Rabu, 24 September 2008

[bali-bali] NKRI Nekat Bunuh Diri

di kutip dari blog seorang rekan:

http://multiply.com/gi/martoart:journal:53

 

[Tulisan untuk bersolidaritas melawan RUU Porno]

Saya heran sendiri dengan keheranan sementara orang akan pernyataan mengherankan Eggi Sudjana di sebuah acara bincang stasiun TV. Saat itu Eggi mengatakan bahwa Negara Indonesia bukan berdasarkan Pancasila dan UUD1945, yang ada justru UUD 1945 pasal 29 ayat 1 menyebutkan dasar negara kita adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, bukan Pancasila. Dan sesuai dengan Preambule atau Pembukaan UUD 1945, Tuhan yang dimaksud tidak lain adalah Allah subhanahu wata'ala. Sehingga secara hukum jelas sekali bahwa dasar negara kita ini adalah Islam atau hukum Allah SWT.

Saya berharap Anda tidak termasuk yang terpukau bahkan lantas terarus alur pikir Eggi. Saya hanya hendak mengingatkan bahwa A = B, B = C, maka A = C adalah konsep Silogisme yang sudah berabad usang dan tak terpakai lagi. Ini juga untuk mengingatkan Eggi agar tidak dengan cetek mengalur-silogismekan dasar negara menuju Allah SWT. Eggi kawan lamaku, tentu kamu tak akan mau dibilang pemuja Amrik lantaran menunggang Harley Davidson moge pabrikan Paman Syamiri itu kan?

Katakanlah ini semacam surat terbuka buat Eggi Sudjana

Atau antum juga mau diingatkan akan pelajaran SMP, bahwa sebuah produk hukum yang secara hirarkis lebih tinggi tingkatannya dapat mengesampingkan yang lebih rendah? Ah, setelah kuliah baru aku tahu istilah kerennya; Lex Superiori derogat Legi Inferiori. Pasti kamu lebih tahu sebagai orang hukum. Tapi sepertinya tidak. Pernyataanmu di TV itu tampak luput. Meskipun Pasal 29 ayat 1 itu menasbih Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa, bukankah UUD 1945 masih di bawah Pancasila? Kemudian aku membayangkan kamu akan berdalih Pancasila mah, inferior dibanding hukum tuhan. Dan ketika aku ingatkan Sila Pertama memuat kekuasaan tuhan, kamu tetap ngeyel bahwa tuhan yang dimaksud harus Allah SWT.

Tapi aku tahu kamu memang pintar Eggi. Pernyataan-pernyataanmu acap ditunggu mereka yang begitu rindu tuhan menjadi presiden di Indonesia. Kamu sangat paham dalam mengakomodasi keinginan itu, bagaimana memilih isi orasi politik nan Islami, dan cara membawa buruh menagih upeti, eh janji. Termasuk mengupayakan Syariah di negeri ini.

Tapi bukankah kepintaran tidak cukup murakapi Gi? Bukannya meragukan kebijaksanaanmu, tapi aku memastikan kamu tak sebijak Hatta. Hatta, tokoh yang kamu tentang lantaran mencabut tujuh kata dalam Piagam Jakarta. Pintu syariah di Indonesia. Beliau tutup pintu itu, karena juga melihat wilayah timur Indonesia, sedang sangkaanku kamu cenderung wilayah kearabannya. Beliau menghendaki Persatuan Indonesia, dan aku khawatir kamu menghendaki sebaliknya.

Mungkin aku salah, mungkin kamu hanya seorang pengidap kompulsifme saja. Mengatur segala sesuatunya dengan tertib, rapih dalam kotak-kotak nan ekslusif. Biarlah Indonesia bagian timur memilih berdiri di luar republik, yang penting bagian tersisa lebih tampak sama. Kalaupun ada Batak dan Bali, biarlah itu menjadi pajangan demokrasi. Tampak beragam. Tinggal kasih aturan mayoritas jika mereka mbalelo. Ini juga bisa berlaku untuk Kaharingan dan Abangan, dan Kepercayaan lain. Tentu tak perlu repot ngurusin Papua. Jangankan masuk wilayah timur Indonesia, saat piagam itu dicipta, Papua belum diindonesiakan kan? Sekali lagi, kalau mengacu kepada piagam itu rasanya kamu benar di sini. Dan praktis. Tak ada permasalahan nasional dan persoalan internasional tentang posisi Papua. Mungkin juga tidak begitu sedih kehilangan emasnya. Toh Indonesia cuma kebagian 10 persen dan selebihnya untuk Amerika. Yang agak merepotkan paling mengapalkan gamis dan abaya, koko dan mukena, untuk menutup ketelanjangan dan koteka. Ah, sudahlah.  

Dari kawan lamamu, Marto Art.

Dan katakanlah ini semacam surat terbuka buat Pemimpin maupun Pewakil RI

Kepada Anda yang di Medan Merdeka Barat ataupun yang di Senayan,

Saat ini Anda semua pasti sedang sibuk dan bingung memikirkan jalan terbaik agar moral bangsa semakin beradab. Perangkat moral anti pornografi yang sedang kalian kocok, eh godog, menimbulkan polemik dan pemanasan nasional.

Saya heran (semacam keheranan saya akan pernyataan Eggi di atas), bukankah lebih urgen mengurus moralitas korup Anda, daripada mengurus kelamin bangsa? Bukankah lebih prioritas mengurus kebutuhan pangan rakyat daripada kebrukutan sandang rakyat? Maka, please, jangan aneh-aneh deh.

Kalau sekiranya Anda turut baca weblog saya ini, kira-kira mana yang akan anda ikuti;

Kepintaran Eggi Sudjana ataukah Kebijakan Mohammad Hatta?

Atau Anda akan ambil jalan lain, jalan pintas seperti yang pernah Anda lakukan; Memblokir Situs Meresahkan? Kalau ini yang Anda pilih, sudah pasti Anda tidaklah pintar apalagi bijak.

Tulisan saya ini sudah pasti berpihak kepada semangat keragaman Indonesia. Karenanya saya sungguh berharap Anda, saya, kita, kembali merenungi Hatta, dan berturut kepada kebijakan Bapak Bangsa itu. Bersama surat ini, saya kirimkan sepotong lirik lagu dari Iwan Fals;

"…Masalah moral masalah akhlak biar kami cari sendiri.

Urus saja moralmu, urus saja akhlakmu

Peraturan yang sehat yang kami mau…"

Semoga masuk telinga dan hati Anda semua. Dengan begitu Anda akan mampu mengambil keputusan terbaik bagi negeri tercinta ini. Bukan membawanya menyakiti diri apalagi bunuh diri. Itu saja.

Dari yang masih sayang kepada Negeri ini, Marto Art.

__._,_.___

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Tidak ada komentar: