Kamis, 05 Maret 2009

[bali-bali] PKI=PKS...? (Diskusi Lanjutan 1 )

Salam Indonesia!
 
Teman-teman  yang suka diskusi politik silahkan.....
Pendapat ini adalah dari Saudara Muhammad Amin yang dia posting di Facebook. Yang mau merespon langsung silahkah langsung ke Facebook.
 
Salam Indonesia!
Putu
 
----------------------------------------------------------------------------------
 
Banyak kalangan yang khawatir dengan gejala fundamentalisme. Alasanya sederhana, fundamentalisme mengancam perinsip hidup bersama: dimana ruang-ruang akses, ekspresi dan kemugkinan pemanfaatnya terbagi secara merata di antara berbagai individu maupun kelompok sosial dan kultur.

Kondisi seperti di atas merupakan fenomena Indonesia kontemporer. Banyak kalangan yang meyakini dan mempercayai Islam sebagai jawaban final atas semuannya, sehingga mereka berpandangan bahwa negara wajib untuk menginstitusinalkan syariah. Perspektif sempit tersebut telah memunculkan fenomena revivalisme Islam atau biasa disebut kelompok fundamentalisme Islam.

Gelombang fundamentalisme Islam yang diwujudkan dalam hadirnya partai-partai berlandaskan Islam mengalami peningkatan. Pada pemilu 1999 tercatat 86 kursi dari Partai yang berideologi Islam, dan 2004 naik menjadi 127 kursi. Sedang terjadi stagnasi/ merosot PAN menyusut suaranya dari 7,12 % pemilu 1999, menjadi 6,44 % pada pemilu 2004. Sedang PKB 12,61% merosot hanya mendapat 10,57%.

Kondisi ini merupakan pengulangan, namun sekali lagi, hadir dalam bentuk yang berbeda. Sebagai cerminan sederhana, marilah kita bandingkan antara Partai Komunis Indonesia (PKI), salah satu partai kuat dan idola di zaman Sukarno dan Partai Keadilan Sejahtra (PKS), sebuah partai "the new-rising star" di Zaman SBY. Pada pemilu tahun 1999 PKS dapat meraih suara 1,4 persen suara. Lalu pada pemilu tahun 2004, PKS merupakan partai yang paling berhasil dalam mendulang suara, dengan mengalami kenaikan mencapai 7,3 persen. Perolehan ini berhasil menempatkan 45 kursi wakilnya di senayan.

Namun demikian, banyak di antara kelompok fundamentalis tersebut kini seringkali melakukan propaganda pada masyarakat atas bahaya komunisme, sebagai komponen dari masyarakat yang akan menghanguskan bangsa Indonesia. Komuniasme dikampanyakean sebagai barang yang "haram" dan musti dimusnahkan. Peristiwa Penyerbuan Papernas, banyaknya sepanduk anti komunisme merupakan fakta yang tidak bisa ditolak.
***

Harus diakui, kehadiran PKS telah merubah peta politik Indonesia. Organisasi Masyarakat seperti NU dan Muhammadiyah resah, dan mengerutu. Banyak massa mereka yang menyebrang, tidak lagi memilik PKB atau PAN. Sedangkan PKI merupakan partai urutan nomor lima pada pemilu 1955, namun bila kita cermati, ada sisi menarik kesamaannya, terlepas dari berbagai perbedaan yang tentu juga banyak di antara keduanya.

Pertama baik PKS maupun PKI hadir saat tepat dunia sedang gersang "suwung"; PKI, di saat masyarakat desa yang butuh kemakmuran, sedang PKS lebih pada masyarakat kota yang sedang "kosong", "krisis kepercayaan" dan butuh ketrentaman hidup, dan personaliti yang meyakinkan. PKI menjawabnya dengan propaganda masyarakat adil ala sosialis, sedang PKS menjanjikan masyarakat yang bersih, sesuai dengan aturan-aturan ajaran agama Islam.

Kedua PKI digerakkan oleh orang yang berpikir rasional (ala marxis), demikian pula dengan PKS umumnya mengehendaki "rasionalisasi" dalam agama—dalam pengertian bebas dari syirik, mistik, khurafat. Maksudnya elite PKI merupakan orang-orang yang "melek buku" dan cenderung berpikiran lebih modern, sekalipun massanya berada lebih banyak di kalangan masyarakat bawah. Demikian pula dengan PKS, penggerak utama dan kader inti mereka umunya adalah orang-orang yang "well-educated", lulusan universitas-universitas di dalam negeri ataupun di dalam negeri.

Ketiga baik PKI maupun PKS memilik massa yang solid dan militan. Namun jika PKS lebih di wilayah perkotaan, sedang PKI umumnya di pedesaan di mana para petani biasa berdiam. Keempat "everyday is campaingn" tampaknya menjadi siasat yang sama dalam PKI maupun PKS. Ini terbukti bagaimana kedua partai tersebut dalam melakukan "promosi" partai mereka bukan hanya saat/menjelang pemilu saja. Dalam aktivitas keseharian, dan berbagai moment PKS merupakan partai yang getol turun ke jalan, atau turun ke lapangan—seperti bakti sosial saat bencana alam, dan lainnya. Ini juga dilakukan oleh PKI di zaman Sukarno.
Kelima baik PKI maupun PKS sama-sama menerapkan sistem sel dalam proses kaderisasi massanya. Sebagaimana dikatakan presiden PKS, Tiffatul Sembiring, Partai yang dipimpinya memiliki 8,3 juta konstituent dan 500 ribu kader yang aktif tersebar di seluruh nusantara (Burhanuddin, Indopos/9/706). Keenam antara PKI dan PKS menempuh jalan prosedural dan akomodatif, memasang pengaruh dan kekuatan di mana-mana. PKI yang bergandengan dengan Sukarno, tebar jala diberbagai lini dan seterusnya. Sama halnya dengan PKS yang akomodatif terhadap pemerintahan SBY, ikut pemilu secara fair dan memasang orang di mana-mana.

Ketujuh orang-orang PKS umumnya adalah orang yang sangat kuat memegang ideologi. Mereka adalah sekelompok orang yang merasa prihatin akan situasi bangsa ini agar menjadi lebih baik, mereka juga mempunyai emphai atas orang-orang miskin. Demikian pula dengan PKI.
Kedelapan mewujudkan cita-cita masyarakat imajiner merupakan impian PKI maupun PKS. PKI dengan keadilan distributif ala sosialisme, sedang PKS masyarakat Islam. Kesembilan, antara PKI dan PKS adalah partai yang memiliki jaringan atau ikatan ideologi di tingkatan internasional. PKI dengan Unisoviet, Cina dan negara-negara komunis. Sedang PKS mempunyai ikatan, atau minimal semangat yang sama dengan beberapa negara Islam di timur tengah.
Kesepuluh dalam bebarapa hal kecil baik PKI maupun PKS juga memiliki kesamaan dalam memantapkan perjuangan mereka. Jika PKI sering menggunakan jargon "revolusi" "perjuangan proletar" "camerade" maka PKS juga mempunyai jargon-jargon seperti "jihad" "dakwah", "ikhwan" dan identitas, "partai proletar" atau "partai dakwah" dan seterusnya.
Kesebelas baik PKI maupun PKS sama-sama partai dengan basis ideologi yang mejadi objek kritikan dan bertentangan dengan mereka yang menghendaki kebebasan dan demokrasi liberal. Karena memang, dalam altar sejarah, tipe organisasi sepereti PKI dan PKS baik dari segi ideologi dan sikap dalam kehidupan bernegara seringkali bersebarangan dengan nilai-nilai demokrasi dan cenderung menghendaki masyarakat yang seragam.

Tentu saja masih terdapat persamaan-persamaan yang lain di antara kedua partai ini. Terlebih lagi hal-hal yang bersifat teknik dan pengelolaan organisasi kepartaian. Selain itu juga terdapat persamaan yang sifatnya sangat paradigmatik, sebagai contoh baik PKI maupun PKS percaya akan misi Universalisme. Komunisme yang menjadi basis ideologi PKI merupakan gagasan yang lahir di rahim Univeraslime pencerahan, yang mempercayai kebenaran tunggal yang musti dikampayekan dan diperjuangkan dalam masyarakat. Ini dapat ditelusuri pada gagasan-gagasan Marx yang mempostulatkan determinasi ekonomi sebagai pusat segala lika-liku fenomena kehidupan manusia di bumi ini.

Demikian pula dengan PKS yang memegang teguh agama sebagai keyakinan (addin) yang musti diwujudkan dalam pemerintahan (daulah). Memang agama di sini, digunakan untuk melawan Universalisme ala Barat/pencerahan. Namun apa yang dikerjakan adalah repetisi regimentasi kebenaran dengan menawarkan universalismenya sendiri. Yakni agama sebagai titik pijak segala kehidupan yang mutlak, berlaku melintasi ruang dan waktu. Yang lantas kebenaran tersebut musti ditegakkan, hingga kuasa manusia di bumi berjalin erat dengan pemilik kuasa planet Saturnus atau Yupiter. Dan tentu saja yang bukan bagian dari mereka, adalah "the others" yang harus disadarkan. Pola paradigama seperti ini jelas mengancam kebebasan individu, dan pluralitas yang tidak bisa ditolak kehadirannya.

Di samping persamaan-persamaan yang ada. Sudah barang tentu, terdapat pula berderet perbedaan-perbedaan di antara kedua partai ini baik dari segi konteks sosial maupun konteks zaman yang sedang dihadapi. Sekalipun begitu, apa yang dipaparkan di sini—persamaan-persamaan keduanya—merupakan usaha melihat bagaimana keduanya mempunyai peran yang signifikan dalam pergulatan Indonesia.
Terlepas dari itu semua, terdapat kesamaan lain yang itu mungkin tidak penting tetapi juga menarik. Kegairahan PKI maupun PKS dalam konstelasi politik di Indonesia, mempunyai inspirator yang hampir mirip wajahnya dan sama-sama berjenggot lebat: Karl Marx dan Hasan al-Bana.


-------------------------------------------------------
(coretan dari seorang kawan aktivis yg teguh membela orang-orang tertindas)
-----------------------------------------------------

Berikut tambahan dari Bung Ahmad Yulden Erwin tentang

SEJARAH BERDIRINYA PKS:

Soeripto, sekarang menjabat Ketua Dewan Pakar DPP PKS, anggota DPR RI dari PKS, pada tahun 1967 bergabung dengan Kodam Siliwangi sebagai kader militer Sukarela dan dibawah pembinaan Kharis Shuhud.

Soeripto kemudian menjadi kader intel binaan Pangkowilhan (Wijoyo Suyono, Soerono dan Wahono), dan secara struktur di bawah komando Yoga Sugama di Bakin yang waktu itu dipimpin Sutopo Juwono.

Soeripto pria kelahiran 20 November 1936 ini merupakan kader Partai Sosialis Indonesia (PSI) dengan masuknya ia dalam keanggotaan Gerakan Mahasiswa Sosialis (GMSos) pada tahun 1957. Ia sempat menduduki jabatan sebagai Kepala Staff Bakin dan Sekretaris Lembaga Studi Strategis/Wanhankamnas dan menjadi utusan khusus Pemerintah RI untuk normalisasi hubungan dengan RRC pada tahun 1981.

Soeripto dalam berbagai media menceritakan riwayat hidupnya dalam dunia intelejen dengan gamblang, sekalipun sudah mengaku menjadi mantan sejak tahun 1970 akan tetapi beberapa sumber menerangkan bahwa Soeripto tetap mangkal di kantor BAKIN yang lama karena mengikut dan tetap bersama Roedjito. Menurut beberapa teman dekatnya Soeripto juga tak segan- segan nekad mengklaim mewakili KADIN ketika berkunjung ke China agar dapat sambutan dan fasilitas istimewa dari pemerintah China.

Dalam perkembangan pergerakan Islam di Indonesia, pada tahun 1984 muncul kubu Helmi Aminuddin bin Danu Muhammad Hasan. Helmi Aminuddin, yang saat ini menjabat sebagai Ketua Majlis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS), pernah menjadi Menlu NII komando Adah Djaelani. Pernah ditangkap oleh Kopkamtib pada tahun 1980 dan sempat ditahan pihak militer selama kurang lebih 3 tahun namun kemudian dilepaskan dari Rumah Tahanan Militer Cimanggis tanpa melalui persidangan pada tahun 1984.

Selanjutnya Helmi Aminuddin menyatakan keluar dari struktur maupun ajaran NII komando Adah Djaelani, kemudian ditampung dan dipelihara oleh mantan tokoh Bakin (Soeripto). Soeripto menjadi sponsor sekaligus promotor dan bertindak sebagai pemberi tugas kepada Helmi Aminuddin antara lain untuk mengadopsi ajaran dan manhaj (metode) serta berhubungan langsung secara organisasional dengan gerakan Ikhwanul Muslimin faksi Qiyadah Syaikh Sa'id Hawwa di Timur Tengah sekitar tahun 1985.

Maka pergilah Helmi Aminuddin ke Timur Tengah untuk mengadopsi gerakan Ikhwan tersebut, sekalipun Helmi mengatakan alasan kepergiannya ke sana untuk menyelesaikan studinya yang belum rampung. Sepulangnya dari Timur Tengah Helmi Aminuddin mulai mengibarkan bendera gerakan IM (Ikhwanul Muslimin) di Indonesia seraya melakukan klaim sebagai representasi gerakan Islam kaffah, universal dan menafikan seluruh gerakan Islam lain yg bersifat lokal di Indonesia.

Pada tahun 1991 Helmi Aminuddin diangkat sebagai Mursyid atau elite komando organisasi gerakan Ikhwanul Muslimin untuk kawasan Asia Tenggara. Eksistensi gerakan ini cepat berkembang secara signifikan khususnya di kawasan Ibu kota DKI Jakarta. Tetapi awal awal tahun 1998 nama Helmi Aminuddin tiba-tiba raib dari blantika gerakan Tarbiyah Ikhwanul Muslimin yang bermarkas di Yayasan Al-Hikmah di kawasan Jl. Bangka-Jakarta Selatan, juga di Yayasan Iqra' di kawasan Pondok Gede Jakarta Timur sebagai basis sentral pemukiman elite mereka.

Kini Helmi Aminuddin mengonsentrasikan diri secara khusus mengelola pesantren dan Islamic Village di kawasan Cinangka Banten atas kucuran dana di antaranya sebagaian dari Bimantara (perusahaan milik Bambang Trihatmojo-Soeharto), dari Timur Tengah, serta dari Soeripto sebagai akses dana Orde Baru Cendana.

Helmi Aminuddin mengendalikan gerakan Ikhwanul Muslimin Indonesia dari balik layar. Pada tahun 1998 berkat dibidani tangan dingin Soeripto mantan Bakin gerakan Tarbiyyah Ikhwanul Muslimin Indonesia berhasil ikut partisipasi merayakan pesta demokrasi dengan menjadi salah satu kontestan. Saat itu gerakan Tarbiyah Ikhwanul Muslimin Indonesia merubah manhajnya dan berubah bentuk menjadi Partai Keadilan (PK) dan kemudian bermetamorfosis lagi menjadi PKS (Partai Keadlian Sejahtera).

Selepasnya dari penjara Helmy Aminuddin berada di bawah binaan Soeripto lalu kemudian dikirim ke Timur Tengah untuk mempelajari mengadopsi ajaran dan manhaj serta berhubungan langsung secara organisasional dengan gerakan Ikhwanul Muslimin faksi Qiyadah Syaikh Sa'id Hawwa pimpinan Ikhwanul Muslimin cabang Suriah sekitar tahun 1985.

Dimana sepulangnya dari sana dan dibawah dukungan Bakin di bawah komando Soeripto dibentuklah Jamaah Tarbiyah pada antara tahun 1987-1988 dengan doktrin utama dari pemikiran Sa'id Hawwa yang diterjemahkan menjadi beberapa seri buku Allah, Ar Rasul , Al Islam dan Jundullah dan diterbitkan oleh Al Ishlahy Press yang menjadi bacaan wajib para kader inti gerakan. Helmy Aminuddin sendiri kemudian menjadi Mursyid 'Aam Jama'ah Tarbiyah pada tahun 1991.

Dengan pembinaan dengan metode cuci otak maka secara instan kader-kader kelompok ini bisa dicetak dengan cepat. Untuk menunjang penyebaran ideologinya maka diterbitkanlah majalah Sabili pada tahun 1987 kemudian juga penerbitan Gema Insani Press yang menyebarluaskan paham radikal ini melalui media dan penerbitan buku-buku ideologis dengan harga yang sangat murah padahal dengan mutu cetakan yang cukup mewah karena mendapat subsidi.

Majalah Sabili sendiri beredar secara luas walaupun tidak dilengkapi dengan SIUPP dan dijual dengan harga hanya 600 rupiah padahal dengan mutu kertas yang bagus plus nyaris tanpa iklan. Dan buku-buku terbitan GIP padamasa itu dijual dengan mulai harga 600-5500 rupiah saja (katalog tahun 1991) sehingga terjangkau oleh kantong pelajar dan mahasiswa bahkan akhirnya bersama penerbitan buku-buku sealiran yang lain, buku-buku harokah pun menggusur buku-buku islam yang lain.

Para anggota level bawah kelompok radikal Islam ini dibuat untuk tidak banyak tahu bahkan tidak tahu apa-apa tentang apa dan bagaimana keadaan di atas mereka. Sampai saat ini hanya sangat sedikit anggota jama'ah tarbiyah bahkan yang sudah belasan tahun bergabung sekalipun yang tahu bahwa Helmy Aminuddin adalah mursyid 'aam gerakan mereka dari tahun 1991-1998, apalagi untuk tahu latar belakangnya.

Ketika seseorang telah didoktrin oleh jama'ah tarbiyah maka dengan serta merta ia pun kehilangan daya nalar dan pola pikir kritisnya.Yang ia tahu hanya bertindak dan berbuat sesuai dengan keinginan kelompoknya dan berusaha mengapai tujuan kelompok dengan semua cara.

Dan yang lebih menarik lagi adalah operasi cuci otak ini bisa dilakukan secara massal dan cepat dengan hasil yang maksimal.



Get your preferred Email name!
Now you can @ymail.com and @rocketmail.com.

__._,_.___


Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Tidak ada komentar: