Kamis, 25 September 2008

[bali-bali] Re: Balkanisasi NKRI

Menurut saya kita TIDAK PERLU merasa takut melihat kelakuan orang2 yg ingin membalkanisasi Indonesia. Ucapkan saja itu di DEBAT PUBLIK, tunjuk saja orangnya itu siapa. Mereka mengatas-namakan "Umat Islam". Nah, yg dimaksud umat islam itu siapa ? ... Setahu saya Indonesia ini TOLERAN, dan mereka yg beragama Islam itu TOLERAN. Yg tidak toleran adalah kelompok2 kepentingan seperti Harian Republika dan kelompok2 ustad tertentu. Nah, bawa saja semuanya ke debat publik. Kalau mau voting, ya votinglah. Tidak usah takut. Setahu saya TIDAK ADA partai2 berdasarkan Islam yg bisa meraih suara mayoritas. Biar saja segala pembodohan massal itu di-ekspose.
Juga, menurut saya, RUU Pornography ini merupakan REKAYASA dari partai2 politik. Semacam test case atau uji coba untuk melihat seberapa kuat kita BISA bertahan terhadap desakan dari nilai2 TOTALITER yg dibawa oleh MUI, FPI, HARIAN REPUBLIKA, dsb...  Trend di satu dunia saat ini adalah menuju LIBERALISME. Liberal berarti toleran, so tidak usah takut, biarkan saja semuanya didebatkan secara terbuka. Kalau harus voting, ya votinglah. Saya percaya bahwa mayoritas Indonesia itu TETAP toleran. Toleransi merupakan budaya asli Indonesia. Yg tidak toleran itu yg asalnya dari Arab, dan semua orang sudah TAHU tentang hal itu. Orang2 Indonesia sendiri, kalau diberikan kesempatan untuk memilih, akan menolak tegas segala nilai2 yg ke Arab2an... So, don't be afraid. Be yourself. Kalau mau tolak, tolak saja. Bilang bahwa kita TIDAK PERLU diajarkan segala intoleransi yg asalnya dari nilai2 Arab / Islami itu.
 
Yg saya lihat malahan TREND SEKULARISME (pemisahan antara negara dan nilai2 moralitas pribadi). Jadi, negara akan mengatur nilai2 publik (penyelenggaraan negara, dsb..), sedangkan nilai2 pribadi merupakan domain pribadi dari tiap WN. Segala RUU Pornography itu cuma usaha coba2,... ya jelas tidak akan berhasil karena kita SUDAH merasakan enaknya menjadi masyarakat TERBUKA dan TOLERAN. Kalau mau dibalik kembali, orang2 akan menolak.
 
So, apa yg dilakukan oleh masyarakat Bali, Sulut, Yogya, dsb... merupakan hal yg PANTAS. Kita pantas untuk menolak segala peraturan yg akan memutar balik waktu ke masa lalu. Masyarakat Indonesia ini BUKAN masyarakat Islam. Indonesia ini BUKAN negara Islam. Itu saja diucapkan. Biar mereka memaki-maki, ucapkan saja. We have FREE SPEECH. Kalau kita ucapkan semuanya, maka segalanya akan balanced, seimbang. Segala ekstrim2 itu akan gugur dengan sendirinya.
 
So, no use to be afraid.
 
Leo
 

--- On Fri, 26/9/08, Sugi Lanús <sugilanus@gmail.com> wrote:
From: Sugi Lanús <sugilanus@gmail.com>
Subject: [bali-bali] Balkanisasi NKRI
To: bali-bali@yahoogroups.com, wartawanindonesia@yahoogroups.com
Date: Friday, 26 September, 2008, 10:04 AM

Teman-teman semua, kita berhadapan dengan REZIM NGEYEL. 
 
Kemarin saya mengikuti pertemuan menolak RUU Pornografi yg diadakan LBH APIK di Jakarta Media Center (25 September 2008). Kesimpulan sementara saya melihat reaksi teman-teman dari berbagai daerah seperti ini: Suara penolakan merata di kalangan aktivis, tapi tidak terformulasi secara strategis.
 
Pansus DPR RI urusan porno (Balkan dkk) adalah kelompok yg tidak menghargai demokrasi. Di salah satu stasiun TV Balkan bilang: "Kalau tentara punya senjata, kami punya voting!".
 
Balkan pendekatannya terhadap demokrasi sangat struktural (50%+1 suara), sementara bangsa ini ada (kepulauan di Nusantara mau bersatu) karena konsensus berdasar substansi. Cara pikir Balkan dkk mengancam NKRI. Sesungguhnya karena berbagai persoalan yang dihadapi Papua (terhina karena standarisasi Ujian Nasional, RUUP, kerusakan lingkungan, pembagian kekayaan alam yg tidak adil antara pusat-daerah, kasus HAM dkk) --dengan meminjam logika Balkanisasi -- maka Papua bisa pisah dari Indonesia dengan 50%+1 suara rakyat Papua. Balkan ketok palu, Papuan kibar bendera. Begitulah kalau pola Balkan diterapkan dalam melihat demokrasi. 
 
Kalau Sumpah Pemuda adalah cikalbakal kebulatan tekad pembentukan NKRI, maka proses RUUP yang diketuai Balkan akan menjadi cikal bakal lahirnya keinginan merdeka berbagai suku bangsa. Kelompok Balkanisasi hanya melihat demokrasi adalah role of majority (yang arogan), mereka abai kalau demokrasi mengamanatkan kita to learn how to live together (in harmony).
 
Balkan dkk memberi contoh (BURUK): "Kalau di Senayan bisa memaksa voting, kenapa di daerah (yang tertindas atau beda kultural) tidak direferendum? " Rakyat kebanyakan akan semakin membenci Jakarta (Senayan/center gov), dan akibatnya: Mereka akan mencari alternatif pemecahannya (termasuk politik pemisahan). Permintaan Otsus (Otonomi Khusus) dari berbagai daerah (termasuk Bali) tidak lain ungkapan yang terbungkus, kalau saya membaca pesan dibalik Otsu secara terbuka penjelasannya seperti ini: "Kami sebenarnya tak begitu suka Indonesia, tapi karena tak enak saja pisah dari Indonesia, sudahlah.. beri kami Otsus."
 
Dulu Jogja memang memperjuangkan Otsus karena alasan keunikan kultural, tapi sekarang perjuangan mendapat Otsus adalah keinginan merdeka yang diperlunak.
 
Munculnya anggota DPR RI semacam Balkan dkk (Balkanisasi) mengganggu kehidupan kita berbangsa. Saya ngeri membayangkan nasib bangsa ini.
 
Salam Bhinneka Tunggal Ika,
Sugi Lanus


New Email names for you!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does! __._,_.___

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Tidak ada komentar: