makanya RUU Porno itu diminta segera disahkan...:-). Keto kone... Cuman
berbahaya, kalau RUU disahkan karena kebelet apalagi diiming2 hadiah.
IWW
On Saturday 27 September 2008 10:52, laraslia wrote:
> Kalimat yang indah Bli, Mbok.., itulah inti yang sangat ingin saya
> dengar. Setelah menyamakan visi, barulah kita bisa mencari solusi.
> Bagaimana mau mencari solusi, bila melihat saudara berbendera lain
> saja kita langsung menganggap berlawanan dengan kita.
>
> Saya pribadi, kesempatan untuk memangkas jaringan perampok bangsa
> (ga memangkas habis..ya...mengurangi dikit lah....hehehe...) ya
> tahun depan saat pemilu. Tapi seleksi ya harus dimulai dari
> sekarang. Contohnya ? siapa saja yang sudah pasang iklan diri di TV
> hari hari gini sudah pasti tidak saya pilih, karena jelas untuk meng-
> iklan-kan diri mereka memerlukan biaya yang tidak sedikit, dan
> tentunya saat terpilih nanti, target mereka adalah BEP secepat
> mungkin, dilanjutkan dengan pengumpulan modal periode selanjutnya.
> Selanjutnya, adakah calon yang mempunyai visi/misi untuk
> mengembalikan aset aset bangsa ? ga perduli doktor atau sarjana, tua
> atau muda, laki laki atau perempuan. Kalau ada insyaallah dia yang
> saya pilih. Kalau ternyata tidak ? yaa...terpaksa harus merelakan
> presiden terpilih adalah dari partai golput....(tapi minimal sudah
> usaha untuk 'melihat' kalau kalau ada calon yang cocok)
>
> Tentang RUUP, pada dasarnya menurut saya memang menggelikan kalau
> nggak mau dibilang memalukan. Karena sebagai muslim (dimana
> mayoritas rakyat indonesia juga muslim), harusnya mereka ingat bahwa
> Qur'an dan Hadist sudah melebihi undang undang manapun untuk
> mengatur kehidupan kita, lalu ngapain kita repot2 membuat UU ini
> itu. Ibaratnya ketimbang kita repot repot melarang kendaraan
> melintas di depan rumah kita agar anak anak selamat, lebih baik kita
> mengajarkan anak anak gimana menjaga diri, dan cara menyeberang yang
> baik, toh kita sudah tau tehnik menyeberang yang aman.
>
> Tapi menolak dengan membabi buta menurut saya juga tidak akan
> menghasilkan hasil yang optimal. Bukankah yang kita perlukan adalah
> hasil akhirnya bukan caranya. Mendekati dengan cara musyawarah
> dengan niat mencari solusi,buat saya lebih aman. Minta ke mereka
> secara spesifik apa yang mereka maksut dalam pasal pasal tersebut.
> Bagaimana sikap mereka terhadap budaya yang sudah ada sebelum negeri
> ini berdiri. Bagaimana dengan tugas mereka untuk melindungi warisan
> leluhur, melindungi hak hak minoritas warga indonesia Dan biarkan
> mereka sendiri yang menjawab pertanyaan tersebut, dan menyadari
> kebodohan mereka. Cara lain, cari ulama yang ngerti maksut kita,
> biarkan beliau yang menyampaikan, (seperti halnya kalau kita mau
> jualan paket wisata Bali ke Jepang, akan lebih bisa diterima bila
> yang menyampaikan adalah orang jepang asli ketimbang kita sendiri
> sepandai apapun kita berbahasa jepang), mudah mudahan mereka bisa
> lebih terbuka hatinya. Semestinya ada ulama yang juga berpikiran
> bahwa pengesahan RUUP ini belum tepat dan terlalu banyak celah yang
> bisa dimanfaatkan orang yang menginginkan republik ini menjadi
> republik mimpi. Seharusnya dengan cara2 halus sudah bisa diperoleh
> solusi, karena kalau dengan cara yang sopan saja tidak diterima,
> sepertinya dengan cara yang 'lebih bersemangat' akan lebih susah
> diterima. Kalau ternyata mereka tetap tertutup hatinya dalam
> menerima masukan, ya mereka harus siap bila republik ini nantinya
> benar benar akan menjadi republik mimpi (dan saya harus belajar
> ngurus passport untuk nengokin keluarga diseberang pulau..walah
> repot....).
>
> Lebih menyempit lagi, mulai mewaspadai Balkanis2 disekitar kita.
> Orang yang menganggap bahwa setelah mereka menjabat, mereka berhak
> membuat peraturan2 yang seenaknya, lupa bahwa pekerjaan mereka
> adalah menjadi pembantu rakyat, mencari jalan untuk mensejahterakan
> rakyat. Bagaimana mungkin mencari pemasukan daerah dari menjual
> pasir laut. Kenapa gak mencari pasir di ribuan pulau lainnya yang
> tidak berpenghuni..(hehehe..tetep tidak ramah lingkungan ya ? tapi
> kan lebih aman...ngeles...).
>
> Lebih menyempit lagi, andaikan harus merdeka, apakah kita sudah
> siap ? jeg busung gen nu ngimport je....Memanfaatkan potensi lokal,
> menyiapkan tenaga kerja, menyiapkan generasi penerus. Memberikan
> mereka skill, bekerjasama dengan BLK/Depnakertrans-menjemput bola ke
> pelosok2 daerah, memberikan pelatihan2 kepada generasi muda sehingga
> mereka tidak hanya silau kepada kemilau dollar yang datang,
> berbondong2 ke kota tapi tanpa skill. Mengoptimalkan fakultas
> pertanian, gimana membudidayakan tanaman organik yang mudah dan
> murah. Sehingga produk organik bisa menjadi produk khas dari bali .
> Bukannya tamu tamu asing lebih suka produk organik meski mahalan
> dik. Terlebih adalah bisa menghargai produk lokal, bagaimana petani
> mau nanem kalau harga jualnya sangat tidak manusiawi dibanding
> dollar yang diterima pembeli (bahkan lebih memilih membayar mahal
> beras dari tailand ketimbang beras tabanan).
>
> Mudah memang kalau tinggal ngomong ya, hehehe....maklum cuma ibu
> rumah tangga, bisanya cuma ngrumpi doang apa daya kemampuan ga ada.
> tapi tetep harus punya cita cita, jadi begitu ada kesempatan, kita
> tinggal melaksanakannya.
>
> Salam ngrumpi,
> LL
>
> --- In bali-bali@yahoogroups.com, Putu Kesuma <putukesuma@...> wrote:
> > Mbok Vieb,
> > Â
> > Saya setuju hal ini jangan dikait-kiatkan dengan agama karena
>
> bukan agama yang menjadi penyebabnya tetapi manusia. Saya meyakini
> nilai-nilai universal semua agama esensinya sama. Ini murni masalah
> ketidaksadaran.
>
> > Â
> > Masalah terbesar bangsa kita saat ini adalah masalah nasionalisme.
>
> Mungkin banyak yang akan bertanya, hari gini kok bicara
> nasionalisme? Ya memang disini masalahnya! Ini karena kita tidak
> bangga menjadi bangsa Indonesia. Kenapa kita tidak bangga menjadi
> orang Indoneisia? Atau apa yang bisa membuata saya bangga menjadi
> orang Indonesia? Sebelum jawaban2 ini terjawab dengan tepat maka
> bangsa Indonesia akan lari di tempat.
>
> > Â
> > Nasionalisme mengajarkan kita untuk mencintai tanah air, tumpah
>
> darah kita. Nasionalisme mengajarkan kita untuk rela berkorban demi
> tanah air seperti dicontohkan oleh para pahlawan, para founding
> fathers. Pengorbanan kita tidak terbatas hanya untuk saudara se...
> tapi demi Ibu Pertiwi beserta seluruh anak-anaknya. Jika kita bisa
> menyadari bahwa kita lahir dari rahim Ibu yang sama yaitu Ibu
> Indonesia maka kita akan menyadari bahwa kita semua bersaudara. Dan
> kita semua tahu sesama saudara seharusnya bagaimana.
>
> > Â
> > Selama puluhan tahun sadar atau tidak kita telah terkotak-kotak,
>
> baik kotak suku, agama maupun golongan. Selama puluhan tahun kita
> hidup rukun meskipun kita berbeda suku dan agama kok tiba-tiba saat
> ini masalah agama membuat hubungan sesama anak bangsa saling curiga.
> Pernahkah kita bertanya ada apa? Siapa yang bermain? Siapa yang
> menjadi kaki tangan para fasis itu? Kenapa kita mudah sekali
> dipermainkan?
>
> > Â
> > Semua hal diatas akan dapat kita antisipasi jita kita mampu
>
> menggunakan nilai-nilai yang sudah terbukti bisa menyaring nilai-
> nilai asing itu agar tidak menyusahkan kita. Karena kita tidak mampu
> lagi menghidupi nilai-nilai luhur yang kita miliki maka secara
> otomatis kita tersesat. Dalam keadaan tersesat ini ada yang
> berpendapat bahwa nilai-nilai budaya tertentu akan mampu
> menyelamatkan kita. Apa jaminannya? Sedang di negeri dimana asal
> budaya itu manusia masih mengalami diskriminasi.
>
> > Â
> > Bagi saya, hanya satu hal yang akan mampu menyelematkan kita yaitu
>
> cinta. Cinta kita terhadap tanah air, Ibu Pertiwi. Jika kita
> memiliki cinta terhadap tanah air, maka akan melakukan pekerjaan kita
> (apapun pekerjaan kita) sebagai wujud persembahan kepada Ibu
> Pertiwi. Jika kita mencintai ibu kita tentu kita tidak akan
> membiarkan ibu kita menanggis melihat anak-anaknya bertikai. Jika
> kita mencintai ibu kita tentu kita tidak akan membiarkan ibu kita
> diperkosa. Permerkosaan inilah yang sedang berlangsung sampai saat
> ini.
>
------------------------------------
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:bali-bali-digest@yahoogroups.com
mailto:bali-bali-fullfeatured@yahoogroups.com
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
bali-bali-unsubscribe@yahoogroups.com
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar