On 22/9/08 3:55 PM, "IGusti Agung" <agungpindha@yahoo.com> wrote:
Just a quick question :
Kenapa saya harus memahami dan menghormati Syariat Islam??
Sementara masalah ini ada hubungannya dengan RUUP , dalam hal
pemaksaan ideology. RUUP tidak lain dari pemaksaan ideology,
yang juga berarti menginjak HAM ,kebebasan setiap warga negara untuk
melakukan sesuatu , asal tidak melanggar hukum yang sudah disepakati.
MUI dan FPI juga Al Qaeda dan Taliban , actionnya didasari dengan Al
Quran dan Hadist,kenapa justru tambah tersesat .
Apapun dasar dan motif dari action mereka , yang jelas mereka
menyakiti orang lain.
Mungkinkah mereka semua salah dalam menafsirkan Islam dan Al Quran?
I don't know.. yang saya tahu ,adalah kenyataannya , mereka menyakiti
malah sampai membunuh orang lain , baik yang beragama Islam maupun
yang bukan pemeluk Islam .
So, kenapa saya harus memahami dan menghormati syariat Islam ??
salam simple
--- In bali-bali@yahoogroups.com <mailto:bali-bali%40yahoogroups.com> , "laraslia" <laraslia@...> wrote:
>
> Sepertinya ini ga ada hubungannya dgn RUUP, tidak puasa bukannya
> pornoaksi, ini murni tindak kriminal seperti halnya di STPDN.
Inipun
> tidak lepas dari mutu pendidikan di indonesia termasuk ponpes di
> dalamnya yang menyebabkan rendahnya pemahaman mereka tentang islam
> sekalipun mereka tinggal di ponpes. Seperti halnya sekolah negri,
> kualitas pendidikan di ponpespun bermacam macam. Jangankan ponpes
> kebanyakan di indo yg mayoritas santrinya dari golongan kurang
mampu
> (ketimbang ga sekolah), bahkan ponpes yg berbayar dollarpun atau
> sekolah islam terpadu (ada yg plesetin TERpaksa PAke DUit karena
> saking mahalnya) kualitas pendidikan umumnya masih ada yg tidak
jauh
> beda dgn sekolah negri. Buat saya sebagai ibu muslim, ini jadi
dilema
> tersendiri. Satu sisi ingin agar anak memiliki pemahaman agama yg
> cukup dan benar tetapi juga mampu bersaing dalam menguasai
teknologi,
> tapi disisi lain saya masih belum berani mempercayakan 100% ke
ponpes
> dgn kualitas yg ada skrg. Bahkan ada orangtua yg menetapkan
kriteria
> bagus tidaknya ponpes berdasarkan kesaktian si guru, ada ada saja,
> tapi itu kenyataannya. Mungkin cerita saya terlalu meluber, tapi
saya
> harapkan rekan milis sekalian bisa mendapat sedikit gambaran
tentang
> kualitas pendidikan agama mayoritas muslim di indo. Bahwa
sebenarnya
> tidak ada yg perlu ditakutkan dengan syariat islam, karena itu
hanya
> satu istilah utk menyebut satu aturan/undang undang yg berlaku
hanya
> untuk umat islam sementara umat lain hanya diharapkan memahami dan
> menghormati aturan tersebut. (sialnya sebagian besar muslim di
indo
> tidak tau dan memahami hukum syariah dalam islam dan cenderung
> menafsirkan sendiri ketimbang tanya ke orang yg lebih berilmu,
belum
> lagi adanya satu pihak yg mengharapkan rakyat indonesia terpecah
> belah dg memanfaatkan isu SARA). Salam, lia
> --- In bali-bali@yahoogroups.com <mailto:bali-bali%40yahoogroups.com> , Putu Kesuma <putukesuma@> wrote:
> >
> > Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,
> >
> > Salam Indonesia!
> >
> > Yang kita khawaritkan itu sudah terhaji, belum diundangkan saja
> penghakimam sudah terjadi terhadap sesama anak bangsa. Bisa kita
> bayangkan apa yang akan terjadi jika RUU ini disahkan.
> >
> > Karena itu demi kecintaan kita terhadap tanah air, Ibu Pertiwi,
> kita tidak bisa diam sampai RUU ini dikuburkan. RUU ini adalah
bentuk
> lain dari imprialisme budaya. Jika bangsa kita konsenten menolak
> imprialisme maka apapun bentukan harus kita tolak.
> >
> > Saat ini di medan Kuruksetra sedang tejadi perang untuk
menegakkan
> nilai-nilai budaya nusantara melawan nilai-nilai budaya asing.
> >
> > Sejarah akan mencatat apakah kita termasuk penghianat atau tidak.
> >
> > Selamat berjuang!
> >
> > Salam Indonesia
> > Putu Kesuma
> >
> >
> >
> > Sabtu, 20/09/2008 14:28 WIB
> >
> > Waskito Ardiyono - detikSurabaya
> >
> >
> >
> >
> >
> > Magetan - Tri Andika (16), siswa SMAN 3 Magetan terbaring lemah
di
> UGD RSUD Dr Sayidiman Magetan karena mengalami luka-luka setelah
> dianiaya santri pondok pesantren. Korban dianiaya hanya gara-gara
> ketahuan tidak berpuasa.
> >
> > AKP Santoso Kapolsek Takeran Magetan kepada detiksurabaya.com
> menjelaskan, dari keterangan korban, peristiwa kekerasan itu
terjadi
> saat mengikuti Pondok Ramadan di Pondok Pesantren PSM yang
> berlangsung hari Jumat (19/9/2008) kemarin. Saat itu korban
kepergok
> tidak berpuasa. Korban ketahuam sedang memakan sesuatu di ruangan
> yang digunakan untuk ngaji.
> >
> > "Korban mengaku kalau dipukul oleh santri Pondok PSM gara-gara
> tidak puasa kemarin. Karena kondisinya lemah oleh keluarga, korban
> dibawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan," jelas Santoso di
> kantornya, Sabtu (20/9/2008).
> >
> > Menurut Santoso, sampai saat ini pihaknya masih menunggu KH
> Masdjuki pimpinan Pondok Pesantren PSM Takeran dan santrinya untuk
> dimintai keterangan terkait penganiayaan, hanya gara-gara tidak
puasa.
> >
> > Sementara itu, kondisi korban sendiri saat ini masih tergolek
> lemah. Korban menjalani perawatan intensif di RSUD Dr Sayidiman
> Magetan dengan luka memar di dada dan punggung.(bdh/bdh
>
--
Professor of Southeast Asian Studies
School of Languages and Cultures
Rm 637, Brennan Building A18
Associate Dean International
Faculty of Arts
The University of Sydney NSW 2006
Ph 61-2 9351 2878
Fax 61-2 9351 2319
email <adrian.vickers@usyd.edu.au>
Celebrating 50 Years of Indonesian Studies at the University of Sydney
__._,_.___
Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___
Tidak ada komentar:
Posting Komentar