Rabu, 03 Desember 2008

Re: [bali-bali] Re: Allah ......asal muasal.

Hallo Mr. Lili Gundi

Mungkin artikel ini bisa dijadikan pembanding:
http://pejot1joshy.multiply.com/journal/item/5

Perjalanan Yesus Ke Negeri Timur Historikal atau Fiksi ?

Ketika saya masih duduk di bangku SMP, saya menemukan sebuah buku agama Buddha di perpustakaan sekolah saya yang menyinggung bagaimana Yesus menghabiskan masa mudanya dengan bermeditasi dan mempelajari berbagai macam ilmu spritualitas dari dunia Timur.

Hal ini sangat menarik bagi saya sebab Perjanjian Baru tidak ada mengisahkan hal tersebut. Perjanjian Baru menulis bahwa Yesus memulai pelayananNya pada usia 30 tahun (Lukas 3:23). Sedangkan catatan terakhir tentang kehidupan Yesus sebelum Ia memulai pelayananNya adalah pada saat Yesus berusia 12 tahun, yakni ketika orangtuaNya kehilangan Dia pada saat perayaan Paskah dan menemukanNya sedang berdiskusi dengan para alim ulama di Bait Allah.

Jadi memang ada rentang waktu 18 tahun dalam masa hidup Yesus yang tidak diceritakan dalam Perjanjian Baru. Apa yang dilakukan Yesus selama tahun-tahun tersebut ? Benarkah Ia melakukan semacam meditasi dan mempelajari berbagai macam ilmu spiritualitas dari dunia Timur ? Pertanyaan ini memenuhi pemikiran saya di masa itu. Untuk menjawab hal tersebut ternyata adalah sangat mudah. Alkitab menyediakan jawabannya ! Saya menemukan jawaban tersebut dalam Injil Markus 6:1-6a. Dan apa yang saya tulis waktu itu mungkin adalah salah satu karya apologetika saya yang pertama. Tidak saya sangka saya harus mengulanginya lagi sepuluh tahun kemudian. Semuanya ini saya lakukan sebab rasul Petrus pernah berpesan demikian dalam I Petrus 3:15-16. "Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan ! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang memnita pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah-lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka tersebut." (I Petrus 3:15-16)

Apa yang mendorong saya untuk menulis kembali adalah karena terbitnya sebuah buku berjudul "Isa : Hidup dan Ajaran Sang Masiha" karangan Anand Krishna. Apa yang saya tulis disini bukan merupakan resistansi atau penolakan terhadap apa yang dipahami dan dipercaya oleh Anand Krishna. Saya percaya bahwa setiap orang berhak mempunyai interpretasi masing-masing dan bukan pula hak saya untuk memaksakan pembaca mana interpretasi yang paling benar.

Yang saya lakukan melalui tulisan ini adalah pertama untuk meluruskan hal-hal yang bersifat kontradiktif terhadap apa yang telah tertulis dalam Alkitab dan kedua untuk menyampaikan fakta sejarah dengan sebenar-benarnya. Saya sangat setuju dengan hal yang terpikir oleh Anand Krisha bahwa bangsa Indonesia berhak atas "the best available source" dan yang paling otentik. Kenyataannya adalah jarang sekali ada orang mau menulis mengenai hal ini. Oleh sebab itu sekarang-lah saatnya bangsa Indonesia dibukakan matanya. Tetapi masalahnya adalah "the best available source" tidak identik dengan sumber yang paling otentik. Disini kita harus pandai-pandai memilah mana sumber yang bisa dipercaya dan mana yang tidak. Mana yang merupakan karya isap jempol dan mana yang bukan. Dan itu pula yang menjadi alasan saya untuk menulis ini.

Kisah Kehidupan Saint Issa Temuan manuskrip Himis pertama kali dipublikasikan oleh Nicholas Notovitch, seorang koresponden kelahiran Russia, dalam sebuah buku berbahasa Prancis La vie inconnue de Jesus pada tahun 1894.[1] Notovitch mengisahkan penemuannya ini sebagai berikut.

Pada tahun 1887, ketika tengah melakukan perjalanan menuju India, ia mengalami patah kaki dan mendapat perawatan di sebuah biara di Leh, ibukota Ladakh (sebuah daerah di utara India - sekarang Kashmir). Disanalah ia pertama kali mendengar dari seorang lama (semacam biarawan) Tibet tentang seorang suci bernama Issa. Notovitch menjadi tertarik akan hal ini. Ia minta diantarkan ke biara Himis (25 mil dari Leh) yang dikatakan menyimpan manuskrip-manuskrip kuno yang mengisahkan Issa. Di biara Himis inilah Notovitch kemudian menjumpai manuskrip yan dimaksud. Kepala lama disana menceritakan pula bahwa manuskrip yang mereka miliki merupakan terjemahan dari bahasa Pali dan aslinya konon ada tersimpan dalam perpustakaan sebuah biara di Lhasa, Tibet.

Notovitch selanjutnya membujuk sang lama untuk membacakan manuskrip itu kepadanya, dan meminta seorang penerjemah untuk menerjemahkannya dari bahasa Tibet. Menurut Notovitch, isi dari manuskrip tersebut "tidak saling menyambung dan tercampur-baur dengan kisah-kisah lain yang tidak berhubungan sama sekali," dan ia harus menyusun "semua fragmen yang menyangkut kisah kehidupan Issa dalam susunan yang kronologis dan dengan susah payah membentuk kesatuan karakter, yang mana tidak ada pada fragmen-fragmen tersebut".[2] Ia tidak tidur selama beberapa hari supaya ia bisa membentuk dan menyusun apa yang telah ia dengar. Dari manuskrip itu, Notovitch belajar bahwa "Yesus telah berkelana ke India dan ke Tibet sebagai seorang anak muda sebelum ia memulai pekerjaannya di Palestina."[3]

Awal perjalanan Yesus dikisahkan dalam manuskrip tersebut sebagai berikut : Ketika Issa telah mencapai usia 13 tahun, usia ketika seorang Israel harus mengambil seorang istri, rumah dimana orangtuanya tinggal mulai menjadi tempat pertemuan orang-orang kaya dan para bangsawan, yang menginginkan Issa muda menjadi menantu mereka, yang telah terkenal karena khotbah-khotbahnya yang menyejukkan. Maka Issa meninggalkan rumah orangtuanya dengan diam-diam, pergi dari Yerusalem, dan bersama-sama dengan para saudagar berangkat menuju negeri Sind, dengan tujuan menyempurnakan dirinya dalam Firman Tuhan dan mendalami ajaran-ajaran dari para Buddha.[4]

Masih menurut Notovitch, manuskrip tersebut menjelaskan pula bagaimana, setelah secara singkat mengunjungi para penganut agama Jain, Issa muda belajar selama enam tahun dengan para penganut Brahma di Juggernaut, Rajagriha, Benares, dan kota-kota suci India lainnya. Pendeta-pendeta Brahma "mengajarnya cara membaca dan memahami kitab Veda, cara penyembuhan dengan doa, cara menyampaikan dan menerangkan ajaran-ajaran suci kepada orang banyak, cara mengusir roh-roh jahat dari tubuh manusia serta mengembalikan kewarasan mereka."[5]

Selama disana, ceritanya terus berlanjut, Issa mulai mengajar kitab suci kepada orang banyak di India – termasuk para penyandang kasta rendah. Kaum Brahma dan Kshatriyas (kasta tinggi) menentang dia karena hal ini, dan memberitahunya bahwa kaum Sudra (kasta rendah) dilarang membaca atau bahkan melihat isi kitab Veda. Issa sangat tidak setuju dengan mereka akan hal ini. Karena pengajaran Issa yang kontroversial itu, sebuah rencana pembunuhan disiapkan untuknya. Tetapi kaum Sudra terlebih dahulu memperingatkannya dan lalu Issa meninggalkan Juggernaut dan menetap di Gautamides (kota kelahiran Buddha Sakyamuni) dimana ia mempelajari kitab suci Sutra. "Enam tahun setelah itu, Issa, yang telah dipilih Sang Buddha untuk menyebarkan ajaran sucinya, telah menjadi seorang yang sangat menguasai kitab-kitab suci." Kemudian ia meninggalkan Nepal dan pengunungan Himalaya, turun kembali ke lembah Rajputana, dan pergi ke arah barat, mengajari orang-orang banyak tentang pencapaian kesempurnaan manusia."[6] Setelah ini, dikisahkan Issa mengunjungi Persia dimana ia mengajar di hadapan para penganut Zoroaster. Lalu pada usia 29 tahun, ia kembali ke Israel dan mulai mengajar semua yang telah ia pelajari.

Menurut manuskrip Himis ini, mendekati akhir tahun ketiga pengajaran Issa di Israel, Pilatus menjadi begitu khawatir akan popularitas Issa yang menyebar bak jamur di musim hujan sehingga ia menyuruh salah seorang mata-matanya untuk melemparkan tuduhan terhadap Issa. Issa kemudian dipenjara dan disiksa oleh para prajurit supaya mengakui apa yang mereka tuduhkan itu. Para ulama Yahudi tidak dapat berbuat banyak untuk menolong Issa. Issa tetap dikenakan tuduhan dan Pilatus menjatuhkan hukuman mati terhadapnya. Menjelang matahari terbenam penderitaan Issa berakhir. Jiwanya meninggalkan tubuhnya, kembali berkumpul dengan keilahiannya. Sementara itu Pilatus menjadi takut karena perbuatannya itu dan menyerahkan jenazah orang suci itu kepada orangtuanya, yang kemudian menguburkannya di dekat tempat penyaliban itu.

Tiga hari kemudian gubernur itu memerintahkan para prajuritnya untuk memindahkan jenazah Issa untuk dikuburkan di lain tempat. Ia khawatir kuburan Issa akan menjadi tempat ziarah yang ramai. Hari berikutnya orang-orang menemukan kuburan itu terbuka dan kosong. Seketika itu pula kabar burung menyebar bahwa Hakim Agung telah mengirim malaikat-malaikatnya membawa jenazah Issa dimana Roh Tuhan pernah bersemayam dalam dirinya semasa hidupnya.[7]

Selanjutnya, beberapa pedagang dari Palestina yang singgah di India bertemu dengan sekelompok orang tertentu yang mengenali Issa sebagai seorang murid biasa yang mempelajari bahasa Sansekerta dan Pali selama masa mudanya di India. Pedagang-pedagang itu lalu menceritakan bagaimana kematian Issa di tangan Pilatus. Dan bila cerita ini disimpulkan, kisah kehidupan Saint Issa ditulis dalam sebuah gulungan lontar – oleh penulis tidak dikenal – kira-kira tiga atau empat tahun kemudian. Gulungan lontar inilah yang ditemukan oleh Notovitch di Biara Himis. Setelah dikerjakan oleh Notovitch, Kisah kehidupan Saint Issa – demikian ia menyebutnya – mengandung 244 paragraf pendek yang tersusun ke dalam 14 bab.

Reaksi awal terhadap Notovitch Penerbitan buku Notovitch ini keruan saja mendapatkan reaksi yang keras dari banyak pihak. Kritikus yang pertama kali mengecam Notovitch adalah F. Max Muller, seorang orientalis senior dari Universitas Oxford. Muller adalah seorang pecinta filosofi Timur dan pernah tinggal di India selama beberapa tahun. Pada bulan Oktober 1894, Muller menulis The Nineteenth Century, sebuah paper akademistik yang berisi penolakan terhadap temuan Notovitch. Muller menelurkan empat argumen yang patut disimak :

Pertama, Muller mengatakan bahwa manuskrip tua semacam itu seharusnya terdapat dalam Kanjur dan Tanjur yakni katalog atau daftar yang mencantumkan seluruh karya literatur Tibet. Kenyataannya, manuskrip yang dimaksud Notovitch sama sekali tidak tercantum dalam katalog tersebut dan sama sekali tidak dikenal sebelumnya.

Kedua, Muller menolak pendapat Notovitch tentang asal mula manuskrip itu. Ia menanyakan bagaimana para pedagang Yahudi itu secara kebetulan bertemu, di antara jutaan penduduk India, orang-orang yang mengenal Issa sebagai seorang murid biasa, dan tambah lagi "bagaimana orang-orang yang mengetahui Issa itu bisa segera mengenali ia sebagai orang yang sama dengan yang baru saja dibunuh Pilatus."[8]

Ketiga, Muller menunjukkan sebuah surat dari seorang wanita Inggris (bertanggal 29 Juni 1894) yang mengunjungi Biara Himis dan menanyakan tentang Notovitch di hadapan 800 lama biara tersebut. Tulisnya, "tidak ada satu kata kebenaran pun dari seluruh cerita itu ! Tidak pernah ada orang Rusia disini. Tidak ada cerita tentang Kristus sama sekali !"[9]

Keempat, Muller mempertanyakan kebebasan Notovitch dalam mengedit dan menyusun ulang tiap-tiap ayat sekehendak hatinya yang mana hal ini tidak akan dilakukan oleh seorang sarjana literatur. Dalam hal ini memang Notovitch bukanlah seorang sarjana literatur.

J. Archibald Douglas, seorang professor di Government College di Agra, India, juga penasaran dengan temuan Notovitch ini. Ia mengambil jatah liburan tiga bulan dengan mengadakan perjalanan ke Biara Himis dengan mengikuti rute yang digunakan Notovitch. Ia menerbitkan catatan perjalanannya itu dengan judul The Nineteenth Century (Juni 1895), yang kebanyakan berisi interview dengan kepala lama di biara tersebut. Sang lama mengaku bahwa ia telah menjadi kepala lama selama 15 tahun, yang berarti semestinya ia adalah kepala lama yang dijumpai Notovitch waktu itu. Namun kepala lama itu mengatakan bahwa selama 15 tahun itu, ia tidak pernah menjumpai seorang Eropa dengan kaki patah mencari pertolongan di biaranya (menurut Notovitch saat itu ia tengah menderita patah kaki dan berusaha mencari pertolongan terdekat).

Ketika ditanya apakah ia tahu tentang buku-buku di dalam biara-biara Buddha di Tibet yang mengisahkan kehidupan Issa, ia menjawab "Saya tidak pernah mendengar adanya manuskrip yang memuat nama Issa, dan saya yakin dan mengatakannya dengan jujur bahwa yang seperti itu tidak pernah ada. Saya telah menanyakannya kepada lama senior kami di biara lain di Tibet, dan mereka tidak tahu menahu tentang buku atau manuskrip yang memuat nama Issa."[10] Ketika kutipan buku Notovitch dibacakan kepada lama tersebut, ia menanggapinya, "Bohong, bohong, bohong, semuanya bohong !"[11] Interview tersebut ditulis dan disaksikan oleh sang lama, Douglas, dan seorang penerjemah dan distempel dengan cap resmi biara.

Kredibilitas Notovitch keruan saja menjadi rusak gara-gara investigasi Douglas tersebut. Waktu penulisan manuskrip Himis Manuskrip Himis menurut perkiraan Notvitch ditulis 3 atau 4 tahun setelah peristiwa penyaliban (±30 M). Ini berarti manuskrip Himis ditulis jauh lebih awal daripada keempat Injil dalam Perjanjian Baru yang rata-rata ditulis 3 atau 4 dekade kemudian. Kapan manuskrip Himis ditulis sebenarnya jauh dari kepastian. Perkiraan Notovitch sama sekali tidak didukung bukti historis apa pun. Meski begitu dari isi manuskrip Himis itu sendiri kita bisa memperkirakan kapan ia ditulis. Manuskrip Himis menceritakan bahwa Issa lahir di tengah-tengah masa penjajahan kerajaan Romawi.

Dalam manuskrip itu juga disebutkan secara jelas bagaimana bangsa penjajah itu menghancurkan Bait Allah-nya orang Israel dan bagaimana mereka memperbudak bangsa Israel. Dan pada satu masa datanglah para penyembah berhala dari negeri Roma di seberang lautan. Mereka menaklukan bangsa Ibrani dan menunjuk dari antara mereka pemimpin militer untuk memerintah mereka di bawah wewenang Kaisar. Mereka menghancurkan bait suci, mereka memaksa penduduknya untuk berhenti memuja Allah mereka yang tidak kelihatan itu, dan memaksa mereka untuk mengadakan korban persembahan untuk para berhala. Para bangsawan dipaksa untuk menjadi prajurit, perempuan-perempuan dipisahkan dari suaminya, dan masyarakat kelas bawah dijadikan budak, ribuan jumlahnya dikirim ke seberang lautan. (The Life of Saint Issa 3:8-10) Nah di tengah-tengah masa penderitaan inilah Issa justru dilahirkan, demikian menurut manuskrip Himis. Dalam sejarah kita mengetahui bahwa peristiwa penghancuran Bait Allah di Yerusalem terjadi pada tahun 70 Masehi. Sedangkan pengusiran bangsa Israel dari Palestina (yang juga disertai dengan perbudakan) oleh otoritas Romawi baru dimulai setelah diberangusnya pemberontakan Bar Koseba pada tahun 135 Masehi. Jadi dengan demikian penulis Himis jelas telah salah menempatkan kejadian. Ia telah menggeser frame waktu masa hidup Issa tujuh sampai sepuluh dekade ke depan ! Disini kita menemukan kejanggalan. Apakah penulis Himis tidak tahu bahwa Yesus lahir sebelum Bait Allah dihancurkan ? Apakah ia juga tidak tahu bahwa Yesus berulang-kali keluar masuk Bait Allah untuk mengajar ? Dan mungkin juga ia tidak tahu bahwa di masa hidupnya Yesus telah meramalkan tentang kehancuran Bait Allah (Bd. Mat 24:1-2, Mrk 13:1-2, Luk 21:5-6)

Dengan demikian kita bisa mengambil kesimpulan bahwa manuskrip Himis paling awal ditulis pada abad kedua Masehi. Jadi tidak benar bahwa manuskrip itu ditulis 3 atau 4 tahun sesudah peristiwa penyaliban. Sumber cerita manuskrip Himis : sumber Yahudi ? Penulis Himis mengakui bahwa sumber cerita yang ia (atau mereka ?) tulis berasal dari para pedagang yang baru saja tiba dari Israel.

Dalam kata pengantar edisi London Notovitch menolak anggapan Max Muller yang menyebut mereka adalah para pedagang Yahudi. Menurut Notovitch mereka boleh jadi adalah pedagang-pedagang India yang beroleh kesempatan menyaksikan peristiwa penyaliban Issa. Hal ini dikatakan Notovitch dalam menjawab pertanyaan Muller bagaimana bisa pedagang-pedagang itu bertemu – di antara jutaan penduduk India – dengan orang-orang yang mengenal Issa muda yang tengah menimba ilmu. Muller juga mempertanyakan bagaimana pula orang-orang itu bisa segera memastikan bahwa Issa yang disalib adalah orang yang sama dengan Issa yang mereka kenal dulu.

Zaman dahulu tidaklah sama seperti zaman sekarang yang merupakan era informasi dimana satu peristiwa dengan cepat dapat diketahui di seluruh dunia. Pada masa itu sangat diragukan sekali bagaimana orang-orang itu mengenali Issa. Jangan-jangan Issa yang mereka kenal adalah orang yang berbeda dengan yang disalibkan Pilatus. Itulah sebabnya tidak mengherankan apabila nanti kita temui banyak kejanggalan-kejanggalan dalam manuskrip Himis. Pembelaan Notovitch ini sebenarnya juga tidak mampu menjawab pertanyaan Muller bagaimana bisa kedua pihak itu bertemu di tengah jutaan penduduk India. Seandainya perkiraan Notovitch ini benar, itu adalah sebuah faktor kebetulan yang luar biasa.

Sebagai perbandingan, kira-kira pada masa hidup Yesus hiduplah seorang filosof Yahudi yang paling terkenal, Philo dari Alexandria (±15 SM – ±50 M). Jadi dalam satu masa hiduplah dua orang terkemuka. Tetapi keduanya sangat diragukan pernah saling bertemu. Philo tidak pernah menulis tentang Yesus dalam buku-bukunya dan dalam Perjanjian Baru juga tidak ada catatan tentang Philo. Hal ini bisa dimengerti karena baik Philo maupun para penulis Perjanjian Baru hidup di zaman belum ada radio, belum ada televisi, belum ada telepon. Namun bukan berarti mereka tidak pernah berhubungan sama sekali. Disini saya hanya hendak mengajak pembaca membandingkan bagaimana kecilnya peluang di masa itu untuk saling berhubungan satu sama lain. Apalagi jika hal itu terjadi di India, negeri yang dipadati oleh jutaan penduduk – bahkan pada masa itu. Saya sendiri menduga bahwa penulis Himis setidaknya mempunyai atau dipengaruhi oleh sumber literatur Yahudi. Hal ini nampak dari bagaimana manuskrip Himis menuturkan cerita tentang Musa.

Kisah tentang kepangeranan Musa kemungkinan besar diambil dari kisah-kisah yang terdapat dalam kitab-kitab talmud dan targum Yahudi atau setidaknya penulis Himis pernah mendengarnya dari seorang Yahudi. Kisah kepangeran Musa bukanlah hal yang baru. Jadi keliru bila Anand Krishna memandangnya sebagai suatu temuan baru dan menarik (Isa : Hidup dan Ajaran Sang Masiha, p.35). Nama Musa dalam bahasa Mesir, moshe artinya seorang anak. Yang menarik adalah potongan kata moshe banyak ditemukan (dan hanya ditemukan) pada nama-nama Firaun dari Dinasti ke-18, seperti Ra-moshe ("putra Ra Yang Mulia"), Ach-moshe (Ahmose; "putra bulan," atau "sang bulan telah lahir") dan Toth-moshe (Thutmose; "putra Toth"). Disini kita melihat bahwa penamaan Musa ini dilatar-belakangi oleh proses pengadopsian Musa yang dilakukan oleh putri Firaun, Bithiah [12].

Sumber lain menyebutkan nama putri Firaun itu adalah Tarmuth [13] atau Thermuthis [14]. Ini kemungkinan adalah putri Ne-termut dalam teks Mesir kuno. Dengan diangkatnya Musa menjadi anak putri Firaun itu, otomatis Musa memiliki hak-hak yang sama dengan para pangeran-pangeran Mesir lainnya. Musa dididik dan dibesarkan menurut aturan istana. Hal ini merupakan cerita yang sudah umum di kalangan orang Yahudi bahkan sejak zaman Yesus. Coba perhatikan bagaimana Stefanus mengisahkan riwayat Musa dalam Perjanjian Baru. Dan Musa dididik dalam segala hikmat orang Mesir, dan ia berkuasa dalam perkataan dan perbuatannya. (Kis 7:22)

Dalam kitab Sephir ha-Yasher [15] juga dikisahkan secara detil bagaimana Musa hidup dan dibesarkan di antara putra-putra raja lainnya. Bahkan di usianya yang ke-27, Musa telah diangkat menjadi raja suku bangsa Kush, sebuah suku bangsa yang hidup di belahan selatan Mesir (Nubia ?). Jadi kisah-kisah kepangeranan Musa sebenarnya sudah merupakan kisah yang umum dan lazim di kalangan bangsa Yahudi. Berikut ini saya kutip ayat-ayat dari kitab tersebut. Dan Musa tinggal di istana Firaun dan menjadi putra Bathia, putri Firaun, dan Musa dibesarkan bersama-sama anak-anak raja. (Sephir ha-Yasher 68:32) Dalam tahun kelimapuluh-lima masa pemerintahan Firaun, raja Mesir, yaitu pada tahun keseratus-limapuluh-tujuh bangsa Israel menetap di Mesir, memerintahlah Musa di negeri Kush. Musa berumur duapuluh-tujuh tahun ketika ia mulai memerintah atas negeri Kush, dan empat puluh tahun lamanya ia memerintah. (Sephir ha-Yasher 73:1-2)

Kisah-kisah kehidupan Yesus yang ganjil Masa-masa lowong kehidupan Yesus yang tidak pernah diceritakan dalam Injil, yakni mulai dari kunjungannya ke Yerusalem pada usia 12 hingga ia memulai pelayananNya di sekitar usia 30 seringkali memancing orang untuk berusaha mengisinya dengan kisah-kisah karangan mereka sendiri. Notovitch jelas bukan satu-satunya orang yang melakukan hal itu. Sejak dari abad kedua Masehi, banyak orang berusaha membuat sendiri "injil menurut mereka". Puluhan injil gnostik bermunculan pada masa itu dengan membawa-bawa nama para rasul sebagai si pengarang, misalnya injil Petrus, injil Paulus, injil Bartolomeus, dan seterusnya. Disini saya tidak mungkin untuk menceritakannya satu per satu karena terlalu banyak, jadi baiklah kita lewati saja.

Kisah kehidupan Yesus juga tidak saja menjadi bahan cerita milik orang Kristen semata. Dari kalangan masyarakat Yahudi sendiri timbul sebuah karya tulisan derogatori berjudul Toledoth Yeshu (Kisah kehidupan Yesus). Bila ditinjau dari bahasa dan gaya penulisan yang digunakan, Toledoth Yeshu ini kira-kira ditulis pada abad ke ke-enam Masehi. Isinya kurang lebih hanya berisi parodi dan pelecehan terhadap kisah kehidupan Yesus yang sebenarnya.

Berikut ini saya sajikan penggalan awal dari Toledoth Yeshu : Pada tahun 3671 pada masa raja Jannaeus, kemalangan besar menimpa bangsa Israel ketika muncul seorang pria bermartabat rendah dari suku Yehudah bernama Yusuf Pandera. Ia tinggal di Betlehem, di Yudea. Di dekat rumahnya tinggallah seorang janda dan putrinya yang cantik dan masih perawan bernama Miriam. Miriam ini telah bertunangan dengan Yochanan, dari keturunan raja Daud, seorang yang takut akan Tuhan dan taat terhadap Torah. Suatu ketika menjelang hari Sabat, Yusuf Pandera, gagah bak seorang pahlawan dalam penampilannya memandang Miriam dengan penuh nafsu, mengetuk pintu kamar Miriam dan menipunya dengan berpura-pura menjadi tunangannya, Yochanan. Meskipun begitu, Miriam menjadi terkejut atas tingkah-laku yang tidak layak ini dan terpaksa menyerah di luar keinginannya. Setelah itu, ketika Yochanan datang menemuinya, Miriam menunjukkan keheranannya atas tingkah-laku Yochanan yang berbeda. Saat itulah mereka berdua sadar akan kejahatan yang telah dilakukan Yusuf Pandera dan kekeliruan besar yang telah dilakukan Miriam.

Kemudian Yochanan datang menemui Rabbi Shimeon bin Shetah dan mengadukan masalah percabulan ini. Namun karena tidak adanya saksi mata untuk menghukum Yusuf Pandera dan Miriam yang hamil, Yochanan pergi menyingkir ke Babylonia. Miriam melahirkan anak itu dan menamainya Yehoshua, mengikuti nama saudara lelakinya. Nama ini kemudian dipelesetkan menjadi Yeshu. Pada hari kedelapan ia disunat. Ketika ia sudah cukup besar, anak laki-laki itu dibawa Miriam ke sebuah sekolah agama untuk belajar adat-istiadat Yahudi. Keakuratan Toledoth Yeshu dalam menyajikan data jelas sama sekali tidak dapat dipercaya.

Toledoth Yeshu menulis bahwa Yesus dilahirkan pada masa pemerintahan raja Jannaeus yaitu pada tahun 3671 menurut kalendar Yahudi atau tahun 90 Sebelum Masehi, jadi hampir seabad sebelum kelahiran Yesus yang sebenarnya! Dalam Toledoth Yeshu setting kehidupan Yesus ini bergeser kepada zaman dinasti Hasmonea yakni pada masa pemerintahan ratu Helene (Salome). Jadi sama sekali tidak ada Herodes, tidak ada kaisar Agustus, dan tidak ada Pontius Pilatus!

Pada abad kesembilanbelas (jadi hampir bersamaan dengan Notovitch) terbit sebuah "injil" yang dinamakan The Aquarian Gospel of Jesus The Christ yang ditulis oleh seorang pendeta militer yang pernah bertugas dalam Civil War, Levi Dowling (1844-1911). Judul halaman "injil" ini menyandang kalimat demikian : "Disalin dari Kitab Kenangan Ilahi yang dikenal sebagai Catatan Akasha". Disini, tidak seperti halnya Notovitch yang menyajikan kesimpulan berdasarkan manuskrip-manuskrip kuno, Dowling mengklaim bahwa bukunya berdasarkan suatu "inspirasi" atau "penerangan" yang di kalangan kaum New Age dikenal dengan sebutan Catatan Akasha.[16]

Injil yang pertama kali diterbitkan tahun 1911 ini lebih banyak berfokus kepada pendidikan dan perjalanan Yesus. Setelah belajar dari Rabbi Hillel, Yesus menurutnya menghabiskan bertahun-tahun masa mudanya dengan belajar bersama-sama para Brahma dan kaum Buddhis. Yesus dikatakan menjadi tertarik untuk belajar di negeri Timur setelah Yusuf, ayahnya, menjamu Pangeran Ravanna dari India. Selama kunjungannya, Ravanna sangat terkesan dengan Yesus kecil dan ia memohon kepada Yusuf supaya ia boleh menjadi pelindung anak kecil itu, dan supaya ia boleh membawanya ke negeri Timur dimana Yesus bisa belajar banyak ilmu dari para Brahma. Sebaliknya Yesus kecil pun menunjukkan ketertarikkannya, dan setelah berhari-hari akhirnya orangtuanya memberi izin. Maka begitulah "Yesus diterima sebagai seorang murid di sebuah kuil di Jagannath, dan disitulah ia belajar kitab Veda dan hukum Mani."[17]

Yesus kemudian mengunjungi kota Benares di tepi sungai Gangga. Selama disana, "Yesus berusaha mempelajari seni penyembuhan Hindu, dan menjadi murid Udraka, tabib Hindu yang paling ternama".[18] Dan Yesus "terus bersama Udraka sampai ia telah menguasai semua ilmu darinya yakni seni penyembuhan Hindu."[19] Levi melanjutkan kisah Yesus dengan mengisahkan perjalananNya ke Tibet dimana Yesus dikatakan bertemu dengan Meng-ste, orang bijak terbesar dari negeri Timur." Dan Yesus boleh mempergunakan seluruh manuskrip-manuskrip suci dan, dengan bantuan Meng-ste, membacanya semua."[20] Yesus akhirnya tiba di Mesir, dan - mungkin ini adalah puncak dari masa-masa lowong itu - ia bergabung dengan "Persaudaraan Suci" di Heliopolis. Selama disana, ia berhasil melalui tujuh tingkatan inisiasi - Ketulusan, Keadilan, Iman, Kecintaan Sesama Manusia, Kepahlawanan, Kasih Ilahi, dan KRISTUS. Setelah ditahbiskan menjadi Kristus barulah Yesus kembali ke Israel dan melayani disana selama 3 tahun sebelum akhirnya menjalani penyaliban. Selain Dowling, masih ada lagi seseorang yang mengaku mampu membaca Catatan Akasha.

Edgar Cayce mengaku telah membaca 16000 catatan sepanjang hidupnya dimana 5000 di antaranya berbicara tentang agama. Dari catatan Akasha inilah Cayce mengisahkan masa-masa lowong kehidupan Yesus. Manusia yang kita kenal sebagai Yesus, kata Cayce, mempunyai 29 inkarnasi sebelumnya. "Ini termasuk seorang pemuja matahari, pengarang Kitab Kematian (Mesir Kuno), dan Hermes. Yesus juga adalah Zend (ayah Zoroaster), Amilius (seorang penduduk Atlantis), dan figur-figur sejarah masa lampau lainnya."[21] Inkarnasi lain termasuk adalah Adam, Yusuf, Yosua, Henokh, dan Melkisedek. Jiwa ini belum menjadi "Kristus" hingga inkarnasi ketiga-belasnya sebagai Yesus dari Nazaret.

Alasan mengapa Yesus mesti melalui begitu banyak inkarnasi adalah bahwa ia – sebagaimana makhluk manusia lainnya mempunyai "hutang karma" (dosa) yang harus dibayar. Lanjutnya, Yesus mendapat pendidikan yang luas. Sebelum usia 12 tahun, ia telah belajar seluruh hukum Yahudi. "Mulai usia 12 hingga 15 atau 16 tahun, ia belajar ilmu kenabian dari Judy, seorang guru Essene di rumah sang guru di Karmel. Kemudian Yesus memulai pendidikannya di luar negeri, mula-mula di Mesir untuk beberapa waktu, lalu ke India selama tiga tahun, dan terakhir ke Persia. Dari Persia ia dipanggil pulang ke Yudea karena Yusuf wafat, selanjutnya pergi ke Mesir untuk menyelesaikan persiapannya sebagai seorang guru."[22] Selama pendidikannya itu, Yesus belajar dari banyak guru di antaranya Kahjian di India, Junner di Persia, dan Zar di Mesir. Ia juga mempelajari ilmu penyembuhan, pengontrolan cuaca, telepati, perbintangan, dan ilmu-ilmu cenayang lainnya. Ketika pendidikannya selesai, ia kembali ke negeri asalnya dimana ia melakukan "mukjizat-mukjizat" dan mengajar orang banyak selama tiga tahun.

Kisah lain mengenai kehidupan Yesus juga dipublikasikan oleh sebuah organisasi Freemason bernama Rosicrucian AMORC (USA). Organisasi ini mengklaim menyimpan tradisi dan ajaran-ajaran kuno dari Persaudaraan Essene yang eksis di Palestina antara abad kedua Sebelum Masehi hingga abad kedua Masehi. Dr. Lewis Spencer, pimpinan Rosicrucian untuk Amerika Utara dan Selatan, dalam bukunya, The Mystical Life of Jesus, menuliskan kisah kehidupan Yesus pada masa-masa lowong itu. Ia mengatakan bahwa Yesus sebenarnya tidak mati di kayu salib tetapi jatuh pingsan dan tersadar dari pingsannya itu ketika berada di dalam kubur. Ia kemudian dengan diam-diam pergi ke sebuah tempat persembunyian di Galilea [23].

Ia naik ke surga bukan dalam bentuk fisik tetapi melalui pengalaman mistis dan kejiwaan. Ia kemudian dikuburkan di Gunung Karmel (Palestina). Jenazahnya tersimpan di dalam sebuah kubur selama beberapa abad hingga akhirnya dipindahkan ke sebuah makam rahasia, yang dijaga dan dilindungi oleh saudara-saudara Essene-Nya.[24] S

atu lagi kisah tentang Yesus yang bersumber dari kaum Freemason adalah buku yang berjudul Crucifixion by An Eye Witness. Dalam kata pembukaannya tertulis : Ini adalah sebuah terjemahan dalam bahasa Inggris dari sebuah salinan kuno berbahasa Latin dari sebuah surat yang ditulis tujuh tahun setelah peristiwa penyaliban oleh seorang teman dekat Yesus di Yerusalem kepada seorang saudara Essene di Alexandria.

Dalam buku itu ditulis jelas bahwa Yesus adalah seorang anggota dari Persaudaraan Essene. Ia ditolong dari penyalibannya dalam keadaan pingsan dan saudara-saudara Essene-nya itu membawaNya ke sebuah tempat yang aman. Nicodemus, seorang tabib, memberikan pengobatan dengan teknik pembalsaman untuk menyembuhkan luka-luka yang diderita Yesus. Setelah sembuh, Yesus diam-diam meninggalkan Yerusalem menuju ke suatu tempat di Bukit Zaitun. Enam bulan setelah itu Yesus akhirnya meninggal dunia dengan tenang di Palestina. Masih banyak lagi kisah-kisah kehidupan Yesus di luar Alkitab yang belum diceritakan disini dan apabila diceritakan semua akan membuat tulisan ini jadi begitu panjangnya.

Memang hasrat manusia untuk mengetahui kehidupan masa muda Yesus seolah-olah tidak pernah mau padam. Tidak kurang sampai abad terakhir ini masih ada orang yang berusaha untuk menyingkapnya. Seorang penulis bernama Manuel Komroff pada tahun 1953 mengadakan penelitian untuk majalah American Weekly. Ia menyajikan suatu ringkasan dari kumpulan legenda-legenda Inggris abad pertengahan yang mengisahkan tentang kunjungan Yesus ke Inggris pada masa mudaNya! Tetapi tidak banyak orang yang menanggapi hasil penelitiannya tersebut.

Makam Yesus di Kashmir Pada tahun 1891, Mirza Ghulam menyatakan dirinya Imam Mahdi. Gerakan spritualnya ini kelak kita kenal sebagai ajaran Ahmaddiyah. Ia mengajarkan bahwa kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali adalah dalam wujud manusia lain yang mempunyai karakteristik spritual yang sama denganNya. Ia mengatakan bahwa Yesus tidak wafat di kayu salib tetapi melarikan diri ke Khasmir untuk mengajarkan Injil kepada keturunan 10 suku Israel yang hilang. Semuanya ini diceritakan Mirza dalam buku-bukunya Fatah-i-Islam, Tauzih-e-Maram dan Azala-e-Auham (1891). Mirza kemudian mengatakan telah menemukan makam Yesus menurut wahyu yang diperolehnya. Anehnya mula-mula ia mengatakan di Galilea, lalu di Tripoli, lalu di Suriah dan terakhir dikatakan di Srinagar, Khasmir.[25] Ratusan orang berbondong-bondong pergi ke Jalan Khanyar di Srinagar untuk melihat makam yang dikatakan Mirza itu. Mirza lebih jauh menyatakan bahwa Yesus memakai nama Yuz Asaf selama keberadaanNya di India. Hal ini menjadi semakin menarik karena Mirza menghubungkan nama ini dengan Yod Asaf, yang tidak lain tidak bukan menurutnya adalah Buddha Gautama.

Ketika Buddha mencapai penerangan dan pencerahan sempurna, sesuai dengan tradisi Buddhis Lalitavastara, ia menjadi seorang Bodhisatva. Yod Asaf adalah pelesetan dari Bod Asaf, pelafalan Bodhisatva dalam bahasa Arab. Bagaimana kata Bod Asaf berasal bisa kita telusuri demikian.

Kisah tentang Buddha Gautama pada satu masa sampai juga ke Timur Tengah (mungkin pada abad kedua). Kemudian pada masa pemerintahan Khalifah Al-Mansur, para sarjana Arab dari perguruan Al Mukafah banyak sekali menerjemahkan tulisan-tulisan dalam bahasa Pali, Sansekerta, dan Persia ke dalam bahasa Arab, di antaranya adalah kisah tentang Buddha. Seiring berlalunya waktu, kisah tentang Buddha ini akhirnya kembali lagi ke negeri asalnya India, tetapi dalam bentuk lain. Nama-nama para tokohnya sudah berganti dengan nama-nama berbau Arab dan cerita-cerita di dalamnya juga sedikit banyak berubah.

Dalam seluruh karya tulis sarjana-sarjana Arab seperti kitab Marroj-ul-Zahab (956 M) karangan Al Masudi, kitab Al Fahrist (988 M) karangan Ibn Nadim, Friq Bain ul Fariq (1023 M) karangan Bullazori dan Mufatih-ul-Alum karangan Al Khawarzamis, nama Buddha telah diarabkan menjadi Bodasaf atau Yud Asab. Ia diceritakan sebagai seorang pangeran atau nabi India yang diutus Tuhan untuk mengajarkan kebajikan. Makam Bodasaf terletak di Kushangar di Gorakhpur, India. Kata Kushangar ini juga telah diarabkan menjadi Qashmir atau Kashmir.

Akan tetapi tidak ada petunjuk sama sekali yang dimaksud Bodasaf itu adalah Yesus. Jadi apa yang dikatakan Mirza sama sekali tidak didukung oleh bukti. Dan penemuan Mirza atas makam Yesus itu juga nampaknya merupakan hasil dari menghubung-hubungkan antara Bodasaf tadi dengan seseorang yang bernama Yuz Asaf. Sebelum Mirza menyebut-nyebut makam Yesus, seorang ahli sejarah Kashmir yang terkenal Hasan Shah pernah menulis tentang makam tersebut. Menurut Hasan, makam yang letaknya bersebelahan dengan makam Khawaja Nasiruddin itu adalah makam Yuz Asaf yang datang ke Kashmir sebagai seorang duta Mesir selama masa pemerintahan Zainul Abidin (abad 15 Masehi). Yus Asap ini kemudian meninggal dan dikuburkan di Kashmir. Berdasarkan bukti-bukti arkeologis yakni prasasti Takht-e-Suleman dan gaya penulisan Persia (Khat-e-Thulth) diperkirakan makam tersebut dibangun pada abad kelimabelas Masehi. Disini sudah terang sekali bahwa Yus Asap adalah manusia riil, manusia biasa yang hidup di abad pertengahan. Ia bukan Yesus dan dengan begitu makam tersebut juga adalah bukan makam Yesus.

Kisah mana yang dapat dipercaya ? Keterangan yang berbeda-beda tentang masa muda Yesus membuat kita boleh mempertanyakan kembali realibilitas dari masing-masing sumber cerita tersebut. Adakah mereka benar-benar diilhami oleh "kebenaran sejati" ? Bila ya mengapa mereka saling berkontradiksi satu dengan yang lain ? Perbedaan itu bisa kita lihat sejak dari awal cerita, yaitu bagaimana Yesus berangkat melakukan perjalanan ke Timur (atau menurut Manuel Komroff ke arah Barat yakni ke Inggris).

Dalam manuskrip Himis, Yesus dikatakan berangkat secara diam-diam dari rumah orangtuanya bersama-sama dengan para pedagang menuju negeri India. Tetapi menurut Injil Aquariannya Dowling, Pangeran Ravanna-lah yang meminta orangtua Yesus untuk mengizinkan Yesus berangkat bersama-sama dengannya. Sedang menurut Cayce lain lagi. Guru Essene Yesus-lah yang mengirimnya ke negeri India.

Keterangan yang berbeda ini sungguh mengherankan mengingat baik Dowling dan Cayce ini sama-sama mengklaim bahwa cerita mereka itu dibaca dari Catatan Akasha dan kedua-duanya adalah tokoh teras dari kalangan New Age. Persoalan menjadi semakin kompleks jika kita membandingkan lagi dengan keterangan Mirza Ghulam yang konon memperoleh wahyu paling akhir. Menurutnya, Yesus datang ke Kashmir setelah peristiwa penyaliban. Nah lho, keterangan ini sama sekali tidak terdapat dalam manuskrip Himis dan Catatan Akasha-nya Dowling dan Cayce. Jadi keterangan mana yang benar kalau begitu ?

Contoh lainnya adalah dalam hal bagaimana Yesus mencapai tingkatan Kristus. Menurut Dowling, Yesus meraihnya setelah melewati tujuh tingkatan inisiasi. Sedangkan Cayce mengatakan hal itu terjadi setelah Yesus berhasil melewati reinkarnasinya yang ketiga-belas. Manakah yang benar di antara keduanya ? Bagaimana kita harus memilih keterangan siapa yang paling benar disini ? Bisakah mereka semua dipercaya ? Kisah-kisah mereka itu bukan saja bertentangan satu dengan yang lain namun juga bertentangan secara keseluruhan dengan Injil-injil Perjanjian Baru.

Injil-injil Perjanjian Baru jelas sudah teruji oleh zaman dan waktu. Mereka ditulis langsung berdasarkan keterangan para saksi mata. Jelas sekali bahwa Injil-injil Perjanjian Baru adalah sumber cerita yang otentik dan bisa dipercaya. Namun sebaliknya, semua cerita tentang "perjalanan Yesus ke negeri Timur" mengandung keterangan sejarah yang jauh dari akurat. Manuskrip Himis, misalnya, menuliskan bahwa Yesus dilahirkan pada masa setelah kehancuran Bait Allah. Dengan demikian penulis manuskrip Himis telah salah menempatkan waktu kelahiran Yesus sekitar 70 tahun ke depan ! Contoh lainnya adalah dalam Injil Aquarian dikatakan Herodes Antipas memerintah di Yerusalem. Padahal , dalam sejarah, Antipas tidak pernah memerintah di Yerusalem tetapi di Galilea. Kesalahan ini menjadi berarti sebab Dowling mengklaim bahwa Injilnya itu "benar sampai ke huruf-hurufnya"![26] Injil Aquarian juga mencatat pertemuan Yesus dengan Meng-ste. Mungkin yang dimaksud Meng-ste disini adalah filsuf besar China, Meng-tse (tse, bukan ste). Dowling jelas tidak menyadari, bahwa sebenarnya, Meng-tse meninggal pada tahun 289 SM. Perjanjian Baru, meski tidak pernah secara langsung menceritakan masa-masa lowong dalam kehidupan Yesus itu, memberikan banyak sekali keterangan bagi pembacanya mengenai latar belakang Yesus.

Dalam Perjanjian Baru tidak ada petunjuk sama sekali tentang perjalanan yang dilakukan Yesus ke negeri Timur. Yesus digambarkan sebagai seorang tukang kayu (Markus 6:3) dan anak seorang tukang kayu (Matius 13:55).[27] Latar belakang pekerjaanNya sebagai tukang kayu ini jelas sekali membawa pengaruh dalam ajaran dan perumpaan-perumpaanNya, misalnya perumpamaan mendirikan rumah di atas batu dan bukan di atas pasir (Matius 7:24-27). Ditambah lagi, penduduk Nazaret, yakni kampung halaman Yesus, nampak benar sudah sangat mengenal Yesus jauh-jauh hari sebelum Yesus memulai pelayananNya. Di awal masa tiga tahun pelayananNya itu, Yesus "datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab" (Lukas 4:16). Setelah Ia selesai membaca, "semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka: "Bukankah Ia ini anak Yusuf ?" (Lukas 4:22).

Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang yang ada di rumah ibadat (sinagoga) itu mengenali Yesus sebagai penduduk setempat. Faktor ini pulalah yang menyebabkan sebagian besar penduduk Nazaret tidak dapat menerima bagaimana Yesus bisa berkata-kata sedemikian indahnya. Mereka bertanya-tanya, "Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya? Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?" Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. (Markus 6:2-3) Dan yang paling menentang ajaran-ajaran Yesus adalah dari kalangan pemimpin Yahudi. Mereka menuduhNya macam-macam, seperti meninggalkan Sabat (Matius 12:1-14), menghujat (Yohanes 8:58-59, 10:31-33), dan mengadakan mukjizat dengan kuasa Iblis (Matius 12:24). Namun mereka tidak pernah sekalipun melemparkan tuduhan bahwa Yesus mengajarkan atau mempraktekkan sesuatu yang dipelajari dari negeri India. Padahal bangsa Yahudi memandang ajaran-ajaran demikian sebagai ajaran sesat.

Jika memang betul Yesus pernah pergi ke negeri India untuk belajar di bawah bimbingan "para maha Buddha", maka hal ini bisa dijadikan alasan bagi para pemimpin Yahudi itu untuk menolak klaimNya sebagai Mesias. Tetapi mereka tidak pernah memakai alasan tersebut. Mengapa ? Karena Yesus memang tidak pernah belajar dan mengajarkan apapun di luar sistem kepercayaan orang Yahudi yang berbasiskan Taurat. Penting pula untuk dicatat bahwa ketika Yesus berdiri hendak membaca di sinagoga, yang Ia bacakan adalah ayat-ayat dari Alkitab. Dan Alkitab yang sama itu pula yang memuat banyak sekali peringatan-peringatan dan pesan-pesan agar kita menghindari allah-allah palsu dan ajaran-ajaran palsu (Keluaran 20:2; 34:14; Ulangan 6:14; 13:10; 2 Raja-raja 17:35). Alkitab yang sama juga memisahkan dengan jelas antara Sang Pencipta dan ciptaanNya, berbeda dengan ajaran "Timur" yang sarat dengan unsur pantheisme.

Alkitab juga mengajarkan bahwa manusia membutuhkan pengampunan, bukan pencerahan, penerangan, atau pengetahuan (gnosis). Bukanlah suatu kebetulan jika dalam setiap ucapan-ucapan dan ajaranNya, Yesus banyak sekali mengutip ayat-ayat Alkitab. Sebaliknya tidak satupun ayat-ayat kitab Veda yang pernah dikutip oleh Yesus. Yesus dalam ajaran New Age Satu ketika Yesus pernah menanyakan pertanyaan seperti ini di depan murid-muridNya."Menurut kamu, siapakah Aku ini?" (Lukas 9:20). Petrus, salah seorang muridNya menjawab, "Mesias dari Allah". Jawaban Petrus ini seharusnya sudah mampu menjawab "teka-teki" siapakah Yesus. Namun manusia tidak pernah merasa puas dengan jawaban yang singkat itu. Manusia berulang-kali dalam sejarah berusaha melahirkan identitas baru buat Yesus. Yesus benar-benar begitu istimewa dan mempunyai daya-tarik yang luar biasa sehingga Ia selalu menjadi "milik" setiap kaum. Mereka selalu mengklaim bahwa Yesus adalah bagian dari sistem kepercayaan mereka. Mereka membentuk ulang Yesus dan mengubahNya sampai menjadi sosok yang diinginkan mereka.

Pada akhir abad kesembilan-belas muncul apa yang dikenal dengan ajaran Theosophy. Ajaran yang penuh dengan unsur okultisme dan mistis ini pertama kali disebar-luaskan oleh Helene Petrovna Blavatsky pada tahun 1875. Ia mengajarkan bahwa setiap manusia berubah-kembang dalam tujuh piringan eksistensi: fisikal, astral, mental, dan seterusnya. Setiap tingkatan piringan ini membawa manusia semakin dekat kepada penyatuan dengan Sang Absolut (Tuhan). Kaum Theosophy ini percaya bahwa proses ini memakan waktu yang sangat lama sehingga membutuhkan reinkarnasi yang berulang-ulang. Menurut "wahyu" yang diterima oleh Blavatsky, bukan individu manusia saja yang berubah-kembang tetapi juga ras manusia itu sendiri ikut berubah-kembang. Sejauh ini sudah ada tiga ras manusia yakni Lemuria, Antlantis, dan Arya. Dalam setiap ras ini masih terdapat lagi sub-sub ras. Saat ini kita sedang berada pada ras ketiga – Arya – dan sedang memasuki sub-ras keenam dari ras Arya tersebut.

Theosophy mengajarkan pada setiap permulaan sebuah sub-ras, Maha Guru Dunia (juga dikenal sebagai Kristus, pemberi kebijakan Ilahi) turun ke dunia dan masuk ke dalam tubuh seorang yang dipilih (the chosen one) untuk membantu dan membimbing perkembangan spritual umat manusia. Kelima inkarnasi Kristus dalam lima sub-ras Arya ini adalah Buddha (di India), Hermes (di Mesir), Zoroaster (di Persia), Orpheus (di Yunani), dan Yesus (ketika Ia dibaptis di sungai Yordan).[28] Yesus digambarkan sebagai seorang Master atau orang suci yang – sama seperti Buddha, Khrisna, Zoroaster dan lainnya – membimbing umat manusia ke dalam pencerahan dan harmoni Zaman Baru atau New Age. Oleh sebab itu gerakan spritual ini dinamakan pula New Age. Landasan pemikiran Kristologi dalam New Age adalah pembedaan antara Yesus, yakni tubuh seorang manusia dengan Kristus, suatu entitas Ilahi yang berdiam di dalam tubuh tersebut.

Dalam konsep New Age ini, Yesus hanyalah manusia biasa yang menemukan pencerahan atau penerangan sempurna di negeri Timur, dan sampai kepada puncaknya Ia menjadi Kristus. Konsep ini jelas bertolak belakang dengan Perjanjian Baru yang menerangkan bahwa Ia sendiri adalah yang datang dan keluar dari Tuhan (Yohanes 8:58). Yesus dikatakan telah menyumbangkan tubuhnya untuk dipakai oleh Kristus. Annie Besant, yang menggantikan kepemimpinan Blavatsky, berkata : "Karena Ia [Kristus] membutuhkan sebuah tempat persemayaman dalam bentuk manusia, sebuah tubuh manusia. Manusia Yesus menyerahkan dirinya sebagai korban sukarela, menyerahkan dirinya tanpa pamrih kepada Tuhan Kasih, yang mengambi l tubuhNya sebagai persemayaman yang suci, dan berdiam di dalamnya selama tiga tahun masa hidup fana. "[29]

Kaum Theosophy menolak semua anggapan bahwa Yesus mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia. Manusia hanya dapat menyelamatkan dirinya melalui reinkarnasi yang berulang. Proses daur-hidup spritualitas ini membawa manusia jauh dan makin jauh dari piringan fisikal, sebaliknya dekat dan makin dekat menuju piringan spritual. Dalam proses ini, setiap manusia – tidak peduli dari agama atau ras mana ia berasal – mempunyai potensi untuk menjadi "Kristus". Manusia yang secara terus-menerus mengalami proses reinkarnasi pada akhirnya akan mencapai status "Master". Buddha, Khrisna, Zoroaster, Yesus masuk ke dalam kelompok manusia ini. Mereka telah mampu menyelesaikan dan mengakhiri proses reinkarnasi yang berulang-ulang itu dan kemudian tanpa pamrih berusaha menolong manusia-manusia lain dalam mencapai pencerahan seperti mereka.

Ajaran ini tentu saja bertentangan dengan firman Tuhan yang berkata: "Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku." (Yesaya 43:11) Alkitab mengajarkan bahwa manusia membutuhkan kasih karunia Tuhan untuk memperoleh keselamatan dan bukannya melalui pencapaian penerangan atau pencerahan.

Kesimpulan Banyak sudah usaha manusia sepanjang sejarah untuk membentuk sosok Yesus menjadi sosok yang sesuai dengan angan-angan dan pemikiran mereka. Usaha ini bahkan sudah dimulai sejak zaman para rasul. Paulus dalam suratnya kepada jemaat Galatia memberi nasihat kepada kita demikian : Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain dari pada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain dari pada yang telah kamu terima atau Injil yang lain dari pada yang telah kamu terima. (2 Korintus 11:4)

Kisah mengenai perjalanan Yesus ke negeri India dan Tibet jelas sama sekali tidak bisa dipercaya.

  1. Pertama karena sumber-sumber kisah tersebut, mulai dari manuskrip Himis, injil Aquarian, dan catatan Edgar Cacye, banyak sekali mengandung ketidak-akuratan sejarah.
  2. Kedua, kisah tersebut bertentangan dengan keterangan yang terdapat di dalam Alkitab. Walaupun demikian, saya percaya bahwa berita tentang Yesus telah sampai ke negeri India dan Tibet sejak masa awal penyebaran agama Kristen.[30] Sangat mungkin terjadi bahwa beberapa orang yang menaruh minat terhadap Yesus mencoba menggubah sosok Yesus dan ajaranNya hingga sesuai dalam sudut pemikiran sistem kepercayaan mereka. Dan mungkin juga bahwa kemudian mereka menuliskannya dalam gulungan-gulungan lontar yang lalu tersebar di biara-biara di India. Seperti lazimnya yang terjadi di dunia, cerita dua senti bisa berkembang menjadi cerita lima senti. Begitu pula dengan apa yang mereka tulis tentang "Yesus" mereka. Maka itu tidaklah mengherankan apabila kita menemukan sosok Yesus yang berbeda dengan sosok Yesus yang kita kenal.

Untuk menjadi sumber cerita yang bisa dipercaya, manuskrip-manuskrip tersebut haruslah mempunyai bukti-bukti penunjang yang tidak terbantahkan seperti layaknya manuskrip-manuskrip Perjanjian Baru. Apakah mereka juga ditulis oleh orang-orang yang terpercaya dimana kita mengenal mereka sebagai saksi mata kehadiran Yesus di muka bumi ? Justru faktor-faktor penting ini tidak dimiliki oleh manuskrip Himis. Dengan kata lain manuskrip Himis tidak memiliki otoritas seperti halnya Alkitab. Adapun Alkitab yang kita miliki telah lulus oleh ujian zaman dan waktu.

Dalam hal ini biarkan kitab-kitab tersebut bersaing dengan Alkitab. Saya hendak menutup tulisan ini dengan meminjam perkataan Rabbi Gamaliel : "Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap."[31] (Contributed by: Armen Rizal, Last Updated: April 2000) Catatan Kaki 1 La vie inconnue de Jisus Christ diterbitkan oleh Ollendorf di Paris tahun 1894. Tiga terjemahan yang terpisah tiba di Amerika bulan Mei tahun itu, masing-masing diterbitkan oleh Macmillan di Washington; oleh G. W. Dillingham, di New York; dan oleh Rand, McNally & Co., di Chicago. Sebuah terjemahan Italia oleh R. Giovannini muncul di tahun yang sama dan sebuah versi Jerman, Die Luecke im Leben Jesu, dicetak tahun itu juga. Edisi London diterbitkan oleh Hutchinson pada tahun 1895. Pada tahun 1926 Dillingham kembali menerbitkan buku itu di New York, tetapi dengan hak cipta bertanggalkan tahun 1890! Sebuah versi Spanyol hasil terjemahan A. G. de Araujo Jorge terbit di Rio de Janeiro di tahun 1909. 2 Nicolas Notovitch, The Life of Saint Issa, dikutip oleh Joseph Gaer, The Lore of the New Testament (Boston: Little Brown and Co., 1952), 118. 3 Nicolas Notovitch, dikutip oleh Per Beskow, Strange Tales About Jesus (Philadelphia: Fortress Press, n.d.), 59. 4 Nicolas Notovitch, ed. The Life of Saint Issa, dalam Elizabeth Clare Prophet, The Lost Years of Jesus (Livingston, MT: Summit University Press, 1987), 218. 5 Ibid., 219. 6 Ibid., 222-23. 7 Ibid., 245-46. 8 Max Muller, "The Alleged Sojourn of Christ in India," The Nineteenth Century 36 (1894):515f., dikutip oleh Edgar J. Goodspeed, Modern Apocrypha (Boston: Beacon Press, 1956, 10. 9 Ibid., 11. 10 J. Archibald Douglas, "The Chief Lama of Himis on the Alleged 'Unknown Life of Christ'" The Nineteenth Century (April 1896) 667-77, dikutip dalam Prophet, 36-37. 11 Goodspeed, 13. 12 Targum ad loc. ; Sanhedrin 19b; Pirkey Rabbi Eliezer 48 13 Yov'loth 47:5 14 Josephus, Antiquities 2:9:5 15 Sephir Ha-Yasher atau Kitab Kebenaran adalah sebuah kitab yang hilang. Kitab ini ada disebut dua kali dalam Perjanjian Lama yaitu dalam Yosua 10:13 dan II Samuel 1:18. Keberadaan kitab ini sendiri tidak diketahui sampai kira-kira pada tahun 1750 terbit sebuah terjemahan Inggris atas sebuah manuskrip Ibrani kuno yang ditemukan di Gazna, Persia. Sephir Ha-Yasher yang saya gunakan adalah sebuah terjemahan Inggris tahun 1840 yang diterbitkan oleh J.H Parry & Co. Salt Lake City. 16 Kaum New Age percaya bahwa bumi ini diselubungi oleh medan spiritual Akasha yang mana mempengaruhi dorongan hati dan pikiran setiap manusia. Dengan begitu medan ini dipercaya pula menyimpan seluruh catatan sejarah umat manusia. 17 Dowling, The Aquarian Gospel of Jesus the Christ (London: L. N. Fowler & Co., 1947), 48. 18 Ibid., 50. 19 Dowling, dikutip oleh Gaer, 134. 20 Dowling, Aquarian Gospel, 66. 21 Philip J. Swihart, Reincarnation, Edgar Cayce, and the Bible (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1978), 18. 22 Anne Read, Edgar Cayce: On Jesus and His Church (New York: Warnera Books, 1970), 70. 23 Dr Lewis Spencer The Mystical life of Jesus, American Rosicrucian Series, Supreme Grand Lodge Am. 24 H , Spencer The Secret Doctrines of Jesus , Supreme Grand Lodge of Amorc, California America, 1954 (Edition keenam) 25 Mirza Ghulam Ahmad Sat Bachan Qadian, 1895 p. 164.

Lihat pula Mirza Ghulam Ahmad Masih Hidustan Mein Qadian 1899 p. 3. dan Mirza Ghulam Ahmad Alhuda Qadian 1902 26 Dowling, Aquarian Gospel, 12. 27 Menurut keterangan St. Justin (138-161 M), Yesus adalah seorang pembuat bajak dan kuk. (Contra Tryph., 88) 28 H. P. Blavatsky, The Secret Doctrine (Wheaton, IL: Theosophical Publishing House, 1966), 168-89. 29 Annie Besant, Esoteric Christianity (Wheaton, IL: Theosophical Publishing House, 1953), 90-91. 30 The Malankara (Indian) Orthodox Church : A Historical Perspective. Oleh His Eminence Metropolitan Dr. Paulos Mar Gregorios. 31 Kisah Para Rasul 5:38 ----- Original Message ----- From: "Rini T.A." <rini@bankbii.com </ym/Compose?To=rini@bankbii.com&YY=9606&order=down&sort=date&pos=0&view=a&head=b>> To: <anandkrishna@yahoogroups.com </ym/Compose?To=anandkrishna@yahoogroups.com&YY=9606&order=down&sort=date&pos=0&view=a&head=b>> Cc: <suriatini@yahoo.com </ym/Compose?To=suriatini@yahoo.com&YY=9606&order=down&sort=date&pos=0&view=a&head=b>>; <rbeff@cbn.net.id </ym/Compose?To=rbeff@cbn.net.id&YY=9606&order=down&sort=date&pos=0&view=a&head=b>> Sent: Monday, May 10, 2004 3:20 PM Subject: [Anand Krishna E Study Circle] Jesus In Himalaya > Jesus In Himalaya > > "Jika benar Yesus pernah tinggal di Himalaya dan makamnya berada di Kashmir, > ini akan mengubah pandangan dunia. Yesus bukan monopoli dunia Barat tetapi > ia pun 'hidup' di Timur sehingga ia menjadi universal. Cara pandang seperti > ini tidak mengkotak-kotakkan manusia sehingga 'abad' baru pasti datang > kepada kita semua," demikian Jeff dalam film Jesus In Himalaya berkomentar. > > "Walaupun saya tidak mendapatkan bukti otentik akan cerita itu tetapi > minimal saya sudah menempuh jalur yang ditempuh oleh Saint Issa atau Yesus," > katanya lebih lanjut. > > > Mengawali perjalanannya dengan sebuah pertanyaan: "mengapa Yesus setelah > disalibkan pergi ke India?" Kalau ia tidak mengenal India sebelumnya > mungkinkah ia pergi ke sini? Kemungkinannya adalah ia pernah ke India dan > kembali lagi ke sana." > > Cerita dibuka mengisahkan perjalanan Jeff mencari data mengenai kisah Yesus > di Himalaya. Pertama ia bertemu dengan seorang professor di sana yang > menceritakan makam Yesus di Kashmir, pada makam ini secara aneh ditemukan > bahwa ada 2 bagian dari tutup makam, bagian atas makam menghadap > Selatan-Utara yang berarti mengikuti tradisi baru di India sedangkan bagian > bawah menghadap Barat-Timur yang berarti makam orang-orang kuno dari tradisi > lama. Selanjutnya dalam makam itu juga ditemukan jejak telapak kaki yang > menggambarkan luka seperti luka bekas salib, ini adalah luka yang dimiliki > oleh Yesus. Makanya professor dan teamnya berkesimpulan inilah makam Yesus. > > Kisah ke dua adalah adanya makam Santo Thomas di Madras/Chennai, ia adalah > salah seorang rasul dari Yesus. Sehingga makin memperkuat bahwa Yesus memang > pernah ada di India. Kemudian ia melanjutkan ke arah pegunungan Himalaya > termasuk ke Biara Himis. Termasuk bertanya kepada peramal > kepercayaan Dalai Lama dengan jawaban Issa (Saint Issa - rakyat setempat > memanggil Yesus demikian) pernah berada di sana karena bukti pohon teh yang > dibawanya dari India ada di sana. Melanjutkan pertanyaan ke beberapa > penduduk, akhirnya di sekitar pegunungan di kaki Himalaya ia mendapatkan > cerita rakyat yang cukup memuaskan yang menceritakan Yesus sempat berada di > sana ketika ia berusia 13 - 29 tahunan karena ketika berumur 30 tahun Yesus > sudah di Palestina kembali. > > Hal yang menarik lainnya yang ditemui oleh Jeff adalah: Mala (Budha) atau > Rosario, kalung yang dipergunakan untuk berdoa mempunyai jumlah butiran yang > sama yaitu 108 butir, begitu pula dengan ritual dalam agama Kristen (seperti > musik dan lonceng, serta mantra dan kidung) ternyata banyak kemiripan dengan > tradisi Budha dan juga ajaran Yesus seperti Non Violence, Kasih, Sabar dan lain sebagainya sangat sesuai dengan ajaran Budha dan Hindu. Jika demikian > sangatlah mungkin Yesus pernah belajar dari India dan pegunungan Himalaya. > > Adalah Nikolas Notovich yang pertama kali menuliskan tentang hal ini. Secara > kebetulan ketika ia berburu kakinya patah dan ia dibawa ke Himis (salah > sebuah kuil/Vihara di pegunungan Himalaya) untuk dirawat. Para pendeta/bhiku > di sana merawatnya dengan baik. Selama dalam perawatan itu hampir setiap > hari ia membujuk untuk diperlihatkan lontar yang menceritakan tentang Issa > di sana (sebelumnya ia pernah mendengar kisah ini), dan akhirnya > permintaannya dikabulkan. Mulailah ia dibacakan satu demi satu helaian > lontar oleh bhiku di sana dan diterjemahkan oleh seorang guide yang > mendampinginya dan ia pun menyalin kata perkata yang diterjemahkan itu. > Setelah sembuh ia pun pulang kembali ke negerinya dan menerbitkan buku > tentang keberadaan Yesus di Himalaya. > Menyamai perjalanan Notovich, Jeff pun pergi ke Himis tetapi sebelumnya ia > bertanya kepada seorang pastur dari sebuah misionaris yang dengan tegas > menolak pendapat bahwa selama tahun-tahun yang hilang Yesus ke Himalaya, > dikatakannya Yesus tetap berada di Palestina. Tetapi ada sesuatu yang tidak > dapat dipungkiri ketika visi missionaris pertama kali masuk daerah Himalaya, > di sana ditemukan penduduknya telah mengenal ajaran yang dibawakan, para > penduduk berkata: "di bawah pohon ini Issa pernah memberikan > ajaran-ajarannya." > > Di Himis, Jeff bertanya pada para pendeta dan dijawab bahwa ada sebuah > ruangan gelap dan rahasia tempat penyimpanan lontar-lontar dan kuncinya di > bawa oleh seorang pendeta yang kedatangannya setiap 5 - 6 tahun sekali ke > sana. Dan di salah sebuah kuil Jeff bertemu dengan seorang Amerika yang > belajar meditasi di sana, ia menceritakan pengalamannya ketika ia bernyanyi > di 'suatu' tempat tiba-tiba ada seorang pendeta kecil yang membawanya ke > sebuah ruangan dan di dalamnya ia menyaksikan lontar dimaksud. Tetapi > keesokan harinya ketika ia mencari pendeta kecil itu tidak ditemukannya (di > sana banyak sekali pendeta), namun ada 'sesuatu' yang dirasakannya. Ketika > ia 'bernyanyi' di tempat itu, seolah batinnya mengatakan "Yesus pernah > berada di sini," dan energinya sangat kuat. > > Film yang ditutup dengan perkataan walaupun tidak menemukan bukti otentik > namun tersimpan rasa puas dalam diri Jeff. Sambil tetap mengusung ide bahwa > jika bukti ini ditemukan maka ini akan merubah sejarah dunia dan kita akan > semakin universal. > > * > > > Sebelum pemutaran film Yesus di Himalaya, diskusi mahasiswa yang dimulai > agak molor sedikit kurang lebih 15 menit dari pukul 16 dibuka dengan ucapan > selamat datang kepada para mahasiswa dan juga beberapa orang di luar > mahasiswa yang akan ikut Sufi Mehfill, di One Earth, One Sky, One Humankind. > Dengan mata terpejam para hadirin khusyuk membacakan doa 4 agama seperti > yang lalu, tradisi ini sudah lama berlangsung di Anand Ashram. > > Setelah pemutaran film, Wandy Nicodemus membuka session diskusi dengan > kesimpulan bahwa film ini ingin mengungkapkan bahwa Yesus adalah milik semua > dan dengan demikian universalitas tercipta. Dan jika sudah begini maka tidak > akan ada lagi perang dan keributan. Demikian cara pandang kita mesti diubah. > > Dilanjutkan dengan Roy yang menceritakan agama Samawi (langit) dan dunia. > Sebenarnya film ini menceritakan bahwa kaitan erat sudah terjadi antara > Middle East dan India. Contohnya dengan Mala-Rosario, ritual agama, > ada kaitannya antara Issa dengan Budhisme dan Hindu. Kalaupun Yesus > mengatakan: "Aku tidak mengubah hukum Torah/Taurat" tetapi dalam kenyataan > ajaran Yesus mengajarkan Cinta Kasih dan Non Violence yang bertolak > belakang dengan ajaran Musa yang berkata: "an eye for an eye, a tooth for a tooth" yang berarti balasan yang setimpal tetapi di perjanjian baru "jika ditampar pipi kirimu berikanlah pipi kananmu" ini sebuah perubahan yang besar. > > Tetapi Yesus tidak mengungkapkan secara vulgar, demikian juga nabi Muhammad (nanti pak Anand yang akan menjelaskan, demikian ujar Roy). > > Diskusi dibuka dengan tanggapan Humaedi dari UIN Syarif Hidayatullah. Ia > menceritakan pengalamannya bergaul dengan teman yang beragama Kristen. Dikatakan bahwa harus dibedakan antara Yesus histori dan Yesus keimanan. Sehingga ketika ia menjadi histori/sejarah biarkan dalam wilayah misteri. Menurutnya Yesus tidak sama dengan Budha, karena dalam film itu tidak mendapatkan bukti otentik keberadaan nabi Issa di sana. > > Sedangkan Susan berpendapat lain bahkan ia bertanya walaupun yakin bahwa > Tuhan itu satu tetapi ia mempertanyakan benarkah demikian. Karena terkadang > banyak sekali praktek yang menyatakan sebaliknya. Dan ia berpendapat bahwa > Isa adalah tokoh dengan perjalanan spiritual. Tetapi bagaimanakah caranya > kita bisa mencintai nabi Isa (bagi non Kristen) sebagaimana kita mencintai > Muhammad (bagi muslim) dan sebaliknya? Bisakah kita menghormati? > > > Menanggapi hal ini, Guruji berkata: > "Saya akan membawa kalian semua melihat sejarah, bahwasanya sejarah itu suka > ditwist atau dibelokkan untuk suatu kepentingan tertentu dan ini terjadi di > depan mata saya sendiri, nanti perlahan-lahan kita akan tarik ke belakang." > > o Pertama > Pada tahun 1975 saya mengenal guru saya Rajneesh yang terkenal dengan sebutan > Osho. Ia mengajarkan kebebasan sehingga ia dijuluki sex guru padahal > tidaklah demikian. Saya bisa menerima pemikiannya dan ajarannya tetapi tidak > tingkah lakunya ada sesuatu yang tidak berkenan (saat itu-kemudian nantinya > berkembang menjadi sebaliknya - ini ditulis di Soul Quest). > Kurun waktu 1965-1989 ia tidak membuat buku tetapi setiap kali ia berceramah > selalu ada rekamannya dan ini nantinya diterbitkan menjadi 650 buah buku. > Tahun 1995 saya mengajukan diri untuk menerjemahkan buku-bukunya. Dan > melalui surat wasiatnya dikatakan bahwa dalam menerjemahkan tidak boleh > mengedit satu kata pun harus sesuai kata perkata apa yang diucapkannya (oleh > karena inilah saya mundur - karena audience Indonesia berbeda dengan Barat > dan India). Kalau belum bisa menerima kata-kata saya (Osho-red) kita > diharuskan menunggu karena kita belum bisa menjadi murid (beliau tidak ingin > kata-katanya diedit dan diartikan secara halus). > Tetapi sekarang, baru beberapa tahun meninggal buku-bukunya diedit oleh para penerusnya. > > Di sini kita lihat perubahan karena kepentingan tertentu. > > o Ke dua > Yogananda yang bukunya saya tulis sebagai Otobiografi Yogi. Semasa hidupnya > sampai dengan 1946 ajarannya begitu terkenal. Tetapi di tahun 1950an ketika > ia sudah wafat murid-muridnya mengklaim bahwa Kriya Yoga hanya akan didapat > dari murid Yogananda (monopoli tunggal mereka). Dengan demikian orang yang > ingin mendapatkan Kriya Yoga harus memberikan fee tertentu kepada > kelompoknya. > > o Selanjutnya > Saya sering menceritakan bahwa guru saya seorang sheikh yang sederhana. Dari > beliaulah saya mengenal Masnawi yang berbahasa Hindustani (dahulu ini adalah > bahasa Parsi-Sanskrit, kini terbagi dua yaitu: Urdu dengan memasukkan bahasa > Arab --> Pakistan dan Hindi yang memasukkan bahasa Sanskrit --> > Hindi/India). Saya mengenal Cinta dari Sang Maulana (Rumi biasa disebut > demikian), namun entah kenapa Masnawi 6 sampai saat ini saya tidak dapat > menerjemahkannya seperti ada yang berbeda. Ternyata tanda-tangan Sang > Maulana dipalsukan (tertanda 2 tahun setelah meninggalnya) dan ini dapat > saya pastikan sebelum saya turun tadi dari kamar, baru saja Gulam Aga > mengirimkan berita Masnawi 6 tidak ditulis oleh Rumi (pantas saya tidak ingin > menerjemahkan lagi pula gaya bahasanya berbeda). Nah lagi-lagi kita lihat > sejarah dapat diputarbalikkan sesuai dengan kemauan penguasa ataupun untuk > kepentingan tertentu. > > Ada juga mengenai HR. Bukhari yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang > wangi berasal dari Sindh, waktu belajar di Sheikh saya melihat hadits itu > dengan mata kepala sendiri, tetapi ketika mau menulis buku Islam Esoteris > ketika saya cari kembali sudah tidak ada. Saya meminta tolong salah seorang > professor dan ia pun terheran-heran hadits tersebut sudah dihapus padahal > sebelumnya masih ada di situ. > Itu contoh yang sederhana, kita tidak tahu secara pastinya dan ini > pengalaman pribadi saya. > Sebagai umat Islam jangan lupa dan jangan tersinggung please open your mind. > Contoh lainnya: ketika Muhammad kawin dengan Khadijah pakai sistem apa? Saat > itu Islam belum ada dan sepupu Khadijah adalah orang Nasrani. Apakah kita > akan memutarbalikkan sejarah dan berkata kawin secara Islam? Ulama tidak > berani mengatakan itu. > Sebagian besar ayat diturunkan di Mekah, pada saat Muhammad dengan Khadijah, > mengapa tidak satupun hadits yang berasal darinya. Bahkan satu hal yang aneh > adalah ketika nabi mengalami Isra Mi'raj, Siti Aisyah mengatakan ia > memengang paha nabi dan berkata pahanya masih panas, padahal khan saat itu > nabi sedang bersama Khadijah dan selama beristri dengan Khadijah nabi hanya > mengenal satu istri. So bagaimana mungkin yang bercerita justru Aisyah?? > > 50 - 60 tahunan setelah nabi wafat, para khalifah termasuk Aisyah saling > bunuh-membunuh memperebutkan kekuasaan. > Di satu pihak dahulu nabi pernah berkata: "sebaik-baiknya kaumku adalah ia > yang paling dekat denganku." Dan yang paling dekat adalah orang yang hidup > sejaman dengan nabi. Setelah nabi wafat gak sampai 100 tahun saja orang > sudah saling bunuh, apalagi kita-kita ini?? > > Kita tarik mundur lagi ke belakang, kalau nabi Muhammad sekitar 1000 - 1500 > tahun ini tentang Sidharta Gautama. > Sesaat setelah kematian Sidharta Gautama, hari itu juga ada 32 jenis tafsir > ajarannya padahal jasad beliau masih ada. Sampai akhirnya semua sepakat > memanggil Anand (seorang murid Sidharta Gautama yang dianggap belum > 'tercerahkan') untuk meluruskan hal ini. Oleh Anand kemudian study > group itu di bagi menjadi 2 kelompok: Mahayana yaitu mereka yang mengurusi > 'pencerahan' masyarakat banyak dan Hinayana yaitu mereka yang mengurusi > 'pencerahan' pribadi. Sesungguhnya Mahayana dan Hinayana bukanlah suatu > aliran dalam agama Budha tetapi ketika ajaran Budha masuk ke Cina maka > dilembagakanlah Budha menjadi agama dan ke dua study grup itu masuk ke dalam > 2 aliran dalam agama Budha. Saat ini ke duanya sudah tercampur baur dan > tidak murni lagi. > Terkadang sejarah diputarbalikkan hanya untuk legalitas saja. > > Pada masa Nikolas Notovich menulis kisah Yesus di Himalaya, ribuan bukunya > langsung dibakar. Tetapi kisahnya bukanlah yang pertama dan terakhir, jauh > setelah ia melihat lontar tersebut seorang India Abedanath dari Calcuta pun menulis hal yang sama di tahun 1950an. Bersumber > dari lontar yang sama di kuil yang sama yaitu Himis dan masih banyak juga > orang yang melihatnya. Buku yang ditulis Abedanath menjadi Best Seller saat > itu. > > Kemudian di tahun 1980an terungkap fragmen Laut mati yaitu Gospel of Thomas > yang dikoleksi oleh seorang kolektor langka. Barulah terungkap gereja dan > makam Saint Thomas di Madras/Chennai berikut Injilnya yang mengatakan bahwa > Thomas adalah saudara kandung Yesus. > Sebenarnya Injil pun mengungkapkan reinkarnasi hanya saja di tahun 300-an > dihapus oleh seorang Raja dari Konstantinopel hanya karena ia bertanya > apakah kalau ia mati dapat saja lahir kembali sebagai binatang. Dan dijawab: > "ya." Egonya tersinggung sehingga ia menghapus ayat dalam Injil tersebut, di > sini sekali lagi kita melihat bahwa politisasi telah memasuki kehidupan > beragama sehingga ajaran-ajaran dapat saja dibelokkan demi kepentingan > pribadi. > Paham reinkarnasi sebenarnya sudah lama diturunkan sejak nabi Ibrahim dengan > kelompok Hazid yang kemudian berkembang menjadi Kabala. Yesus meneruskan > tradisi ini. > > Kembali ke zaman nabi Muhammad, Al-Quran sebenarnya adalah inti sedangkan > hadits adalah waldifikasi para ulama. Karena tidak sekalipun Muhammad > berkata untuk menirunya; dan kalau benar beliau berkata untuk meniru mengapa > kita tidak meniru yang satu ini. > Sebuah kisah yang menggambarkan Muhammad mempersilahkan kaum Nasrani untuk > menggunakan Masjidil Aqsa untuk sholat. > Rasul berkata: "Silahkan sholat di sini." Sholat dalam arti kata yang > generik karena gerakan sholat tidak pernah ada dalam Al-Quran. > Di sini Rasul mempersilahkan siapa saja untuk berdoa kepada Yang Maha > Tunggal dengan cara mereka masing-masing. Rasul mengakomodir semua. > Mengapa sekarang kita tidak? Malah saling bertentangan satu sama lain, jika > kita mengikuti sunnah Rasul tentu juga harus mengikuti sunnah yang satu ini. > > Kembali pada Film: > 1. Sebelum jaman Yesus, Nasrani tidak pernah mengenal istilah Kristo. Istilah Kristo hanya dikenal dalam tradisi Hindu, yaitu seseorang yang menguasai ajaran Krishna. > 2. Sebelum memasuki sebuah kuil atau tempat suci pasti kita > menyucikan diri dengan membasuh wajah (tradisi Hindu). Ritual ini pun > dipakai oleh Yesus ketika memasuki Bait Allah sehingga sekarang ketika > memasuki gereja pasti ada wadah air suci untuk dipercikkan pada wajah. > 3. Jika nabi Musa dahulu dapat berkomunikasi langsung dengan Allah, > Issa mengambil simbol-simbol alam dengan malaikat dan ini pun berlaku bagi > nabi Muhammad. > Di sini kita sekali lagi melihat kesinambungan antara satu dengan yang lain > sehingga ketika hal ini dibelokkan jelas akan terlihat. Yesus mulai dengan > Kasih sedangkan Muhammad mulai dengan Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. > > Mengenai makam Yesus, para ulama di Kashmir meyakini itulah makam nabi Isa > dan Mariam dengan menyebut Bunda Maria sebagai Miri. > Tentang lontar yang bercerita mengenai Yesus di Himalaya (The Lost Year of > Jesus Christ) pernah dinyatakan oleh kelompok yang berseberangan dengan > Dalai Lama bahwa Dalai Lama telah menggadaikan jiwanya dengan menjual lontar > tersebut ke Vatican untuk mendapatkan Nobel Perdamaian. Dan menurut berita > pun Dalai Lama pernah diundang oleh Paus ke Vatican dan bukan oleh > pemerintahan Italia. Di sana ia memberikan lontar kepada Paus. Alasan Dalai > Lama adalah agar perjuangannya untuk Tibet dapat dikenal masyarakat luas. > Dan ketika ditanya mengenai kebenaran cerita tersebut, ia hanya tersenyum > saja. > > Sebenarnya saya yakin lontar tersebut tidak pernah hilang dan masih ada di > Tibet. Kalaupun Dalai Lama menggadaikan jiwanya untuk itu, lontar itu tetap > ada. Karena pendeta Tibet jika membuat lontar tidak hanya satu melainkan > bisa 2,3, 4 copy dan disimpan di tempat-tempat yang terpencar. Lontar itu > masih ada di Shigatse, Himis dan pasti Dalai Lama mempunyai copy di > tempatnya di Dharamsala. > > Kembali Guruji bercerita mengenai Rumi, dalam salah satu Masnawi Maulana > berkata: Kalaupun kakimu sampai berdarah, berjalan dan kau bisa sampai ke > lembah Sindhu betapa beruntungnya dirimu. > > Bergeser kembali kepada sejarah Iqbal seorang penyair besar Pakistan pernah > mengatakan bahwa kita mesti menjadi Pakistan (padahal maksudnya dari kata > Pak yang berarti tanah yang suci). Oleh Muhammad Ali Jinna kemudian > kata-kata ini yang dipergunakan sebagai dasar perjuangan untuk memisahkan > diri dan menjadi negara Islam Pakistan. Saat itu Iqbal masih ada dan di > depan hidungnya kata-katanya dipelintirkan menjadi sarana politis dan > kepentingan sekelompok orang. Ketika Pakistan sudah terbentuk dan Ali Jinna > mengumumkan kita adalah negara sekuler, para ulama pun memprotesnya (Sekali > lagi kita lihat betapa sejarah bisa dibelokkan untuk 'sesuatu') > > Di akhir acara Guruji mengutip salah satu arti dari Al-Quran yang > menyatakan: "Bukankah sesungguhnya kita semua satu umat." > Sebenarnya ketika Eropa termasuk Portugis menjajah kita dan mengatakan > Indies berarti semua bangsa yang terletak di seberang sungai Sindhu. Semua > kita adalah satu budaya sehingga ada kemiripan satu sama lain. Indonesia > tidak pernah mengimpor agama Hindu karena itulah budaya kita (agama Hindu > sendiri baru lahir kurang lebih 500 tahun yang lalu, padahal budaya > Hindustan sudah lebih dari 5000 tahun). > Pada masa awal yang berkembang adalah 3 kebudayaan yang mirip yaitu: Mesir, > India dan Cina. Kalau Mesir menganggap Kau adalah badan yang punya Jiwa > makanya simbol adalah pyramid dengan badan yang dibalsem. Konsep badan punya > Jiwa sehingga badan yang diawetkan sewaktu-waktu jiwa bisa masuk lagi. > Sedangkan India --> Kau adalah Jiwa yang mempunyai badan sehingga > kebalikkannya badanlah yang dibakar karena Jiwa bisa mencari badan lainnya. > > "Jangan melupakan budaya asal, untuk mempersatukan Indonesia inilah yang > harus kita ingat dan tumbuh kembangkan kembali," demikian Guruji sambil > mengutip perkataan Sir Rafles Stamford yang menyatakan jika ingin > mempersatukan Java satukanlah lewat budaya. > > Diskusi yang membawa begitu banyak bagi kita semua diakhiri sekitar pukul > 18.10 wib. > > > Namaste :-)

 



2008/12/3 Lili Gundi <lili_gundi@yahoo.com>

Benar apa yang bapak sampaikan. Saya pernah nonton filem dokumenter  Discovery Channel yang menelusuri hal ini, ke berbagai musium, biara, sampai ke Laddakh dan lembah-lembah Himalaya di Kashmir.   Mereka tidak menemukan bukti apapun. sebagian orang-orang yang diwawancari menyatakan benar Yesus ke Kashmir, sebagian yang lain menyatakan tidak tahu. bagaimana mereka tahu peristiwa yang terjadi 2000 tahun yang lalu?  
Di samping bukti-bukti empiris  yang menyatakan Yesus di kubur di Talpiot itu, saya ingin menyertakan satu analisis berdasarkan akal saya. Tidak mungkin Yesus, andaikata dia benar hidup atau bangkit kembali sebagai manusia, akan pergi meninggalkan negara dan bangsanya, apalagi ke negeri jauh sepeti Kashmir. Sebagai pembaru agama Yahudi, pasti ia tidak akan melakukan itu, karena kalau ia lakukan itu, pastilah dia disebut pengecut atau pengkhianat. Sebaliknya, andaikata dia menampakkan diri di depan  publik Israel atau penguasa Romawi pada waktu itu, pasti musuh-musuhnya akan takluk, karena mereka tahu Yesus tidak dapat mati.
Coba bayangkan andaikata Bung Karno, karena dihina oleh rakyat Indonesia ketika ia jatuh, lalu pergi ke Israel untuk mati dan dikuburkan di sana (agar bisa bangkit pada hari ketiga),  pastilah kita akan mengatakan ia pengkhianat besar.
Himbauan saya kepada Pak Krishna: tujuan yang baik hendaknya didasari oleh hal-hal yang benar, bukan oleh hal-hal yang meragukan, apalagi dengan kesimpulan ujug-ujug dan  dipaksakan seperti itu. Nama baik atau kredibelitas yang anda sudah miliki bisa tercemar karena itu.
LGS      


From: IGusti Agung <agungpindha@yahoo.com>
Sent: Wednesday, December 3, 2008 7:39:56 PM

Subject: [bali-bali] Re: Allah ......asal muasal.


Soal penelitian dan panamuan sarcaphagus keluarga Jesus,
kebetulan tyang dapat nonton documentarynya diTV disini.
Memang betul ditemukan digoa bawah tanah , seluruh keluarga Jesus,
Josef da Mary juga disana , menurut tradisi Yahudi dulu , hanya
keluarga saja yang dapat dikuburkan di kuburab keluarga.
Tapi disana juga didapatkan carcaphagusnya Mary Magdalen , jadi
kesimpulannya , Mary Magdalen adalh isteri Jesus , juga titemukan
sarchapagus berisi tukang bayi , yang katanya anak dari perkawinan
mereka , perlu diingat pada waktu itu , Jesus dan pengikutnya dalam
kejaran Orang Romawi , jadi perkawinandan anak Jesus dirahasiakan,
oleh pengikut dan pelindungnya , untuk menyelamatkan keturunan Jesus.

Tidak ada sesuatupun yang bisa kita pastikan , baik dari perjalanan
spiritual dan politik ketika itu , tidak juga dari research dan
sience yang sudah dan sedang berjalan sekarang ini.
Walaupun , sience dapat , membuktikan kebenaran fakta mereka ,
saya kira orang orang gereja , tidak akandiam tanpa perlawanan.
Ini masalah main stream agama , masalah control juga politik dan
ekonomi.
Biar saja kita pakai akal dan feeling kita masing masing,
sebab kita tahu sejarah pasti dimanipulasi oleh pihak yang berkuasa.
Yang jelas menurut sejarah yang tidak pasti , Jesus meninggal karena
pemimpin agama ketika itu , tidak ada bedanya dengan Syech Siti
Jenar.
Let wait and see , Saya yakin nature and time will reveal the truth
when its time.. until then , sit tight and be aware.
shanti is damai.

--- In bali-bali@yahoogrou ps.com, Lili Gundi <lili_gundi@ ...> wrote:
>
> Saya menghargai upaya Anand Krishna untuk menciptakan perdamaian
antar pemeluk agama, tetapi saya merasa hal itu kadang-kadang
dilakukan dengan agak memaksakan diri. Misalnya soal Yesus pergi ke
Kashmir, dua kali, yaitu ketika masih muda dan sesudah disalibkan
(kok demen sekali Yesus ke Kashmir?). Saya sudah baca buku Anand
Krishna judulnya kalau tidak salah Isa Sang Masiha - lagi malas
nyari bukunya.  Sumber-sumber yang disebut Anand Krishna, Injil
apokripa, injil yang tidak diakui oleh Gereja, tidak satupun yang
dengan jelas menyebut Yesus ke Kashmir, tetapi Anand Krishna
langsung menyimpulkan  Yesus Kashmir.  Kisah Yesus ke Kashmir sangat
disukai oleh kaum Ahmadiyah, entah kenapa.
> Injil (Kristen) arus utama sama sekali tidak pernah menyinggung
Yesus pernah ke Kashmir. Setelah disalibkan, pada hari ketiga Yesus
naik ke surga. Itulah keyakinan Kristen, Protestan maupun Katolik..
Quran menyatakan, yang disalibkan bukan Yesus, tetapi orang lain
(entah siapa, tidak dijelaskan). Sedangkan Yesus langsung diangkat
ke Surga oleh Allah. Baru-baru ini ada penelitian tentang kuburan
keluarga Yesus di Talpiot, Israel. Penelitian ini melibatkan
berbagai disiplin ilmu, arkeologi, penelitian teks kitab-kitab suci,
DNA. Penelitian ini menyimpulkan Yesus, meninggal dan dikuburkan di
Talpiot bersama ayah ibu, istrinya Magdalena, dan satu saudaranya.
(Baca buku Simcha Jacobovici dan Charles Pellegrino: "The Jesus
Family Tomb).   
> Kesimpulan saya: Antara Yesus historis  dan Yesus faith
itu berbeda. Inilah tampaknya yang dipegang oleh orang Kristen,
sehingga penemuan apapun yang berbeda dengan keyakinan mereka tidak
membuat mereka ngamuk-ngamuk seperti adik (sekaligus saingannya).
> LGS.   
>
>
>
>
> ____________ _________ _________ __
> From: Putu Kesuma <putukesuma@ ...>
> To: bali-bali@yahoogrou ps.com

> Sent: Tuesday, December 2, 2008 7:27:44 AM
> Subject: Re: [bali-bali] Allah ......asal muasal.
>
>
> Seperti pernah saya posting dulu tentang acara apresiasi buku di
Arma Ubud, buku Christ of Kashmiris karya Anand Krishna
menceriterakan dengan sangat detail dengan bukti-bukti manuskrip
yang masih tersimpan di musium-musium. Buku ini tidak hanya
bercerita tentang Jesus namun apa juga berceritra tentang apa yang
terjadi di Timur Tenngah sebelum Muhammad.
>
> Dari buku itu kita akan dapatkan penyebab segala masalah yang
berkaitan dengan extrimisme di dunia.
>
> Dengan mengetahui penyebabnya maka kita akan dapat mengubah
akibatnya.
>
> Pilihan ada di tanngan kita masing-masing. ..
>
> p.kesuma
>
> Apapun sukumu, apapun agamamu, kau orang Indonesia. Aku cinta Kau.
Whoever you are, wherever you are from, you are human being. I love
you ~ NIM(National Integration Movement).
>
> --- On Mon, 1/12/08, IGusti Agung <agungpindha@ yahoo.com> wrote:
>
> From: IGusti Agung <agungpindha@ yahoo.com>
> Subject: [bali-bali] Allah ......asal muasal.
> To: bali-bali@yahoogrou ps.com
> Date: Monday, 1 December, 2008, 1:23 PM
>
>
>
> Sekedar sharing , tyang terjemahkan dari milis tetangga.
>
> "Allah " berasal dari bahasa Sanskerta sama dengan Akka atau
Dhurga,
> yang berarti Ibu , atau Mother of Godess , yang datangnya dari
> feminim atau shakti dari Civa / Yvah / Yahweh / Ciwa.
> Seperti juga qabbah di Mekah , Maakah yang berarti Api , atau
korban
> api .
>
> Arabia , sampai sekarang juga disebut Arbasthan , berasal dari
kata
> Arvasthan , sedangkan Arva dalam bahasa Sanskerta berarti kuda.
>
> Sekarang terbukti dari peninggalan sejarah bahwa seluruh Arabia
> dan sekitarnya adalah daerah kerajaan Raja Vikramaditya , yang
> kekuasaanya mencapai semua negara Timur tengah sekarang , seperti
> Afghanistan , Pakistan, Hidustan dan sekitarnya , termasuk Kuwait.
> Bahkan baru baru ini ditemukan dalam galian patung Ganehsa yang
> terbuat dari Emas di Kuwait oleh penduduk lokalnya.
> Dipegunungan Pakistan dan Afganisthan , banyak bekas reliefs
> Budha yang dibuat di bukit batu , yang sekarang hampir hancur
karena
> dilempari batu , malah dipegunungan tersebut ada ratusan bekas
> Vihara Budha yang sudah ditinggalkan.
>
> Didalam buku tua yang terbuat dari sutra , tersimpan di
perpustakaan
> Istanbul , Turki , ada disalah satu halamannya syair yang bernama
> "SAYAR-UL-OKUL" syair yang ditulis oleh penyair terkenal abad
> ke 6- abad ke 7 , yang bernama UMAR-BINE-HASSNAM , penyair ini juga
> adalah Paman dari Nabi Mohamad/ Mahamad, yang juga menjadi pendeta
> di Kabbah.
>
> Dalam syair ini yang berjudul " ABBUL HIQAM " yang berarti " Bapak
> Ilmu Pengetahuan , disebutkan syair tersebut sbb:
>
> Qafa vinac Ziqra min ulumin tav
> aseru kaluban ayattul hawa va tazzakaru
>
> ( manusia yang menjalankan hidupnya dalam dosa dan keburukan
> menghabiskan hidupnya dengan nafsu dan kekejaman).
>
> Va tazakerona audan alaluadae lilvara
> valuk yank zatulla he yom tab aseru
>
> (Jika dia sadar dan kembali kejalan yang benar
> mungkinkah ada jalan untuk menerimanya? )
>
> Va ahlolaha azahu armimam mahadevo
> manazeil ilamuddine minjum va sayataru
>
> (Walaupun hanya sekali dia menyembah Mahadeva
> dia kan menduduki tempat tertinggi di jalan kebenaran)
>
> Va sahabi keyam qamil hinde yoman
> va yaquloon latahazan fainnak tavajaru
>
> (Ya Tuhan , ambilah hidupku ini sebagai gantinya
> berikan saya hidup di India sehari saja ,kebebasan spiritual kami
>
> dst dst......nya.
>
> Banyak lagi hal yang menyinggung kehadiran Kaabah dan Allah
> dalam sansekerta , untuk lanjutannya , saya pesilahkan anda
> sekalian untuk menggali sendiri , coba saja search ' arvasthan'
>
> Sekian dumun dari tyang.
> Ap.
>
>
>
> ____________ _________ _________ __
> Get your new Email address!
> Grab the Email name you've always wanted before someone else does!
>



__._,_.___

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Tidak ada komentar: