Selasa, 03 Februari 2009

[bali-bali] HINDU CENTER BALI

Majeng ring semeton,

KANTOR PHDI BALI, di Jalan Ratna Denpasar sama sekali tak menandakan
bahwa inilah KANTOR PUSAT PERADABAN Hindu Bali (BALI HINDU CENTER).

Beberapa minggu lalu saya ikut seminar di kantor ini, tak ada tempat
untuk berseminar sehingga undangan duduk di halaman dengan korsi-korsi
yang kakinya terendam air hujan. Sepatu dan sandal para peserta rapat
harus basah dan masuk lumpur: Pulang dari kantor PHDI saya merasa
pulang dari sawah!

Raka Santri, pensiunan wartawan Kompas, yang menjadi ketua panitia
seminar menyampaikan banyak peneliti asing, yang kagum dan tertarik
melakukan riset terhadap Hindu Bali, selalu nyasar tak mengenali
kantor PHDI tersebut. Mereka tak percaya kalau umat Hindu Bali yang
mampu membangun ribuan Pura yang sedemikian mewah dan mahal, ternyata
tak punya perpusatakaan, pengarsipan dan gedung yang memadai untuk
disebut sebagai kantor pusat "peradaban Hindu-Bali".

Saya menganjak teman-teman yang hobby diskusi agama ("mengagamakan
diskusi") untuk membicarakan hal ini.

Belajar dari kasus Majapahit: Apakah peradaban Hindu-Bali yang
sedemikian besar ini akan nasibnya sama dengan peradaban
Hindu-Majapahit, yang baru dibangunkan sebuah Trowulan Center setelah
peradabannya terkubur?

Masukan saya: Bali perlu dibangun sebuah Hindu Center yang serius
menjadi pusat studi dan riset, juga menjadi "rumah" umat Hindu-Bali
untuk memperbincangkan religi-adat-budaya secara terbuka dan penuh
kejernihan. Sekalipun Bali punya PUSDOK (Pusat Dokumentasi) tapi
Pusdok berurusan dengan naskah-naskah 'mati', sedangkan sebuah Hindu
Center berurusan dengan sebuah agama yang hidup dan bertumbuh.

Sebagai pembanding, Lombok sedang membangun sebuah IC (Islam Center)
dengan budget sebesar 150 miliar dan akan segera selesai (ditargetkan)
tahun ini. Beritanya di bawah email saya ini.

Rahajeng,
Sugi Lanus


http://sasak.org/berita/agama/592-rp-150-miliar-untuk-bangun-ic.html

RP 150 MILIAR UNTUK BANGUN ISLAM CENTER

Mataram [Sasak.Org] Rencana Pemprov NTB untuk membangun Islamic Center
(IC) di depan masjid raya Mataram diperkirakan akan membutuhkan dana
sebesar Rp. 150 miliar. Sedangkan luas lahan yang akan dibutuhkan
seluas 4,5 hektar, dan dengan asumsi tidak ada hambatan yang berarti
pembangunanya akan selesai dalam jangka waktu satu tahun. Hal tersebut
diungkapkan oleh konsultan pembangunan Islamic Center, Ir. Zulkifli
Yusuf Minggu (1/2) kemarin.

"Bangunan Islamic Center itu nantinya sangat megah" ungkap Zulkifli.
Dijelaskan lebih lanjut olehnya bahwa nantinya didalam Islamic Center
tersebut akan dibangun ruangan besar khusus untuk pertemuan-pertemuan
seperti rapat, seminar, weddings, dan lain sebagainya dimana ruangan
tersebut dapat dipergunakan untuk skala nasional maupun internasional.

Disamping itu juga akan dibuat ruangan khusus untuk menujang kegiatan
pendidikan, organisasi kemasyarakatan, serta museum Islam "keinginan
kita, Islamic Center ini nantinya merupakan symbol dari pulau Lombok
sebagai pulau seribu masjid" jelasnya. Nantinya juga akan dibangun
sebuah menara yang tingginya menyaingi Monas yakni setinggi 99 meter.
Blue Print rencana pembangunan Islamic Center tersebut menurut
Zulkifli sudah ada dan tinggal menunggu persetujuan Gubernur saja.

Ketika ditanya mengenai lokasi pembangunan Islamic Center yang
direncanakan di depan Masjid Raya Mataram yang saat ini dilokasi
tersebut berdiri gedung SDN 5 Mataram dan Pasar Dasan AGung serta
gedung KONI, Zulkifli menjelaskan kemungkinan lokasi DN 5 Mataram dan
pasar Dasan Agung akan di tukar guling, sementara gedung KONI akan di
pindahkan "nanti kita akan lihat lahan mana yang cocok untuk SD dan
pasar tersebut" ujar Zulkifli. [WKS-1]


--
'The greatest event of our age is the meeting of cultures, meeting of
civilizations, meeting of different points of view, making us
understand that we should not adhere to any one kind of single faith,
but respect diversity of belief. That is what we should attempt to do.
The iron curtain, so to say, which divided one culture from another,
has broken down. It is good that we recognize and emphasize the need
of man to regard other people, their cultures, their beliefs etc. to
be more or less on the same level as our own cultures and our own
civilizations. It is not a sign of weakening faith; it is a sign of
increasing maturity. If man is unable to look upon other people's
cultures with sympathy and if he is not able to co-operate with them,
then it only shows immaturity on the part of the human individual. We
need co-operation, not conflict. It requires great courage in such
difficult days as the present to speak of peace and co-operation. It
is more easy to talk of enemies, of conflict and war. We should try to
resist that temptation. Our attempt should always be to co-operate, to
bring together people, to establish friendship and have some kind of a
right world in which we can live together in happiness, harmony and
friendship. Let us therefore realize that this increasing maturity
should express itself in this capacity to understand what other points
of view are'.

-Professor Sarvepalli Radhakrishnan, philosopher, President of India,
his speech for the inauguration of the The Indian Institute of
Advanced Study on 20 October 1965. http://www.iias.org/

------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:bali-bali-digest@yahoogroups.com
mailto:bali-bali-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
bali-bali-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Tidak ada komentar: