rakyat Indonesia? Masih jauh sekali ...... Negara, DPR-RI mestinya
memerangi kemiskinan ini, bukan mengurus cara orang berpakaian dan
berbudaya seperti dalam RUU-Pornography.
Suksema,
MS
--- In bali-bali@yahoogroups.com, "Anton Muhajir" <antonemus@...>
wrote:
>
> dear all,
>
> sekadar berbagi pengalaman dan perasaan. maaf jika tak berkenan.
tulisan
> agak lama. tentang wajah lain denpasar.
>
> http://www.rumahtulisan.com/11/09/2008/pikiran/mereka-dikalahkan-
kesombongan-negara.html
>
> thx
>
> <http://farm4.static.flickr.com/3126/2850114158_9a5e8a6b55.jpg>
>
> Kembali, kupenuhi janjiku dalam hati untuk menemui anak-anak itu.
Hari ini
> adalah kali keempat aku mencari anak-anak tukang suun di Pasar
Badung
> tersebut. Tapi kali ini pun gagal. Aku tak menemukan anak-anak yang
pernah
> aku ajak ngobrol akhir Juli lalu itu.
>
> Minggu lalu, bersama Bunda <http://lodegen.wordpress.com/> dan
> Bani<http://bani.dagdigdug.com/>,
> setengah mati aku ubek-ubek pasar terbesar di Bali itu untuk
menemukan
> mereka. Tapi, seperti hari ini, aku juga tak menemukan satu di
antara
> mereka.
>
> Padahal, Juli lalu aku bisa ngobrol dengan setidaknya lima di
antara puluhan
> anak-anak tukang suun itu. Informasi yang aku dapat juga sudah
banyak saat
> itu. Anak-anak tukang suun itu memberikan jasa membawakan belanjaan
orang
> yang belanja di pasar. Barang seberat bahkan ada yang sampai 50 kg
itu
> diangkat di kepala. Paling banyak mereka bisa dapat Rp 5000 sekali
junjung.
>
> Berumur antara 7-10 tahun, mereka harusnya sekolah. Tapi mereka
harus
> meninggalkan kampung halamannya, sebagian besar dari Tianyar,
Karangasem,
> dan tinggal di Denpasar tanpa orang tua. Mereka tak sekolah. Hidup
tanpa
> wali. Karena itu sejak awal aku berniat untuk mencari mereka ke
kosnya juga.
> Tak hanya ngobrol di pasar.
>
> Hari ini, janji dalam hati itu kupenuhi. Aku main ke tempat kos
anak-anak
> itu karena tak menemukan mereka di pasar. Menurut tukang suun
lainnya,
> anak-anak itu sudah pulang dari pukul 10 pagi lalu kembali pukul 4
sore.
>
> Dari informasi tukang suun di pasar, aku mencari tempat kos anak-
anak itu di
> jalan Gunung Batur. Persisnya di Banjar Penyaitan, yang awalnya aku
pikir
> Banjar Penyakitan.
>
> Aku tak bisa menemukan anak-anak yang dulu pernah ngobrol sama aku
itu.
> Tempat kos itu memang untuk anak-anak tukang suun. Tapi anak-anak
itu tidak
> ada di sana. Aku hanya ketemu dengan puluhan anak lainnya. Dan, di
tempat
> ini pula aku mendapat cerita dan sisi lain dari gemerlap Denpasar.
Inilah
> cerita mereka yang kalah..
>
> Gang yang aku kunjungi hari ini adalah salah satu gang kumuh di
Denpasar. Di
> gang itu, para pemimpi dari daerah pinggiran datang menyerbu kota.
> Berduyun-duyun mereka datang dari Tianyar, Karangasem untuk ikut
menikmati
> gemerlap Denpasar. Tapi inilah mereka temui.
>
> Mimpi itu terhenti, setidaknya sampai saat ini, di ruang tak lebih
dari 3×3
> meter persegi, di mana mereka tinggal. Kamar, mungkin lebih tepat
bilik,
> berdinding bambu di mana sekaligus jadi kamar tidur, ruang
keluarga, tempat
> bermain, nonton TV, dan semua kegiatan yang mereka lakukan di
rumah. Bilik
> itu satu-satunya tempat di mana mereka sebut sebagai rumah.
>
> Atapnya seng. Lantai tanah, becek di sana sini. Bilik-bilik itu
berderet
> dengan penghuni berbeda keluarga tiap biliknya. Satu tempat kos
yang aku
> kunjungi saja ada tiga keluarga dengan setidaknya lima kepala.
>
> Jauh meninggalkan desa, kekalahan yang mereka dapati. Bukan karena
mereka
> malas. Tapi karena tidak ada cukup akses pada modal yang mungkin
bisa
> mengubah nasib mereka. Kemiskinan, kata peraih Nobel Ekonomi
Amartya Sen,
> tidaklah terjadi karena kemalasan. Tapi karena kurangnya atau malah
tidak
> adanya peluang untuk mereka.
>
> Jangan bilang mereka kalah karena malas. Tiap hari mereka berjalan
> setidaknya 5 km selama 30 menit dari tempat kos ke pasar untuk
menjajakan
> jasa. Lalu selama hampir 10 jam mereka bekerja, sejak pukul 6 pagi
sampai
> –kadang-kadang- 8 malam. Beban yang mereka junjung di atas kepala
bisa
> sampai 5 kg.
>
> "Tapi paling banyak dapat dua puluh ribu sehari, Pak. Buat beli
susu saja
> sudah habis," kata Bu Wayan, satu di antara mereka. Perempuan dari
Tianyar
> ini tinggal dengan tiga anak dan satu cucu. Anak perempuannya, baru
berumur
> 10 tahun, juga jadi tukang suun.
>
> Inilah cerita tentang mereka yang kalah. Bukan karena mereka malas,
tapi
> karena Negara yang tidak bertanggung jawab. Pembangunan hanya
terpusat pada
> kota. Maka laron-laron itu datang mengerubung lampu bernama kota
itu.
>
> Ironisnya, ketika laron itu datang, Negara menganggap mereka
sebagai sampar.
> Mereka harus dihilangkan dari pandangan. Kemiskinan tidak boleh
terlihat di
> depan mata. Negara kadang terlalu sombong mengakui mereka. Mungkin
juga
> karena Negara tak punya cukup akal untuk mengatasi kemiskinan itu.
>
> Maka, tak sedikit aparat yang malah menangkap mereka untuk
dikembalikan ke
> asalnya. Seperti menggarami air laut. "Setelah itu kami kembali
lagi ke
> sini," kata Bu Wayan.
>
> Laron-laron itu lalu kembali. Mengejar mimpi. Lalu terperangkap pada
> kekalahan yang sama. Terus berulang..
> --
> Anton Muhajir | http://rumahtulisan.com
>
------------------------------------
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:bali-bali-digest@yahoogroups.com
mailto:bali-bali-fullfeatured@yahoogroups.com
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
bali-bali-unsubscribe@yahoogroups.com
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar