdulpaulus@> wrote:
> >
> > jadi terkekeh-kekeh baca komentar pak lili gundik tentang
> paradigma toleransi yang katanya harus di ubah. hehehehe. bukan
nya
> pak tuh cara pikirnya yang belum sempurna tentang toleransi,
agama
> dan extremis, agama di
> > pukul rata dengan kesalahan kelompok extremes nya, kalo pak
lebih
> > luas bergaul, mungkin akan mengerti agama itu apa, toleransi
itu
> seperti apa, dan ektrimis itu apa, men cuman nengil di bali
sebagai
> mayoritas cuman kebencian gen tepuk, sing bise menyame braye.
tidak
> bisa memaknai penuh arti toleransi, apakah toleransi hanya harus
di
> pahami oleh kaum minoritas saja? atau toleransi boleh tidak di
> mengerti oleh kaum mayoritas? kalo paklili gundik mengerti,
tentunya
> bisa membedakan ektremis dan agama lalu bisa menyimpulkan
toleransi
> itu sendiri.
> >
> > tak ingin menggurui sih, tapi sekarang dah banyak guru yang
salah,
> dan gelar s1 sampai s8 tak menjamin prilaku dan cara pandang
sebagai
> orang yang terdidik :D . satu lagi, belajar lah toleransi mulai
dari
> dalam hati kita sendiri. toleransi tak akan terwujud dari sebuah
> rasa kebencian, tidak berdiri diatas agama, tapi lebih pada
sebuah
> rasa ingin nya ada suasana damai dan saling memahami.jangan
sampe
> dengan komen-komen seperti lili gundik menimbulkan kembali
> psikologis orang untuk menjadi ekstrimis, makanya saya sarankan
lagi
> belajar mengerti apa itu extrimis, kenapa dan kenapa bisa
terjadi,
> sejarah nya sudah dari dulu ada, salah satu contoh tindakan
kamikaze
> yang dilakukan tentara jepang, apakah itu ajaran agama? BOM
bunuh
> diri pemberontak IRA , apakah itu agama? trus bom bunuh diri
macan
> tamil di sri langka? itu kah agama?
> >
> > untuk lebih mengerti dan lebih memahami itu apa? dekati,
pelajari,
> dan berusahalah menjadi orang yang tidak membenci dulu, jangan
hanya
> asumsi orang lain, yang kebetulan orang lain itu juga emang
> menganggap itu sebuah ajaran. Oke lili gundik? belajar dari pak
gede
> prama deh, itu spiritual murni dan mengerti hidup seperti apa
> toleransi itu.
> >
> > eh sorry salah tulis LILI GUNDI ya bukan Gundik
> >
> > salam dari Paul
> >
> > nak bali ni nengil di jakarta sebagai minoritas. merasa aman
dan
> nyaman di sini penuh toleransi, tak ada yangs eperti lili gundik
> >
> >
> >
> >
> >
> > ________________________________
> > From: Lili Gundi <lili_gundi@>
> > To: bali-bali@yahoogroups.com
> > Sent: Saturday, January 31, 2009 6:33:41 PM
> > Subject: Re: [bali-bali] Re: Analisis Mendalam Tentang Agama,
> Tuhan dan Negara
> >
> >
> > Ah masak sih pak agung? Kok hari gene masih seperti jaman
> inquisisi aja?
> > Kasiman deh.
> >
> >
> >
> >
> > ________________________________
> > From: IGusti Agung <agungpindha@ yahoo..com>
> > To: bali-bali@yahoogrou ps.com
> > Sent: Friday, January 30, 2009 11:11:41 AM
> > Subject: [bali-bali] Re: Analisis Mendalam Tentang Agama,
Tuhan
> dan Negara
> >
> >
> >
> > hi..hi..hi..
> > hello pasukans ,
> > kemarin ketika rapat BOS , saya dimarah.
> > "Tidak boleh nulis agama !"
> > Nah... pokoknya saya gak ada nulis masalah agama ya..?
> > Makasih pasukans lain yang nulis agama ( yang belum dimarah).
> > saya selamat.... na..na...na. ..na.
> >
> > shanti si smiling.
> >
> > --- In bali-bali@yahoogrou ps.com, Lili Gundi
<lili_gundi@ ...>
> wrote:
> > >
> > > Kita harus merobah paradigma tentang toleransi. Kita harus
> > menghormati (hak azasi) seluruh dan setiap manusia, apapun
> > keyakinan agamanya, bahkan termasuk yang tidak beragama dan
> atheis.
> > Tetapi terhadap agama, kita berikan toleransi, setelah dia
lulus
> > dari ujian akal kritis serta kode moral yang diterima secara
> > universal.
> > > Agama-agama, kitab sucinya, pendirinya, harus dianalisis
secara
> > mendalam. Dari analisis itu kita ketahui ada agama-agama yang
> > mengajarkan kebencian dan kekerasan; ada agama-agama yang
> > mengajarkan persaudaraan universal dan welas asih. Dengan
> permohonan
> > maaf, harus dikatakan agama-agama Semitik mengajarkan yang
> pertama;
> > agama-agama Timur mengajarkan yang kedua. Mengapa demikian?
Agama-
> > agama Timur didirikan oleh para maharesi yogi dan filsuf.
> > > Agama Semitik itu didirikan oleh para petani berpindah,
> pengembala
> > ternak nomaden gurun pasir yang keras atau karyawan dagang
buta
> > huruf. Mereka pada umumnya adalah atau bertindak sebagai
kepala
> > suku yang berjuang mempertahankan sukunya dari tekanan suku
lain
> > yang lebih besar, atau ingin memperluas wilayahnya dengan
merebut
> > tanah-tanah suku lain, dan membunuh lawan-lawannya, menawan
mereka
> > yang takluk untuk dijual sebagai budak, atau dijadikan pemuas
> seks.
> > Tuhan (yang) mereka (persepsikan) hampir sama dengan sifat-
> sifatnya
> > (kepala suku itu).. Tuhan-tuhan itu hanya membela sukunya
> > (pengikutnya) saja, dan memusuhi suku (pengikut keyakinan)
lain.
> > Bahkan ada Tuhan yang ikut sibuk terlibat dalam urusan ranjang
> > kepala suku itu. Ini pastilah bukan Tuhan menciptakan alam
> semesta.
> > Ini adalah tuhan suku, yang telah jatuh menjadi pelayan
> > domestik..
> > > Itulah sebabnya di dalam kitab suci mereka kita temukan
> kebencian,
> > permusuhan dan perintah kekerasan terhadap suku atau pemeluk
> > keyakinan lain.
> > > Dalam Torah Yahudi (Perjanjian Lama Kristen) ada narasi
> kebencian
> > terhadap orang Mesir, Kanaan, dan Filistin. Bahkan Yahweh ikut
> > mengirimkan bencana wabah kepada orang Mesir. Di dalam
Perjanjian
> > Baru ada narasi kebencian dan kekerasan terhadap orang Yahudi,
> > karena dituduh membunuh Yesus, dan para "God Killers" ini
> mengalami
> > hidup yang sulit selama berabad-abad di Eropa Kristen,
berpuncak
> > pada holocaust di Jerman, yang tidak diakui oleh pak
> Ahmaddinejad .
> > Juga ada kebencian dan permusuhan terhadap orang Roma yang
> menindas
> > para missionaris Kristen Awal. (Andaikata sebatas Kotbah di
Atas
> > Bukit, Kristen adalah agama damai).
> > > Di dalam Quran ada perintah kebencian dan kekerasan, mula-
mula
> > terhadap orang Arab Mekkah, kemudian terhadap orang Yahudi
Medina,
> > lalu terhadap Kristen Syiria, Parsi Iran dan akhirnya terhadap
> > seluruh manusia yang tidak beragama Islam.. Isinya sebagian
besar
> > polemik, pertengkaran, kutukan dan ancaman. Selain dimasukkan
> neraka
> > janaman secara abadi, para kafir penyembah berhala itu juga
dapat
> > atau harus dibunuh.
> > > Para pendiri agama juga harus disorot oleh kode moral.
Apakah
> > selama hidupnya dia berprilaku moral atau tidak. Apakah dia
hidup
> > dari keringatnya sendiri, atau menjarah harta orang lain?
> Bagaimana
> > kehidupan seksualnya? Apakah dia dapat mengendalikan nafsu
> > seksualnya atau malah mengumbarnya?
> > > Terhadap agama-agama yang mengajarkan doktrin jahat dan
> berbahaya
> > ini bagaimana sikap kita?
> > > "Toleransi" kritis. Artinya toleransi tidak mematikan
pemikiran
> > kritis, pemikiran kritis tidak berarti mencari musuh. Justru
> > pemikiran kritis yang telah menghantarkan manusia pada
> peradabannya
> > sekarang ini. Dan pemikiran kritis ini akan terus membawa kita
> > kepada kemajuan lebih jauh, tidak hanya di bidang sains dan
> > teknologi, tetapi dan terutama dibidang moral dan spiritual,
> > dimana .kebencian dan kekerasan - termasuk yang konon datang
> > dari "tuhan" - akan ditolak oleh sebagian besar, kalau pun
tidak
> > oleh seluruh manusia. Savere aude, beranilah menggunakan
pikiran.
> > Itulah pencerahan, menurut Immanuel Kant.
> > > Tabik
> > > LGS
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > ____________ _________ _________ __
> > > From: Cokorda Raka Angga Jananuraga <rakabali78@ ...>
> > > To: bali-bali@yahoogrou ps.com
> > > Sent: Wednesday, January 28, 2009 9:34:50 PM
> > > Subject: [bali-bali] Re: Analisis Mendalam Tentang Agama,
Tuhan
> > dan Negara
> > >
> > >
> > > Tulisan yang bagus. Tapi mungkin bagi yang males baca
panjang-
> > panjang,
> > > mungkin bisa diringkas sebagai berikut:
> > >
> > > "Kacau nih indonesia gara-gara fundamentalisme agama gurun
> > (islam)".
> > >
> > > [islam gak disebut-sebut dalam tulisan aslinya, mungkin
supaya
> PC,
> > > politically correct, tapi, kita kan gak perlu PC terus kan?]
> > >
> > > -Raka-
> > >
> > > --- In bali-bali@yahoogrou ps.com, Bulantrisna Djelantik
> <btrisna@
> > >
> > > wrote:
> > > >
> > > > Tulisan yang sangat bagus dan memberi pencerahan,
terimakasih
> > untuk
> > > sdr
> > > > Surya, Biang Bulan
> > > >
> > > > 2009/1/28 Nusantara Jaya <nusantarajaya69@ ...>
> > > >
> > > > > Pak Suarsawan saudaraku, terima kasih sebuah tulisan
gedoran
> > > pikiran
> > > > > dan nurani yang berkecamuk menyaksikan fakta hidup di
dunia
> > ini
> > > dan asupan
> > > > > pagi yang lumayan memprovokasi pikir setelah liburan
Imlek.
> > > > >
> > > > > Saya tertarik untuk minta pendapat dan berbagi jikalau
waktu
> > > mengijinkan
> > > > > kita untuk bertemu.
> > > > >
> > > > > Surya
> > > > >
> > > > > --- On *Tue, 1/27/09, ptsuarsawan <ptsuarsawan@ ...>*
wrote:
> > > > >
> > > > > From: ptsuarsawan <ptsuarsawan@ ...>
> > > > > Subject: [bali-bali] Analisis Mendalam Tentang Agama,
Tuhan
> > dan
> > > Negara
> > > > > To: bali-bali@yahoogrou ps.com
> > > > > Date: Tuesday, January 27, 2009, 4:01 AM
> > > > >
> > > > >
> > > > > Analisis Mendalam Tentang Agama, Tuhan dan Negara
> > > > >
> > > > > Siapa tidak risau melihat kenyataan yang terjadi di
> Indonesia.
> > Ada
> > > > > berbagai agama besar dengan umatnya yang besar (terutama
> > Islam),
> > > namun
> > > > > kasih sayang, kebenaran dan keadilan malah nyaris tidak
ada.
> > Atau
> > > > > justru sebaliknya, kekerasan, kerusuhan, pembunuhan,
ketidak
> > > adilan,
> > > > > korupsi dan berbagai pelanggaran HAM justru terjadi di
> > Indonesia
> > > dan
> > > > > barangkali mencapai index prestasi nomor wahid didunia.
> > Demikian
> > > pula
> > > > > yang terjadi dengan di negara2 yang kental sekali
agamanya,
> > > seperti
> > > > > negara2 Amerika Latin (Colombia, Argentina, Bolivia),
> > Philipina
> > > (jaman
> > > > > Marcos), negara2 Timur Tengah, Pakistan, Aljasair,
> Afganistan,
> > > dst.
> > > > > Apanya yang salah? Berikut ini adalah butir2 analisis
yang
> > > mendalam
> > > > > tentang Agama, Tuhan, dan Bangsa.
> > > > >
> > > > > Dalil 1.
> > > > > Tuhan itu tidak beragama, jadi Ia berlaku adil bagi
semua
> > manusia.
> > > > > Agama adalah sekedar sarana untuk mengenalkan Tuhan,
namun
> > Tuhan
> > > > > sendiri tidak beragama.
> > > > >
> > > > > Dalil 2..
> > > > > Agama mempunyai keterbatasan yang cukup mencolok seperti
> > > disebutkan
> > > > > dalam kitab-kitab suci Al- Quran dan Injil. Misal dalam
Al-
> > Quran
> > > > > ditandaskan bahwa apabila semua ajaran Allah SWT
dituliskan,
> > maka
> > > > > tinta sebanyak samudera rayapun tidak akan mencukupi.
> Demikian
> > > pula
> > > > > dengan Injil yang menandaskan apabila semua ajaran Isa
> Almasih
> > > > > dituliskan maka buku setebal gunungpun tidak akan bisa
> memuat.
> > Ke
> > > > > "Mahabesaran Tuhan" tidak mungkin cukup diwadahi dalam
buku
> > > setebal
> > > > > kitab suci. Ke "Mahabesaran Tuhan" juga tercermin pada
luas
> dan
> > > > > dalamnya ilmu pengetahuan. Dengan terbatasnya kitab
suci,
> ini
> > > berarti
> > > > > umat beragama diminta untuk lebih banyak belajar ilmu
beserta
> > > > > kebenarannya diluar kitab suci masing2 agama (jadi isi
> masing2
> > > kitab
> > > > > suci ternyata hanya sedikit sekali!). Dengan banyak
belajar
> > diluar
> > > > > kitabsuci, diharapkan IQ, EQ dan Iman terus berkembang
> > sejajar,
> > > tidak
> > > > > timpang, dan tidak fanatik. Bila orang hanya dalam pada
sisi
> > > "Iman"
> > > > > saja, maka ia mudah diperalat oleh para politisi.
> > > > >
> > > > > Dalil 3.
> > > > > Pencapaian puncak pemahaman agama adalah religiositas.
> Ibarat
> > > kuliah,
> > > > > ini adalah Philosophy Degree atau gelar Doktor. Setelah
> > bergelar
> > > > > Doktor, maka ilmu lebih penting daripada almamaternya.
Kalau
> > baru
> > > > > taraf kuliah, seorang mahasiswa masih suka memamerkan
> > identitas2
> > > > > universitasnya. Demikian pula dengan agama, Tuhan dengan
> sifat
> > > dasar
> > > > > Nya ("Maha Pengasih dan Penyayang") menjadi lebih
penting
> > daripada
> > > > > agama itu sendiri, atau bahkan agama menjadi tidak perlu
> lagi.
> > > Jadi,
> > > > > kalau sudah mumpuni keagamaan seseorang, bukan agamanya
yang
> > > penting,
> > > > > melainkan religiositasnya yang amat sangat penting. Ia
tidak
> > lagi
> > > > > tersekat-sekat oleh kotak sempit yang disebut agama.
> > Religiositas
> > > > > setingkat lebih atas daripada agama. Religiositas dapat
> > diperoleh
> > > > > tanpa melalui agama. Salah satu definisi umum tentang
> > religiositas
> > > > > adalah sbb.: sikap hatinurani, batin dan pikiran manusia
> yang
> > > selalu
> > > > > diarahkan kepada perbuatan baik, kasih sayang, kebenaran
dan
> > > keadilan.
> > > > >
> > > > > Dalil 4.
> > > > > Agama adalah sesuatu yang abstrak dan sulit dicerna,
oleh
> > sebab
> > > itu
> > > > > sebaiknya tidak diberikan kepada anak-anak yang belum
dewasa
> > > > > (disekolah dasar), apalagi dipaksakan sebagai pendidikan
> agama
> > > (ini
> > > > > pelanggaran HAM, agama adalah kebebasan untuk memilih);
> kalau
> > > sebagai
> > > > > pengajaran tentang berbagai agama, ini penting dan perlu
> > diajarkan
> > > > > (misalnya keanekaragaman agama beserta ciri mereka
masing2).
> > > Sebaiknya
> > > > > agama sebagai pendidikan (untuk menarik pengikut baru)
> > diberikan
> > > > > kepada manusia dewasa, waktu kecil cukup diberikan budi
> > pekerti.
> > > Kalau
> > > > > sejak kecil sudah dicuci otak dengan agama, maka
hasilnya
> mirip
> > > > > Indonesia saat ini. Bukan kekeluargaan atau kasih sayang
> > melainkan
> > > > > kecurigaan, 'keterkotakan' (SARA) dan bahkan kekerasan
yang
> > justru
> > > > > muncul. Dinegara modern seperi USA, Jepang, Korsel,
Taiwan,
> > > Inggris,
> > > > > Australia, dst. agama memang tidak boleh diberikan pada
> anak2
> > SD
> > > > > sebagai pendidikan(kecuali sekolah yang berafiliasi
dengan
> > agama
> > > > > tertentu), namun sebagai pengajaran (transfer of
knowledge)
> > yang
> > > > > mengajarkan berbagai agama beserta karakteristiknya
> > diperbolehkan,
> > > > > pendidikan agama adalah merupakan tanggung jawab orang
tua.
> > Untuk
> > > > > anak, yang lebih baik dan lebih penting adalah budi
pekerti.
> > Budi
> > > > > pekerti mengajarkan sopan-santun, taat hukum, keadilan
dan
> > hidup
> > > > > bersosial secara baik. Benarkah dan pernahkah Nabi
Muhammad
> > SAW
> > > dan
> > > > > Nabi Isa mengarahkan agama kepada anak2? Tidak kan? Oleh
> sebab
> > > itu,
> > > > > kasihanilah para anak2 dengan tidak membebani otak
mereka
> > kepada
> > > > > pengetahuan yang belum saatnya; dan yang lebih penting
dan
> > > mendasar:
> > > > > agama syarat dengan dogma2 yang beku, bila diajarkan
secara
> > kurang
> > > > > tepat justru akan membelenggu kecerdasan anak2, bahkan
> justru
> > > anak2
> > > > > akan mulai terkotak-kotak sejak dini! Masih ingin
> > > > > bukti? Lihatlah prestasi masyarakat RRC yang komunis,
> ternyata
> > > lebih
> > > > > religius, tidak main membunuh orang (maling ayam dan
> pencopet),
> > > > > prestasi olahraga dan IPTEK nya hebat, pemerintahnya
bisa
> > > menghidupi
> > > > > 1,2 milyar (lima kali penduduk kita), berani menghukum
mati
> > para
> > > > > pelaku KKN, dst.. Kemudian, tentang kualitas pendidikan,
> > Indonesia
> > > > > berada dibawah Vietnam (yang komunis). Pendidikan dan
> > pengajaran
> > > agama
> > > > > harus disertai penekanan tentang keterbatasan agama,
sejarah
> > hitam
> > > > > agama (misal: Katholik diabad 17 yang membuat Eropa
mundur,
> > dan
> > > Islam,
> > > > > bila tidak hati2, diabad ini
> > > > > bisa mengalami hal yang serupa dengan Katholik diabad
17),
> > semua
> > > agama
> > > > > besar pernah mengalami pasang surut dalam sejarah, semua
> agama
> > > juga
> > > > > mengalami perpecahan internal (Katholik-Protestan ,
Syiah-
> > Suni,
> > > dst);
> > > > > penekanan cita2 pemahaman tertinggi agama yang disebut
> > > religiositas,
> > > > > dan penekanan kemungkinan penyalahgunaan agama untuk
> politik!
> > > Agama
> > > > > juga selalu jauh tertinggal (terbirit-birit) dalam
> > perkembangannya
> > > > > dibandingkan ilmu pengetahuan. Dengan penekanan
demikian,
> umat
> > > yang
> > > > > mendalami agama mempunyai wawasan yang luas, tidak
arogan
> dan
> > > terbuka!
> > > > >
> > > > > Dalil 5.
> > > > > Agama bukan jaminan moralitas, kesejahteraan, kedamaian
dan
> > > keadilan.
> > > > > Lihat saja, ada berbagai agama besar di Indonesia, namun
> > > persaudaraan,
> > > > > perdamaian dan keadilan justru tidak ada. Demikian pula
> > korupsi
> > > justru
> > > > > meraja lela. Para elit (militer, politik dan birokrat),
yang
> > > notabene
> > > > > berpendidikan dan berjabatan tinggi justru merupakan
sebab
> > utama
> > > > > kehancuran bangsa Indonesia. Yang diatas rajin korupsi
namun
> > bebas
> > > dan
> > > > > terhormat, yang dibawah: begitu menangkap pencuri ayam
> langsung
> > > > > dibakar begitu saja! Di Amerika Latin yang didominasi
agama
> > > Katholik,
> > > > > seperti Meksiko, Brasil, Argentina, dan Colombia, juga
> > didominasi
> > > > > kekerasan dan korupsi, demikian pula Pilipina. Di Timur
> Tengah
> > > > > (negara2 Arab), Pakistan, Aljasair, Afganistan, Irak,
> > Iran,dst...,
> > > > > kekerasan dan pelanggaran HAM luarbiasa. TKW kita di
Timur
> > Tengah
> > > > > menjadi salah satu bukti nyata.. Sebaliknya, negara RRC
yang
> > > komunis
> > > > > justru menampilkan kesejahteraan, kedamaian dan
keadilan,
> > koruptor
> > > > > kelas kakap justru tegas ditembak mati. Kesejahteraan
yang
> > timbul
> > > > > dalam agama seringkali hanya terjadi pada para birokrat
> > (pemimpin)
> > > > > agama itu sendiri. Penegakan hukum lebih menjamin
tingginya
> > > > > moralitas dan pertumbuhan ekonomi, yang pada akhirnya
akan
> > > memberikan
> > > > > kesejahteraan, kedamaian dan keadilan bagi rakyat.
> > > > >
> > > > > Dalil 6.
> > > > > Agama Harus Menghormati Budaya Setempat.
> > > > > Semua agama besar di Indonesia berasal dari luar negeri,
> maka
> > bias
> > > > > budaya pasti ada. Artinya, budaya asing mendompleng
agama
> akan
> > > masuk
> > > > > dan mempengaruhi budaya lokal. Alangkah sedihnya kita,
> apabila
> > di
> > > > > Malioboro, seorang menyapa dengan Amitaba ..... (Budha,
bhs.
> > Cina),
> > > lalu
> > > > > dijawab yang lainnya dengan Assalam ...... (Islam, bhs.
> Arab),
> > > kemudian
> > > > > ada lagi yang menyahut Syallom ..... (Kristen, bhs.
Yahudi),
> > tak
> > > > > ketinggalan ada yang berkata Hong wilaheng .... (Hindu,
bhs.
> > > Hindi);
> > > > > kemudian ada yang menjawab secara rasional, sopan dan
> > nasionalis:
> > > > > Selamat Siang. Demikian pula dengan budaya berpakaian,
> alangkah
> > > > > sedihnya apabila blangkon dan surjan Yogya terdesak oleh
> > pakaian
> > > Arab
> > > > > atau sari India. Memeluk agama asing haruslah tidak
boleh
> > > mengorbankan
> > > > > budaya setempat. Yang paling menakutkan adalah
penjiplakan
> cara
> > > > > berpikir dan berperilaku, misalnya menganggap ilmu
> pengetahuan
> > dan
> > > > > teknologi itu "setan" yang harus dijauhi, dan kekerasan
demi
> > > pembelaan
> > > > > agama, konsep yang salah "right or wrong for my
religion"
> (sisi
> > > > > "wrong" sangat berbahaya bagi kesehatan nurani).
Bayangkan
> > bila
> > > kita
> > > > > tidak kritis diberbagai bidang, pinjaman uang (utang)
luar
> > negeri
> > > yang
> > > > > bersyarat telah membelit kita, kurs nilai mata uang yang
> jauh
> > dari
> > > > > keadilan telah menjajah kita, dan budaya asing yang
> > mendominasi
> > > budaya
> > > > > kita lewat agama telah menghantui kita, lalu kita mau
jadi
> > bangsa
> > > apa?
> > > > >
> > > > > Dalil 7.
> > > > > Agama mudah diperalat.
> > > > > Oleh para elit politik maupun penipu biasa, agama sering
> > > diperalat.
> > > > > Kesetiaan dan ketaatan hampir seratus persen kepada
Tuhan
> > melalui
> > > > > agama disalah gunakan oleh 'manusia cerdas tapi jahat'.
> Antara
> > > Agama
> > > > > dan partai politik sudah sulit dibedakan. Antara
filsafati
> > yang
> > > suci
> > > > > bersih dan politik yang hitam kelam bercampur baur. Umat
> > beragama
> > > > > bingung, apakah ia sedang mendengarkan sabda Tuhan atau
> orasi
> > > politik
> > > > > yang ulung dari seorang Dai (misalnya Dai sejuta umat),
atau
> > > apakah ia
> > > > > sedang ada di mesjid atau sedang ada di kantor partai
> politik?
> > > Awas,
> > > > > jika para politisi di Jakarta ahli mempolitisir agama,
> apalagi
> > > para
> > > > > pakar politik Barat yang bagaimanapun kita harus akui
> > > > > kualitasnya lebih unggul daripada para politisi kita,
mereka
> > pasti
> > > > > juga ikut dan lebih pandai menggunakan jurus politisasi
> agama.
> > > Dengan
> > > > > politisasi agama, kasih sayang dimanipulasi menjadi
> kekerasan
> > dan
> > > > > bahkan pembunuhan, dan bangsa ini akan terjebak dan
dibuat
> > sibuk
> > > > > mengurusi hal2 yang tidak penting (biarkan masyarakat
> beragama
> > > > > sendiri), sedangkan para politisi dari negara modern
> > (pemerintah
> > > > > asing) bebas dan sibuk 'mencuri' kekayaan alam kita yang
> luar
> > > biasa
> > > > > kayanya. Lihatlah fakta kekerasan dan pembunuhan di
negara2
> > yang
> > > > > agamis seperti: Colombia, Argentina, Aljasair,
Afganistan,
> > > Pilipina,
> > > > > Indonesia, Bosnia, Yugoslavia, dst. Kasus penyerbuan
Amerika
> ke
> > > > > Taliban, dipakai oleh regim ORBA untuk mengalihkan
perhatian
> > > bangsa
> > > > > kepada hal lain yang tidak banyak manfaatnya atau justru
> > merugikan
> > > > > negara! Seandainya saja, kesetiakawanan umat Islam
> > dipergunakan
> > > untuk
> > > > > hal yang baik dan nasionalis, misalnya saja jihad
melawan
> KKN,
> > > > > pelanggaran HAM dan mafia peradilan, hasilnya akan bukan
> main!
> > > > > Indonesia akan maju pesat sekali; sayang sekali, tongkat
> > komando
> > > agama
> > > > > Islam saat ini masih ditangan orang2 Regim Orde Baru!
> Sehingga
> > > > > kesetiaan umat terhadap Tuhan justru disalah gunakan
untuk
> adu
> > > domba,
> > > > > pengalihan perhatian dan pembodohan bangsa! Didalam
negeri
> > sendiri
> > > > > sudah begitu banyak masalah (macetnya agenda Reformasi),
> tapi
> > > justru
> > > > > masih dicarikan penyakit baru yaitu dengan melibatkan
diri
> > > kepersoalan
> > > > > luar negeri yang kurang relevan! Inilah keculasan
manusia2
> > Orde
> > > Baru,
> > > > > demi keselamatan regim dari segala tuntutan dahsyat
bangsa
> atas
> > > > > tindakan selama 32 tahun, mereka rela membodohi
bangsanya
> > sendiri!
> > > > > Dinegara yang patuh hukum, para pelaku regim ORBA ini
> pastilah
> > > sudah
> > > > > mengalami hukuman yang sangat berat dan setimpal, banyak
> dari
> > > mereka
> > > > > yang pantas untuk mendapat hukuman mati. Namun saat ini,
> > mereka
> > > masih
> > > > > dihormati justru oleh para dosen, pakar, mahasiswa,
> jurnalis,
> > dan
> > > kaum
> > > > > agamawan. Aneh bin ajaib!
> > > > >
> > > > > Dalil 8.
> > > > > Agama dapat menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan
> teknologi
> > > (IPTEK).
> > > > > Lihatlah sejarah Eropa diabad 17 an. Agama Katholik saat
itu
> > > sering
> > > > > menghukum ilmuwan, dengan alasan ilmuwan itu membuat
> > pernyataan
> > > yang
> > > > > dianggap bertentangan dengan isi Injil. Ilmuwan besar
yang
> > > dikucilkan
> > > > > antara lain adalah Copernicus dan Darwin. Pada abad itu
> ketika
> > > agama
> > > > > Katholik begitu dominan, Eropa justru mengalami jaman
> > kegelapan.
> > > > > Sekarang, lihatlah perbedaan antara negara Amerika Latin
> (yang
> > > dominan
> > > > > agamanya) dan USA serta Kanada (yang dominan
> > religiositasnya) .
> > > Sangat
> > > > > kontras sekali, misalnya saja antara USA dan Meksiko
yang
> > > berbatasan.
> > > > > USA sangat modern, makmur, tentram, sebaliknya Meksiko,
> > padahal
> > > mereka
> > > > > sama2 pendatang dari Eropa. Negara-negara Islam juga
sama
> saja,
> > > > > katakan saja Turki (Bosnia, Albania) adalah negara Islam
> paling
> > > > > modern, ternyata masih jauh dibelakang negara2 Eropa
dalam
> > IPTEK
> > > dan
> > > > > kemakmuran. Selama pemahaman agama itu masih sempit
> (fanatisme
> > > agama,
> > > > > bukan religiositas) , maka selama itu pula negara akan
> > terjebak
> > > dalam
> > > > > hiruk pikuk eforia agama.
> > > > > Bandingkan pula dengan pemahaman demokrasi kita, yang
baru
> > tarap
> > > > > belajar dan eforia, dengan negara2 Eropa/USA. Kita juga
> dibuat
> > > > > tercengang dengan para ilmuwan negara komunis, misal
RRC,
> > mereka
> > > maju
> > > > > pesat, lihat negara kita dibanjiri otomotif produk
mereka.
> > Berapa
> > > ribu
> > > > > jam belajar yang sudah dihabiskan oleh anak-anak SD
untuk
> > > "menghapal"
> > > > > hal yang belum saatnya dipelajari (agama asing beserta
> bahasa
> > dan
> > > > > budayanya)? Bukankah anak2 itu ibarat di "brain washing"
> > sehingga
> > > daya
> > > > > kreativitas dan daya saing mereka untuk tingkat dunia
> menjadi
> > > rendah
> > > > > sekali. Hasilnya apa? Toh mirip P4, PMP, dst. Sementara
itu,
> > > setelah
> > > > > SD, kita harus menghabiskan sekian ribu jam pelajaran
lagi
> > untuk
> > > > > belajar dan mengejar ketertinggalan dalam bahasa
Inggris,
> lalu
> > > kapan
> > > > > SDM kita bisa maju kalau kita tidak effisien dalam
> menggunakan
> > > waktu
> > > > > dalam pendidikan?
> > > > >
> > > > > Dalil 9.
> > > > > Semakin udara suatu bangsa penuh polusi doa puja-puji
kepada
> > > Tuhan,
> > > > > semakin rusak moral bangsa itu.
> > > > > Kalau kita amati, seringkali tembok-tembok ditulisi:
Ngebut,
> > > benjut;
> > > > > Yang Kencing disini hanyalah anjing; Daerah bebas
narkotik;
> > > Dilarang
> > > > > buang sampah disini; dst... Dinegara maju yang
masyarakatnya
> > sudah
> > > > > mencapai religiositas, tulisan2 berisi ancaman dan
aturan
> kasar
> > > > > semacam itu sudah tidak ada lagi, sebab aturan itu sudah
> > tertulis
> > > > > dihati sanubari mereka semenjak dini/kecil, yaitu
melalui
> > > pendidikan
> > > > > budi pekerti. Begitu pula dengan masalah agama, semakin
bumi
> > > nusantara
> > > > > ini dipenuhi polusi suara yang keras dan
> > > > > hingar bingar tentang agama (Tabliq Aqbar, istigotsah,
azan
> > > masjid,
> > > > > koor gereja, dsb.), semakin menandakan bahwa
masyarakatnya
> > masih
> > > > > sekedar pandai berdoa, sekedar bosa-basi agama, namun
tidak
> > pandai
> > > > > melaksanakan ajaran agama. Siang maling atau korupsi,
> > > > > malam meditasi atau berdoa. Ucapan dan tindakan sangat
> kontras
> > > > > berbeda. Lihatlah kelihaian para politisi Orde Baru
dalam
> ber
> > > "agama",
> > > > > kemudian lihatlah "track record" mereka. Alhamdulilah,
> seratus
> > > delapan
> > > > > puluh derajat bedanya! Dapat kita katakan, apa yang
terjadi
> di
> > > > > Indonesia adalah pelecehan agama, bukan penghormatan
agama,
> > > apalagi
> > > > > pengamalan agama! Pelecehan agama akan menyebabkan
> kehancuran
> > > moral
> > > > > suatu bangsa (Tuhan menurunkan hukum Nya!).
> > > > >
> > > > > Dalil 10
> > > > > Agama dapat melunakan hukum negara melalui persepsi yang
> salah.
> > > > > Dalam agama Islam dikenal konsep pengampunan total
terhadap
> > dosa2
> > > > > manusia oleh Tuhan dalam event2 tertentu, misalnya
dibulan
> > > pengampunan
> > > > > "Ramadhan" atau saat2 naik Haji ke Mekah, demikian pula
> dalam
> > > agama
> > > > > Nasrani dikenal konsep pengampunan total terhadap dosa2
> > manusia
> > > oleh
> > > > > Tuhan asal percaya kepada Yesus Kristus. Dengan sifatNya
> yang
> > > "Maha
> > > > > Pengasih dan Penyayang" (perhatikan kata Maha), maka
bagi
> > Tuhan
> > > itu
> > > > > memang mungkin.. Namun hal ini sering disalah gunakan
oleh
> para
> > > > > koruptor, pelanggar HAM, elit politik dan birokrat.
Agama
> bagi
> > > mereka
> > > > > menjadi sarang persembunyian yang enak dan nyaman (kasus
> > islah),
> > > > > apalagi apabila sekian persen dari hasil kejahatan
mereka,
> > lalu
> > > mereka
> > > > > sumbangkan untuk membangun masjid, gereja dan rumah
yatim
> > piatu
> > > (model
> > > > > Robin Hood), dengan demikian walau bandit mereka tetap
> > dihormati
> > > oleh
> > > > > umat setempat. Ulama, pastor dan pendeta harus
menandaskan
> > bahwa
> > > > > kejahatan manusia juga harus dipertanggung jawabkan
didepan
> > > manusia
> > > > > (pengadilan) , jadi tidak hanya vertikal melainkan
> > horisontalpun
> > > > > penting! Ulama, pastor dan pendeta harus rajin ke DPR,
> > Kejagung,
> > > > > presiden , dst., dalam hal membela kebenaran/moral,
tanpa
> harus
> > > > > berpolitik praktis, mereka harus merasa malu dengan daya
> juang
> > > para
> > > > > mahasiswa/LSM dalam hal pembelaan moral dan kebenaran!
> Mereka,
> > > para
> > > > > agamawan, juga harus malu kepada seorang wanita ceking
yang
> > gigih
> > > > > membela manusia melarat dan
> > > > > tertindas, yang bernama Wardah Hafidz, yang tidak takut
> > > mengorbankan
> > > > > keamanan hidupnya! Mana ada ulama, pastur, pendeta atau
> biksu,
> > > yang
> > > > > turun tangan membela tukang becak, pnjual asongan, dst.,
> > secara
> > > nyata?
> > > > > Mana ada dari mereka yang menuntut tuntasnya kasus BLBI,
> > Trisakti,
> > > > > Priok, KKN, uang hibah haram, dst.?
> > > > >
> > > > > Dalil 11.
> > > > > Tuhan itu demokratis, sedangkan agama seringkali
otoriter.
> > > > > Tuhan tidak melarang manusia untuk tidak beragama,
karena
> Tuhan
> > > > > sendiri pada dasarnya tidak beragama. Tuhan mengharapkan
> agar
> > > manusia
> > > > > mencapai pemahaman tertinggi yang disebut religiositas
> melalui
> > > > > berbagai sarana seperti agama, "agama lokal" (misal
> Kejawen),
> > dan
> > > ilmu
> > > > > pengetahuan. Keotoriteran agama nampak pada keinginan
mau
> > > menangnya
> > > > > sendiri seperti melarang berbagai hal yang tidak sepaham
dan
> > ingin
> > > > > menjadi anak emas dinegara yang majemuk/pluralis!
> > > > >
> > > > > Penutup
> > > > > Agama itu penting, namun bukan segala-galanya. Belajar
agama
> > harus
> > > > > sampai mencapai tingkat tertinggi yaitu religiositas.
> > Keterbatasan
> > > > > agama (iman/keyakinan) yang inherent harus diimbangi
dengan
> > > > > perkembangan IQ dan EQ. Semua agama, berasal dari negara
> > asing,
> > > maka
> > > > > kita wajib waspada dan bisa memilahkan antara ajaran
agama
> dan
> > > budaya.
> > > > > Kita janganlah dibiasakan meniru adat istiadat, pakaian,
> > budaya,
> > > > > apalagi cara pikir atau bahkan kekerasan yang
mendompleng
> agama
> > > > > (melalui politik praktis). Manusia yang sudah mencapai
> derajat
> > > > > Religiositas yang tinggi, sudah tidak lagi mementingkan
> > wadahnya
> > > yaitu
> > > > > agama, melainkan lebih mementingkan isi (intisari/makna)
> suatu
> > > ajaran
> > > > > agama, sehingga ia menjadi manusia bebas merdeka yang
tidak
> > > > > tersekat-sekat lagi. Berbahagialah orang yang tidak
beragama
> > namun
> > > > > mempunyai religiositas yang tinggi, sebab ia akan bebas
> > merdeka
> > > dimana
> > > > > saja, kapan saja, dilingkungan apa saja, dan Tuhan
selalu
> > > menyertai
> > > > > dia! Tingkat pemahaman agama di Indonesia, seperti juga
> dalam
> > hal
> > > > > demokrasi, masih dalam tingkatan rendah sekali, masih
tahapan
> > > > > eforia/kulit, seperti Eropa abad 17 an, oleh sebab itu,
mari
> > kita
> > > > > perbaiki bersama!
> > > > >
> > > > > Akhir kata, marilah beragama secara baik, santun, sehat,
> > rasional
> > > dan
> > > > > berwawasan luas, sebab agama sangat mempengaruhi budaya,
> > budaya
> > > sangat
> > > > > mempengaruhi pola-pikir dan tindak tanduk suatu bangsa!
> > > > >
> > > > >
> > > > >
> > > > >
> > > >
> > >
> >
>
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___
Tidak ada komentar:
Posting Komentar