dengar. Setelah menyamakan visi, barulah kita bisa mencari solusi.
Bagaimana mau mencari solusi, bila melihat saudara berbendera lain
saja kita langsung menganggap berlawanan dengan kita.
Saya pribadi, kesempatan untuk memangkas jaringan perampok bangsa
(ga memangkas habis..ya...mengurangi dikit lah....hehehe...) ya
tahun depan saat pemilu. Tapi seleksi ya harus dimulai dari
sekarang. Contohnya ? siapa saja yang sudah pasang iklan diri di TV
hari hari gini sudah pasti tidak saya pilih, karena jelas untuk meng-
iklan-kan diri mereka memerlukan biaya yang tidak sedikit, dan
tentunya saat terpilih nanti, target mereka adalah BEP secepat
mungkin, dilanjutkan dengan pengumpulan modal periode selanjutnya.
Selanjutnya, adakah calon yang mempunyai visi/misi untuk
mengembalikan aset aset bangsa ? ga perduli doktor atau sarjana, tua
atau muda, laki laki atau perempuan. Kalau ada insyaallah dia yang
saya pilih. Kalau ternyata tidak ? yaa...terpaksa harus merelakan
presiden terpilih adalah dari partai golput....(tapi minimal sudah
usaha untuk 'melihat' kalau kalau ada calon yang cocok)
Tentang RUUP, pada dasarnya menurut saya memang menggelikan kalau
nggak mau dibilang memalukan. Karena sebagai muslim (dimana
mayoritas rakyat indonesia juga muslim), harusnya mereka ingat bahwa
Qur'an dan Hadist sudah melebihi undang undang manapun untuk
mengatur kehidupan kita, lalu ngapain kita repot2 membuat UU ini
itu. Ibaratnya ketimbang kita repot repot melarang kendaraan
melintas di depan rumah kita agar anak anak selamat, lebih baik kita
mengajarkan anak anak gimana menjaga diri, dan cara menyeberang yang
baik, toh kita sudah tau tehnik menyeberang yang aman.
Tapi menolak dengan membabi buta menurut saya juga tidak akan
menghasilkan hasil yang optimal. Bukankah yang kita perlukan adalah
hasil akhirnya bukan caranya. Mendekati dengan cara musyawarah
dengan niat mencari solusi,buat saya lebih aman. Minta ke mereka
secara spesifik apa yang mereka maksut dalam pasal pasal tersebut.
Bagaimana sikap mereka terhadap budaya yang sudah ada sebelum negeri
ini berdiri. Bagaimana dengan tugas mereka untuk melindungi warisan
leluhur, melindungi hak hak minoritas warga indonesia Dan biarkan
mereka sendiri yang menjawab pertanyaan tersebut, dan menyadari
kebodohan mereka. Cara lain, cari ulama yang ngerti maksut kita,
biarkan beliau yang menyampaikan, (seperti halnya kalau kita mau
jualan paket wisata Bali ke Jepang, akan lebih bisa diterima bila
yang menyampaikan adalah orang jepang asli ketimbang kita sendiri
sepandai apapun kita berbahasa jepang), mudah mudahan mereka bisa
lebih terbuka hatinya. Semestinya ada ulama yang juga berpikiran
bahwa pengesahan RUUP ini belum tepat dan terlalu banyak celah yang
bisa dimanfaatkan orang yang menginginkan republik ini menjadi
republik mimpi. Seharusnya dengan cara2 halus sudah bisa diperoleh
solusi, karena kalau dengan cara yang sopan saja tidak diterima,
sepertinya dengan cara yang 'lebih bersemangat' akan lebih susah
diterima. Kalau ternyata mereka tetap tertutup hatinya dalam
menerima masukan, ya mereka harus siap bila republik ini nantinya
benar benar akan menjadi republik mimpi (dan saya harus belajar
ngurus passport untuk nengokin keluarga diseberang pulau..walah
repot....).
Lebih menyempit lagi, mulai mewaspadai Balkanis2 disekitar kita.
Orang yang menganggap bahwa setelah mereka menjabat, mereka berhak
membuat peraturan2 yang seenaknya, lupa bahwa pekerjaan mereka
adalah menjadi pembantu rakyat, mencari jalan untuk mensejahterakan
rakyat. Bagaimana mungkin mencari pemasukan daerah dari menjual
pasir laut. Kenapa gak mencari pasir di ribuan pulau lainnya yang
tidak berpenghuni..(hehehe..tetep tidak ramah lingkungan ya ? tapi
kan lebih aman...ngeles...).
Lebih menyempit lagi, andaikan harus merdeka, apakah kita sudah
siap ? jeg busung gen nu ngimport je....Memanfaatkan potensi lokal,
menyiapkan tenaga kerja, menyiapkan generasi penerus. Memberikan
mereka skill, bekerjasama dengan BLK/Depnakertrans-menjemput bola ke
pelosok2 daerah, memberikan pelatihan2 kepada generasi muda sehingga
mereka tidak hanya silau kepada kemilau dollar yang datang,
berbondong2 ke kota tapi tanpa skill. Mengoptimalkan fakultas
pertanian, gimana membudidayakan tanaman organik yang mudah dan
murah. Sehingga produk organik bisa menjadi produk khas dari bali .
Bukannya tamu tamu asing lebih suka produk organik meski mahalan
dik. Terlebih adalah bisa menghargai produk lokal, bagaimana petani
mau nanem kalau harga jualnya sangat tidak manusiawi dibanding
dollar yang diterima pembeli (bahkan lebih memilih membayar mahal
beras dari tailand ketimbang beras tabanan).
Mudah memang kalau tinggal ngomong ya, hehehe....maklum cuma ibu
rumah tangga, bisanya cuma ngrumpi doang apa daya kemampuan ga ada.
tapi tetep harus punya cita cita, jadi begitu ada kesempatan, kita
tinggal melaksanakannya.
Salam ngrumpi,
LL
--- In bali-bali@yahoogroups.com, Putu Kesuma <putukesuma@...> wrote:
>
> Mbok Vieb,
> Â
> Saya setuju hal ini jangan dikait-kiatkan dengan agama karena
bukan agama yang menjadi penyebabnya tetapi manusia. Saya meyakini
nilai-nilai universal semua agama esensinya sama. Ini murni masalah
ketidaksadaran.
> Â
> Masalah terbesar bangsa kita saat ini adalah masalah nasionalisme.
Mungkin banyak yang akan bertanya, hari gini kok bicara
nasionalisme? Ya memang disini masalahnya! Ini karena kita tidak
bangga menjadi bangsa Indonesia. Kenapa kita tidak bangga menjadi
orang Indoneisia? Atau apa yang bisa membuata saya bangga menjadi
orang Indonesia? Sebelum jawaban2 ini terjawab dengan tepat maka
bangsa Indonesia akan lari di tempat.
> Â
> Nasionalisme mengajarkan kita untuk mencintai tanah air, tumpah
darah kita. Nasionalisme mengajarkan kita untuk rela berkorban demi
tanah air seperti dicontohkan oleh para pahlawan, para founding
fathers. Pengorbanan kita tidak terbatas hanya untuk saudara se...
tapi demi Ibu Pertiwi beserta seluruh anak-anaknya. Jika kita bisa
menyadari bahwa kita lahir dari rahim Ibu yang sama yaitu Ibu
Indonesia maka kita akan menyadari bahwa kita semua bersaudara. Dan
kita semua tahu sesama saudara seharusnya bagaimana.
> Â
> Selama puluhan tahun sadar atau tidak kita telah terkotak-kotak,
baik kotak suku, agama maupun golongan. Selama puluhan tahun kita
hidup rukun meskipun kita berbeda suku dan agama kok tiba-tiba saat
ini masalah agama membuat hubungan sesama anak bangsa saling curiga.
Pernahkah kita bertanya ada apa? Siapa yang bermain? Siapa yang
menjadi kaki tangan para fasis itu? Kenapa kita mudah sekali
dipermainkan?
> Â
> Semua hal diatas akan dapat kita antisipasi jita kita mampu
menggunakan nilai-nilai yang sudah terbukti bisa menyaring nilai-
nilai asing itu agar tidak menyusahkan kita. Karena kita tidak mampu
lagi menghidupi nilai-nilai luhur yang kita miliki maka secara
otomatis kita tersesat. Dalam keadaan tersesat ini ada yang
berpendapat bahwa nilai-nilai budaya tertentu akan mampu
menyelamatkan kita. Apa jaminannya? Sedang di negeri dimana asal
budaya itu manusia masih mengalami diskriminasi.
> Â
> Bagi saya, hanya satu hal yang akan mampu menyelematkan kita yaitu
cinta. Cinta kita terhadap tanah air, Ibu Pertiwi. Jika kita
memiliki cinta terhadap tanah air, maka akan melakukan pekerjaan kita
(apapun pekerjaan kita) sebagai wujud persembahan kepada Ibu
Pertiwi. Jika kita mencintai ibu kita tentu kita tidak akan
membiarkan ibu kita menanggis melihat anak-anaknya bertikai. Jika
kita mencintai ibu kita tentu kita tidak akan membiarkan ibu kita
diperkosa. Permerkosaan inilah yang sedang berlangsung sampai saat
ini.
> Â
> Maafkan saya jadi agak sentimental, but that is my feeling...
> Â
> Semoga Bunda Pertiwi memaafkan kita...
> putu
> Â
> Â
> SEVEN SOCIAL SIN (MK GANDHI) ~ Wealth without Work ~ Pleasure
without Conscience ~ Knowledge without Character ~ Commerce without
Morality ~ Science without Humanity ~ Politics without Principle ~
Worship without Sacrifice
>
> --- On Fri, 26/9/08, Asana Viebeke Lengkong <asanasw@...> wrote:
>
> From: Asana Viebeke Lengkong <asanasw@...>
> Subject: Re: [bali-bali] Re: Mereka Dikalahkan Kesombongan Negara
> To: bali-bali@yahoogroups.com
> Date: Friday, 26 September, 2008, 10:51 PM
>
>
>
>
>
>
>
> Putu dan Lia yang baik,
> Â
> Na itu semua deh sudah runtun ceritanya, baca yang banyak jadi
lebih tau lagi. sampai saat ini di negeri yang kita cintai masih
dalam kerangka belenggu itu, dan butuh mungkin 2 sampai 3 generasi
untuk bisa 'sembuh' dan baru 'sembuh' dalam arti proses penyembuhan.
> Â
> Sambil baca baca, kita perlu konsentrasi kepada persoalan yang
sedang berlangsung sekarang ini dan kemudian berusaha untuk
melakukan sesuatu yang kecil saja tapi bisa mempunyai potensi untuk
perubahan positif dan memahami banyak hal yang salah yang telah di
lakukan dan mencoba untuk menuju perubahan menuju perbaikan.
> Â
> Ada kesempatan untuk membuat point point yang dapat di sampaikan
ke Gubernur Bali hari minggu besok, dan Sugi sudah bersedia untuk
mencatat, jadi coba kita arahkan sedikit pemikiran kita kesana
disamping untuk mencoba untuk mengalihkan diskusi tentang agama ke
diskusi tentang bagaimana kita hidup di pulau Bali ini dapat
berperan dalam peningkatan kualitas hidup dan bagaimana coba untuk
menciptakan lapangan kerja supaya ekonomi berjalan seimbang.
> Â
> RUU sedang di kawal juga oleh Sugi, jadi untuk tidak terjebak
dalam perselisihan dengan nama agama dan mendemonstrasikan siapa
yang paling suci dan kenal Tuhan, mari kita baca semua yang
sehubungan dengan konteks manusianya dan kebutuhannya karena
sesungguhnya kita semua manusia spiritual.
> Â
> salam, vieb
> Â
>
------------------------------------
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:bali-bali-digest@yahoogroups.com
mailto:bali-bali-fullfeatured@yahoogroups.com
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
bali-bali-unsubscribe@yahoogroups.com
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar