Mbok Lia and rekan,
Kalau orang pintar ngeliatnya seperti itu,
Kalau orang Ndableg seperti saya ngeliatnya secara goblog.
Setelah PD II Indonesia punya simpanan uang Milyaran Dollar
di Swiss Bank , yang dapat mengeluarkan uang itu hanya Soekarnoa
dan Soebandrio ( pemimpin PKI) , sedang Bapak Soekarno sudah Wafat
Soebandryo dihukum seumur hidup .
yang kemudian dibebaskan oleh Pemerintahan Soeharto.
Lucunya berkisar dua bulan setelah pembebasan itu Bapak Soeharto
pergi ke Swisuntuk pemeriksaan jantung ( he..hmm).
Kalkulasi saya bilang uang itu sudah menjadi billions of dollars
saat kejadian itu .
Pertanyaan saya yang Ndableg ini is , masihkah uang itu di Bank
Swiss?
Kalau masih atas nama siapa?
Mungkin reka rekan yang pintar bisa membantu saya yang Ndableg ini.
salam Pan Balang Tamak.
--- In
bali-bali@yahoogrou ps.com, "laraslia" <laraslia@.. .> wrote:
>
> Satu kutipan yang selalu membuat saya selalu mual saat membacanya,
>
> Pertemuan antara para ekonom suruhan Jenderal Suharto dengan para
> CEO korporasi multinasional di Swiss, Nopember 1967, membahas satu
> agenda sangat penting: penjajahan ekonomi dan politik Indonesia
oleh
> Barat (baca: Yahudi). Indonesia diwakili Mafia Berkeley generasi
> pertama, juga Hamengkubuwono IX dan Adam Malik. Sedangkan para
> pengusaha multinasional antara lain adalah David Rockefeller.
>
> Dr. Brad Sampson, saat meraih PhD dari Northwestern University AS
> menyusuri pertemuan ini dengan promotornya, seorang Indonesianis
> kritis bernama Prof. Jeffrey Winters. John Pilger dalam
bukunya "The
> New Rules of the World" mengutip hasil penelitian Sampson
tersebut.
> Inilah sebagian kutipannya:
>
> "Dalam bulan November 1967, menyusul tertangkapnya `hadiah
terbesar'
> (istilah pemerintah AS untuk Indonesia setelah Bung Karno jatuh
dan
> digantikan oleh Soeharto), maka hasil tangkapannya itu dibagi-
bagi.
> The Time Life Corporation mensponsori konferensi istimewa di
Jenewa,
> Swiss, yang dalam waktu tiga hari membahas strategi perampokan
> kekayaan alam Indonesia.
>
> Para pesertanya terdiri dari seluruh kapitalis yang paling
> berpengaruh di dunia, orang-orang seperti David Rockefeller. Semua
> raksasa korporasi Barat diwakili perusahaan-perusaha an minyak dan
> bank, General Motors, Imperial Chemical Industries, British
Leyland,
> British American Tobacco, American Express, Siemens, Goodyear, The
> International Paper Corporation, US Steel, ICI, Leman Brothers,
> Asian Development Bank, Chase Manhattan, dan sebagainya."
>
> Di seberang meja, duduk orang-orang Soeharto yang oleh Rockefeller
> dan pengusaha-pengusaha Yahudi lainnya disebut sebagai `ekonom-
> ekonom Indonesia yang korup'.
>
> "Di Jenewa, Tim Indonesia terkenal dengan sebutan `The Berkeley
> Mafia' karena beberapa di antaranya pernah menikmati beasiswa dari
> pemerintah Amerika Serikat untuk belajar di Universitas California
> di Berkeley. Mereka datang sebagai pengemis yang menyuarakan hal-
hal
> yang diinginkan oleh para majikannya yang hadir. Menyodorkan butir-
> butir yang dijual dari negara dan bangsanya. Tim Ekonomi Indonesia
> menawarkan: tenaga buruh yang banyak dan murah, cadangan dan
sumber
> daya alam yang melimpah, dan pasar yang besar."
>
> "Pada hari kedua, ekonomi Indonesia telah dibagi sektor demi
> sektor." Prof. Jeffrey Winters menyebutnya, "Ini dilakukan dengan
> cara yang amat spektakuler. "
>
> Jeffrey Winters melanjutkan, "Mereka membaginya dalam lima seksi:
> pertambangan di satu kamar, jasa-jasa di kamar lain, industri
ringan
> di kamar satunya, perbankan dan keuangan di kamar yang lain lagi;
> yang dilakukan oleh Chase Manhattan duduk dengan sebuah delegasi
> yang mendiktekan kebijakan-kebijakan yang dapat diterima oleh
mereka
> dan para investor lainnya. Kita saksikan para pemimpin korporasi
> besar ini berkeliling dari satu meja ke meja lainnya,
> mengatakan, `Ini yang kami inginkan, itu yang kami inginkan, ini,
> ini, dan ini.' Dan mereka pada dasarnya merancang infrastruktur
> hukum untuk berinvestasi. Tentunya produk hukum yang sangat
> menguntungkan mereka. Saya tidak pernah mendengar situasi seperti
> itu sebelumnya, di mana modal global duduk dengan wakil dari
negara
> yang diasumsikan sebagai negara berdaulat dan merancang
persyaratan
> buat masuknya investasi mereka ke dalam negaranya sendiri."
>
> Freeport mendapatkan gunung tembaga di Papua Barat (Henry
Kissinger,
> pengusaha Yahudi AS, duduk dalam Dewan Komisaris). Sebuah
konsorsium
> Eropa mendapatkan Nikel di Papua Barat. Raksasa Alcoa mendapat
> bagian terbesar dari bauksit Indonesia. Sekelompok perusahaan
> Amerika, Jepang, dan Perancis berhak menebangi hutan-hutan tropis
di
> Kalimantan, Sumatera, dan Papua Barat.
>
> Sebuah undang-undang tentang penanaman modal asing yang dengan
> terburu-buru disodorkan kepada Presiden Soeharto membuat
perampokan
> negara yang direstui pemerintah itu bebas pajak untuk lima tahun
> lamanya (UU PMA Nomor 1/1967). Selama itu pula rakyat terus
menerus
> dibohongi dengan idiom-idiom bagus tentang pembangunan, Pancasila,
> dan trickle down effect dan sebagainya namun pada kenyataannya
> terjadi pemiskinan rakyat banyak secara sistematis.
>
> Dan yang lebih disayangkan bahwa semua pemiskinan tersebut
dilakukan
> oleh orang orang yang mengaku muslim.
>
> Salam,
> LL
>
>
> --- In
bali-bali@yahoogrou ps.com, Putu Kesuma <putukesuma@ > wrote:
> >
> > Mbok Vieb yang saya kagumi,
> > Â
> > Setelah membaca sebagian buku itu membayangkan apa sesungguhnya
> yang terjadi, ngeri sekali. The Old Empire, istilah mereka
(maksudnya
> melanjutkan imprialisme) , sampai detik inipun masih terjadi.
> > Â
> > Saat ini entah episode keberapa sedang mereka mainkan di negeri
> kita, tapi sepertinya banyak diantara elit kita gak percaya.
Mereka
> lebih suka bertikai untuk hal-hal sebenarnya tidak terlalu urgent.
> Hal ini diperparah lagi karena kehadiran para penganut wahabisme
di
> negerti kita.
> > Â
> > Contoh nyatanya di Jakarta di dekat kampung rabutab ada Sekolah
> Saudi Arabia yang segala sesuatunya Saudi Arabia. Sebagaimana kita
> ketahui Saudi adalah satu-satunya negara yang menerapkan paham
> wahabisme super ketat.
> > Â
> > Saya tidak tahu apa selanjutnya yang akan terjadi, yang jelas
para
> penganut wahabisme sedang berjung melalui RUU Porno agar dapat
> membuat peraturan di daerah-daerah.
> >
> > Aku sedih mbok...
> > pkesuma
> >
> > SEVEN SOCIAL SIN (MK GANDHI) ~ Wealth without Work ~ Pleasure
> without Conscience ~ Knowledge without Character ~ Commerce
without
> Morality ~ Science without Humanity ~ Politics without Principle ~
> Worship without Sacrifice
> >
> > --- On Thu, 25/9/08, Asana Viebeke Lengkong <asanasw@> wrote:
> >
> > From: Asana Viebeke Lengkong <asanasw@>
> > Subject: Re: [bali-bali] Mereka Dikalahkan Kesombongan Negara
> > To:
bali-bali@yahoogrou ps.com> > Date: Thursday, 25 September, 2008, 2:47 PM
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > 
> > P Putu Kesuma yang baik,
> > Â
> > wah seru ya buku itu, tapi itu hanya sebagian kecil saja dari
> strategy 'mengawal pembangunan ekonomi indonesia pasca Gerakan 30
> September', karena para elite ekonomi dunia/oligarky sempat
> berkumpul di Geneva untuk embuat 'indonesia economy roadmap' yang
> seyogianya mensejahterakan para oligarky itu sendiri dimulai
mungkin
> dengan meluruskan jalan Pertamina Ibnu Empire (lebih besar dan
kaya
> dari Keluarga Presiden Soeharto lo) dan pertambangan; program
> pakan PL480; Flourmill Bogasari; Kapas Indah, Kendari.... awal
dari
> the Soeharto Kingdom Rezim. Semua diatur oleh Indonesian-
American
> Chamber of Commerce pada saat itu.
> > Â
> > Kita tidak dungu, hanya kurang berdaya saja disamping itu kan
> jamannya kan jaman otoriter pada saat itu, jadi mana mungkin
> melawan? Kalau melawan di culik lo, di New York pada saat itu
ketua
> Persatuan Mahasiswanya namanya Wijakongko adiknya Wijanarko, kita
> sangat kritis sekali dengan kondisi Indonesia, tapi lihat saja
> ketika Wijanarko pulang dan mendapat posisi di Bulog, jadinya
> apa?????
> > Â
> > Bisa tebak kenapa saya tidak berminat masuk dunia politik?????
> naaaaa itu deh.
> >
> > ----- Original Message -----
> > From: Putu Kesuma
> > To: bali-bali@yahoogrou ps.com
> > Sent: Thursday, September 25, 2008 2:19 PM
> > Subject: Re: [bali-bali] Mereka Dikalahkan Kesombongan Negara
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > Pak Anton dan teman-teman semua,
> > Â
> > Saya baru baca sebagain dari buku CONFESSION of an ECONOMIC HIT
> MAN yang ditulis oleh pelakunya sendiri yaitu John Perkins.
> > Â
> > Banyak orang yang meragukan isi buku itu termasuk orang Amerika
> sendiri yang pernah saya tanya. Tapi melihat kenyataan yang
terjadi
> di Indonesia dan pengakuan dari penulisnya Indonesia benar-benar
> menjadi koraban EHM. Puncaknya adalah ketika pemerintahan Orde Baru
> (Soehatao) dibikin tidak berdaya dengan utang yang meroket
sehingga
> dengan mudah dijatuhkan. Dari buku itu saya sekarang tahu bahwa
> rezim Soeharto tidak jatuh karena aksi mahasiswa, tapi karena
sudah
> tidak dipakai lagi oleh Amerika. Gerakan Mahasiswa hanya sebagai
> pemicu saja, begitu juga dengan kejatuhan Bung Karno.
> > Â
> > Saya bertanya pada diri sendiri, apakah kita lebih dunggu dari
> keledai?
> >
> > Dalam buku ini juga diceritrakan perselingkuhan keluarga Al Saud
> (raja Saudi) dengan penguasa Amerika.
> > Â
> > pk
> >
> > SEVEN SOCIAL SIN (MK GANDHI) ~ Wealth without Work ~ Pleasure
> without Conscience ~ Knowledge without Character ~ Commerce
without
> Morality ~ Science without Humanity ~ Politics without Principle ~
> Worship without Sacrifice
> >
> > --- On Mon, 22/9/08, Anton Muhajir <antonemus@gmail. com> wrote:
> >
> > From: Anton Muhajir <antonemus@gmail. com>
> > Subject: [bali-bali] Mereka Dikalahkan Kesombongan Negara
> > To: bali-bali@yahoogrou ps.com, akademikaunud@ yahoogroups. com,
> baliblogger@ yahoogroups. com
> > Date: Monday, 22 September, 2008, 1:58 PM
> >
> >
> >
> >
> >
> > dear all,
> >
> > sekadar berbagi pengalaman dan perasaan. maaf jika tak berkenan.
> tulisan agak lama. tentang wajah lain denpasar.
> >
> >
http://www.rumahtul isan.com/ 11/09/2008/ pikiran/mereka-
> dikalahkan- kesombongan- negara.html
> >
> > thx
> >
> >
> >
> > Kembali, kupenuhi janjiku dalam hati untuk menemui anak-anak
itu.
> Hari ini adalah kali keempat aku mencari anak-anak tukang suun di
> Pasar Badung tersebut. Tapi kali ini pun gagal. Aku tak menemukan
> anak-anak yang pernah aku ajak ngobrol akhir Juli lalu itu.
> > Minggu lalu, bersama Bunda dan Bani, setengah mati aku ubek-ubek
> pasar terbesar di Bali itu untuk menemukan mereka. Tapi, seperti
> hari ini, aku juga tak menemukan satu di antara mereka.
> > Padahal, Juli lalu aku bisa ngobrol dengan setidaknya lima di
> antara puluhan anak-anak tukang suun itu. Informasi yang aku dapat
> juga sudah banyak saat itu. Anak-anak tukang suun itu memberikan
> jasa membawakan belanjaan orang yang belanja di pasar. Barang
> seberat bahkan ada yang sampai 50 kg itu diangkat di kepala.
Paling
> banyak mereka bisa dapat Rp 5000 sekali junjung.
> > Berumur antara 7-10 tahun, mereka harusnya sekolah. Tapi mereka
> harus meninggalkan kampung halamannya, sebagian besar dari
Tianyar,
> Karangasem, dan tinggal di Denpasar tanpa orang tua. Mereka tak
> sekolah. Hidup tanpa wali. Karena itu sejak awal aku berniat untuk
> mencari mereka ke kosnya juga. Tak hanya ngobrol di pasar.
> > Hari ini, janji dalam hati itu kupenuhi. Aku main ke tempat kos
> anak-anak itu karena tak menemukan mereka di pasar. Menurut tukang
> suun lainnya, anak-anak itu sudah pulang dari pukul 10 pagi lalu
> kembali pukul 4 sore.
> > Dari informasi tukang suun di pasar, aku mencari tempat kos anak-
> anak itu di jalan Gunung Batur. Persisnya di Banjar Penyaitan,
yang
> awalnya aku pikir Banjar Penyakitan.
> > Aku tak bisa menemukan anak-anak yang dulu pernah ngobrol sama
aku
> itu. Tempat kos itu memang untuk anak-anak tukang suun. Tapi anak-
> anak itu tidak ada di sana. Aku hanya ketemu dengan puluhan anak
> lainnya. Dan, di tempat ini pula aku mendapat cerita dan sisi lain
> dari gemerlap Denpasar. Inilah cerita mereka yang kalah..
> >
> > Gang yang aku kunjungi hari ini adalah salah satu gang kumuh di
> Denpasar. Di gang itu, para pemimpi dari daerah pinggiran datang
> menyerbu kota. Berduyun-duyun mereka datang dari Tianyar,
Karangasem
> untuk ikut menikmati gemerlap Denpasar. Tapi inilah mereka temui.
> > Mimpi itu terhenti, setidaknya sampai saat ini, di ruang tak
lebih
> dari 3×3 meter persegi, di mana mereka tinggal. Kamar, mungkin
> lebih tepat bilik, berdinding bambu di mana sekaligus jadi kamar
> tidur, ruang keluarga, tempat bermain, nonton TV, dan semua
kegiatan
> yang mereka lakukan di rumah. Bilik itu satu-satunya tempat di
mana
> mereka sebut sebagai rumah.
> > Atapnya seng. Lantai tanah, becek di sana sini. Bilik-bilik itu
> berderet dengan penghuni berbeda keluarga tiap biliknya. Satu
tempat
> kos yang aku kunjungi saja ada tiga keluarga dengan setidaknya
lima
> kepala.
> >
> > Jauh meninggalkan desa, kekalahan yang mereka dapati. Bukan
karena
> mereka malas. Tapi karena tidak ada cukup akses pada modal yang
> mungkin bisa mengubah nasib mereka. Kemiskinan, kata peraih Nobel
> Ekonomi Amartya Sen, tidaklah terjadi karena kemalasan. Tapi
karena
> kurangnya atau malah tidak adanya peluang untuk mereka.
> > Jangan bilang mereka kalah karena malas. Tiap hari mereka
berjalan
> setidaknya 5 km selama 30 menit dari tempat kos ke pasar untuk
> menjajakan jasa. Lalu selama hampir 10 jam mereka bekerja, sejak
> pukul 6 pagi sampai â€"kadang-kadang- 8 malam. Beban yang mereka
> junjung di atas kepala bisa sampai 5 kg.
> > "Tapi paling banyak dapat dua puluh ribu sehari, Pak. Buat beli
> susu saja sudah habis," kata Bu Wayan, satu di antara mereka.
> Perempuan dari Tianyar ini tinggal dengan tiga anak dan satu cucu.
> Anak perempuannya, baru berumur 10 tahun, juga jadi tukang suun.
> > Inilah cerita tentang mereka yang kalah. Bukan karena mereka
> malas, tapi karena Negara yang tidak bertanggung jawab.
Pembangunan
> hanya terpusat pada kota. Maka laron-laron itu datang mengerubung
> lampu bernama kota itu.
> > Ironisnya, ketika laron itu datang, Negara menganggap mereka
> sebagai sampar. Mereka harus dihilangkan dari pandangan.
Kemiskinan
> tidak boleh terlihat di depan mata. Negara kadang terlalu sombong
> mengakui mereka. Mungkin juga karena Negara tak punya cukup akal
> untuk mengatasi kemiskinan itu.
> > Maka, tak sedikit aparat yang malah menangkap mereka untuk
> dikembalikan ke asalnya. Seperti menggarami air laut. "Setelah itu
> kami kembali lagi ke sini," kata Bu Wayan.
> > Laron-laron itu lalu kembali. Mengejar mimpi. Lalu terperangkap
> pada kekalahan yang sama. Terus berulang..--
> > Anton Muhajir | Â
http://rumahtulisan .com
> >
> >
> >
> > Get your preferred Email name!
> > Now you can @ymail.com and @rocketmail. com.
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > New Email names for you!
> > Get the Email name you've always wanted on the new @ymail
and
> @rocketmail.
> > Hurry before someone else does!
> >
http://mail. promotions. yahoo.com/ newdomains/ aa/> >
>
Tidak ada komentar:
Posting Komentar