Rabu, 10 Juni 2009

[bali-bali] FW: dari Press Kit film "GDD"



Yth para pemain pendukung film GDD.

Berikut ini ada list pertanyaan. Minta tolong untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan jawaban yang detil dan jelas. Bisa diceritakan aja, tidak perlu takut salah karena nanti akan diedit lagi. Interview tertulis ini nanti akan dimasukkan ke press kit yang akan dibagikan ke media-media.  

 

Ade Kusumaningrum

Publisityfilm "Garuda Di Di Dadaku"
Hp:  0813 19349157

 

 

Jawaban Ikranagara

Tanya: Bagaimana ceritanya bisa ambil bagian di film ini?    

Ikra: Saya dihubungi untuk casting tokoh cerita Pak Usman. Skenarionya pun saya pelajari, demikian juga melacak di internet siapa Ifa Isfansyah yang akan jadi sutradaranya.

Karena saya baru saja memerankan Pak Guru Harfan dalam "Laskar Pelangi" (LP) maka tema pendidikan yang diusung "Garuda Di Dadaku" (GDD) ini saya bandingkan dengan LP, dan ternyata punya perbedaan. Kalau yang di LP itu menekankan pendidikan di dalam sekolah, maka yang di GDD ini pendidikan di luar sekolah pada musim liburan.

Tanya: Apa pendapat Anda tentang karakter yang dimainkan?    

Ikra: Karakter Pak Usman sangatlah beda dengan Pak Harfan, bahkan boleh dikata bertolak belakang dalam pola mendidik anak.

Pak Harfan dalam LP mengembangkan anak-anak sesuai bakat dan impian masing-masing anak yang berbeda satu dengan lainnya, sedangkan Pak Usman dalam GDD merasa paling tahu apa yang harus dipelajari dan harus dikuasai si anak (dalam GDD adalah cucunya yang bernama Bayu) sebagai modal hidup agar masa depannya bisa diharapkan baik dan bahagia. Karena itulah dia labrak saja keinginan cucunya demi "kebaikan" yang diyakininya itu.

Pak Usman kecewa berat dengan sikap anaknya sendiri (baca: ayahnya Bayu) karena anak kandungnya itu membantah kehendaknya. Nasibnya yang kurang mulus secara ekonomi dikaitkan dengan akibat pembangkangan putera tunggalnya yang tidak mau nurut kata-kata orang tuanya itu. Dia pun makin yakin akan kebenaran sikapnya dalam mengarahkan sang cucu, karenanya sebagai kakek dia tegas dan keras dalam menggiring sang cucu ke arah impiannya sendiri, bahkan siap membiayainya habis-habisan dengan dana simpanan pensiunnya. Ya, dia memang cinta sekali kepada cucunya itu, hanya saja caranya tidak demokratis melainkan otoriter.

Watak dan sikap generasi tua seperti Pak Usman itu di masyarakat kita diterima sebagai yang lumrah. Dari membaca scenario itu, tampaknya sutradara Ifa tidak bisa menerima generasi tua yang otoriter seperti ini. Dan saya setuju Ifa!

Tanya: Apa yang menyebabkan Anda tertarik main dalam film ini?

Ikra: Ya, pertama karena tokoh cerita yang bernama Pak Usman itu berbeda dari karakter yang pernah saya mainkan. Saya tidak suka type-casting berkaitan dengan wataknya dan posisinya dalam cerita. Tapi kalau soal usia… ya, apa boleh buat! Gak mungkin dong saya main jadi anak belasan tahun! Singkatnya, saya tidak suka mengulang karakter yang sama. Nah, Pak Usman ini memberikan peluang kepada saya untuk menciptakan seorang karakter baru, yang lain lagi dari yang sebelum-sebelumnya.

Selain itu, saya tertarik main dalam GDD karena setelah saya lacak tentang sutradara Ifa Isfansyah, ternyata dia memang sineas dari generasi baru kita, masih muda usia, tapi apa yang sudah dikerjakannya di dunia film pendek mendapat acungan jempol, dan prestasinya di sejumlah festival film di dalam dan di luar negeri juga seperti itu. Maka saya harus jujur kepada Anda bahwa dia telah  membuat saya angkat topi. Salut! Terutama untuk film pendeknya yang berjudul "Harap Tenang, Ada Ujian" (2006). Filmnya ini merupakan keterlibatan sosialnya dalam menghadapi musibah yang menimpa wilayah Yogyakarta akibat diguncang gempa dahsyat di tahun 2006 itu.

Nah, ketika musibah nasional itu menimpa Yogyakarta, saya hanya sempat membaca laporan media tentang korban manusia yang jumlahnya besar,  dan juga membaca tentang sejumlah pekerja film kita buka posko. Tentu, saya tidak tahu persis apa yang dikerjakan seniman-seniman Yogya itu, karena saat itu saya masih berada di Washington DC. Di sana saya tergugah untuk menulis puisi sebagai rasa keprihatinan saya kepada korban sesama manusia. Maka ketika KBRI kita di AS menyelenggarakan malam duka untuk korban musibah itu, dan mengumpulkan dana bantuan kemanusiaan, saya pun membacakan puisi saya itu dalam acara tersebut.

Ya, tidak dinyana, meskipun sebelumnya kami belum pernah bertemu, belum saling kenal, rupanya kami sama-sama merespon musibah yang sama dengan karya seni masing-masing.

Saya pun tidak ragu lagi, dan berminat besar untuk ikut dalam produksi GDD!

Tanya: Bisa cerita tentang pengalaman yang menarik selama shooting dengan para pemain, crew, atau hal-hal lainnya?

Ikra: Mereka semua dari generasi muda. Bekerja di lingkungan mereka memberikan pengalaman yang indah bagi saya yang sudah tergolong generaasi tua. Tampaknya mereka menguasai dengan baik aspek tekhnologi baru industri kreatif ini dengan trampil, selain semangat kerja keras, tak kenal lelah. Ya, tak kenal lelah, tentu saja, karena enerji mereka kan sedang berada di punjaknya. Bukan hanya aspek tekhnologinya, tetapi juga aspek manajemennya, cermat dan penuh perhitungan. Kerjasama yang jalin menjalin. Menghargai waktu, tapi juga tidak ngoyo memaksakan diri. Tentu, di balik itu semua adalah gereget kesenimanan mereka tak diragukan lagi.  Nah, pengalaman bekerja dengan mereka menyebabkan saya optimis terhadap masa depan perfilman kita. Tentu, dengan catatan tidak ada lagi penindasan yang dilakukan oleh kekuasaan, baik kekuasaan pemerintah, maupun kekuasaan swasta di ranah politik, ekonomi, sosial dan budaya dengan gaya preman memakai tindak kekerasan.   

Tanya: Apakah ada kendala yang dirasakan selama produksi (apapun bentuk kendala itu)?

Ikra: Tidak ada. Saya enjoy sekali!

Tanya: Adakah adegan yang paling sulit dilakukan dan kenapa?

Ikra: Wah, pertanyaan ini hanya tepat untuk yang baru belajar akting, mereka yang belum siap. Bagi saya yang penting adalah menemukan peluang untuk menampilkan kekayaan saya sebagai aktor.

Tanya: Manakah adegan yang paling disukai dan kenapa?

Ikra: Adegan kakek bercanda dengan cucunya di emper depan rumah pada malam hari itu. Ini langsung mengingatkan saya kepada cucu pertama saya yang baru saja lahir itu! Bahagia sekali saya! Selain adegan itu memberi peluang kepada Pak usman untuk menonjolkan betapa manusiawinya Pak Usman dalam hubungannya dengan sang cucu.

Tanya: Bagaimana kesannya bekerja dengan Ifa Isfansyah?  

Ikra: Sudah saya katakana tadi. Saya enjoy! Ifa sutradara professional dan memperlakukan saya juga sebagai aktor professional Klop! Kerjasama bisa berlangsung, atau istilah gaulnya: chemistry nya jalan! 

Tanya: Bagaimana kedududukan/pentingnya film ini bagi masyarakat dan perfilman Indonesia serta apa harapannya dengan film ini?  

Ikra: Mengedepankan Pak usman sebagai berwatak seperti itu, adalah untuk mengingatkan kepada masyarakat, bahwa kelebihan umur saja tidak cukup. Manusia hendaknya saling menghargai cita-cita atau pendapat yang berbeda satu dengan lainnya.  Ada pesan demokrasi di dalamnya terselip dengan halus dan eloknya dalam film ini. Potret manusianya yang ditonjolkan. Bukan ideologinya.

Nah, peluang yang diberikan oleh alam demokrasi, sejak zamannya Habibie berkuasa sampai ke zaman SBY sekarang ini, hendaklah dimanfaatkan dengan baik dan professional oleh para insan di dunia perfilman. Publik kita sekarang sudah cukup punya apresiasi yang lebih baik atas karya sinematografi berkat kontak terbuka dengan dunia internasional lewat tekhnologi digital yang dengan mudah merasuk sampai ke pelosok-pelosok terpencil negeri kita. Demikian juga perhatian dari luar negeri terhadap karya kita sudah cukup bagus, dan mudah untuk bisa ditingkatkan lebih gencar lagi. Standar apresiasi public kita jangan dipandang enteng! Jangan coba-coba menjatuhkannya dengan sikap aji mumpung si mata duitan yang tidak bertanggung jawab dalam menjaga kwalitas film kita. Film-film tidak bermutu akan hancur di mata publik.

Pemerintah kita juga harus ikut bertugas menjaganya, yaitu tetap mengawal alam demokrasi kita. Udara demokrasi adalah persyaratan mutlak untuk lahirnya karya-karya bermutu dari dunia industri kreatif, juga meluasnya apresiator. Demokrasi dan kreativitas merupakan dua sisi dari satu entitas yang bernama kemajuan zaman.


Ikranagara

Ikra_twin@yahoo.com

Hp: 0817 81 41 43

 



__._,_.___


Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Tidak ada komentar: