KASIH ITU EGOISTIS?
Saya akan ungkapkan satu kebenaran yang sederhana kepada anda, bahwa kasih sejati itu sifatnya adalah "mementingkan dirinya sendiri." Kaget?! Lumrah! Sebab selama ini anda malas mikir dan bisanya cuma manggut-manggut ketika mendengarkan omongan orang.
Tapi sekarang saya ajak anda untuk mikir dan lebih waspada terhadap ajaran-ajaran yang sepintas lalu "baik" dan enak didengar oleh telinga, padahal itu sangat menyesatkan.
Ketika mendengar kata: "kasih" mungkin yang terbayang dalam benak anda adalah tentang seseorang yang memberi sesuatu kepada orang yang lainnya? Begitukah? Itu bukan kasih! Itu adalah pemelihara anjing sedang memberi makan "tulang" kepada anjingnya, sedangkan dagingnya sudah habis dimakannya sendiri.
Tapi YESUS KRISTUS, ANAK ALLAH KHALIQ PENCIPTA mengajari kita: "Kasihilah sesamamu manusia seperti DIRIMU SENDIRI." - Itulah sabda agung YESUS KRISTUS selengkapnya.
Jadi, pada saat kita menolong seseorang, kita diminta untuk masuk menjelma sebagai orang yang kita tolong itu. Bahwa orang yang sedang ada di depan kita itu bukanlah orang lain melainkan diri kita sendiri. Nah, kalau orang itu adalah diri kita sendiri, maka apakah yang pasti akan kita berikan kepadanya? "Tulang" atau "daging?" - Nggak mungkin kita akan memberi diri sendiri "tulang", bukan?
Dalam ajaran Kristen tidak ada konsep "orang lain" itu. Semua orang adalah "SAMA." - "sesama."
Sebab tidak mungkin ada orang yang mau memberikan sesuatu kepada orang yang lainnya. Itu mustahil sekali! Kecuali dipaksa oleh ajaran yang memberikan iming-iming sorga-neraka, pahala-dosa, maka terpaksalah kita ini memberikan sesuatu kepada orang lain. Karena itu apa yang kita berikan kepada orang lain itu adalah "tulang", nggak pernah "daging."
Konsep ALLAH sendiri juga begitu: "AKU ini TUHAN, itulah namaKU; AKU tidak akan memberikan kemuliaanKU kepada yang lain.............." - Yesaya 42:8.
YESUS KRISTUS turun ke dunia menjadi PENEBUS dosa kita, itu juga atas dasar konsep kasih yang sama, yaitu kasih yang egoistis. YESUS "membayangkan" jika diriNYA sebagai manusia[kita], DIA juga akan bernasib sama seperti kita. Jika YESUS itu lahir di Lamongan, maka DIA akan menjadi seperti Amrozi liarnya. Jika YESUS itu lahir di Banten, maka DIA bisa menjadi seperti Imam Samudera ganasnya. Jika YESUS itu lahir di Jerman, maka DIA akan seperti Hitler. Jika lahir di Semarang pasti juga akan seperti Syekh Puji yang mengawini bocah 12 tahunan itu. Jika lahir di Tanah Arab pasti juga akan melakukan poligami dengan 25 istri kayak si Mamad itu. Begitu juga jika lahir di Beijing-China, maka DIA akan menjadi penyembah pak Gao yang mesam-mesem juga. Jika lahir di Amerika akan menjadi George Bush yang membombarder negeri Irak juga. Jadi, sama aja, nggak ada bedanya!
Karena kenyataan demikian itulah YESUS mengambil langkah-langkah untuk memberikan pertolongan kepada kita. Ketidakmampuan-ketidakmampuan kita ditanggung ke atas bahuNYA, sebab DIA tahu secara pasti bahwa kita ini tidak berdaya.
Bahwa si Rudy bisa menjadi Amrozi dan Amrozi bisa menjadi Rudy. Antara George Bush dengan Osama bin Laden itu sama saja. Antara anda dengan saya itu sama saja.
Itulah sebabnya YESUS nggak berani turun ke dunia secara telanjang seperti kita, melainkan dikawal secara ketat oleh ROHKUDUS semenjak kejadianNYA. Supaya konsep-konsep dunia tidak sempat meracuni akal budiNYA. Itu saja yang membedakan antara kita dengan DIA.
Jadi, YESUS mengasihi kita itu adalah atas dasar kasih terhadap diriNYA sendiri itulah! Dari sanalah kita ini mendapatkan derajat kemuliaan yang sama seperti DIA. YESUS memberikan apa yang terbaik dan apa yang IA punyai [nyawaNYA], sebab DIA sedang mengasihi diriNYA sendiri. Dan kita menikmati itu sebagai suatu pemberian yang amat luar biasa, sebab kita yang manusia ini bisa menikmati fasilitas sebagai anak-anak ALLAH!
Bukankah keinginan kita: "andaikata masuk ke sorga itu bisanya dimudahkan, nggak dibelat-belit, nggak usah harus begini atau begitu, nggak usah dituntut harus suci, tetapi bisa secara apa adanya kita?!" Nah, apa yang kita rindukan itulah yang YESUS berikan kepada kita. Sebab YESUS-pun nggak mau disulit-sulit seandainya DIA menjadi kita. Pinginnya pasti yang praktisnya itu yang gimana?! YESUS sangat mengerti keinginan kita!
Bukankah anda pingin menjadi pegawai negeri yang gratis? Bukankah anda pingin harga barang-barang murah? Bukankah anda pingin sekolah gratis? "Presiden di republik mimpi" itu pun membayangkan seandainya dia yang menjadi rakyat seperti kita saat ini, bukankah itu pula yang akan dia rindukan? Nah, karena bayangan "presiden di republik mimpi" itu seperti itu, yaitu membayangkan tentang dirinya sendiri yang menjadi rakyat, maka itulah sebabnya kita sekarang ini menikmati semua itu. Tapi karena presiden kita yang nyata sekarang ini adalah "pemelihara anjing", maka tidaklah salah kalau yang kita nikmati sekarang ini adalah tulang-belulangnya saja. Sebab kita ini anjing di matanya!
YESUS tidak demikian! Kita adalah diri YESUS sendiri. YESUS mengasihi kita seperti YESUS sedang mengasihi diriNYA sendiri. Kita bukan orang lain bagiNYA!
Nah, ternyata enak 'kan model kasih yang egoistis itu?! Sangat menguntungkan kita 'kan?! Berbeda dengan model kasih yang ditawarkan oleh si Mamad, bukan? Suatu kasih yang sangat tidak realistis, yang nggak mungkin bisa dijangkau oleh kita. Bagaimana kita akan memberikan sesuatu yang terbaik untuk orang lain?! Nggak mungkin itu! Paling yang bisa kita berikan ke orang lain adalah tulang.
Tapi kasih YESUS sangat sederhana, sangat mudah untuk kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Syaratnya cuma satu saja; siapakah orang yang ada di hadapanmu itu? Dirimu sendirikah ataukah anjing peliharaanmukah?! Mata yang mana yang engkau pakai untuk melihat agar orang lain itu bisa terlihat sebagai diri kita sendiri? Mata jasmani kita atau mata rohani kita? Asal mata kita beres maka pemberian kita juga akan beres. - Baca tulisan saya: "Melihat ALLAH."
Dengan kasih yang egoistis ini kita nggak mungkin akan membenci seorangpun. Nggak akan mencubit orang apalagi mengebom orang. Nggak akan lahir Amrozi-Amrozi lagi!
Pola hidup jemaat yang mula-mula di kitab Kisah Para Rasul akan bisa kita nikmati;
"Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan." - Kisah 2:44-47.
"Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama. .............Sebab tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya. - Kisah 4:32-35.
Tapi, bukankah makan daging sendiri dan memberikan tulang kepada orang lain itu yang dimaksud dengan egois? Bukan! Itu bukan egois, tapi kebodohan! Orang itu nggak mikir bahwa setiap saat dirinya bisa dirubah hidupnya menjadi seperti orang yang diberinya tulang itu. Daya pikirnya nggak sampai sejauh itu. Karena itu, itu bukanlah egois melainkan kebodoh an.
Bukankah Paulus katakan bahwa kasih itu tidak mementingkan dirinya sendiri? Adakah itu bertentangan dengan perkataan saya? Jelas tidak. Paulus membahas/melihat dari sisi permukaannya, sedangkan saya dari sisi hakekatnya. Apa yang saya sebut sebagai kebodohan, itulah yang Paulus maksudkan sebagai mementingkan dirinya sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar