Minggu, 02 November 2008

[bali-bali] Fw: [Anand Krishna E Study Circle] Anand Krishna Fans Club di Facebook

Semoga bermanfaat...
putu kesuma
 

--- On Mon, 3/11/08, Webmaster <web_master@anandkrishna.org> wrote:
From: Webmaster <web_master@anandkrishna.org>
Subject: [Anand Krishna E Study Circle] Anand Krishna Fans Club di Facebook
To: anandkrishna@yahoogroups.com
Date: Monday, 3 November, 2008, 11:54 AM

Anand Krishna Fans Club

http://www.facebook .com/group. php?gid=31614314 790

Anand Krishna Fans Club di Facebook didirikan oleh Ketua Yayasan Anand
Ashram, Ibu Maya Safira Muchtar pada tanggal 31 Oktober 2008 yang
diperuntukkan untuk para penggemar dan pecinta karya dan pemikiran Bapak
Anand Krishna dari seluruh dunia.

Di bawah ini adalah salah satu artikel menarik yang diambil dari Anand
Krishna Fans Club.

---

SANG ANAND KRISHNA
Catatan singkat (1) dari Ubud Writers & Riders Festival (Tri Hita Karana)
2008

Siapa yg tak kenal Anand Krishna? Rasanya namanyalah yang cukup banyak
diinvite sebagai teman kita di Facebook. Penampilannya yang bersahaja kerap
memukau banyak pendengarnya. Dia tak pernah kehabisan kata bijak dan kalimat
yang mengisnpirasi. Sepertinya setiap kata yang dimilikinya tak lagi
tersimpan dibenaknya, melainkan di jiwanya laksana mata air yang tak pernah
mengering. Kadang lembut mengalir menyentuh pori-pori kita, kadang
menggelegar laksana air bah yang menghatam, jika mengungkapkan
ketidakadilan, dan kadang baik air mancur yang dinamis hingga membuat
pendengarnya tertawa dan tersenyum simpul.

Dua kali saya mendengar Anand berbicara, pada tanggal 18 Oktober di Bale
Banjar, Ubud Kelod. Dengan thema menuju keseimbangan dalam bingkai Tri Hita
Karana. Harusnya Anand satu panel dengan Gede Prama dan Prabu Dharmayasa.
Namun Gede Prama, berhalangan. Sayang Moderator kurang siap menggali dan
mengarahkan panelis mau melangkah dalam bingkai Tri Hita Karana atau menuju
keseimbangan itu sendiri. Namun bukan Anand Krishna namanya, kalau tidak
bisa memuaskan penggemarnya yg sebagian besar adalah warga Negara asing.

Pada hari kedua 19/10/08 di Indus Restaurant, Bottom Floor. Dalam Thema
keberagama beragama, Anand membuka kembali kisah yang sangat memilukan
masyarakat, Bali, Indonesia dan Dunia. Kisah Tragis Bom Bali 1. Dengan suara
lantang Anand memperlihatkan Video kekejaman Bom Bali 1 seperti yang pernah
di tulisnya dalam kolom Radar Bali (12/10/08)

" Imam Samudra, Amrozi dan Muchlas hanyalah para pelaku aksi kejahatan. Otak
di balik mereka, dan mereka yang membiayai seluruh operasi - tidak hanya
bebas, tetapi diperlakukan secara istimewa. Perlakukan isrtimewa juga
dinikmati oleh trio penjahat yang sudah dijatuhi hukuman mati. Mereka bisa
muncul ke ruang pribadi kita lewat layar teve, berpakaian rapi, dan sambil
mengutuk siapa pun yang menjatuhi hukuman mati kepada mereka. Pemerintah,
Yang Mulia Bapak Presiden - semua di caci-maki secara bebas. Pun mereka
tidak merasa bersalah atas tindakan keji mereka. Kenapa? Karena, yang
terbunuh adalah "kafir".

Para rohaniwan kita, lembaga-lembaga keagamaan, bahkan partai politik dengan
landasan agama - semuanya membisu. Tidak ada yang memberi reaksi. Ini
pertanda apa? Para ulama di India, termasuk dari kalangan garis keras
Deobandi, juga para ulama di Pakistan - semuanya mengutuk tindakan terorisme
dan menyatakan bahwa para teroris bukanlah orang beragama, mereka bukan
Muslim. Di sini malah ada yang membela mereka atas nama Islam. Tak ada yang
menegur mereka. Kenapa?

Beberapa hari terakhir ini saya sempat didatangi oleh beberapa orang asing,
termasuk mereka yang anggota keluarga maupun kerabatnya menjadi korban
pembunuhan yang dilakukan oleh manusia-manusia tanpa moral dan telah menodai
nama baik agama.

Pada umumnya, mereka tidak memiliki rasa dendam ataupun benci. Mereka hanya
menyayangkan sikap pemerintah kita yang dianggapnya terlalu "lembek". Dengan
menunda hukuman mati terhadap para pembunuh berdarah dingin itu, pemerintah
telah mengundang berbagai pertanyaan dari mereka yang sadar, cerah dan
memahami duduk perkaranya. Termasuk tentang hukum di negeri ini.

Pertanyaan yang muncul dari warga asing baik pendatang maupun penduduk,
antara lain adalah: Apakah hukum kita membenarkan "penyebaran kebencian"
lewat media? Apakah media mesti memberitakan apa saja atas nama kebebasan,
termasuk cacian dan makian para penjahat, tanpa memikirkan dampak emosional
terhadap keluarga para korban? Bagaimana pula hukum kita tentang penolakan
terhadap kesepakatan bersama bangsa ini, yaitu Undang-Undang Dasar 1945,
Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila?

Mereka tahu sejarah, bila yang mempersatukan kita semua dalam kerangka NKRI
adalah ketiga hal tersebut diatas. Mereka pun tahu tentang pengorbanan para
raja-raja, termasuk yang paling menonjol adalah kesiap-sediaan Sultan
Yogyakarta untuk bergabung dengan NKRI. Tanpa semuanya itu, Republik
Indonesia tak akan pernah lahir. Kemudian, apakah ulah mereka yang "baru
muncul" dan ingin menodai kesepakatan bersama itu mesti dibiarkan?"

Ada apa di balik semua ini? Para pelaku kejahatan tidak dihukum segera,
walau hukumannya sudah jelas. Mereka diperbolehkan mencaci-maki di depan
layar televise atas nama demokrasi dan kebebeasan bersuara. Padahal, apa
yang mereka lakukan itu sudah melanggar tata susila. Demokrasi dan kebebasan
tidak berarti saya bisa melakukan apa saja. Tidak.

Sementara itu, partai-partai politik yang selama ini mengaku sebagai pembela
kebenaran, keadilan, reformasi, perjuangan rakyat, golongan kecil, dan
sebagainya - semua membisu. RUU Porno yang dapat mengancam persatuan negeri
kita - dibiarkan bergulir terus. Ada politisi dan partai politik yang
mendukungnya. Kenapa? Apakah urusannya pornografi semata? Tidak, untuk itu
sudah ada peraturan yang jelas. Tidak perlu undang-undang yang akan memberi
kekuasaan dan otoritas kepada sebagaian masyarakat untuk mementukan apa yang
"bisa dianggap" porno, menggairahkan, dan sebagainya.

Di luar sana, ekonomi dalam keadaan amburadul. Mereka yang jatuh, mereka
yang merugi - menguntungkan siapa? Karena, menurut ilmu ekomoni bila ada
yang merugi sudah pasti ada yang mengambil keuntungan dari kerugian itu.

Bila kita cukup cerdas, pikiran kita cukup jernih dan hati kita cukup kuat
untuk menerima kebenaran - maka dengan jelas sekali kita dapat melihat siapa
yang akan ambil keuntungan dari semuanya itu.

Bom Bali adalah konspirasi dari kelompok yang sama untuk memunculkan konflik
baru di tanah-air. Untung manusia Bali cukup sadar dan tidak bereaksi. Maka,
para konspirator pun gagal. Kemudian, bom kedua - gagal juga. Bali tetap
tenang.

Sekarang, para konspirator itu menggunakan antek-antek mereka - sayangnya
mereka adalah saudara-saudara kita sendiri yang kebetulan berada dalam
posisi yang menguntungkan tetapi hanya mementingkan keuntungan pribadi -
untuk memecah-belah bangsa yang besar ini.

Kini kita semua berdebar menunggu apakah tiga serangkai, Imam samudra,
Muklas dan Amrozi, jadi dieksekusi.Tinggal waktu yg berbicara. Dan benar
kata Sang Anand Krishna, apakah dengan dieksekusinya tiga serangkai maka
selesai permasalahan? Mari kita bertanya kenapa teroris muncul, kenapa sikap
anarkis kini lekat pada bangsa ini, kenapa korupsi menjadi keseharian
prilaku para petinggi negeri, kenapa bencana seperti irama laut, kenapa
matahari kini memeloti kita, kenapa...kenapa. ..kenapa dan banyak lagi kenapa
yang harus kita jawab bersama, dimana jawabnya sesungguhnya ada dihati kita,
dikesadaran kita, dan dikejujuran kita..Salam Indonesia (Rani Badrie)

[Non-text portions of this message have been removed]



New Email names for you!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does! __._,_.___

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Tidak ada komentar: