Sabtu, 08 November 2008

Re: Fw: [bali-bali] Fw: Syafii Maarif :manusia berhak menjadi ateis sekalipun!

Sugi serta semeton sinamian di milis ini:

Sekarang jaman penuh kemarahan - jaman naramangsa... jadi mari kita
berdiskusi tentang issues yang membangun kesadaran mengandung makna, supaya
kita bicara soal soal yang bisa membangunkan kemaran orang lain....

1. melindungi sumberdaya alam (zoning pembangunan) 1a. Kesehatan
masyarakat....penting sekali
2. menggerakan ekonomi pasar masyrakat,menciptakan peluang bekerja
3. meningkatkan SDM melalui pendidikan (formal) yang di barengi dengan
practical skill supaya siap kerja dengan kualitas

Kalau tidak salah ada seminar besar yang dihadiri oleh pejabat pejabat
publik yang akan diadakan di Bali Selasa ini yang berhubungan dengan
membangun kemandirian energy....

Terus perlu juga untuk mengassess peluang pekerjaan yang bisa di akses oleh
public.

Berbagi (setengah pensilpun, separuh buku tulis) untuk anak anak miskin yang
sudah mau masuk sekolah di pedesaan, pedusunan....

Ayo bangun tidur... ayo bangun desa.....

salam, vieb


----- Original Message -----
From: "Sugi Lanús" <sugilanus@gmail.com>
To: <bali-bali@yahoogroups.com>
Sent: Sunday, November 09, 2008 5:17 AM
Subject: Re: Fw: [bali-bali] Fw: Syafii Maarif :manusia berhak menjadi ateis
sekalipun!


Dear biang Vieb,

John The Scot bilang:

"Wahyu dan akal keduanya sumber ilmu. Kalau wahyu dan akal
bertentangan, maka akal didahulukan."

Saya sepakat dengan John The Scot dalam hal ini. Silahkan bukan saja
google kalau mau melihat siapa John The Scot.

Cheers,
SL

On 11/7/08, Putiu Kesuma <putukesuma@yahoo.com> wrote:
> Makasih Mbok Vieb atas postingan ini.
>
> Saya kebetulan pernah bertemu dan ngobrol lama dengan Pak Syafii pada
> sebuah
> kesempatan sebelum acara Simposium yang diadakan di Wantilan DPRD Bali
> dimulai. Beliaupun sempat menyatakan kekecewaannya atas pembangunan yang
> amburadul di Bali.
>
> Pernyataannya pernah dumuat dalam salah satu harian nasional dimana Pak
> Syafii menghimbau kepada para radikalis yang ingin membangun Negara Islam
> agar mengurungkan niatnya karena menurut beliau pasti gagal, gagal, dan
> gagal. Dengan jujur beliau mangaku bahwa dulupun beliau adalah seorang
> yang
> fundamentalis. Perubahan terjadi dalam dirinya berkat tukar-tukaran
> bacaan.
> Maksudnya, jangan hanya baca kitab suci dari agama yang dipeluk saja, tapi
> juga kitab suci agama-agama lain.
>
> Indonesia membutuhkan lebih banyak lagi tokoh-tokoh seperti Pak Syafii.
>
> Semoga beliau diberkati umur panjang.
>
> Salam,
>
> Apapun sukumu, apapun agamamu, kau orang Indonesia. Aku cinta Kau. Whoever
> you are, wherever you are from, you are human being. I love you ~
> NIM(National Integration Movment).
>
> --- On Thu, 6/11/08, Asana Viebeke Lengkong <asanasw@indo.net.id> wrote:
>
> From: Asana Viebeke Lengkong <asanasw@indo.net.id>
> Subject: [bali-bali] Fw: Syafii Maarif :manusia berhak menjadi ateis
> sekalipun!
> To: bali-bali@yahoogroups.com, bali@lp3b.or.id
> Date: Thursday, 6 November, 2008, 1:30 PM
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Syafii Maarif
> Manusia Berhak Menjadi Ateis Sekalipun
>
> JAKARTA– Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif tak bisa
> berbuka puasa dengan tenang. Ia harus menerima ucapan selamat yang terus
> mengalir dari para tamu yang memenuhi aula Gedung PP Muhammadiyah, Senin
> (15/9) sore itu.
>
> Laki-laki yang akrab dipanggil Buya itu baru saja menerima penghargaan
> Magsaysay Award dari The Board of Trustees of the Ramon Magsaysay
> Foundation
> (RMAF) untuk kategori Peace and International Understanding. Magsaysay
> sebelumnya juga pernah dianugerahkan kepada Mochtar Lubis, Soedjatmoko,
> Pramudya Ananta Toer Abdurrahman Wahid dan Dita Indah Sari.
> Namun pria kelahiran Sumbar itu justru menanggapi biasa saja penghargaan
> itu. "Sebenarnya saya tidak bisa menanggung beban pujian-pujian itu.
> Karena
> tidak sehebat itu. Tanya saja pada istri saya," katanya. Ia malah
> mengharapkan penghargaan yang diterimanya itu dapat memberi inspirasi bagi
> kalangan muda untuk meneruskan perjuangan menegakkan demokrasi,
> inklusivitas
> dan pluralisme dengan serius. Baginya, pluralitas harus mendapatkan
> perhatian utama, karena bangsa Indonesia lahir dari banyaknya suku-suku
> yang
> bersatu. Masyarakat di dalam suku tersebut memiliki beragama kepercayaan
> yang hidup. Sehingga, pemaksaan atas nama satu keyakinan tertentu pada
> masyarakat tersebut tidak boleh dibiarkan karena bisa melahirkan
> perpecahan.
>
> Bahkan, Sjafii juga menegaskan, di dunia ini, manusia diperbolehkan untuk
> tidak beragama ataupun menjadi ateis sekalipun. Asalkan, masing-masing
> pihak
> saling menghormati, tidak memiliki agenda tersembunyi ataupun saling
> menghancurkan satu sama lain. Pendapat tersebut didasarkan pada
> nilai-nilai
> toleransi yang terkandung dalam Kitab Suci Al – Quran. "Menurut saya, Al –
> Quran itu lebih toleransi dibandingkan dengan orang Islam," katanya. Ia
> mengakui, saat ia memutuskan untuk bicara masalah itu persoalannya tidak
> mudah. Ia menuai kemarahan yang hebat dari para ulama dan juga kaum
> intelektual. Bahkan, salah satu dari mereka sangat kecewa dan segera
> menanyakan posisi teologis Sjafii sebagai seorang muslim. Namun, setelah
> dijelaskan pandangannya, pihak-pihak yang marah tersebut hanya diam hingga
> sekarang.
>
> Menurutnya, beberapa ayat di dalam Al – Quran sangat jelas menegaskan
> tidak
> boleh adanya pemaksaan dalam beragama. Bahkan, katanya, nabi pun dilarang
> memaksa. "Jadi, kalau orang mau beriman mari beriman kalau tidak juga
> mari.
> Perkara nanti perkara di depan Tuhan itu urusan mereka. Tapi tidak ada
> kekuatan duniawi untuk memaksa orang atau pengadilan untuk membunuh atau
> menghukum orang yang tidak beriman. Itu pendapat saya," paparnya.
>
> Ia melihat, kemarahan yang ditunjukkan kepadanya, kemungkinan besar karena
> terbatasnya pengetahuan mereka tentang pemahaman teologis ayat-ayat Quran
> terkait dengan kebebasan untuk berkehendak dan memilih. Dalam
> pandangannya,
> sesuai dengan Al-Quran, Tuhan sejatinya menawarkan kebebasan terhadap
> seluruh umat manusia untuk mempercayai ataupun tidak mempercayai,
> sedangkan
> resikonya merupakan urusan pribadi masing-masing dengan Tuhan. "Dengan
> kata
> lain, seseorang yang mengklaim dirinya sebagai seorang ateis ataupun orang
> yang ingkar terhadap agama tidak dapat dibawa ke pengadilan untuk
> menghadapi
> hukuman agama sebagaimana pandangan yang dianut muslim klasik," katanya.
>
> Tak Boleh Monopoli
> Ia juga menyadari, saat ini tidak banyak ulama yang mau membuka kembali
> Quran dan menempatkanya secara kontekstual. Sehingga, untuk masalah ini ke
> depan akan sangat tergantung pada kemampuan umat muslim untuk memberikan
> respon secara kreatif dalam menghadapi tantangan hari ini. Pasalnya,
> interpretasi teks keagamaan harus dilihat dalam kaca mata waktu saat itu.
> Karenanya, seorang ahli yang kaliberpun tidak punya hak untuk memonopoli
> kebenaran.
>
> Al – Quran, katanya, secara tegas melarang umat manusia secara buta
> menjadi
> pengikut para ulama. Bahkan, Al- Quran menegaskan membunuh seseorang
> artinya
> membunuh seluruh kemanusiaan. Dia melihat, kelompok militan dan radikal
> yang
> siap untuk mati umumnya mempertahankan fatwa-fatwa dari pandangan Islam
> klasik. Salah satu contohnya adalah peledakan bom di Bali dan JW Mariot.
> Terkadang, untuk kelompok seperti ini, membunuh orang lain yang berbeda
> secara ideologis dari pandangan agamanya dalam beberapa kasus sebenarnya
> justru demi kepentingan uang. Oleh karena itu, yang terjadi sebenarnya
> adalah penyalahgunaan agama untuk kepentingan dan tujuan rendah.
>
> "Secara adil tidak hanya orang muslim yang melakukan monopoli praktik bom
> bunuh diri. Beberapa pengikut agama lain juga sering melakukan hal yang
> sama. Ketidakadilan dan penindasan yang dilakukan oleh beberapa orang
> harus
> bertanggung jawab terhadap tindakan-tindakan yang salah tersebut,"
> imbuhnya.
>
> Namun, bagaimana itu dijalankan di Indonesia, ketika hukum negarapun
> ternyata masih mencantumkan pasal tentang penistaan agama? Ia pun menjawab
> dengan singkat, "Undang Undangnya harus diubah". (tutut herlina)
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> New Email names for you!
> Get the Email name you&#39;ve always wanted on the new @ymail and
> @rocketmail.
> Hurry before someone else does!
> http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

------------------------------------

Yahoo! Groups Links


------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:bali-bali-digest@yahoogroups.com
mailto:bali-bali-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
bali-bali-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Tidak ada komentar: