Rabu, 07 Januari 2009

Re: [bali-bali] Bandara Ngurah Rai Tak Nyaman Lagi

Untuk sampah2 di pantai kuta, apa perlu mendesak adanya perda yang ada dendanya? seperti singapore $1000, hongkong $500 dan beberapa daerah lainnya.

Kemudian canang2 di pantai, digolongkan sampah atau bukan?

On 1/8/09, Asana Viebeke Lengkong <asanasw@indo.net.id> wrote:



lampirkan photos juga supaya lebih mantep.  Coba cari loopwhole dalam sistem management nya bandara, Popo bilang kan Angkasa Pura, nah itu di bawah siapa, departemen apa... jadi runtun, kita tidak sekedar mengeluh tapi juga tau sistim yang jalan, peraturan yang ada, supaya bentuk dari keluhan, masukannya lengkap sesuai aspek sosial, ekonomi, hukum dan lingkungan.
 
Bandara di Bali itu kan sudah menjadi 'perut' nya orang Bali boleh dibilang secara menyeluruh, itu yang mereprentasikan 'entrance' di Bali.
 
Kita perlu juga menyikapi soal 'sampah' di pantai kuta, yang menurut 'pemda' itu adalah phenomena tahunan..... masa setiap tahun kita tidak punya cara untuk menanggulanginya????? terus mereka ngapain aja duduk di meja selama setahun kalau program tidak dijalankan.
 
Sugi, bagaimana dengan sekretaris???? perlu untuk gampilin file file di milis ini dan juga kolaborasi dengan lembaga lain?  Walhi?
 
kalau investor-investor luar itu, atau para 'calo' bule itu merasa bahwa hanya mereka aja yang bisa bekerja dan di percaya oleh para investor, coba aja di lacak di ajak ngomong kerjasama atau di laporin, kan mendingan mereka ada atau tidak ada sama sekali.....
 
Agung 'ancak ramone' apa kabarnya?????  Bagaimana pembangunan di Bali Selatan sebelah kiri by pass ke Nusa Dua yang akan mengambil banyak sekali wilayah 'mangrove' disana, katanya akan ada proyek besar sekali?  ada hubungannya dengan Pecatu?
 
vieb
----- Original Message -----
From: darma putra
Sent: Thursday, January 08, 2009 10:33 AM
Subject: Re: [bali-bali] Bandara Ngurah Rai Tak Nyaman Lagi

Vieb saya siap nulis, khususnya untuk masalah bandara. Laporan Luh De sudah menukik, bisa dilampirkan jugalah.
 
dp


From: Asana Viebeke Lengkong <asanasw@indo.net.id>
To: bali-bali@yahoogroups.com
Sent: Thursday, 8 January, 2009 10:25:28 AM
Subject: Re: [bali-bali] Bandara Ngurah Rai Tak Nyaman Lagi



oh ya untuk Darma Putra, jangan bosan nulis, tulis yang lebih 'menukik' lagi untuk jadi lampiran dalam usulan.
 
vieb
----- Original Message -----
From: darma putra
Sent: Thursday, January 08, 2009 8:38 AM
Subject: Re: [bali-bali] Bandara Ngurah Rai Tak Nyaman Lagi

Agar kepedulian kita tentang kekalutan Bali termasuk masalah semrawutnya bandara bisa sampai di birokrasi, khsusnya Gubernur Bali, kiranya baik kalau milis Bali Bali punya jubir yang mau bicara saat Simakrana Gubernur Bali yg dilaksanakan setiap akhir bulan di wantilan DPRD Bali. Popo benar bahwa kekuasaan bandara tidak di tangan gubernur tetapi sebaiknya gubernur dan stafnya tahu lebih banyak lagi keluhan publik sehingga mereka ikut mencari saluran untuk mengangkat masalah ketidaknyamanan bandara bisa sampai ke pihak berwenang. Walau bandara akan diperluas dan direnovasi, kesemrawutan sekarang sangat urgent untuk bisa diperbaiki.
 
Jubir Bali Bali bisa saja gantian setiap bulan siapa yang sempat atau sudi, yang penting ada jubir yang menyarikan point yg relevan dari diskusi milis setiap bulan untuk disampaikan di simakrama. Mungkin dengan begini, tujuan milis Bali Bali yang salah satunya untuk membentuk opini umum bisa terlaksana. Seperti sudah dibicarakan dalam sangkep BOS minggu lalu, banyak cara lain untuk menyalurkan kepedulian kita seperti diskusi terbuka dengan para ahli dan praktisi, interaktif di media massa, dan menerbitkan booklet pemberdayaan publik. Syukurlah Mbok Vieb dengan tekad tebal sudah sanggup untuk menyiapkan dana-dananya! Maju terus!
dp

 

From: Popo Danes <popo@popodanes. com>
To: bali-bali@yahoogrou ps.com
Sent: Thursday, 8 January, 2009 10:36:54 PM
Subject: Re: [bali-bali] Bandara Ngurah Rai Tak Nyaman Lagi

Sangat benar adanya. Saya yang rutin seliweran keluar masuk bandara Ngurah Rai sangat setuju dengan komentar rekan Al Purwa itu.
Cilakanya, pemda Bali tidak bisa dicomplain soal problem Bandara, karena itu kekuasaan Angkasa Pura. Kalau complain masalah keimigrasian, itu juga katanya urusan Departemen kehakiman. Turis manca negara mana tahu dan mana mau tahu problem birokrasi internal kita. Untuk mereka, yang gak bener itu adalah Bali airport.

Soal trolley rusak mungkin sengaja dibiarkan, supaya makin banyak orang ogah mendorong trolley yang hampir semuanya tuna daksa itu supaya pakai jasa porter. Dan lihat saja bagaimana trolley itu berhenti diganjal pipa besi dipemberhentian akhirnya, sehingga susah sekali memindahkan barang yang berat ke kendaraan yang juga berhentinya tidak nyaman.

Belum lagi soal reklame, minta ampun deh. Kayaknya mereka kapal keruk banget, tidak ada space lowong yang dibiarkan tanpa reklame. Kalau mereka dapat good income dan kasih good service ya ok saja, tapi kenyataannya ..... Oh, belum lagi kalau diamati toko-toko yang ada di bandara itu. Kelihatan banget KKN-nya. Dagangannya sama semua, tidak bermutu, dan masih ada gerobak-gerobak yang jualan rokok dan snacks, what an international airport.

Kalau nggak ngantuk, saya punya buanyaaaaakkk banget problem yang saya temui disana, untung juga sudah capek habis urusin yang lain. Untung juga liburan kali ini cukup panjang, cukup lama bisa menghindari That Airport.

pd


On 1/7/09 10:25 AM, "Anton Muhajir" <antonemus@gmail. com> wrote:


 

http://www.balebeng ong.net/tetangga /2009/01/ 07/bandara- ngurah-rai- tak-nyaman- lagi.html

Bandara Ngurah Rai Tak Nyaman Lagi

Oleh Luh De Suriyani

Ngurah Rai International Airport masih memiliki sejumlah ketidaknyamanan bagi penggunanya. Di antaranya antrean panjang pengurusan Visa on Arrival (VoA), pelayanan pengangkutan barang, dan validitas informasi wisata.

Hal ini disampaikan Ketua Association of the Indonesia Tours and Travel Agencies (Asita) Bali Al Purwa. Sejumlah persoalan ini, menurutnya sangat berpengaruh pada citra pariwisata Bali secara keseluruhan.

"Pada 26 Desember lalu saya meeting dengan 8 big boy players dari Jepang, semua manager travel agents besar dari jepang yang mensupply 30% dari kedatangan wisatawan ke Bali. Mereka menyatakan Bali tidak cocok bagi wisatawan lansia Jepang karena ketidaknyamanan airport," ujar Purwa.

Para travel agent Jepang itu memastikan bahwa tourists yang tidak banyak terkena dampak crisis adalah mereka yang sudah tua-tua dari Jepang yang sudah pensiun. "Antrean panjang dan lama setelah perjalanan panjang di udara sama sekali tidak membuat senang dan nyaman. Mereka menyampaikan kepada saya bahwa Bali airport adalah airport terburuk di dunia dalam kenyamanan ini," kata Purwa.

Keluhan antrean panjang ini, menurut Purwa sudah diketahui semua pihak termasuk Wakil Presiden, namun keluhan itu masih saja tidak mendapatkan pembenahan yang significant.

Selain itu, dalam pelayanan pengakutan barang juga menjadi catatan. Purwa mengeluhkan tidak tersedianya trolly yang bagus dan masih saja ada porter yang minta pembayaran melebihi ketentuan. "Masih saja ada porter yang minta Rp.100,000 atau USD 10 untuk satu koli barang walau tertera di papan, ongkosnya adalah Rp. 2.500."

"Juga tidak ada tempat duduk yang nyaman untuk istirahat buat orang tua," tambahnya.

Assisten Manager Hukum dan Humas PT. Persero Angkasa Pura (PAP) I, pengelola Ngurah Rai Airport mengakui bandara saat ini sudah terlalu padat sehingga memunculkan sejumlah ketidaknyamanan. "Terminal domestik saja sudah overload. Kapasitasnya 1,5 juta orang per tahun, tapi kini melayani 3,6 juta orang per tahun," ungkapnya.

Sementara soal antrean VoA, ia mengatakan akan melakukan perbaikan dalam pengadaan counter dan bekerja sama dengan imigrasi untuk peningkatan kualitas SDM petugas imigrasi.

Dimyati optimis, semua ketidaknyaman ini akan teratasi jika proyek pengembangan bandara selesai. Mulai April 2009 ini, PAP akan memulai proyek perluasan bandara yang diperkirakan menelan dana 2,1 triliun rupiah itu.

Masalah lainnya yang menurut Purwa mudah ditangani adalah penertiban brosur, leaflet informais parwisata yang informasinya tidak akurat dan cenderung menipu. "Banyak brosur dibuat oleh perorangan atau perusahaan yang tidak berijin, terutama yang berbahasa Jepang, Rusia, Korea dan bahasa yang tidak banyak yang tahu," ujarnya.

Brosur-brosur sembarangan masuk ke airport karena disinyalir orang dalam ikut bermain. Seharusnya, menurut Purwa, airport manager tahu apa isi brosur-brosur itu dan apakah mereka punya ijin usaha. "Caranya mengkontrol gampang saja, kirim 1 copy ke Bali Tourism Board (BTB) dan BTB akan menelusuri. Yang tidak punya ijin usaha supaya dibakar saja atau didenda yang tinggi," pinta Purwa.

Tak hanya brosur jasa wisata, brosur dan reklame jual beli tanah atau rumah Hak Milik (Free Holding) yang tidak benar juga makin marak.

IB Agung Satya Putra, staf sales sebuah jasa informasi pariwisata di dalam airport mengakui banyak brosur jasa wisata yang harus diteliti. "Yang penting bayar sama pengelola bandara, sudah bisa masuk. Saya tidak pernah lihat ada pengecekan brosur oleh pihak bandara," katanya. [b]

http://www.thejakar tapost.com/ news/2009/ 01/05/visitors- complaint- over-airport- services. html



Stay connected to the people that matter most with a smarter inbox. Take a look.



Stay connected to the people that matter most with a smarter inbox. Take a look.




--
Riko

Learn to Let Go, Adapt to Change __._,_.___

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Tidak ada komentar: