Selasa, 11 Nopember 2008 | BP
Pasca-Eksekusi Amrozy dkk...
Pariwisata Bali Masih Sepi
AMROZY dkk. memang sudah di alam baka setelah dieksekusi mati, Minggu
(9/11). Namun, kepulangan mereka untuk selamanya masih menyisakan
ganjalan. Para wisatawan asing tampaknya cukup waswas dengan ancaman
antek-antek teroris untuk membalaskan kesumat. Buktinya, dalam dua
pekan terakhir terjadi penurunan kedatangan wisatawan asing ke Bali
cukup signifikan.
Dari data yang dihimpun Bali Post di Kantor Imigrasi Bandara Ngurah
Rai terlihat, sejak Selasa (28/10) kunjungan wisman mulai melorot.
Dari kisaran 6.000-an per hari menjadi 4.000 per hari pada peringatan
Sumpah Pemuda 2008 itu. Sebagai gambaran, saat week-end, Jumat (24/10)
sampai Minggu (26/10) kunjungan wisman ke Bali berturut-turut 6.647
orang, 6.424 orang dan 6.016 orang.
Bahkan pada Senin (27/10) masih menjejaki angka 6.158 orang. Mulai
Selasa (28/10) kunjungan wisman ke Bali langsung melorot pada 4.056
orang atau turun lebih dari 50 persen dibanding sehari sebelumnya.
Hari-hari berikutnya terus berfluktuasi, namun tetap pada kisaran
4.000-an orang per hari. Hasil rekapitulasi Kanim Bandara Ngurah Rai,
kondisi tersebut bertahan sampai menjelang eksekusi Amrozy dkk.
Pantauan Bali Post di sejumlah kawasan wisata, khususnya di Kuta,
Senin (10/11) kemarin juga tak jauh berbeda. Kawasan Kuta tampak agak
sepi dibanding suasana awal Oktober 2008. Wisatawan yang biasa
berjemur di Pantai Kuta terlihat sedikit berkurang. Demikian pula
jalanan di seputar Kuta yang biasanya dijejali wisman juga terlihat
sepi. Antara lain sepanjang Jalan Legian, Kartika Plaza dan Jalan Raya
Pantai Kuta.
Kendati demikian, sejumlah wisatawan asing masih ada yang berseliweran
seolah tak mempedulikan ancaman para laknat teroris. Ferdinand Oflard
dan istrinya Anna asal Amerika misalnya. Dengan santai mereka
mendorong kereta bayi yang ditumpangi anaknya, Laura sepanjang Jln.
Kartika Plaza, Tuban. Mereka mengaku tak khawatir, karena logika
sederhana, teroris tidak mungkin menyerang dalam keadaan petugas siaga.
Demikian pula, Conrad Valley asal Sydney, Australia yang ditemui
tengah bersantai di Pantai Kuta. Tak terlihat sedikit pun rasa waswas
di matanya. Dia mengaku tidak takut berada di tempat terbuka seperti
Pantai Kuta, karena merasa pengamanannya cukup terjamin. Dia malah
takut di jalan-jalan yang macet karena menjadi incaran begundal,
teroris. Untuk sementara dia juga tidak mau masuk diskotek.
Tetap Waspada
Kalangan pariwisata berharap, kendati ancamanan bom di Bali belum
nyata, kewaspadaan harus tetap diprioritaskan. Penasihat Asita Bali I
Gusti Bagus Yudhara berharap, selain kesigapan aparat Polri dan TNI,
masyarakat Bali dari manapun asalnya juga diminta proaktif. Antara
lain memberikan informasi kepada aparat keamanan kalau menemukan
orang-orang yang beraktivitas mencurigakan.
Wakil Ketua PHRI Bali IGN Rai Suryawijaya berharap, teroris tak lagi
leluasa beraksi di Bali dengan catatan seluruh pintu masuk dijaga
dengan ketat dan konstan. 'Jangan sampai kendor,' ujar manajer tiga
hotel berbeda ini. Dia memprediksi, para wisatawan tak lagi terlalu
merisaukan ancamanan teroris. Dia juga meminta media, khususnya
elektronik agar tak menempatkan Amrozy dkk. sebagai pahlawan. (gre)
............
Sekolah bahasa Jepang http://PandanColleg
............
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___
Tidak ada komentar:
Posting Komentar