tyang sampun matinin tur nyangih tambah siap siap
nyangkul , sakewanten durung meduwe lahan.
Habis sangkep , tyang jaga bli Ngurah di pertigaan jalan
Sanur , tapi setelah tiga hari nggak lewat lewat , terpaksa
tyang tinggal pulang licitan.
Rahajeng mewali Bli Ngurah , selamat berkarya.
shanti is still smiling.
--- In bali-bali@yahoogroups.com, ngurah beni setiawan
<setiawan_beni@...> wrote:
>
> nah itu Gung Aji nulis "agama" lagi
> tak marah...
>
> *sebelum tyang dijegat di sisin rurunge...
>
> Rahajeng Gung Aji, sudah kembali ke Oz?
> Â
> rahajeng,
> ngurah beni setiawan
> P Save a tree...please don't print this e-mail unless you really
need to
>
>
>
>
> ________________________________
> Dari: IGusti Agung <agungpindha@...>
> Kepada: bali-bali@yahoogroups.com
> Terkirim: Jumat, 30 Januari, 2009 11:11:41
> Topik: [bali-bali] Re: Analisis Mendalam Tentang Agama, Tuhan dan
Negara
>
>
>
> hi..hi..hi..
> hello pasukans ,
> kemarin ketika rapat BOS , saya dimarah.
> "Tidak boleh nulis agama !"
> Nah... pokoknya saya gak ada nulis masalah agama ya..?
> Makasih pasukans lain yang nulis agama ( yang belum dimarah).
> saya selamat.... na..na...na. ..na.
>
> shanti si smiling.
>
> --- In bali-bali@yahoogrou ps.com, Lili Gundi <lili_gundi@ ...>
wrote:
> >
> > Kita harus merobah paradigma tentang toleransi. Kita harus
> menghormati (hak azasi) seluruh dan setiap manusia, Â apapun
> keyakinan agamanya, bahkan termasuk yang tidak beragama dan
atheis.
> Tetapi terhadap agama, kita berikan toleransi, setelah dia lulus
> dari ujian akal kritis serta kode moral yang diterima secara
> universal. Â Â
> > Agama-agama, kitab sucinya, pendirinya, harus dianalisis
secara
> mendalam. Dari analisis itu kita ketahui ada agama-agama yang
> mengajarkan kebencian dan kekerasan; ada agama-agama yang
> mengajarkan persaudaraan universal dan welas asih. Dengan
permohonan
> maaf, harus dikatakan agama-agama Semitik mengajarkan yang
pertama;
> agama-agama Timur mengajarkan yang kedua. Mengapa demikian? Agama-
> agama Timur didirikan oleh para maharesi yogi dan filsuf. Â
> > Agama Semitik itu didirikan oleh para petani berpindah,
pengembala
> ternak nomaden gurun pasir yang keras  atau karyawan dagang buta
> huruf. Mereka pada umumnya adalah atau bertindak sebagai kepala
> suku yang berjuang mempertahankan sukunya dari tekanan suku lain
> yang lebih besar, atau  ingin memperluas wilayahnya dengan
merebut
> tanah-tanah suku lain, dan membunuh lawan-lawannya, menawan mereka
> yang takluk untuk dijual sebagai budak, atau dijadikan pemuas
seks.
> Tuhan (yang) mereka (persepsikan) hampir sama dengan sifat-
sifatnya
> (kepala suku itu).. Tuhan-tuhan itu hanya membela sukunya
> (pengikutnya) saja, dan memusuhi suku (pengikut keyakinan) lain.
> Bahkan ada Tuhan yang ikut sibuk terlibat dalam urusan ranjang
> kepala suku itu. Ini pastilah bukan Tuhan menciptakan alam
semesta.
> Ini adalah tuhan suku, yang telah jatuh menjadi pelayan
> domestik..  Â
> > Itulah sebabnya di dalam kitab suci mereka kita temukan
kebencian,
> permusuhan dan perintah kekerasan terhadap suku atau pemeluk
> keyakinan lain.
> > Dalam Torah Yahudi (Perjanjian Lama Kristen) ada narasi
kebencian
> terhadap orang Mesir, Kanaan, dan Filistin. Bahkan Yahweh ikut
> mengirimkan bencana wabah kepada orang Mesir. Di dalam Perjanjian
> Baru ada narasi kebencian dan kekerasan terhadap orang Yahudi,
> karena dituduh membunuh Yesus, dan para "God Killers" ini
mengalami
> hidup yang sulit selama berabad-abad di Eropa Kristen, berpuncak
> pada holocaust di Jerman, yang tidak diakui oleh pakÂ
Ahmaddinejad .
> Juga ada kebencian dan permusuhan terhadap orang Roma yang
menindas
> para missionaris Kristen Awal. (Andaikata sebatas Kotbah di Atas
> Bukit, Kristen adalah agama damai).
> > Di dalam Quran ada perintah kebencian dan kekerasan, mula-mula
> terhadap orang Arab Mekkah, kemudian terhadap orang Yahudi Medina,
> lalu terhadap Kristen Syiria, Parsi Iran dan akhirnya terhadap
> seluruh manusia yang tidak beragama Islam. Isinya sebagian besar
> polemik, pertengkaran, kutukan dan ancaman. Selain dimasukkan
neraka
> janaman secara abadi, para kafir penyembah berhala itu juga dapat
> atau harus dibunuh. Â
> > Para pendiri agama juga harus disorot oleh kode moral. Apakah
> selama hidupnya dia berprilaku moral atau tidak. Apakah dia hidup
> dari keringatnya sendiri, atau menjarah harta orang lain?
Bagaimana
> kehidupan seksualnya? Apakah dia dapat mengendalikan nafsu
> seksualnya atau malah mengumbarnya?
> > Terhadap agama-agama yang mengajarkan doktrin jahat dan
berbahaya
> ini bagaimana sikap kita?
> > "Toleransi" kritis. Artinya toleransi tidak mematikan pemikiran
> kritis, pemikiran kritis tidak berarti mencari musuh. Justru
> pemikiran kritis yang telah menghantarkan manusia pada
peradabannya
> sekarang ini. Dan pemikiran kritis ini akan  terus membawa kita
> kepada kemajuan lebih jauh, tidak hanya di bidang sains dan
> teknologi, tetapi dan terutama dibidang moral dan spiritual,
> dimana .kebencian dan kekerasan â" termasuk yang konon datang
> dari "tuhan"Â - akan ditolak oleh sebagian besar, kalau pun tidak
> oleh seluruh manusia. Savere aude, beranilah menggunakan pikiran.
> Itulah pencerahan, menurut Immanuel Kant.
> > Tabik
> > LGS
> > Â
> > Â
> >
> >
> >
> >
> > ____________ _________ _________ __
> > From: Cokorda Raka Angga Jananuraga <rakabali78@ ...>
> > To: bali-bali@yahoogrou ps.com
> > Sent: Wednesday, January 28, 2009 9:34:50 PM
> > Subject: [bali-bali] Re: Analisis Mendalam Tentang Agama, Tuhan
> dan Negara
> >
> >
> > Tulisan yang bagus. Tapi mungkin bagi yang males baca panjang-
> panjang,
> > mungkin bisa diringkas sebagai berikut:
> >
> > "Kacau nih indonesia gara-gara fundamentalisme agama gurun
> (islam)".
> >
> > [islam gak disebut-sebut dalam tulisan aslinya, mungkin supaya
PC,
> > politically correct, tapi, kita kan gak perlu PC terus kan?]
> >
> > -Raka-
> >
> > --- In bali-bali@yahoogrou ps.com, Bulantrisna Djelantik
<btrisna@
> >
> > wrote:
> > >
> > > Tulisan yang sangat bagus dan memberi pencerahan, terimakasih
> untuk
> > sdr
> > > Surya, Biang Bulan
> > >
> > > 2009/1/28 Nusantara Jaya <nusantarajaya69@ ...>
> > >
> > > > Pak Suarsawan saudaraku, terima kasih sebuah tulisan gedoran
> > pikiran
> > > > dan nurani yang berkecamuk menyaksikan fakta hidup di dunia
> ini
> > dan asupan
> > > > pagi yang lumayan memprovokasi pikir setelah liburan Imlek.
> > > >
> > > > Saya tertarik untuk minta pendapat dan berbagi jikalau waktu
> > mengijinkan
> > > > kita untuk bertemu.
> > > >
> > > > Surya
> > > >
> > > > --- On *Tue, 1/27/09, ptsuarsawan <ptsuarsawan@ ...>* wrote:
> > > >
> > > > From: ptsuarsawan <ptsuarsawan@ ...>
> > > > Subject: [bali-bali] Analisis Mendalam Tentang Agama, Tuhan
> dan
> > Negara
> > > > To: bali-bali@yahoogrou ps.com
> > > > Date: Tuesday, January 27, 2009, 4:01 AM
> > > >
> > > >
> > > > Analisis Mendalam Tentang Agama, Tuhan dan Negara
> > > >
> > > > Siapa tidak risau melihat kenyataan yang terjadi di
Indonesia.
> Ada
> > > > berbagai agama besar dengan umatnya yang besar (terutama
> Islam),
> > namun
> > > > kasih sayang, kebenaran dan keadilan malah nyaris tidak ada.
> Atau
> > > > justru sebaliknya, kekerasan, kerusuhan, pembunuhan, ketidak
> > adilan,
> > > > korupsi dan berbagai pelanggaran HAM justru terjadi di
> Indonesia
> > dan
> > > > barangkali mencapai index prestasi nomor wahid didunia.
> Demikian
> > pula
> > > > yang terjadi dengan di negara2 yang kental sekali agamanya,
> > seperti
> > > > negara2 Amerika Latin (Colombia, Argentina, Bolivia),
> Philipina
> > (jaman
> > > > Marcos), negara2 Timur Tengah, Pakistan, Aljasair,
Afganistan,
> > dst.
> > > > Apanya yang salah? Berikut ini adalah butir2 analisis yang
> > mendalam
> > > > tentang Agama, Tuhan, dan Bangsa.
> > > >
> > > > Dalil 1.
> > > > Tuhan itu tidak beragama, jadi Ia berlaku adil bagi semua
> manusia.
> > > > Agama adalah sekedar sarana untuk mengenalkan Tuhan, namun
> Tuhan
> > > > sendiri tidak beragama.
> > > >
> > > > Dalil 2.
> > > > Agama mempunyai keterbatasan yang cukup mencolok seperti
> > disebutkan
> > > > dalam kitab-kitab suci Al- Quran dan Injil. Misal dalam Al-
> Quran
> > > > ditandaskan bahwa apabila semua ajaran Allah SWT dituliskan,
> maka
> > > > tinta sebanyak samudera rayapun tidak akan mencukupi.
Demikian
> > pula
> > > > dengan Injil yang menandaskan apabila semua ajaran Isa
Almasih
> > > > dituliskan maka buku setebal gunungpun tidak akan bisa
memuat.
> Ke
> > > > "Mahabesaran Tuhan" tidak mungkin cukup diwadahi dalam buku
> > setebal
> > > > kitab suci. Ke "Mahabesaran Tuhan" juga tercermin pada luas
dan
> > > > dalamnya ilmu pengetahuan. Dengan terbatasnya kitab suci,
ini
> > berarti
> > > > umat beragama diminta untuk lebih banyak belajar ilmu beserta
> > > > kebenarannya diluar kitab suci masing2 agama (jadi isi
masing2
> > kitab
> > > > suci ternyata hanya sedikit sekali!). Dengan banyak belajar
> diluar
> > > > kitabsuci, diharapkan IQ, EQ dan Iman terus berkembang
> sejajar,
> > tidak
> > > > timpang, dan tidak fanatik. Bila orang hanya dalam pada sisi
> > "Iman"
> > > > saja, maka ia mudah diperalat oleh para politisi.
> > > >
> > > > Dalil 3.
> > > > Pencapaian puncak pemahaman agama adalah religiositas.
Ibarat
> > kuliah,
> > > > ini adalah Philosophy Degree atau gelar Doktor. Setelah
> bergelar
> > > > Doktor, maka ilmu lebih penting daripada almamaternya. Kalau
> baru
> > > > taraf kuliah, seorang mahasiswa masih suka memamerkan
> identitas2
> > > > universitasnya. Demikian pula dengan agama, Tuhan dengan
sifat
> > dasar
> > > > Nya ("Maha Pengasih dan Penyayang") menjadi lebih penting
> daripada
> > > > agama itu sendiri, atau bahkan agama menjadi tidak perlu
lagi.
> > Jadi,
> > > > kalau sudah mumpuni keagamaan seseorang, bukan agamanya yang
> > penting,
> > > > melainkan religiositasnya yang amat sangat penting. Ia tidak
> lagi
> > > > tersekat-sekat oleh kotak sempit yang disebut agama.
> Religiositas
> > > > setingkat lebih atas daripada agama. Religiositas dapat
> diperoleh
> > > > tanpa melalui agama. Salah satu definisi umum tentang
> religiositas
> > > > adalah sbb.: sikap hatinurani, batin dan pikiran manusia
yang
> > selalu
> > > > diarahkan kepada perbuatan baik, kasih sayang, kebenaran dan
> > keadilan.
> > > >
> > > > Dalil 4.
> > > > Agama adalah sesuatu yang abstrak dan sulit dicerna, oleh
> sebab
> > itu
> > > > sebaiknya tidak diberikan kepada anak-anak yang belum dewasa
> > > > (disekolah dasar), apalagi dipaksakan sebagai pendidikan
agama
> > (ini
> > > > pelanggaran HAM, agama adalah kebebasan untuk memilih);
kalau
> > sebagai
> > > > pengajaran tentang berbagai agama, ini penting dan perlu
> diajarkan
> > > > (misalnya keanekaragaman agama beserta ciri mereka masing2).
> > Sebaiknya
> > > > agama sebagai pendidikan (untuk menarik pengikut baru)
> diberikan
> > > > kepada manusia dewasa, waktu kecil cukup diberikan budi
> pekerti.
> > Kalau
> > > > sejak kecil sudah dicuci otak dengan agama, maka hasilnya
mirip
> > > > Indonesia saat ini. Bukan kekeluargaan atau kasih sayang
> melainkan
> > > > kecurigaan, 'keterkotakan' (SARA) dan bahkan kekerasan yang
> justru
> > > > muncul. Dinegara modern seperi USA, Jepang, Korsel, Taiwan,
> > Inggris,
> > > > Australia, dst. agama memang tidak boleh diberikan pada
anak2
> SD
> > > > sebagai pendidikan(kecuali sekolah yang berafiliasi dengan
> agama
> > > > tertentu), namun sebagai pengajaran (transfer of knowledge)
> yang
> > > > mengajarkan berbagai agama beserta karakteristiknya
> diperbolehkan,
> > > > pendidikan agama adalah merupakan tanggung jawab orang tua.
> Untuk
> > > > anak, yang lebih baik dan lebih penting adalah budi pekerti.
> Budi
> > > > pekerti mengajarkan sopan-santun, taat hukum, keadilan dan
> hidup
> > > > bersosial secara baik. Benarkah dan pernahkah Nabi Muhammad
> SAW
> > dan
> > > > Nabi Isa mengarahkan agama kepada anak2? Tidak kan? Oleh
sebab
> > itu,
> > > > kasihanilah para anak2 dengan tidak membebani otak mereka
> kepada
> > > > pengetahuan yang belum saatnya; dan yang lebih penting dan
> > mendasar:
> > > > agama syarat dengan dogma2 yang beku, bila diajarkan secara
> kurang
> > > > tepat justru akan membelenggu kecerdasan anak2, bahkan
justru
> > anak2
> > > > akan mulai terkotak-kotak sejak dini! Masih ingin
> > > > bukti? Lihatlah prestasi masyarakat RRC yang komunis,
ternyata
> > lebih
> > > > religius, tidak main membunuh orang (maling ayam dan
pencopet),
> > > > prestasi olahraga dan IPTEK nya hebat, pemerintahnya bisa
> > menghidupi
> > > > 1,2 milyar (lima kali penduduk kita), berani menghukum mati
> para
> > > > pelaku KKN, dst. Kemudian, tentang kualitas pendidikan,
> Indonesia
> > > > berada dibawah Vietnam (yang komunis). Pendidikan dan
> pengajaran
> > agama
> > > > harus disertai penekanan tentang keterbatasan agama, sejarah
> hitam
> > > > agama (misal: Katholik diabad 17 yang membuat Eropa mundur,
> dan
> > Islam,
> > > > bila tidak hati2, diabad ini
> > > > bisa mengalami hal yang serupa dengan Katholik diabad 17),
> semua
> > agama
> > > > besar pernah mengalami pasang surut dalam sejarah, semua
agama
> > juga
> > > > mengalami perpecahan internal (Katholik-Protestan , Syiah-
> Suni,
> > dst);
> > > > penekanan cita2 pemahaman tertinggi agama yang disebut
> > religiositas,
> > > > dan penekanan kemungkinan penyalahgunaan agama untuk
politik!
> > Agama
> > > > juga selalu jauh tertinggal (terbirit-birit) dalam
> perkembangannya
> > > > dibandingkan ilmu pengetahuan. Dengan penekanan demikian,
umat
> > yang
> > > > mendalami agama mempunyai wawasan yang luas, tidak arogan
dan
> > terbuka!
> > > >
> > > > Dalil 5.
> > > > Agama bukan jaminan moralitas, kesejahteraan, kedamaian dan
> > keadilan.
> > > > Lihat saja, ada berbagai agama besar di Indonesia, namun
> > persaudaraan,
> > > > perdamaian dan keadilan justru tidak ada. Demikian pula
> korupsi
> > justru
> > > > meraja lela. Para elit (militer, politik dan birokrat), yang
> > notabene
> > > > berpendidikan dan berjabatan tinggi justru merupakan sebab
> utama
> > > > kehancuran bangsa Indonesia. Yang diatas rajin korupsi namun
> bebas
> > dan
> > > > terhormat, yang dibawah: begitu menangkap pencuri ayam
langsung
> > > > dibakar begitu saja! Di Amerika Latin yang didominasi agama
> > Katholik,
> > > > seperti Meksiko, Brasil, Argentina, dan Colombia, juga
> didominasi
> > > > kekerasan dan korupsi, demikian pula Pilipina. Di Timur
Tengah
> > > > (negara2 Arab), Pakistan, Aljasair, Afganistan, Irak,
> Iran,dst...,
> > > > kekerasan dan pelanggaran HAM luarbiasa. TKW kita di Timur
> Tengah
> > > > menjadi salah satu bukti nyata. Sebaliknya, negara RRC yang
> > komunis
> > > > justru menampilkan kesejahteraan, kedamaian dan keadilan,
> koruptor
> > > > kelas kakap justru tegas ditembak mati. Kesejahteraan yang
> timbul
> > > > dalam agama seringkali hanya terjadi pada para birokrat
> (pemimpin)
> > > > agama itu sendiri. Penegakan hukum lebih menjamin tingginya
> > > > moralitas dan pertumbuhan ekonomi, yang pada akhirnya akan
> > memberikan
> > > > kesejahteraan, kedamaian dan keadilan bagi rakyat.
> > > >
> > > > Dalil 6.
> > > > Agama Harus Menghormati Budaya Setempat.
> > > > Semua agama besar di Indonesia berasal dari luar negeri,
maka
> bias
> > > > budaya pasti ada. Artinya, budaya asing mendompleng agama
akan
> > masuk
> > > > dan mempengaruhi budaya lokal. Alangkah sedihnya kita,
apabila
> di
> > > > Malioboro, seorang menyapa dengan Amitaba .... (Budha, bhs.
> Cina),
> > lalu
> > > > dijawab yang lainnya dengan Assalam ...... (Islam, bhs.
Arab),
> > kemudian
> > > > ada lagi yang menyahut Syallom ..... (Kristen, bhs. Yahudi),
> tak
> > > > ketinggalan ada yang berkata Hong wilaheng .... (Hindu, bhs.
> > Hindi);
> > > > kemudian ada yang menjawab secara rasional, sopan dan
> nasionalis:
> > > > Selamat Siang. Demikian pula dengan budaya berpakaian,
alangkah
> > > > sedihnya apabila blangkon dan surjan Yogya terdesak oleh
> pakaian
> > Arab
> > > > atau sari India. Memeluk agama asing haruslah tidak boleh
> > mengorbankan
> > > > budaya setempat. Yang paling menakutkan adalah penjiplakan
cara
> > > > berpikir dan berperilaku, misalnya menganggap ilmu
pengetahuan
> dan
> > > > teknologi itu "setan" yang harus dijauhi, dan kekerasan demi
> > pembelaan
> > > > agama, konsep yang salah "right or wrong for my religion"
(sisi
> > > > "wrong" sangat berbahaya bagi kesehatan nurani). Bayangkan
> bila
> > kita
> > > > tidak kritis diberbagai bidang, pinjaman uang (utang) luar
> negeri
> > yang
> > > > bersyarat telah membelit kita, kurs nilai mata uang yang
jauh
> dari
> > > > keadilan telah menjajah kita, dan budaya asing yang
> mendominasi
> > budaya
> > > > kita lewat agama telah menghantui kita, lalu kita mau jadi
> bangsa
> > apa?
> > > >
> > > > Dalil 7.
> > > > Agama mudah diperalat.
> > > > Oleh para elit politik maupun penipu biasa, agama sering
> > diperalat.
> > > > Kesetiaan dan ketaatan hampir seratus persen kepada Tuhan
> melalui
> > > > agama disalah gunakan oleh 'manusia cerdas tapi jahat'.
Antara
> > Agama
> > > > dan partai politik sudah sulit dibedakan. Antara filsafati
> yang
> > suci
> > > > bersih dan politik yang hitam kelam bercampur baur. Umat
> beragama
> > > > bingung, apakah ia sedang mendengarkan sabda Tuhan atau
orasi
> > politik
> > > > yang ulung dari seorang Dai (misalnya Dai sejuta umat), atau
> > apakah ia
> > > > sedang ada di mesjid atau sedang ada di kantor partai
politik?
> > Awas,
> > > > jika para politisi di Jakarta ahli mempolitisir agama,
apalagi
> > para
> > > > pakar politik Barat yang bagaimanapun kita harus akui
> > > > kualitasnya lebih unggul daripada para politisi kita, mereka
> pasti
> > > > juga ikut dan lebih pandai menggunakan jurus politisasi
agama.
> > Dengan
> > > > politisasi agama, kasih sayang dimanipulasi menjadi
kekerasan
> dan
> > > > bahkan pembunuhan, dan bangsa ini akan terjebak dan dibuat
> sibuk
> > > > mengurusi hal2 yang tidak penting (biarkan masyarakat
beragama
> > > > sendiri), sedangkan para politisi dari negara modern
> (pemerintah
> > > > asing) bebas dan sibuk 'mencuri' kekayaan alam kita yang
luar
> > biasa
> > > > kayanya. Lihatlah fakta kekerasan dan pembunuhan di negara2
> yang
> > > > agamis seperti: Colombia, Argentina, Aljasair, Afganistan,
> > Pilipina,
> > > > Indonesia, Bosnia, Yugoslavia, dst. Kasus penyerbuan Amerika
ke
> > > > Taliban, dipakai oleh regim ORBA untuk mengalihkan perhatian
> > bangsa
> > > > kepada hal lain yang tidak banyak manfaatnya atau justru
> merugikan
> > > > negara! Seandainya saja, kesetiakawanan umat Islam
> dipergunakan
> > untuk
> > > > hal yang baik dan nasionalis, misalnya saja jihad melawan
KKN,
> > > > pelanggaran HAM dan mafia peradilan, hasilnya akan bukan
main!
> > > > Indonesia akan maju pesat sekali; sayang sekali, tongkat
> komando
> > agama
> > > > Islam saat ini masih ditangan orang2 Regim Orde Baru!
Sehingga
> > > > kesetiaan umat terhadap Tuhan justru disalah gunakan untuk
adu
> > domba,
> > > > pengalihan perhatian dan pembodohan bangsa! Didalam negeri
> sendiri
> > > > sudah begitu banyak masalah (macetnya agenda Reformasi),
tapi
> > justru
> > > > masih dicarikan penyakit baru yaitu dengan melibatkan diri
> > kepersoalan
> > > > luar negeri yang kurang relevan! Inilah keculasan manusia2
> Orde
> > Baru,
> > > > demi keselamatan regim dari segala tuntutan dahsyat bangsa
atas
> > > > tindakan selama 32 tahun, mereka rela membodohi bangsanya
> sendiri!
> > > > Dinegara yang patuh hukum, para pelaku regim ORBA ini
pastilah
> > sudah
> > > > mengalami hukuman yang sangat berat dan setimpal, banyak
dari
> > mereka
> > > > yang pantas untuk mendapat hukuman mati. Namun saat ini,
> mereka
> > masih
> > > > dihormati justru oleh para dosen, pakar, mahasiswa,
jurnalis,
> dan
> > kaum
> > > > agamawan. Aneh bin ajaib!
> > > >
> > > > Dalil 8.
> > > > Agama dapat menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi
> > (IPTEK).
> > > > Lihatlah sejarah Eropa diabad 17 an. Agama Katholik saat itu
> > sering
> > > > menghukum ilmuwan, dengan alasan ilmuwan itu membuat
> pernyataan
> > yang
> > > > dianggap bertentangan dengan isi Injil. Ilmuwan besar yang
> > dikucilkan
> > > > antara lain adalah Copernicus dan Darwin. Pada abad itu
ketika
> > agama
> > > > Katholik begitu dominan, Eropa justru mengalami jaman
> kegelapan.
> > > > Sekarang, lihatlah perbedaan antara negara Amerika Latin
(yang
> > dominan
> > > > agamanya) dan USA serta Kanada (yang dominan
> religiositasnya) .
> > Sangat
> > > > kontras sekali, misalnya saja antara USA dan Meksiko yang
> > berbatasan.
> > > > USA sangat modern, makmur, tentram, sebaliknya Meksiko,
> padahal
> > mereka
> > > > sama2 pendatang dari Eropa. Negara-negara Islam juga sama
saja,
> > > > katakan saja Turki (Bosnia, Albania) adalah negara Islam
paling
> > > > modern, ternyata masih jauh dibelakang negara2 Eropa dalam
> IPTEK
> > dan
> > > > kemakmuran. Selama pemahaman agama itu masih sempit
(fanatisme
> > agama,
> > > > bukan religiositas) , maka selama itu pula negara akan
> terjebak
> > dalam
> > > > hiruk pikuk eforia agama.
> > > > Bandingkan pula dengan pemahaman demokrasi kita, yang baru
> tarap
> > > > belajar dan eforia, dengan negara2 Eropa/USA. Kita juga
dibuat
> > > > tercengang dengan para ilmuwan negara komunis, misal RRC,
> mereka
> > maju
> > > > pesat, lihat negara kita dibanjiri otomotif produk mereka.
> Berapa
> > ribu
> > > > jam belajar yang sudah dihabiskan oleh anak-anak SD untuk
> > "menghapal"
> > > > hal yang belum saatnya dipelajari (agama asing beserta
bahasa
> dan
> > > > budayanya)? Bukankah anak2 itu ibarat di "brain washing"
> sehingga
> > daya
> > > > kreativitas dan daya saing mereka untuk tingkat dunia
menjadi
> > rendah
> > > > sekali. Hasilnya apa? Toh mirip P4, PMP, dst. Sementara itu,
> > setelah
> > > > SD, kita harus menghabiskan sekian ribu jam pelajaran lagi
> untuk
> > > > belajar dan mengejar ketertinggalan dalam bahasa Inggris,
lalu
> > kapan
> > > > SDM kita bisa maju kalau kita tidak effisien dalam
menggunakan
> > waktu
> > > > dalam pendidikan?
> > > >
> > > > Dalil 9.
> > > > Semakin udara suatu bangsa penuh polusi doa puja-puji kepada
> > Tuhan,
> > > > semakin rusak moral bangsa itu.
> > > > Kalau kita amati, seringkali tembok-tembok ditulisi: Ngebut,
> > benjut;
> > > > Yang Kencing disini hanyalah anjing; Daerah bebas narkotik;
> > Dilarang
> > > > buang sampah disini; dst... Dinegara maju yang masyarakatnya
> sudah
> > > > mencapai religiositas, tulisan2 berisi ancaman dan aturan
kasar
> > > > semacam itu sudah tidak ada lagi, sebab aturan itu sudah
> tertulis
> > > > dihati sanubari mereka semenjak dini/kecil, yaitu melalui
> > pendidikan
> > > > budi pekerti. Begitu pula dengan masalah agama, semakin bumi
> > nusantara
> > > > ini dipenuhi polusi suara yang keras dan
> > > > hingar bingar tentang agama (Tabliq Aqbar, istigotsah, azan
> > masjid,
> > > > koor gereja, dsb.), semakin menandakan bahwa masyarakatnya
> masih
> > > > sekedar pandai berdoa, sekedar bosa-basi agama, namun tidak
> pandai
> > > > melaksanakan ajaran agama. Siang maling atau korupsi,
> > > > malam meditasi atau berdoa. Ucapan dan tindakan sangat
kontras
> > > > berbeda. Lihatlah kelihaian para politisi Orde Baru dalam
ber
> > "agama",
> > > > kemudian lihatlah "track record" mereka. Alhamdulilah,
seratus
> > delapan
> > > > puluh derajat bedanya! Dapat kita katakan, apa yang terjadi
di
> > > > Indonesia adalah pelecehan agama, bukan penghormatan agama,
> > apalagi
> > > > pengamalan agama! Pelecehan agama akan menyebabkan
kehancuran
> > moral
> > > > suatu bangsa (Tuhan menurunkan hukum Nya!).
> > > >
> > > > Dalil 10
> > > > Agama dapat melunakan hukum negara melalui persepsi yang
salah.
> > > > Dalam agama Islam dikenal konsep pengampunan total terhadap
> dosa2
> > > > manusia oleh Tuhan dalam event2 tertentu, misalnya dibulan
> > pengampunan
> > > > "Ramadhan" atau saat2 naik Haji ke Mekah, demikian pula
dalam
> > agama
> > > > Nasrani dikenal konsep pengampunan total terhadap dosa2
> manusia
> > oleh
> > > > Tuhan asal percaya kepada Yesus Kristus. Dengan sifatNya
yang
> > "Maha
> > > > Pengasih dan Penyayang" (perhatikan kata Maha), maka bagi
> Tuhan
> > itu
> > > > memang mungkin.. Namun hal ini sering disalah gunakan oleh
para
> > > > koruptor, pelanggar HAM, elit politik dan birokrat. Agama
bagi
> > mereka
> > > > menjadi sarang persembunyian yang enak dan nyaman (kasus
> islah),
> > > > apalagi apabila sekian persen dari hasil kejahatan mereka,
> lalu
> > mereka
> > > > sumbangkan untuk membangun masjid, gereja dan rumah yatim
> piatu
> > (model
> > > > Robin Hood), dengan demikian walau bandit mereka tetap
> dihormati
> > oleh
> > > > umat setempat. Ulama, pastor dan pendeta harus menandaskan
> bahwa
> > > > kejahatan manusia juga harus dipertanggung jawabkan didepan
> > manusia
> > > > (pengadilan) , jadi tidak hanya vertikal melainkan
> horisontalpun
> > > > penting! Ulama, pastor dan pendeta harus rajin ke DPR,
> Kejagung,
> > > > presiden , dst., dalam hal membela kebenaran/moral, tanpa
harus
> > > > berpolitik praktis, mereka harus merasa malu dengan daya
juang
> > para
> > > > mahasiswa/LSM dalam hal pembelaan moral dan kebenaran!
Mereka,
> > para
> > > > agamawan, juga harus malu kepada seorang wanita ceking yang
> gigih
> > > > membela manusia melarat dan
> > > > tertindas, yang bernama Wardah Hafidz, yang tidak takut
> > mengorbankan
> > > > keamanan hidupnya! Mana ada ulama, pastur, pendeta atau
biksu,
> > yang
> > > > turun tangan membela tukang becak, pnjual asongan, dst.,
> secara
> > nyata?
> > > > Mana ada dari mereka yang menuntut tuntasnya kasus BLBI,
> Trisakti,
> > > > Priok, KKN, uang hibah haram, dst.?
> > > >
> > > > Dalil 11.
> > > > Tuhan itu demokratis, sedangkan agama seringkali otoriter.
> > > > Tuhan tidak melarang manusia untuk tidak beragama, karena
Tuhan
> > > > sendiri pada dasarnya tidak beragama. Tuhan mengharapkan
agar
> > manusia
> > > > mencapai pemahaman tertinggi yang disebut religiositas
melalui
> > > > berbagai sarana seperti agama, "agama lokal" (misal
Kejawen),
> dan
> > ilmu
> > > > pengetahuan. Keotoriteran agama nampak pada keinginan mau
> > menangnya
> > > > sendiri seperti melarang berbagai hal yang tidak sepaham dan
> ingin
> > > > menjadi anak emas dinegara yang majemuk/pluralis!
> > > >
> > > > Penutup
> > > > Agama itu penting, namun bukan segala-galanya. Belajar agama
> harus
> > > > sampai mencapai tingkat tertinggi yaitu religiositas.
> Keterbatasan
> > > > agama (iman/keyakinan) yang inherent harus diimbangi dengan
> > > > perkembangan IQ dan EQ. Semua agama, berasal dari negara
> asing,
> > maka
> > > > kita wajib waspada dan bisa memilahkan antara ajaran agama
dan
> > budaya.
> > > > Kita janganlah dibiasakan meniru adat istiadat, pakaian,
> budaya,
> > > > apalagi cara pikir atau bahkan kekerasan yang mendompleng
agama
> > > > (melalui politik praktis). Manusia yang sudah mencapai
derajat
> > > > Religiositas yang tinggi, sudah tidak lagi mementingkan
> wadahnya
> > yaitu
> > > > agama, melainkan lebih mementingkan isi (intisari/makna)
suatu
> > ajaran
> > > > agama, sehingga ia menjadi manusia bebas merdeka yang tidak
> > > > tersekat-sekat lagi. Berbahagialah orang yang tidak beragama
> namun
> > > > mempunyai religiositas yang tinggi, sebab ia akan bebas
> merdeka
> > dimana
> > > > saja, kapan saja, dilingkungan apa saja, dan Tuhan selalu
> > menyertai
> > > > dia! Tingkat pemahaman agama di Indonesia, seperti juga
dalam
> hal
> > > > demokrasi, masih dalam tingkatan rendah sekali, masih tahapan
> > > > eforia/kulit, seperti Eropa abad 17 an, oleh sebab itu, mari
> kita
> > > > perbaiki bersama!
> > > >
> > > > Akhir kata, marilah beragama secara baik, santun, sehat,
> rasional
> > dan
> > > > berwawasan luas, sebab agama sangat mempengaruhi budaya,
> budaya
> > sangat
> > > > mempengaruhi pola-pikir dan tindak tanduk suatu bangsa!
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > >
> >
>
>
>
>
> Berselancar lebih cepat dan lebih cerdas dengan Firefox 3
> http://downloads.yahoo.com/id/firefox/
>
------------------------------------
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:bali-bali-digest@yahoogroups.com
mailto:bali-bali-fullfeatured@yahoogroups.com
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
bali-bali-unsubscribe@yahoogroups.com
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar