3. Antara 610 – 632: Ini saya sebut sebagai zaman Muhammad; a. Al Qur'an membagi Kristen dalam 2 golongan, yaitu Kristen yang lurus dan Kristen yang murtad. >> AL BAQARAH [2] : 253 : Ada yang beriman dan ada yang kafir. >> ALI IMRAN [3] : 23: Berpaling dan membelakangi kebenaran. >> AN NISA' [4] : 171 : Melampaui batas. >> AL BAQARAH [2] : 75: Mengubah firman ALLAH. >> ALI IMRAN [3] : 113: Ada golongan yang lurus. >> AL MA'IDAH [5] : 66 : Golongan pertengahan. >> AL AHQAF [46] : 13: Golongan yang tetap istiqamah. - Keterangan No. 1388 menerangkan bahwa istiqamah ialah teguh pendirian dalam tauhid dan tetap beramal saleh. b. Al Qur'an mempunyai 5 ayat tentang Sabat[Sabtu = 3, Sabta = 1, Sabti = 1] >> AL BAQARAH [2] : 65 : "Dan sesungguhnya TELAH KAMU KETAHUI orang-orang yang melanggar di antaramu pada Hari SABTU, lalu KAMI berfirman kepada mereka: Jadilah kamu kera yang hina."
Al Qur'an mengutuk orang yang tidak beribadah di hari Sabtu sebagai Kera[monyet] >> AN NISA' [4] : 47: "Lalu KAMI putarkan ke belakang atau KAMI kutuk mereka sebagaimana KAMI telah mengutuk orang-orang [yang berbuat maksiat] pada Hari SABTU. Dan ketetapan ALLAH pasti berlaku." >> AN NISA' [4] : 154: "….dan KAMI perintahkan [pula] kepada mereka: Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai Hari SABTU." >> AL BAQARAH [2] : 66 : "Maka KAMI jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang di masa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwah."
Karena umat Islam bukan termasuk umat yang bertakwah, maka mereka nggak memelihara hari Sabtu juga nggak apa-apa. >> AN NAHL [16] : 124: "Sesungguhnya diwajibkan [menghormati] hari SABTU atas orang-orang [Yahudi] yang berselisih padanya."
[Tetapi mengapa orang ISLAM beribadahnya pada Hari JUM'AT ? > Hari ke-6, yang sekarang disebut sebagai Hari Jum'at, di dalam bahasa Arabnya dinamkan: SITTAH. Itulah yang mempunyai arti keenam. Bukan Jum'at, yang berarti jemaat. > Di dalam "SEJARAH MUHAMMAD" dikisahkan bahwa "Tanggal 24 September 622 TM untuk pertama kalinya NABI bersembahyang Jum'at. Dan sejak itu kota Yatsrib berubah nama menjadi Medinah [Madinatun Nabiy= Kota Nabi]." Sekarang, bagaimana kalau kalimat itu kita terjemahkan ke dalam bahasa yang semestinya, menjadi; "…..untuk pertama kalinya NABI bersembahyang BERSAMA UMATNYA." Jadi, kata-kata 'Jum'at' kita ganti dengan 'bersama umat.' Sebab untuk nama hari yang ke-6 sudah ada namanya, yaitu; SITTAH. Logikanya; - Tahun 622 adalah usia setahun kelahiran agama ISLAM dibawah NABI MUHAMMAD , semenjak disiarkan pada tahun 621. - Di situ dikatakan 'untuk pertama kalinya', artinya; mungkin baru pertama kali itulah NABI bisa mengumpulkan pengikutNya dalam jumlah yang cukup besar, sehingga bisa mengadakan ibadah bersama-sama. Dan tanggal 24 September 622, itu tidak mesti jatuh pada hari SITTAH [KE-6]. Ataupun kalau seandainya itu jatuh pada hari yang ke-6, bukan berarti itu atas 'prakarsa' NABI MUHAMMAD, melainkan sekedar terjadi secara kebetulan. - Atau yang lebih mungkin adalah hari itu merupakan hari diorganisasikannya ISLAM sebagai suatu agama resmi, sehingga kota yang semula bernama Yatsrib diganti menjadi Madinatun Nabiy. Dan hari peresmian itu tidak bisa dijadikan sebagai hari untuk ibadah umat. - Kita patut yakin bahwa NABI adalah seorang yang tunduk dan patuh kepada perintah ALLAH. Beliau tidak akan melanggar perintah ALLAH untuk beribadah kepadaNYA pada hari SABTU. Dikatakan bahwa NABI telah mengetahui aturan itu [AL BAQARAH 65]. > AL JUMU'AH [62] : 9 : "Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari 'Jum'at', maka bersegeralah kamu kepada mengingat ALLAH dan tinggalkanlah jual-beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." - Inilah satu-satunya ayat yang ada di dalam AL QUR'AN, yang menganjurkan bersembahyang Jum'at. Tidak ada ayat yang lainnya lagi. - Hubungkanlah itu dengan peraturan ALLAH mengenai Hari Sabtu. - Hubungkan itu dengan Keterangan No. 844 dari Surat AN NAHL 124; meninggalkan pekerjaan sehari-hari = tinggalkan jual-beli. - Selanjutnya, mari kita baca: "Apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum'at" menjadi: "Apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari 'berkumpul." > Pada waktu yang manakah orang bisa berkumpul ? Tentunya bilamana mereka berhenti dari pekerjaannya; dan Hari SABAT, artinya adalah HARI PERHENTIAN. Kitab KELUARAN 31:16; menyatakan sebagai Perjanjian ALLAH yang berlaku kekal dan turun-temurun. > Kitab KELUARAN 12:49 : "Satu hukum saja akan berlaku untuk orang asli dan untuk orang asing yang menetap di tengah-tengah kamu.' Sementara Surat AL JASIYAH 18; "Kemudian KAMI jadikan kamu berada di atas suatu syari'at [peraturan]dari urusan [agama] itu, maka ikutilah syari'at itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang- orang yang tidak mengetahui." Sebagai landasannya; kita di atur oleh ALLAH menurut satu syari'at saja, sementara di kalimat berikutnya dikatakan supaya kita tidak mengikuti 'hawa nafsu' dari orang-orang yang tidak mengetahui. Ini artinya tidak lain adalah kita diminta untuk mewaspadai ajaran dari orang- orang yang tidak bertanggung- > Orang-orang Kristenpun mempunyai hari perbaktian pada Hari MINGGU, sekalipun yg diperintahkan ALLAH adalah Hari SABAT. Itu adalah produk dari penyesatan Roma Katolik. Dan itulah sebabnya mereka dikatakan AL QUR'AN sebagai orang-orang yang melampaui batas atau membelakangi firman.
|
Sabtu, 12 Juni 2010
BALI INFO - DEAR MUSLIM – APA PENDAPAT ANDA?
__._,_.___
MARKETPLACE
.
__,_._,___
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar