Napas Bali demi Kenyamanan
KOMPAS/YUNIADHI AGUNG / Kompas Images
I Gusti Kompiang Raka
Minggu, 9 November 2008 | 03:00 WIB
Susi Ivvaty
Gapura khas Bali menjadi penanda rumah I Gusti Kompiang Raka (61) di
kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Seniman dan pemilik Sanggar
Saraswati ini memberi spirit Bali di rumahnya agar ia bisa hbernapash
di tengah sesaknya Jakarta.
Rumah Kompiang berada di pusat Jakarta. Tidak seberapa jauh dari
rumahnya terletak gedung pertunjukan Miss Tjitjih yang makin sepi dan
tidak terawat lantaran minimnya pementasan di sana. Jalan Letjen
Soeprapto, jalan protokol yang riuh itu, hanya beberapa ratus meter
dari rumah Kompiang.
Kami disambut suara gamelan Bali yang dimainkan seorang guru karawitan
dari Sanggar Saraswati. Suasana Bali makin terasa. Istri Kompiang, I
Gusti Agung Ratnawati (53), muncul dengan balutan sarung tradisional
warna biru. Pagi yang cerah pun bertambah cerah.
Selain pagar rumah, rasa Bali mewujud di ruang sembahyang atau merajan
di lantai dua. Untuk membuat ruang itu, Kompiang mendatangkan satu
truk batu cadas langsung dari Bali, berikut enam tukang. Butuh waktu
dua bulan untuk mengukir batu cadas menjadi bangunan pemujaan, lengkap
dengan patung-patung gajah mungkur.
Lokasi merajan itu mengikuti aturan arta kosala kosali atau aturan
pemanfaatan tempat. hMerajan ini terletak di pekarangan paling utara
dan paling timur. Ini paling ideal,h ujar Kompiang.
Seperangkat gamelan Bali ditata di ruang tengah, sedangkan seperangkat
gamelan lain diletakkan di ruang latihan tari di lantai dua. Ruang
latihan yang bersisian dengan teras lantai dua itu cukup luas, sekitar
100 meter persegi. hSaya sengaja tidak memberi sekat biar plong. Kalau
ada barang-barang, saya letakkan saja di pojok-pojok,
Selain ruang latihan di lantai dua, tempat favorit Kompiang adalah
kantor yang menyatu dengan ruang tamu. Di ruangan itu juga terdapat
satu lemari kaca besar berisi berbagai busana tradisional Bali untuk
kostum menari. Di dinding tertempel dua lukisan Kamasan Bali serta
sejumlah penghargaan di bidang seni tari dan karawitan.
Ruang tamu itu menjadi terlihat penuh. hApa-apa dimasukkan, ya,
ha-ha-ha,h kata Kompiang.
Tanah berawa
Rumah dengan tanah seluas 245 meter persegi itu dibangun tahun 1972.
hDulu masih tanah rawa-rawa. Kalau berangkat ke kantor, kaki saya
bungkus dengan tas plastik dan sepatu saya tenteng. Sampai jalan raya,
sepatu saya pakai. Dulu, Jalan Letjen Soeprapto juga tidak lebar,h
ujar lelaki kelahiran Gianyar, 28 April 1947, ini.
Ia membeli tanah tersebut dari kawan lama, seorang tentara yang
mendapat jatah kapling di situ. Harganya Rp 6,5 juta, ia bayar dengan
mencicil. Harga itu termasuk mahal dibandingkan dengan tanah seluas
600 meter persegi di depan rumahnya yang dijual Rp 800.000.
Sejak tahun 1972, Kompiang sudah tiga kali memperbarui rumahnya.
Terakhir, beberapa bulan lalu, saat ia melihat ada rembesan air dari
bawah lantai. hSaya langsung tinggikan lantai. Mudah-mudahan tidak
banjir lagi. Sudah lebih dari sepuluh tahun tidak ada banjir di sini,h
ujarnya.
Sebelum tinggal di Cempaka Putih, pada tahun 1968 saat Kompiang baru
tiba di Jakarta, ia menumpang di mes Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian
di Pondok Pinang. hSaya berkesenian sambil mengajar siswa SD di Pondok
Pinang,h kenang dia.
Pada tahun 1969 hingga 1972, Kompiang numpang tidur di sebuah kamar di
sanggar tari Taman Ismail Marzuki. Ia memang pengurus peralatan
kesenian di situ. hDi sana dulu ada kamar-kamar. Sardono W Kusumo juga
sempat tidur di sana. Ya, itung-itung kos gratis, ha-ha-ha,h paparnya.
Rumah untuk bernapas
Sejak pensiun sebagai manajer program di Gedung Kesenian Jakarta pada
Juli 2007, Kompiang merasa lebih bebas. Ia mempunyai banyak waktu
berada di rumah. hSaya bisa fokus mengurus Saraswati,h katanya.
Dulu, rumah hanya menjadi tempat untuk tidur. Pagi berangkat kerja,
pulang kerap sampai tengah malam, menyesuaikan dengan waktu pertunjukan.
Sekarang, Kompiang makin menyadari, betapa rumah memberi ruang
kenyamanan yang tiada tara. Rumah, bagi Kompiang, adalah napas. Dan
untuk bernapas, ia membutuhkan udara segar. Kesegaran itu ia dapatkan
dari nuansa Bali di rumahnya, khususnya suara gamelan yang selalu
mengalun setiap hari.
hIkatan budaya dengan Bali masih begitu kuat meskipun saya sudah di
Jakarta sejak tahun 1968,h ujar Kompiang.
............
Sekolah bahasa Jepang http://PandanColleg
............
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___
Tidak ada komentar:
Posting Komentar