Salam Indonesia! Mbok Vieb, salah satu kampanye NIM adalah mengajak masyarakat untuk semaksimal mungkin menggunakan produk lokal. Semasih ada produk dalam negeri sebaiknya kita menggunakkan produk dalam negeri. Jika kesadaran ini bisa meluas terus maka bangsa Indonesia pasti jaya. Menurut pengalaman saya, semangat diatas hanya akan timbul manakala kita berhasil menumbuhkan cinta kita terhadap tanah air Indonesia, Ibu Pertiwi. Demi cinta kita terhadap sang Ibu kita akan rela melakukan apapun sebagai wujud cinta kita terhadap sang Ibu. Untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah air atau nasionalisme, kita harus mulai dari diri kita sendiri. Mulai dengan mengkonsumsi produk2 daerah dimana kita tinggal, hasil bumi dari para petani di kampung kita, belanja di warung2 di lingkungan terdekat. Untuk menjernihkan pikiran agar pemahaman tentang nasionalisme kita sesuai dengan ajaran founding father kita mau tidak mau harus membaca buku Di Bawah Bendera Revolusi karya Bung Karno , yang katanya merupakan magnum opusnya BK. Akan semakin lengkap jika juga membaca buku Madilog karya Tan Malaka yang juga katanya merupakan magnum opusnya Tan Malaka. Dan setelah membaca buku Confession of an Economic Hit Man karya John Perkins, saya menemukan bahwa apa yang diajarkan oleh Bung Karno itu sangat relevan, dan relevansinya akan sangat terasa saat ini. Salam, putu kesuma Mundur hancur, berhenti mati, maju terus...(Bung Karno)
--- On Mon, 3/11/08, Asana Viebeke Lengkong <asanasw@indo.net.id> wrote:
From: Asana Viebeke Lengkong <asanasw@indo.net.id> Subject: Re: [bali-bali] Bls: [bali] Indonesia menggugat To: bali-bali@yahoogroups.com, bali@lp3b.or.id Date: Monday, 3 November, 2008, 9:10 PM
Ben, Sekarang kalau konteks nya di ganti sama MASYARAKAT MENGGUGAT... . soal RUU PORNO itu.... atau soal pengelolaan pemerintahan misalnya.... . atau mungkin yang sangat perlu di bahas mungkin soal bagaimana kita menjaga satu sama lain dalam soal krisis global..... saya mencoba untuk pakai produk local misalnya, susah juga, tapi paling nggak coba.... saya ingat di Tasmania ternyata punya kasus sama dan dimana mana kita bisa baca 'respect your local product'.... . seperti itu lo Ben..... ----- Original Message ----- Sent: Monday, November 03, 2008 6:36 PM Subject: [bali-bali] Bls: [bali] Indonesia menggugat
Mbo Vieb, pidato Indonesia Menggugat ini sangat menarik buat tyang pribadi. Kebetulan tyang nemu bukunya di jual di toko kelontong di Bandung... beruntung buku itu bisa tyang temukan dan tyang baca pelan-pelan. .. rahajeng, ngurah beni setiawan P Save a tree...please don't print this e-mail unless you really need to
Dari: Asana Viebeke Lengkong <asanasw@indo. net.id> Kepada: bali-bali@yahoogrou ps.com; bali@lp3b.or. id Terkirim: Senin, 3 November, 2008 13:38:14 Topik: [bali] Indonesia menggugat Kami punja hari dulu jang indah, kami punja masa silam jang gemilang!
Ah, Tuan-tuan hakim,
Siapakah orang Indonesia jang tidak mengeluh hatinja, kalau mendengarkan cerita tentang keindahan itu, siapakah jang tidak menyesalkan hilangnja kebesaran-kebesaran nja!
Siapakah orang Indonesia jang tidak hidup semangat nasionalnja, kalau mendengar riwajat tentang kebesaran keradjaan Melayu dan Sriwidjaja, tentang kebesaran Mataram dan Padjadjaran, kebesaran pula Bintara, Banten dan Mataram kedua dibawah Sultan Ageng!
Siapakah orang Indonesia jang tidak mengeluh hatinja kalau ia ingat benderanja jang dulu ditemukan dan dihormati orang sampai di Madagaskar, di Persia, dan di Tiongkok!
Tetapi sebaliknya, siapakah tidak hidup harapannja dan kepertjajaannja, bahwa rakjat jang demikian kebesarannja hari dulu itu pasti tjukup kekuatan untuk mendatangkan hari kemudian jang indah pula, pasti masih djuga mempunjai kebisaan-kebisaan menaik lagi diatas tingkat kebesaran dikelak kemudian hari.
Siapakah jang tidak seolah-olah mendapat njawa baru dan tenaga baru, kalau ia membaca riwajat zaman dulu itu, lantas hiduplah rasa nasionalnja, lantas menjala lagilah api harapan didalam hatinja, dan lantas mendapat lagilah rakjat itu njawa baru dan tenaga baru oleh karenanja.
"Indonesia Menggugat" Soekarno, 1930
Cuplikan dari pembelaan Soekarno di pengadilan kolonial di Gedung Landraat Bandoeng
Nama baru untuk Anda! Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. Cepat sebelum diambil orang lain! |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar