Selasa, 03 Februari 2009

[bali-bali] VERSI RAMADHAN 2001: Analisis Mendalam Tentang Agama, Tuhan dan Negara

SEBENARNYA TULISAN Analisis Mendalam Tentang Agama, Tuhan dan Negara
TELAH BEREDAR SEMENJAK 2001. SILAHKAN BANDINGKAN DENGAN YANG BEREDAR
DI BALI-BALI. BERIKUT VERSI REVISINYA YANG DILUNCURKAN BULAN RAMADHAN
2001:

[VIEWS] IBU PERTIWI - Analisis Mendalam ......
From: apakabar@saltmine.radix.net
Date: Sun Nov 18 2001 - 14:53:05 EST

Date: Sat, 17 Nov 2001 20:30:12 -0800 (PST)
From: Ibu Pertiwi <ptw21id@yahoo.com>
Subject: Analisis Mendalam Tentang Agama, Tuhan dan Negara (Revisi)
To: apakabar@radix.net
Cc: indonesian@bbc.co.uk, ranesi@rnd.nl

Analisis Mendalam Tentang Agama, Tuhan dan Negara
(Revisi)

Tulisan ini merupakan edisi revisi dari tulisan yang
sama pada dua bulan yang lalu. Edisi revisi sangat
diperlukan mengingat datangnya bulan Ramadhan dan
perkembangan berbagai kasus diberbagai belahan bumi,
terutama di Indonesia. Para pembaca diminta untuk
rasional, logis dan dewasa dalam membaca artikel yang
sangat mendalam ini. Renungan ini sangat bagus untuk
bahan Tarawih dan berbagai kegiatan pendalaman
keagamaan/filsafati.

Saudaraku sebangsa dan setanah air, siapa yang tidak
risau melihat kenyataan yang terjadi di Indonesia. Ada
berbagai agama besar dengan umatnya yang besar
(terutama Islam), namun kasih sayang, kebenaran dan
keadilan malah nyaris tidak ada. Atau justru
sebaliknya, kekerasan, kerusuhan, pembunuhan, ketidak
adilan, hibah harta haram, korupsi dan berbagai
pelanggaran HAM malah terjadi di Indonesia, dan
barangkali hal ini mencapai index prestasi nomor wahid
didunia. Demikian pula yang terjadi dengan di negara2
yang kental sekali agamanya, seperti negara2 Amerika
Latin (Colombia, Argentina, Bolivia), Philipina (jaman
Marcos), negara2 Timur Tengah, Pakistan, Aljasair,
Afganistan, dst. Apanya yang salah, agama atau cara
beragama? Berikut ini adalah butir2 analisis yang
sangat mendalam tentang Agama, Tuhan, dan Bangsa
(dalam bentuk dalil2 yang tidak beku/statis, silahkan
dikembangkan).

Dalil 1.
Tuhan itu tidak beragama, jadi Ia berlaku adil bagi
semua manusia. Agama adalah sekedar sarana untuk
mengenalkan Tuhan, namun Tuhan sendiri tidak beragama.

Dalil 2.
Agama mempunyai keterbatasan yang cukup mencolok
seperti disebutkan dalam kitab-kitab suci Al- Quran
dan Injil. Misal dalam Al-Quran ditandaskan bahwa
apabila semua ajaran Allah SWT dituliskan, maka tinta
sebanyak samudera rayapun tidak akan mencukupi.
Demikian pula dengan Injil yang menandaskan apabila
semua ajaran Isa Almasih dituliskan maka buku setebal
gunungpun tidak akan bisa memuat. Ke "Mahabesaran
Tuhan" tidak mungkin cukup diwadahi dalam buku setebal
kitab suci. Ke "Mahabesaran Tuhan" juga tercermin pada
luas dan dalamnya ilmu pengetahuan. Dengan terbatasnya
kitab suci, ini berarti umat beragama diminta untuk
lebih banyak belajar ilmu beserta kebenarannya diluar
kitab suci masing2 agama (jadi isi masing2 kitab suci
ternyata hanya sedikit sekali!). Dengan banyak belajar
diluar kitabsuci, diharapkan IQ, EQ dan Iman terus
berkembang sejajar, tidak timpang, dan tidak fanatik.
Bila orang hanya dalam pada sisi "Iman" saja, maka ia
mudah diperalat oleh para politisi.

Dalil 3.
Pencapaian puncak pemahaman agama adalah religiositas.
Ibarat kuliah, ini adalah Philosophy Degree atau gelar
Doktor. Setelah bergelar Doktor, maka ilmu lebih
penting daripada almamaternya. Kalau baru taraf
kuliah, seorang mahasiswa masih suka memamerkan
identitas2 universitasnya. Demikian pula dengan agama,
Tuhan dengan sifat dasar Nya ("Maha Pengasih dan
Penyayang") menjadi lebih penting daripada agama itu
sendiri, atau bahkan agama menjadi tidak perlu lagi.
Jadi, kalau sudah mumpuni keagamaan seseorang, bukan
agamanya yang penting, melainkan religiositasnya yang
amat sangat penting. Ia tidak lagi tersekat-sekat oleh
kotak sempit yang disebut agama. Religiositas
setingkat lebih atas daripada agama. Religiositas
dapat diperoleh tanpa melalui agama. Salah satu
definisi umum tentang religiositas adalah sbb.: sikap
hatinurani, batin dan pikiran manusia yang selalu
diarahkan kepada perbuatan baik, kasih sayang,
kebenaran dan keadilan.

Dalil 4.
Agama adalah sesuatu yang abstrak dan sulit dicerna,
oleh sebab itu sebaiknya tidak diberikan kepada
anak-anak yang belum dewasa (disekolah dasar), apalagi
dipaksakan sebagai pendidikan agama (ini pelanggaran
HAM, agama adalah kebebasan untuk memilih); kalau
sebagai pengajaran tentang berbagai agama, ini penting
dan perlu diajarkan (misalnya keanekaragaman agama
beserta ciri mereka masing2). Sebaiknya agama sebagai
pendidikan (untuk menarik pengikut baru) diberikan
kepada manusia dewasa, waktu kecil cukup diberikan
budi pekerti. Kalau sejak kecil sudah dicuci otak
dengan agama, maka hasilnya mirip Indonesia saat ini.
Bukan kekeluargaan atau kasih sayang melainkan
kecurigaan, 'keterkotakan' (SARA) dan bahkan kekerasan
yang justru muncul. Dinegara modern seperi USA,
Jepang, Korsel, Taiwan, Inggris, Australia, dst. agama
memang tidak boleh diberikan pada anak2 SD sebagai
pendidikan(kecuali sekolah yang berafiliasi dengan
agama tertentu), namun sebagai pengajaran (transfer of
knowledge) yang mengajarkan berbagai agama beserta
karakteristiknya diperbolehkan, pendidikan agama
adalah merupakan tanggung jawab orang tua. Untuk anak,
yang lebih baik dan lebih penting adalah budi pekerti.
Budi pekerti mengajarkan sopan-santun, taat hukum,
keadilan dan hidup bersosial secara baik. Benarkah dan
pernahkah Nabi Muhammad SAW dan Nabi Isa mengarahkan
agama kepada anak2? Tidak kan? Oleh sebab itu,
kasihanilah para anak2 dengan tidak membebani otak
mereka kepada pengetahuan yang belum saatnya; dan yang
lebih penting dan mendasar: agama syarat dengan dogma2
yang beku, bila diajarkan secara kurang tepat justru
akan membelenggu kecerdasan anak2, bahkan justru anak2
akan mulai terkotak-kotak sejak dini! Masih ingin
bukti? Lihatlah prestasi masyarakat RRC yang komunis,
ternyata lebih religius, tidak main membunuh orang
(maling ayam dan pencopet), prestasi olahraga dan
IPTEK nya hebat, pemerintahnya bisa menghidupi 1,2
milyar (lima kali penduduk kita), berani menghukum
mati para pelaku KKN, dst. Kemudian, tentang kualitas
pendidikan, Indonesia berada dibawah Vietnam (yang
komunis). Pendidikan dan pengajaran agama harus
disertai penekanan tentang: a) keterbatasan agama,
b)sejarah hitam agama (misal: Katholik diabad 17 yang
membuat Eropa mundur, dan Islam, bila tidak hati2,
diabad ini bisa mengalami hal yang serupa dengan
Katholik diabad 17), c) semua agama besar pernah
mengalami pasang surut dalam sejarah (Budha, Hindu,
Kristen, dan kelihatannya Islam akan segera menyusul);
d) penekanan cita2 pemahaman tertinggi agama yang
disebut religiositas, dan e) penekanan kemungkinan
penyalah gunaan agama untuk politik! Agama juga selalu
jauh tertinggal (terbirit-birit) dalam perkembangannya
dibandingkan ilmu pengetahuan. Dengan penekanan
demikian, umat yang mendalami agama mempunyai wawasan
yang luas, tidak arogan dan terbuka!

Dalil 5.
Agama bukan jaminan moralitas, kesejahteraan,
kedamaian dan keadilan.
Lihat saja, ada berbagai agama besar di Indonesia,
namun persaudaraan, perdamaian dan keadilan justru
tidak ada. Demikian pula korupsi justru meraja lela.
Para elit (militer, politik dan birokrat), yang
notabene berpendidikan dan berjabatan tinggi justru
merupakan sebab utama kehancuran bangsa Indonesia.
Yang diatas rajin korupsi namun bebas dan terhormat,
yang dibawah: begitu menangkap pencuri ayam langsung
dibakar begitu saja! Di Amerika Latin yang didominasi
agama Katholik, seperti Meksiko, Brasil, Argentina,
dan Colombia, juga didominasi kekerasan dan korupsi,
demikian pula Pilipina. Di Timur Tengah (negara2
Arab), Pakistan, Aljasair, Afganistan, Irak,
Iran,dst..., kekerasan dan pelanggaran HAM luarbiasa.
TKW kita di Timur Tengah menjadi salah satu bukti
nyata. Sebaliknya, negara RRC yang komunis justru
menampilkan kesejahteraan, kedamaian dan keadilan,
koruptor kelas kakap justru tegas ditembak mati.
Kesejahteraan yang timbul dalam agama seringkali hanya
terjadi pada para politisi dan birokrat (pemimpin)
agama itu sendiri. Penegakan hukum negara lebih
menjamin tingginya moralitas dan pertumbuhan ekonomi,
yang pada akhirnya akan memberikan kesejahteraan,
kedamaian dan keadilan bagi rakyat.

Dalil 6. Agama Harus Menghormati Budaya Setempat.
Semua agama besar di Indonesia berasal dari luar
negeri, maka bias budaya pasti ada. Artinya, budaya
asing mendompleng agama akan masuk dan mempengaruhi
budaya lokal. Alangkah sedihnya kita, apabila di
Malioboro, seorang menyapa dengan Amitaba ... (Budha,
bhs. Cina), lalu dijawab yang lainnya dengan Assalam
..... (Islam, bhs. Arab), kemudian ada lagi yang
menyahut Syallom .... (Kristen, bhs. Yahudi), tak
ketinggalan ada yang berkata Hong wilaheng ....
(Hindu, bhs. Hindi); kemudian ada yang menjawab secara
rasional, sopan dan nasionalis: Selamat Siang.
Demikian pula dengan budaya berpakaian, alangkah
sedihnya apabila blangkon dan surjan Yogya terdesak
oleh pakaian Arab atau sari India. Memeluk agama asing
haruslah tidak boleh mengorbankan budaya setempat.
Yang paling menakutkan adalah penjiplakan cara
berpikir dan berperilaku, misalnya menganggap ilmu
pengetahuan dan teknologi itu "setan" yang harus
dijauhi, dan kekerasan demi pembelaan agama, konsep
yang salah "right or wrong for my religion" (sisi
"wrong" sangat berbahaya bagi kesehatan nurani).
Bayangkan bila kita tidak kritis diberbagai bidang,
pinjaman uang (utang) luar negeri yang bersyarat telah
membelit kita, kurs nilai mata uang yang jauh dari
keadilan telah menjajah kita, dan budaya asing yang
mendominasi budaya kita lewat agama telah mencekam
kita, lalu kita mau jadi bangsa apa?

Dalil 7.
Agama mudah diperalat.
Oleh para elit politik maupun penipu biasa, agama
sering diperalat. Kesetiaan dan ketaatan hampir
seratus persen kepada Tuhan melalui agama disalah
gunakan oleh 'manusia cerdas tapi jahat'. Antara
Agama, idiologi dan partai politik sudah sulit
dibedakan. Antara filsafati yang suci bersih dan
politik yang hitam kelam bercampur baur. Umat beragama
bingung, apakah ia sedang mendengarkan sabda Tuhan
atau orasi politik yang ulung dari seorang Dai
(misalnya Dai sejuta umat), atau apakah ia sedang ada
di mesjid atau sedang ada di kantor partai politik?
Awas, jika para politisi di Jakarta ahli mempolitisir
agama, apalagi para pakar politik Barat yang
bagaimanapun kita harus akui kualitasnya lebih unggul
daripada para politisi kita, mereka pasti juga ikut
dan lebih pandai menggunakan jurus politisasi agama.
Dengan politisasi agama, kasih sayang dimanipulasi
menjadi kekerasan dan bahkan pembunuhan; lewat
politisasi agama, bangsa ini akan terjebak dan dibuat
sibuk mengurusi hal2 yang tidak penting (biarkan
masyarakat beragama sendiri), sementara itu para
politisi dari negara modern (pemerintah asing) dengan
bebas sibuk 'mencuri' kekayaan alam kita yang luar
biasa kayanya. Lihatlah fakta kekerasan dan pembunuhan
di negara2 yang agamis seperti: Colombia, Argentina,
Aljasair, Afganistan, Pilipina, Indonesia, Bosnia,
Yugoslavia, dst. Di Indonesia, jendral Soeharto
beserta para jendral TNI AD telah memprovokasi massa
NU (umat Islam) untuk membantai ratusan ribu massa PKI
di desa2 ditahun 1965, ini untuk menutupi coup detat
angkatan darat; pada kerusuhan/tragedi Mei 1988,
kembali jendral Soeharto beserta para jendral TNI AD
telah menggunakan kedok Islam untuk pembantaian umat
Tionghoa di Jakarta dan Solo demi menyelamatkan regim
Orde Baru, ingat seminggu sebelum kerusuhan tsb., para
provokator telah diinstruksikan untuk menulisi rumah2
penduduk dengan kata2 SARA yaitu:"Milik Pribumi
Muslim". Dengan demikian, siapa yang menentang
kekerasan dan kerusuhan ini akan dilawankan dengan
agama Islam. Hal yang serupa juga terjadi di
Kalimantan Barat dan Maluku, para politisi Jakarta
"menyabung ayam" (maaf, adu domba manusia) dengan alat
sederhana yaitu agama. Kasus terakhir yang menarik
adalah para pensiunan jendral AD, pengabdi setia
Soeharto, sekaligus pelanggar HAM berat seperti
Wiranto, Hartono, Feisal Tanjung, beramai-ramai
mendirikan ormas bernafaskan Islam; sungguh cerdik
mereka, sembunyi ditempat yang suci! Demikian pula
Akbar Tanjung dalam kasus dana Bulog sebesar 40
milyar, ia gunakan lembaga Islam yang bernama Yayasan
Rudlatul Jannah untuk sembunyi tangan. Demikian pula
penggunaan istilah2 Islam seperti islah dan hibah
untuk memelintir hukum. Sangat memprihatinkan bahwa
berbagai kerusuhan di Indonesia justru diawali dari
kumpul2 kegiatan keagamaan, misalnya sholat Jum'atan,
Tabliq Akbar ataupun Istigozah, suatu paradoxial yang
maha luar biasa! Pada tingkat internasional, Osama Bin
Laden menyembunyikan kekejamannya (terorisme)
dibelakang topeng Islam. Islam akan dilawankan dengan
cendekiawan Barat, tentu saja para cendekiawan Barat
tak dapat dikecoh dengan tipu muslihat picisan dan
rendahan semacam ini; sayang sekali justru umat Islam
dinegara berkembang yang malah terkecoh, mereka
mengangkat teroris (Osama BL) menjadi pahlawan bahkan
seperti Nabi! Di Indonesia, pelurusan sejarah 1965 dan
penegakan hukumpun menjadi sulit, mengingat hambatan
para ulama dan cendekiawan Islam yang sebagian besar
telah "terbeli" oleh regim Orde Baru melalui money
politics, sehingga mata hati mereka telah buta dan
telinga mereka telah budeg tuli akan kebenaran. Dengan
berbagai peristiwa ini, citra Islam dimata umatnya dan
umat agama lain menjadi sangat terpuruk! Seolah-olah
agama Islam adalah tempat persembunyian yang paling
aman dan nyaman bagi koruptor, pelanggar HAM kelas
berat, bahkan terorist internasional! Bukan itu saja,
agama Islam dijadikan sarana politik untuk mencapai
tujuan yang menghalalkan segala cara, terutama melalui
kekerasan, intimidasi, kerusuhan bahkan pembunuhan.
Semua kejahatan lalu berlindung dibelakang Islam,
siapa berani mengungkapkan kerusuhan dan kejahatan ini
akan dilawankan Islam. Seandainya saja, kesetiakawanan
umat Islam dipergunakan untuk hal yang baik, positip,
konstruktip dan nasionalis, misalnya saja jihad
melawan KKN, pelanggaran HAM dan mafia peradilan,
hibah harta haram, dst,. maka hasilnya akan bukan
main, yakni Indonesia akan maju pesat sekali; sayang
sekali, tongkat komando agama Islam saat ini masih
ditangan orang2 Regim Orde Baru, sementara itu para
pemikir dan tokoh Islam di Indonesia yang disegani
seperti Cak Nur, Hamengku Buwono, Emha, Gus Dur,
Wimar, Karlina Leksono, M. Sobari, Rendra, para Rektor
Universitas, dsb., diam saja! Dengan demikian,
kesetiaan umat terhadap Tuhan justru disalah gunakan
untuk adu domba, pengalihan perhatian dari kasus berat
dan pembodohan bangsa! Misalnya, kasus penyerbuan
Amerika ke Taliban yang dipakai oleh regim ORBA untuk
mengalihkan perhatian bangsa kepada hal lain yang
tidak banyak manfaatnya atau justru merugikan negara!
Didalam negeri sendiri sudah begitu banyak masalah
(macetnya agenda Reformasi), tapi justru masih
dicarikan penyakit baru yaitu dengan melibatkan diri
kepersoalan luar negeri yang kurang relevan! Inilah
keculasan manusia2 Orde Baru, demi keselamatan regim
dari segala tuntutan maha dahsyat bangsa atas
tindakannya selama 32 tahun, mereka rela membodohi
bangsanya sendiri! Dinegara yang patuh hukum, para
pelaku regim ORBA ini pastilah sudah mengalami hukuman
yang sangat berat dan setimpal, banyak dari mereka
yang sebenarnya pantas untuk mendapat hukuman mati.
Namun saat ini, mereka masih dihormati justru oleh
para dosen, pakar, mahasiswa, jurnalis, dan kaum
agamawan. Aneh bin ajaib!

Dalil 8.
Agama dapat menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi (IPTEK).
Lihatlah sejarah Eropa diabad 17 an. Agama Katholik
saat itu sering menghukum ilmuwan, dengan alasan
ilmuwan itu membuat pernyataan yang dianggap
bertentangan dengan isi Injil. Ilmuwan besar yang
dikucilkan antara lain adalah Copernicus dan Darwin.
Pada abad itu ketika agama Katholik begitu dominan,
Eropa justru mengalami jaman kegelapan. Contoh lain,
lihatlah perbedaan antara negara Amerika Latin (yang
dominan agamanya) dan USA serta Kanada (yang dominan
religiositasnya). Sangat kontras sekali, misalnya saja
antara USA dan Meksiko yang berbatasan. USA sangat
modern, makmur, tentram, sebaliknya Meksiko, padahal
mereka sama2 pendatang dari Eropa. Negara-negara Islam
juga sama saja, katakan saja Turki (Bosnia, Albania)
adalah negara Islam paling modern, ternyata masih jauh
dibelakang negara2 Eropa dalam IPTEK dan kemakmuran.
Selama pemahaman agama itu masih sempit (fanatisme
agama, bukan religiositas), maka selama itu pula
negara akan terjebak dalam hiruk pikuk eforia agama.
Bandingkan pula dengan pemahaman demokrasi kita, yang
baru tarap belajar dan eforia, dengan negara2
Eropa/USA. Kita juga dibuat tercengang dengan para
ilmuwan negara komunis, misal RRC, mereka maju pesat,
lihat negara kita dibanjiri otomotif produk mereka.
Berapa ribu jam belajar yang sudah dihabiskan oleh
anak-anak SD untuk "menghapal" hal yang belum saatnya
dipelajari (agama asing beserta bahasa dan budayanya)?
Bukankah anak2 itu ibarat di "brain washing" sehingga
daya kreativitas dan daya saing mereka untuk tingkat
dunia menjadi rendah sekali. Hasilnya apa? Toh mirip
P4, PMP, dst. Sementara itu, setelah SD, kita harus
menghabiskan sekian ribu jam pelajaran lagi untuk
belajar dan mengejar ketertinggalan dalam bahasa
Inggris, lalu kapan SDM kita bisa maju kalau kita
tidak effisien dalam menggunakan waktu dalam
pendidikan? Dinegara maju, asosiasi keilmuan sangat
maju, pertemuan mingguan keilmuan sangat intens sampai
ditingkat kelurahan; sebaliknya di masyarakat kita,
bila ada undangan2 mingguan warga, maka dapat ditebak,
undangan2 itu terbatas pada kumpul2 pendalaman ayat2
suci yang mirip brain washing dogma2 agama yang beku.
Coba renungkan juga pernyataan seorang mahasiswa PhD
dari Malaysia keturunan Cina: "Biarkan saja,
masyarakat pribumi Malaysia yang Muslim (para
ulamanya) mengenakan berbagai hukum2 ketat agamanya;
semakin ketat semakin baik, sebab menguntungkan bagi
kita (Cina). Biarkan mereka mengikat kaki-tangan
mereka sendiri dengan tali temali "agama", sehingga
mereka menjadi semakin sulit bergerak dan bernapas,
sementara itu kita (Cina) bebas merdeka! (sebagai
contoh, kasus perbankan versi Islam, sangat
menguntungkan Cina Malaysia, etnik Cina sangat dominan
dalam bidang ekonomi di Malaysia)." Tuhan
menginginkan agar manusia ciptaan Nya dapat mengolah
akal budi mereka setinggi langit dengan tetap
religius, namun agamawan justru seolah-olah ingin
mengerem laju IPTEK. Pemunculan para ulama/kyai/habib
dilayar televisi atau radio yang jauh lebih sering dan
lebih intens ketimbang ilmuwan, pakar dan peneliti,
serta para politisi yang menempatkan ulama/kyai/habib
lebih terhormat daripada ilmuwan, pakar dan peneliti
(demi politisasi agama) tentu saja akan membawa bangsa
Indonesia justru mundur kebelakang, karena hal ini
akan mematikan benih keilmuan suatu bangsa.

Dalil 9.
Semakin udara suatu bangsa penuh polusi doa puja-puji
kepada Tuhan, semakin rusak moral bangsa itu.
Kalau kita amati, seringkali tembok-tembok ditulisi:
Ngebut, benjut; Yang Kencing disini hanyalah anjing;
Daerah bebas narkotik; Dilarang buang sampah disini;
dst... Dinegara maju yang masyarakatnya sudah mencapai
religiositas, tulisan2 berisi ancaman dan aturan kasar
semacam itu sudah tidak ada lagi, sebab aturan itu
sudah tertulis dihati sanubari mereka semenjak
dini/kecil, yaitu melalui pendidikan budi pekerti.
Begitu pula dengan masalah agama, semakin bumi
nusantara ini dipenuhi polusi suara yang keras dan
hingar bingar tentang agama (Tabliq Aqbar, istigotsah,
azan masjid, koor gereja, dsb.), semakin menandakan
bahwa masyarakatnya masih sekedar pandai berdoa,
sekedar bosa-basi agama, namun tidak pandai
melaksanakan ajaran agama. Siang maling atau korupsi,
malam meditasi atau berdoa. Ucapan dan tindakan sangat
kontras berbeda. Dr. Sarlito W. menggunakan istilah
STMJ (bukan Susu Telor Madu Jahe, melainkan Solat
Terus Maksiat juga Jalan Terus). Lihatlah kelihaian
para politisi Orde Baru dalam ber "agama", kemudian
lihatlah "track record" mereka. Alhamdulilah, seratus
delapan puluh derajat bedanya! Dapat kita katakan, apa
yang terjadi di Indonesia adalah pelecehan agama,
bukan penghormatan agama, apalagi pengamalan agama!
Pelecehan agama akan menyebabkan kehancuran moral
suatu bangsa (Tuhan pasti menurunkan hukum Nya!).
Terbukti, Indonesia tak pernah dapat lepas dari
berbagai krisis.

Dalil 10
Agama dapat melunakan moral dan hukum negara melalui
persepsi yang salah.
Dalam agama Islam dikenal konsep pengampunan total
terhadap dosa2 manusia oleh Tuhan dalam event2
tertentu, misalnya dibulan pengampunan "Ramadhan" atau
saat2 naik Haji ke Mekah, demikian pula dalam agama
Nasrani dikenal konsep pengampunan total terhadap
dosa2 manusia oleh Tuhan asal percaya kepada Yesus
Kristus. Dengan sifatNya yang "Maha Pengasih dan
Penyayang" (perhatikan kata Maha), maka bagi Tuhan itu
memang mungkin. Namun hal ini sering disalah gunakan
oleh para koruptor, pelanggar HAM, elit politik bandit
dan birokrat preman. Agama bagi mereka menjadi sarang
persembunyian yang enak dan nyaman (kasus islah dan
hibah), apalagi apabila sekian persen dari hasil
kejahatan mereka, lalu mereka sumbangkan untuk
membangun masjid, gereja, kegiatan sosial, kegiatan
ilmiah, dan rumah yatim piatu (model Robin Hood atau
money laundring), dengan demikian walau bandit mereka
tetap dihormati oleh umat setempat. Ulama, pastor dan
pendeta harus menandaskan bahwa kejahatan manusia juga
harus dipertanggung jawabkan didepan manusia
(pengadilan), jadi tidak hanya vertikal melainkan
horisontalpun penting! Ulama, pastor dan pendeta harus
rajin ke DPR, Kejagung, presiden , dst., dalam hal
membela kebenaran/moral, tanpa harus berpolitik
praktis, mereka harus merasa malu dengan daya juang
para mahasiswa/LSM dalam hal pembelaan moral dan
kebenaran! Mereka, para agamawan, juga harus malu
kepada seorang wanita ceking yang gigih membela
manusia melarat dan tertindas, yang bernama Wardah
Hafidz, yang tidak takut mengorbankan keamanan
hidupnya! Mana ada ulama, pastur, pendeta atau biksu,
yang turun tangan membela tukang becak, pnjual
asongan, dst., secara nyata? Mana ada dari mereka yang
menuntut tuntasnya kasus BLBI, Trisakti, Priok, KKN,
uang hibah haram, dst.? Mereka ini hanya suka memberi
ceramah yang indah2 dan menerima upeti dari umatnya;
dikala rakyat kecil yang tertindas menangis, menjerit
pilu, merintih, dan meminta pertolongan nyata serta
menuntut perjuangan keadilan yang nyata, ternyata
ulama dan pastor justru diam saja atau bahkan berpihak
pada kejahatan/politikus bandit. Saat ini, ulama,
pastur, pendeta, dsb., hanya bagaikan burung yang
indah ocehannya namun hanya terbatas dalam sangkarnya
(masjid/gereja), jadi tidak membumi! Moralitas bangsa
Indonesia sangat ditentukan oleh mereka (plus para
akademisi); jadi kerusakan moral negara mencerminkan
juga kerusakan moral para ulama, pastor dan pendeta
(dan para akademisi). Paling tidak sikap masa bodoh
mereka terhadap kejahatan para kerah putih.

Dalil 11.
Tuhan itu demokratis, sedangkan agama seringkali
otoriter; otoriter agama kadang2 sudah merambah masuk
kearah pelanggaran HAM.
Tuhan tidak melarang manusia untuk tidak beragama,
karena Tuhan sendiri pada dasarnya tidak beragama.
Tuhan mengharapkan agar manusia mencapai pemahaman
tertinggi yang disebut religiositas melalui berbagai
sarana seperti agama, "agama lokal" (misal Kejawen),
dan ilmu pengetahuan. Keotoriteran agama nampak pada
keinginan mau menangnya sendiri seperti melarang
berbagai hal yang tidak sepaham dan ingin menjadi anak
emas dinegara yang majemuk/pluralis! Sweeping buku2
bagus, pelarangan ini itu, memaksa umat agama lain
untuk menghormati dan menghayati kegiatan keagamaan,
pembentukan wadah ulama atau pengkotakan cendekiawan
atas dasar agama serta pengucilan ilmuwan adalah
contoh lain otoritarian agama. Seringkali, otoritarian
agama ini sebenarnya telah berubah menjadi pelanggaran
HAM yang tidak disadari; misalnya suara azan masjid
yang luar biasa kerasnya di keheningan malam/pagi,
dimana manusia yang lelah bekerja sedang enak tertidur
pulas atau seorang yang sakit keras sedang membutuhkan
keheningan, yang kesemuanya itu menjadikan mereka
sangat terganggu privacynya; contoh berikutnya adalah
khotbah yang hingar bingar lewat speaker disiang hari
bolong yang menggelegar bagaikan halilintar, semua
orang disekitar pengkotbah seolah-olah dipaksa untuk
mendengarkan kotbah ulama ini; contoh lain
pelanggaran HAM adalah penanaman ajaran yang salah dan
bodoh kepada umat terutama anak2 yang harus menyapa
siapa saja, kapan saja, dimana saja dengan salam khas
keagamaannya, misalnya Assalam ...., Amitaba ....,
Syallom... Dinegara beradab, kasus demikian tidak
mungkin terjadi. Dengan pelanggaran HAM yang sudah
membudaya dan tanpa disadari ini (seperti juga budaya
korupsi), maka tidak mengherankan kalau pelanggaran
HAM besarpun makin lama makin dirasakan bagaikan
bagian dari kebudayaan, artinya kita tidak terkejut
lagi dengan dibakarnya seorang maling ayam! Pemahaman
dan penghayatan agama menjadi statis dan beku!

Penutup
Agama itu penting, namun bukan segala-galanya. Belajar
agama harus sampai mencapai tingkat tertinggi yaitu
religiositas. Keterbatasan agama (iman/keyakinan) yang
inherent harus diimbangi dengan perkembangan IQ dan
EQ. Semua agama, berasal dari negara asing, maka kita
wajib waspada dan bisa memilahkan antara ajaran agama
dan budaya. Kita janganlah dibiasakan meniru adat
istiadat, pakaian, budaya, apalagi cara pikir atau
bahkan kekerasan yang mendompleng agama (melalui
politik praktis). Manusia yang sudah mencapai derajat
Religiositas yang tinggi, sudah tidak lagi
mementingkan wadahnya yaitu agama, melainkan lebih
mementingkan isi (intisari/makna) suatu ajaran agama,
sehingga ia menjadi manusia bebas merdeka yang tidak
tersekat-sekat lagi. Berbahagialah orang yang tidak
beragama namun mempunyai religiositas yang tinggi,
sebab ia akan bebas merdeka dimana saja, kapan saja,
dilingkungan apa saja! Manusia semacam ini menjadi
bebas merdeka dari kepelikan/kerumitan aturan agama.
Tingkat pemahaman agama di Indonesia, seperti juga
dalam hal demokrasi, masih dalam tingkatan rendah
sekali, masih tahapan eforia/kulit, seperti Eropa abad
17 an, oleh sebab itu, mari kita perbaiki bersama!
Indonesia sebaiknya menjadi pusat pengembangan agama
Islam, bukan sekedar membebek negara2 Arab (asal agama
Islam) sebagaimana agama Kristen di export dan
dikembangkan di benua Eropa!

Negara2 maju seperti Jepang, Singapore, Korsel,
Inggris, Perancis, Jerman, USA, Kanada, Australia,
dst., dapat mencapai tingkat kepandaian, kemakmuran,
keamanan, keadilan, keteraturan, setelah mereka dapat
melepaskan diri dari pengaruh agama. Artinya, dinegara
modern seperti mereka itu, kaum agamawannya (yang
dogmatis beku) jumlahnya sudah kalah jauh dengan kaum
cendekiawan yang religius (sekitar satu banding
sepuluh). Dinegara modern, hiruk pikuk keagamaan sudah
tidak ada lagi, agama adalah urusan individu. Dan
karena memahami akan keterbatasan kitab suci milik
agama, maka agama menjadi bukan segala-galanya. Buku
yang bagus dan best seller dunia yang berjudul Runaway
World oleh Anthony Giddens (diterjemahkan oleh
Gramedia), dalam pembukaanya mengatakan: perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi serta pemikiran
rasional berasal dari abad Pencerahan (Enlightenment)
pada abad 17 dan 18 di Eropa adalah berhasil, setelah
para pemikir Barat berhasil melepaskan diri dari
belenggu dogma2 agama yang beku dan kaku, dan
menggantikannya dengan akal budi dalam kehidupan
praktis. Jadi Eropa bangkit setelah memahami
keterbatasan agama dan memilih menjadi manusia yang
rasional, cerdas namun religius.

Penulis mengharapkan agar artikel ini menjadi bahan
renungan yang mendalam, diskusi atau topik seminar
yang menarik, oleh sebab itu mohon diteruskan/forward
kepada segenap masyarakat yang kiranya sangat
memerlukannya (lewat newsgroup/mailing list, atau
diprint lalu dikirimkan sebagai surat berangkai lewat
pos, tak perlu diberi alamat pengirim, terutama kepada
para politisi, pemuka agama atau kaum fanatikus).
Selain dikirimkan secara pribadi lewat email, artikel
ini juga dikirimkan ke TVRI, BBC, RANESI, Radio FM,
anggota DPR, universitas, situs:
www.indopubs.com/archives, dst. Kepada para redaksi
mass media (TV, koran, majalah, radio, newsgroup,
mailing list), mohon bantuan untuk memuat tulisan ini
pada media yang anda asuh (silahkan diedit, dan saya
tidak menuntut bayaran). Ini semua ditulis demi
tercapainya Indonesia yang aman tentram karena
masyarakatnya dewasa dan santun dalam beragama. Ingat,
salah satu akar penyebab berbagai krisis di Indonesia
adalah "beragama", sebab agama dan budaya sangat dan
saling pengaruh-mempengaruhi, agama sangat
mempengaruhi budaya, dan budaya sangat mempengaruhi
pola-pikir dan tindak tanduk suatu bangsa! Oleh sebab
itu, sekali lagi mohon bantuan agar tulisan ini dapat
diteruskan sehingga dapat dibaca oleh setiap insan
warga negara Indonesia yang telah dewasa dalam
pemikiran. Dengan berkorban tenaga dan biaya sedikit
saja (photocopy dan perangko, bila lewat pos), anda
telah ikut menyelamatkan masa depan Indonesia dari
"kegelapan". Mohon tanggapan Saudara sekalian dan
sekaligus ajakan agar anda ikut aktip produktip dengan
pemikiran positip kreatip melalui artikel anda di
internet (cobalah mengirim artikel anda ke situs:
www.indopubs.com/archives, alamat email:
apakabar@radix.net), sekian dan terima kasih.

Ibu Pertiwi
Yang sedang berduka hati ...


--
'The greatest event of our age is the meeting of cultures, meeting of
civilizations, meeting of different points of view, making us
understand that we should not adhere to any one kind of single faith,
but respect diversity of belief. That is what we should attempt to do.
The iron curtain, so to say, which divided one culture from another,
has broken down. It is good that we recognize and emphasize the need
of man to regard other people, their cultures, their beliefs etc. to
be more or less on the same level as our own cultures and our own
civilizations. It is not a sign of weakening faith; it is a sign of
increasing maturity. If man is unable to look upon other people's
cultures with sympathy and if he is not able to co-operate with them,
then it only shows immaturity on the part of the human individual. We
need co-operation, not conflict. It requires great courage in such
difficult days as the present to speak of peace and co-operation. It
is more easy to talk of enemies, of conflict and war. We should try to
resist that temptation. Our attempt should always be to co-operate, to
bring together people, to establish friendship and have some kind of a
right world in which we can live together in happiness, harmony and
friendship. Let us therefore realize that this increasing maturity
should express itself in this capacity to understand what other points
of view are'.

-Professor Sarvepalli Radhakrishnan, philosopher, President of India,
his speech for the inauguration of the The Indian Institute of
Advanced Study on 20 October 1965. http://www.iias.org/


------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:bali-bali-digest@yahoogroups.com
mailto:bali-bali-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
bali-bali-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Tidak ada komentar: