Jumat, 12 Juni 2009

[bali-bali] Kembali Ke Alam



 
Kembali Ke Alam
 
 
Pemandangan diatas dengan rumputnya yang hijau serta di dukung dengan rindangnya pepohonan, sekilas tampak seperti pemadangan di daerah Kebun Raya Bedugul Bali, yang terletak di daerah pegunungan dengan udaranya yang sejuk dan dingin. Namun sesungguhnya tidaklah demikian, pemandangan diatas bukanlah Taman yang berlokasi di daerah pegunungan, melainkan berlokasi di pusat kota dimana saya berdomisili saat ini, yaitu di Stuttgart.
 
Bila cuaca bagus dengan sinar mataharinya yang hangat, Taman inilah yang paling favorit di kunjungi masyarakat Stuttgart, bukan di Hauptbahnhof dan bukan juga di Stadtmitte di Füssgänger Königstrasse. Taman ini sangat nyaman di jadikan tempat untuk janjian ketemu teman untuk ngobrol di bawah rindangnya pohon, atau berinisiatif datang sendiri hanya untuk mencari ketenangan sambil membaca di bawah hangatnya sinar matahari, atau datang untuk mencari inspirasi ..
 
 
kembali ke alam, sepertinya sudah menjadi fenomena dan banyak di jadikan sebagai solusi dari permasalahan belakangan ini oleh kelompok negeri maju yang tergabung dalam G8 dalam mengatasi permasalahan Global Warming, pun oleh kelompok Green Peace dalam memperjuangkan penyelamatan dunia ini juga mewanti-wanti untuk kembali ke alam.
 
Agar tidak pernah lupa akan Alam yang banyak membantu dan mensejahterakan umat manusia, para leluhur kita di Bali sesungguhnya juga selalu mengingatkan kita untuk terus menghormatinya melalui perayaan rahinan Tumpek Wariga (atau sebagian masyarakat bali menyebut dengan nama lain seperti: Tumpek Pengatag, Tumpek Uduh, atau Tumpek Bubuh) . Kalau di lihat dari sudut pandang religi , Tumpek Wariga dimaksudkan untuk memuja Dewa Sangkara, yang merupakan manifestasi Tuhan sebagai penguasa tumbuh-tumbuhan……
 
Kalau di pelajari lebih dalam tentang makna filosofi dari perayaan Tumpek Wariga yang di wariskan oleh para leluhur kita di Bali yang jatuh di setiap hari Sabtu Kliwon wuku Wariga, sesungguhnya mengajarkan  konsep yang sangat luhur dalam menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan lingkungannya — dalam kaitan ini hubungan manusia dengan tumbuh-tumbuhan. Umat bukan hanya mesti menghargai ciptaan Tuhan, tetapi sekaligus melestarikan tumbuh-tumbuhan yang telah mensejahterakan kehidupannya. Jadi perayaan Tumpek Wariga (Tumpek Pengatag, atau Tumpek Bubuh) adalah salah satu komponen penting dalam mengajegkan konsep Tri Hita Karana.
 
Sesungguhnya pula, aplikasi nilai-nilai yang terkandung dalam Tumpek Wariga bukan hanya untuk kepentingan umat Hindu, tetapi juga umat lain. Tanpa tumbuh-tumbuhan, umat manusia tidak akan bisa hidup. "Jadi nilai yang terkandung dalam Tumpek Bubuh sangat universal.
 
Sebagai contoh: ahli gizi kesehatan lebih tertarik mempromosikan gaya hidup sehat dengan banyak mengkonsumsi produk alami yaitu sayur-sayuran dan buah-buahan. Para dokter menyarankan pasiennya untuk tidak banyak minum obat pil melainkan sebaliknya menawarkan obat alami yaitu banyak-banyak minum air putih.
 
Dalam Weda disebutkan, tumbuh-tumbuhan dan air adalah pelindung manusia. Bahkan, dalam Reg Weda disebutkan, tumbuh-tumbuhan memiliki jiwa yang sama dengan manusia. Karena itu kita mesti menjalankan ajaran tatwam asi dalam memperlakukan alam. Jika alam rusak atau sakit, kita wajib mengobatinya atau merawatnya. Merusak alam berarti juga menyakiti diri sendiri. Karena itu peliharalah alam agar terjadi keharmonisan. Tumbuh-tumbuhan juga penghasil O2 yang amat diperlukan oleh manusia.
 
 
Ketika manusia menemukan kebuntuan dalam pikirannya , mereka mulai berteman dengan alam. Iwan Fals seorang penyanyi dan penulis lagu sengaja meninggalkan Jakarta dan menyendiri ke daerah puncak bogor dengan alasan hanya bisa membuat lagu ketika ia di temani pepohonan.
 
begitu juga dengan Gede Prama, seorang pembicara publik yang sukses di ibukota, akhirnya meninggalkan Jakarta dan pulang ke kampungnya ke desa tajun Singaraja yang sunyi, selain untuk mengikuti kata hatinya juga untuk mencari ketenangan serta mencari pencerahan. hingga akhirnya tercipta karya-karya berikut yang banyak menghipnotis pendengar seminarnya : Kealamian ditemukan dalam diam, Kesederhanaan yang paling mencerahkan, Hati Penuh dengan Inspirasi, Kosong itu isi, Biarkan Kedamaian bicara, Kota keheningan dan Kedamaian, Sepi sunyi yang menerangi, Mendengarkan Bambu Bicara.
 
 
Kembali ke foto-foto diatas, ketika menginjakkan kaki serta berjalan-jalan keliling di taman kota diatas, mengingatkan saya akan kampung halaman di Bali ataupun di Klungkung, yang mungkin tidak kalah hijaunya dengan taman-taman yang ada di negeri jerman, cuman sayangnya Taman seperti ini sulit di temukan di tengah kota atau boleh di katakan tidak ada, melainkan hanya bisa di dapatkan jauh di daerah pegunungan atau di daerah pinggiran pedesaan, seperti tampak di foto berikut.
 
 
semoga di kemudian hari para pemimpin daerah kita bisa menyadari akan betapa pentingnya memiliki Taman kota selain sebagai pusat paru-paru kota juga sebagai tempat untuk mencari inspirasi bagi masyarakatnya dengan berhubungan kembali ke alam.



__._,_.___


Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Tidak ada komentar: