Jumat, 02 Oktober 2009

[bali-bali] BESAKIH KEHILANGAN VIBRASI SUCI & DAYA TARIK WISATA

Terimakasih Pak Sanat atas info dan sarannya, disini saya mengilustrasikan Besakih dengan Pokon permasalahannya sebagai Obyek Wisata bukan sebagai tempat ibadah Kita ( Hindu). Walaupun kaitannya sangat erat. Namun saya batasi dengan menggarisi bahwa Besakih sebagai Pura kita umat Hindu akan tetap seperti apa adanya, dan saya tidak memiliki kompetensi yang cukup untuk membicarakan Besakih sebagai Pura yang disungsung masayarakat Bali. Ingat disini batasannya adalah Besakih sebagai obyek kunjungan wisata saja.

Besakih di era 70 an sampai 80 an adalah Obyek Wisata yang harus dikunjungi setiap Wisatawan yang berkunjung ke Bali.
Mengingat di setiap Guide book, advertising Pariwisata, dan video-video Bali, Besakih adalah main attraction pada saat itu. Era 80 an saya masih ingat dirumah kami teman baik dari Bibi Saya seorang Australia, dan dia selalu datang setiap tahun dan kadang menginap dirumah kami, dan setiap itu pula dia akan mnegajak kami semua untuk mengunjungi Besakih. Dan Besakih selalu dipadati oleh wisatawan Asing pada saat itu.
Sehingga banyak sekali Tour Operator and Travel-Travel Agen lokal dan luar beramai-ramai menjual Besakih. The Mother temple. Seiring perkembangannya menjadi obyek kunjungan utama setelah Pantai Kuta dan Ubud mungkin.Seiring pula dengan perbaikan dan penataan yang dilakukan agar Besakih ideal sebagai obyek kunjungan wisata. Fasilitas -fasilitas itupun dibangun, Penginapan, restaurant, dan Obyek pendukung Bukit Jambul juga ditata, sehingga wisatwan yang menuju Besakih dari Arah Klungkung bisa menikmati Bukit Jambul sambil snatap siang di keindahan Rice Terrace Bukit Jambul. Dan Putung di desa Selat Karangasem juga ditata, sehingga Wisatwan yang menuju Besakih melewati Karangase, bsa bersantai sejenak disana sebelum atau sesudah mengunjungi Besakih. Penataan yang bagus, dan itu era dimana Bapak Budaya Kita, Prof. Bagus Mantra sebagai gubernur Bali, yang mana kita tahu beliau sangan concern di bidang tersebut, budaya dan pariwisata, sehingga Bali dengan Pariwisatanya benar-benar tertata dengan sangat Baik.
Penataan yang baik adalah, Nucleus atau Obyek inti yaitu Pura Beakih, dan desa besakih memiliki jarak yang cukup dengan pendukung/Supporting Area ( Bukit jambul, Putung dll) sehingga sebuah perjalanan tour benar-benar terprogram dan berjalan dengan bagus.

Namun seiring berkembangnya Kunjungan, saya merasakan penataan yang dilakukan semakin amburadul bisa juga karena kesalahan masa lalu, atau Pemerintahan yang berkuasa seiring perkembangan Wisata Besakih yang tidak aware. Era 90 an, tiba-tiba sejumlah Travel agen anggota ASITA Bali mem black list Besakih sebagai tujuan wisata tamu-tamu mereka. Dengan banyaknya kasus-kasus pemerasan tamu yang dilakukan oleh oknum-oknum lokal disana. Mereka para lokal disana tidak 100% salah tentunya, karena kita tahu di Negara ini semua aturan main tidak jelas, dan dibuatnya aturan ketika sudah ada pelanggaran, jadi tercipta dari pelanggaran bukan untuk mencegah pelanggaran. karena biasanya Aturan dul, pelanggran dan penindakan, disini yang terjadi Pelanggaran, aturan dan....bingung, karena aturannya tidak jelas bahkan belum selesai. Lama tidak ada gaungnya besakih semenjak di Black list travel Bali, dan menjadi Global issue. Kembali PEMDA melobby dan berteriak teriak di media bahwa penataan sudah dilakukan di besakih, Guide lokal dibikinkan sekeha, didandani danBeskaih kembali ramah kepada setiap dollar yang akan datang.
Namun kembali muncul issue, entrance fee untuk para Pemedek yang akan sembahyang ke Besakih, sandiwara apa lagi ini, di menurunnya kunjungan wisatawan, Pemda bersandiwara akan mengenakan biaya masuk untuk orang sembahyang, dengan alasan Besakih djadikan cagar budaya.

Disini menunjukan PEMDA tidak memiliki aturan jelas,kebijakan dan kebajikan sebagai penguasa. Tapi semua iklan dan jargon jargon Besakih yang kembali ramah, hanya omong kosong saja buat saya.
Arogansi lokal yang merasa berhak terhadap palemahan pura Besakih yang milik Umat Hindu sedunia, dan memalukan lagi di Besakih sekarang tak lebih daripada pasar malam, terutama kalau ada upacara-upacara keagaaman. Dagang..kaki lima, ojek...mengais rejeki silahkan saja, tapi dengan melacurkan milik kita sendiri...memalukan sekali buat saya, WC-WC umum yang berserakan dan bertarif, dimana dulu untuk kencing seingat saya waktu kecil, kami bisa dengan gratis bahkan penduduk setempat dengan sukarela meminjamkan apa saja yang mereka miliki untuk para pemedek, atau wisatawan. Kerelaan dan yadnya merekalah yang membuat Wisatwan kagum dan mencintai Besakih serta isinya, namun sekarang dibenak mereka hanya uang-uang uang !!! Bahkan...merampok dengan halus tiap wisatawan yang berkunjung kesana.
Saya pribadi yang mengalami beberapa kali, mendengar dan melihat sendiri, setiap ada tamu yang ingin mengunjungi Besakih, baik itu tamu travel dimana saya bekerja atau teman-teman saya dari mancanegara dengan tegas saya bilang NOT RECOMENDED !! atau saya tidak anjurkan kesana. Mengingat pernah saya alami bagaimana teman saya seorang Spanyol di rampok secara halus sebesar 1 juta, dengan alasan untuk donasi ke Pura dan Desa, bayangkan saja 1 tamu 1 juta, Desa Besakih dalam 1 tahun masayarakatnya tidak perlu bekerja lagi, mereka tinggal jadi Guide " Liar" Lokal Saja, duduk nongkrong di pos, minta uang, memberi penjelasan ngalor ngidul dengan Bahasa yang tidak dimengerti tamu. yadnya mereka sudah hilang, jadi secara niskala saya pikir Idha Betara Sesuhunan di tonh langkir dan basukian, sudah muak dengan tingkah oknum-oknum itu, yang bermalas-malasan dengan menjula semua berkah beliau. Apakah mereka akan tunggu pertanda dahulu, dengan diluluh lantakkan lagi oleh letusan gunung Agung? Baru sadar? Saya minta semeton-semeton yang menjalankan praktik-praktik pemerasan dan penipuan ke tamu.Tidak berhenti disana saja dengan teman saya David resplandi, setelah tawar menawar dan saya bilang orang ini jauh-jauh dari Spanyol dan mendengar kemegahan Pura Besakih, kalau tidak bisa melihat Pura Besakih karena dia dilarang masuk dengan alsan tidak mau bayar 1 juta, betapa hancur hatinya, akhirnya si ketua atau siapalah orang itu yang bertugas mencatat melakukan hitung-hitungan yang buat saya nonsense, mengatakan ok 300 ribu baru kami kasih, dengan senyum sinis saya tertawa dalam hati...PURA MILIK banyak orang kalian komersialkan demi sekeha dan isi perut kalian maka tidak akan pernah ada sari pegae...miskinlah kalian seketurunan.
Dan dengan berat hati David teman saya pun merogoh kocek 300 ribu dan mencatat namanya ( jadi bisa dilihat catatan nama teman saya dibuku tamu disana- ini benar-benar terjadi). Tidak berakhir disitu, setelah berkeliling bersama guide lokal, dan saya sambut dia didepan wantilan dekat perpustakaan, David mengatakan kepada saya bahwa 15 menit bersama Guide lokal itu tak satupun cerita sesuai dengan apa yang dia tahu dan baca, dan tak satu patahkatapun dia mengerti ( Saya semakin malu...Logikanya bagaimana bisa seorang yang mengaku guide lokal dengan pakaian seperti orang mau kundangan mebat, acak-acakan dan tidak bertata krama bisa menjadi profesional guiding tamu, berbekal bahsa inggris yang dia pelajari dari lagu-lagu barat, atau film porno barat...sketsa kasar di kepala saya begitu)
Mana katanya semua sudah dibina dan dilatih ( apa perlu dilatih, ditegul dan ditig tig? karena dilatih tidak cukup?!), Dan yang membuat saya berang adalah, setelah diantar dengan santai tanpa ucapan terimakasih si guide lokal itu berlalu meninggalkan kami...dengan tambahan tip dari David. Dan saat berbincang dengan David, dia mengatakan disebuah titik pura dimana dia bertanya mengenai tata cara sembahyang orang hindu, si guide bilang kalau kamu mau mencoba bisa saya tunjukan dengan tambahan bayar 25 ribu rupiah..., Hancur luluh lantaklah hati saya mendengar itu...SEMUA BEGITU KOMERSILKAH DI BESAKIH !!! UANG UANG UANG di pelataran tempat Suci !!! Malu sekali Saya.

Dan banyak sekali saya dengar cerita-cerita semacam itu, bahkan ada teman saya yang membawa tamu jepang dipalak di tiket masuk sebesar 3000 yen. Saat teman saya bertanya para guide lokal itu dengan santai bilang " Megae jak liu pak pang pade maan", maksudnya apa? Kenapa kerja ramai-ramai, apakah hasilnya lebih bagus dengan gotong royong merampok tamu? Dan ketika teman saya marah dengan ucapan itu,teman syaa malah mau dikeroyok para ghuide lokal itu, nberuntunglah ada supir-supir pariwisata yang ikut meramaikan suasana sehingga mereka mungkin malu. Dan lucunya Polisi, DLLAJ yang melihat hanya tersenyum kecut...buat apa menungaskan orang-orang sperti itu, yang tidak tahu mekanisme kerja. Saya tidak benci dengan intitusinya, POLISI bagus, kita perlukan, tapi oknum dan orang-orangnya yang tidak becus yang harus dipangkas. Kita punya Polisi PARIWISATA di Obyek PARIWISATAlah habitanya, entah di laut digunung didanau yang jadi obyek wisata, berbekal ketrampilan bahasa, phsycology manusia, pengetahuan latar belakang negara seseorang jadi, ketika ada tamu bermasalah akan gampang, bukan menugaskan SABHARA yang tahunya ribut-ribut dikampung atau ada huru hara di tajen, karena mereka tidak credible dibidan itu. Pariwsata and Keamanan !!!

Banyak lagi ceritanya, dan saya cuma ingin memberikan penawaran yang mungkin bisa dijadikan bahan diskusi oleh Bapak-Bapak dan ibu-Ibu yang lebih tahu dan berpengalaman baik di pemerintahan, LSM dan para tokoh masayarakat:
- Kita isolasi Besakih sebagai tempat Wisata, yang artinya wisatawan hanya diperkenankan melihat, mengambil gambar Besakih dari kejauhan, di wnatilan dan Information centre misalnya, jadi disana kita siapkan miniatur/ diorama Pura Besakih, dan disana hanya 1 orang guide atau 2, yang akan menjelaskan jadi tidak usah sekeha Guide seperti sekeha Manyi yang anggotanya sampai puluhan orang disana, dan tidak capek-capek keliling mengajak tamu. Jadi tidak akan sempat memikirkan daya upaya untuk memeras tamu saat ditempat tempat sepi area Pura.
Kepentingan lain kalau di Isolasi, adalah Besakih sebagai tempat suci akan kembali memiliki vibrasi sucinya. ( Contoh: jika tidak pada hari-hari besar ke besakih , para dagang acung, penyewa paytuing dan kamen, dengan celana memasuki pura, bahkan saya yang waktu itu mengantar tamu, dan melakukan pemuspaan di Penataran, dibuntuti puluhan tukang payung, dengan pakaian dekil, bercelan dan mungkin belum mandi beramai-ramai memaksa saya yang sembahyang dibawah gerimis menyewa payung mereka, Kitalah yang merusak tatannan kesucian Pura kita, apa kata turis jika dilihat, kenapa kami harus sewa kain? kenapa orang-orang berjualan itu tidak pakai kain masuk Pura...yang tentunya akan membuat turis tertawa)

- PEMDA, terutama Kabupaten Karangasem, bersiaplah menampung Penganguran dalam jumlah besar karena banyak orang lokal disana yang akan menjadi pengangguran jika sampai 5 tahun atau lebih BESAKIH Masuk daftar hitam, tempat wisata yang tidak direkomendasikan.

- DEPBUDPAR turunlah kelapangan cari solusi dengan pihak PEMDA, Desa dan prkatisi pariwisata, jangan jadi raja. tyapi layani kami para pencari sesuap nasi di industri pariwisata. Karena dari Dollar setiap clients kami meningkatkan PAD dan APBN, serta Devisa negeri tercinta ini, bukankah Gaji anda dari APBN? Diskusi yang serius maksud saya, turunkan orang yang memiliki visi, dan impian yang bisa membuat Bali lebih baik, bukan orang yang memiliki impian untuk mengeruk Dollar dari Vila dan restaurant yang mereka punya dengan tanpa bayar pajak, dan menjadikannya bisnis sampingan pulang kantor setelah keluar pintu gerbang DEPBUDPAR jam 4 sore ( Atau bolos). Daripada habiskan dana milyaran promo setiap tahun keluar negeri, ita gunakan uang itu sebanyak-banyaknya untuk menata dulu. Apa jadinya mulut kita berkoar bagai tukang obat di tiap Tourism Mart diluar negeri kalau pasar tiba di Bali, yang mereka lihat adalah tidak sesuai brosur ,iklan dan mulut tukang obat? MALU !!! Meraka bayar mahal untuk melihat Budaya kita, jadi apa slahnya kita berikan mereka pelayanan,penataan dan sesuatu yang mencerminkan budaya kita kepada para turis itu?

- PRAKTISI PARIWISATA, mari kita pikirkan bersama solusinya. Ini hanya opini saya, jadi kurang lebih ini terpendam pada kepala, otak dan hati saya sejak lama. namun karena makin banyak info tentang Besakih yang tidak mengenakan, saya berfirkir saatnya saya berbagi. Kami takut BEsakih akan menjadi seperti TRUNYAN yang black listed dari tempat wisata yang dikunjungi. Lihat majalah dan blog blog asing banyak sekali yang memberitakan kejahatan di besakih. Hentikan perfect crime ini atau 5 tahun lagi Besakih tidak akan diknal oleh Wisatawan lagi layaknya TRUNYAN.

Terimakasih

------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:bali-bali-digest@yahoogroups.com
mailto:bali-bali-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
bali-bali-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Tidak ada komentar: