Sampai sebesar sekarang saya masih belum punya nyali bertanya langsung ke ibu saya kenapa beliau sampai terdaftar sebagai anggota/simpatisan partai terlarang (gerwani/pki) sehingga beliau diblacklist tidak bisa menjadi pns, bukan karena saya takut menangis (karena menurut kakak konon ibu sendiripun masih gak ngerti), tetapi saya tidak ingin melihat airmata beliau karena sekedar menangisi ketidakadilan di dunia, selalu saya ulang2 kepada beliau bahwa akan ada pengadilan yang lebih adil, nanti.
Saya masih ingat bagaimana beliau mengabdikan diri sebagai pendidik, dari kepala sekolah tk sampai kepala sekolah sd. Saat tk masih belum umum di kampung kami, beliau membuat kelas di rumah kami. Untuk membangun gedung di tanah desapun, beliau rela blusukan, mengabaikan rasa malu meminta bahan bangunan bekas (genteng, usuk) untuk menghemat biaya. Hingga menjadi kepala sekolah sd didaerah transmigrasi dengan imbalan 150rb(gaji honorer karena beliau tdk bisa menjadi pns, sementara guru pengajar dibawahnya sudah berstatus pns), beliau masih hobi meminta minta (buku/pakaian/sepatu bekas) untuk murid2 didiknya. Saya bangga jadi anak peminta, karena semua beliau lakukan dengan cinta dan berimbalkan cinta (sebagai ucapan terima kasih, murid2 sd biasa menanam bunga dihalaman rumah, satu2nya yg membedakan dgn rumah transmigran lainnya, banyak bunga!). Beliau tidak menumpang hidup atas nama cinta, tetapi beliau menyerahkan hidupnya atas nama cinta. Apakah beliau masih harus mengharapkan uang pensiun dimasa tuanya ? Buat saya beliau terlalu mulia untuk melakukan itu. Semoga Allah memberi kesempatan kami untuk terus memuliakan beliau.
Apakah sekarang kami masih perlu meributkan keadilan di dunia ?
---- Pesan asli ----
Dari: IGusti Agung <agungpindha@yahoo.com>
Terkirim: 11 Mar 2009 06:34 +00:00
Ke: <bali-bali@yahoogroups.com>
Perihal: [bali-bali] Re: Dari kantor pajak ke siaran berita korupsi TV
Dear Pak Ikra dan rekan lain,
terus terang saya kaget....
kaget , kalau anda baru tahu masalah itu.
masukkan juga wisma DPR yang gratis dan mobil dinas.
Itu hanya tip of the iceberg pak....
Sebagai perbandingan , pensiunan tentara dan janda tentara
dari bintara dan perwira menengah sekarang ini.
(bapak bapak yang memperjuangkan dan memberikan kita kemerdekaan).
paling rendah , 350.000 / bulan sampai 1.200.000/ bulan.
Silahkan bapak menunggu di bank di Bali dan tanyakan langsung
kepada ibu ibu veteran yang sudah ditinggal suaminya tiap awal bulan.
Terus terang , saya sampai menangis ketika bercakap cakap dengan ibu
itu , yang kebetulan almarhum suaminya bekas anak buah ayah kami
sewaktu berjuang untuk kemerdekaan.
Untuk anda dan rekan rekan sekalian yang tertarik , saya tambahkan.
Ini kisah nyata dari keluarga kami sendiri.
Sebagian dari rekan rekan disini sudah tahu siapa keluarga kami
(maaf ,bukan sombong hanya ingin berbagi kesusahan...)
Ayah kami almarhum , mulai berjuang melawan penjajah ketika beliau
berumur 16 tahun , sebagai pemimpim kompi gerilya dibawah Batara
Igusti Ngurah Rai , setelah kemerdekaan beliau dikirim ke makasar
untuk membasmi pemberontakan DI TII , kami di Makasar selama 18 th,
saya adalah kelahiran Makasar terahir.
Setelah beberapa lama kembali di Bali , Alm. menjabat sebagai wakil Gubernur , diantara jabatan jabatan yang lain termasuk Listibya,
Prawartaka Pura Besakih , Rohaniawan TNI AD dll.
Yang saya ingat , Alm sangat jarang dirumah , karena pengabdian
beliau untuk Bali dan Indonesia.
Terakhir beliau menjadi anggota DPRRI jakarta untuk 1 term.
Selama masa jabatan tersebut , biaya sekolah kami dengan menjual
tanah warisan yang hanya sedikit sekali.
Sekarang point yang penting.
Setiap bulan ibu harus ngantre di Bank untuk mengambil pensiunan janda , sebanyak 750.000 rp dari pensiunan Letkol ditambah pensiunan DPR dan pegawai negeri ( wagub).
Jumlah semuanya total 2.750.000 rupiah/ bulan.
Itu sudah untung sekali , kebanding ibu ibu yang saya ajak bicara di Bank tsb, bagaimana mereka bisa hidup dengan 450.000 rupiah sebulan??
Saya bukan sakit hati , tapi saya jengkel dan marah oleh parasit parasit di Jakarta yang tidak tahu diri sekarang ini.
shanti mohon maaf , mengeluarkan uneg uneg yang sudah lama tersimpan.
----- Dikirim menggunakan telepon selular Sony Ericsson
------------------------------------
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:bali-bali-digest@yahoogroups.com
mailto:bali-bali-fullfeatured@yahoogroups.com
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
bali-bali-unsubscribe@yahoogroups.com
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar