Om Swastyastu, tanpa ada maksud untuk memperkeruh diskusi, saya termasuk orang yang setuju dan mendukung komentar pak Dr. Wayan Warmada. saya kira kita semua sudah cukup dewasa untuk menilai dengan logika, mana yang baik dan mana yang tidak. kita kembalikan kepada hati nurani masing-masing untuk menilai postingan dari member, bila memang dianggap keliru atau sarat dengan issue SARA. caranya sesungguhnya mudah, dengan mengabaikan atau tidak mengomentari atau tidak meresponsenya. tombol-tombol yang ada di keyboard computer seperti "Del" sesungguhnya keberadaannya di disain untuk di pergunakan 'mendelet' bila tidak suka dengan topik yang di lempar ke forum.
lebih lanjut, kita tidak harus membatasi topik diskusi, dan kita juga tidak selalu berkewajiban untuk mengomentari setiap topik yang masuk, saya yakin setiap topik memiliki pasarnya sendiri-sendiri. apalagi sampai mem-band keanggotaan membernya, saya pikir ini sudah keliru, sesungguhnya membernya cukup di peringati di forum atau lewat jalur pribadi, kalau memang dia dianggap salah. tanpa bermaksud menggurui, ketidak setujuan dengan topik yang masuk sebaiknya di counter dengan argumentasi kepada si pengirim aslinya hingga kita mendapatkan jawaban yang kita inginkan. member yang lain akan bertindak sebagai pembaca atau penilai, siapa yang benar dan siapa yang salah, saya kira demikianlah proses belajar berdiskusi dan membaca jalan pikiran orang lain. kalau boleh jujur, ketika saya nonton tv dirumah, acara / program televisi di tanah air seperti sinetron religi, dialog, program monolog tiap subuh, kebanyakan isinya siar dan dakwah yang di kemas baik dalam bentuk eduteinment, infoteinment ataupun entertinment. malah ada nara sumber yang tidak menguasai topik yang di bahasnya dan tidak menyadari kalau kata-kata yang di ungkapkannya baik dengan sengaja ataupun karena 'slip of tounge' menyinggung keyakinan pemirsa di rumah. apakah saya marah, tidak..., andaikan saya bekerja di bidang media, saya malah ingin bekerja sama dengan garin nugroho atau gede prama untuk membuat program televisi untuk mengcounter ataupun meluruskan informasi yang salah ataupun memberitakan keyakinan saya yang sebenarnya kepada pemirsa di tanah air. akhir kata, saya juga setuju untuk saling menghormati dan menjaga perasaan member yang lain, mungkin milis ini di disain hanya untuk saling bertukar informasi positive dan membangun untuk kemajuan kita bersama. saya yakin kita sudah cukup lelah untuk berselisih dengan issue-issue yang ada di luar, seperti issue RUU Pornografi, mungkin sebaiknya kita menggunakan energy kita untuk hal-hal yang lebih positive. salam, --- I Wayan Warmada <warmada@mail. ugm.ac.id> schrieb am Sa, 11.10.2008:
Von: I Wayan Warmada <warmada@mail. ugm.ac.id> Betreff: [bali-bali] Re: Pure Gabung dengan mesjid dibali. An: bali-bali@yahoogrou ps.com Datum: Samstag, 11. Oktober 2008, 5:56
Katanya orang-orang di sini hebat-hebat, kok diskusi yang beginian saja dianggap "kucing" thread? Apa kita anggap uraian yang ditulis oleh pak Putu Kesuma bohong belaka? Saya pikir apa yang ditulis pak PKesuma itu tidak ada hal2 yang menunjukkan peruncingan masalah.
Yang penting yang merasa terpojok dan kalau memang demikian kenyataannya ya harus berani mengakui dan introspeksi, bukan mencari pembenar apalagi menghindari masalah. Apa hebatnya kalau setiap masalah yang nyata di Bali, seakan-akan tidak ada? Hanya takut issue sara? Yang terpenting setiap masalah dicari penyelesaiannya yang baik, bukan dianggap sebagai "kucing" thread.
IWW
--- In bali-bali@yahoogrou ps.com, I Nengah Sumerta <nengah.sumerta@ ...> wrote: > > Bah! > > macam mana pula ini! > > Moderator! > > Close this F**cking thread! > > I don't want to hear that such of thing discussed among us! > > > Lili Gundi Abut-abut gen!. > . > nengah > Lili Gundi wrote: > > > > > > > > > > Pure Gabung dengan mesdjid dibali > > > > > > > > Apa yang diajarkan oleh guru TK Islam kepada murid-muridnya, bukan > > pengaruh Wahabi, tetapi murni dari Qur¢an: > > > > Qur'an 5:51 "Believers, take not Jews and Christians for your friends. > > They are but friends and protectors to each other.". Qur'an 5:57 > > "Believers, take not for friends those who take your religion for a > > mockery or sport, a joke, whether among those who received the > > Scripture before you (Jews and Christians) or among those who reject > > Faith (non-muslim) ; but fear Allah." > > > > > > > > Untuk Pak Dedenkung dan Biyang, bagaimana kalau sekali-sekali kita > > minta orang Muslim membangun pura di halaman masjidnya? > > > > Salam > > > > LGS. > > > > > > > > > > > > > > > > > > --- On *Thu, 9/10/08, Deden Kung /<dedenkungs@ yahoo. com>/* wrote: > > > > From: Deden Kung <dedenkungs@ yahoo. com> > > Subject: Re: [bali-bali] Pure Gabung dengan mesdjid dibali > > To: bali-bali@yahoogrou ps.com > > Date: Thursday, 9 October, 2008, 3:44 PM > > > > Petikan email Biyang sangat dalam makna damai di sana...petikan Pak > > Putu Kusuma mohon maaf agak sedikit memanas manasi yah he he he..sabar > > saja Bli Putu ngak usah terprovokasi oleh aliran wahabi, arabi, > > bonjovy, gun n roses dll..toh yang Pak Putu dan kita semua idam > > idamkan adalah sebuah kedamaian dan kerukunan umat beragama bukan? > > Biarkan saja yg jelek dan jahat nantinya akan musnah sendiri..... > > .justru kalau kita bisa berfikir dan cari solusi terus untuk supaya > > gimana caranya kerukunan itu tetap terjaga..karena kalau udah hidup > > rukun dan damai mau ngapain saja jadi tenang dan tentram..tidak usah > > ada saling curiga dan berfikir jelek akan sesama:) > > > > Om Canti3x > > Wassalam > > Deden Kung > > > > > > > > ----- Original Message ---- > > From: Putu Kesuma <putukesuma@ yahoo. com> > > To: bali-bali@yahoogrou ps.com > > Sent: Tuesday, October 7, 2008 10:29:15 PM > > Subject: Re: [bali-bali] Pure Gabung dengan mesdjid dibali > > > > Teman-teman semua, > > > > Ini cerita beneran. Terjadi di Denpasar. > > > > Sepasang suami-istri yang berbeda agama memiliki seorang anak tk. > > Bapaknya muslim dan ibunya kristiani. Suatu ketika pulang dari sekolah > > tiba2 si anak gak mau lagi makan masakan ibunya. Tentu ibunya seperti > > disambar petir mendapati anaknya yang tiba-tiba berubah. Setelah > > ditanya oleh ibunya kenapa gak mau makan masakan ibunya, anaknya > > menjawab bahwa di sekolah tk(tk Islam) diberi tahu oleh gurunya bahwa > > dia gak boleh makan masakan yang tidak dimasak oleh orang Islam. > > Karena ibunya kristiani maka dia tidak mau makan. > > > > Ini bukan isapan jempol teman-teman. Ini baru contoh kecil bagaimana > > anak-anak kita dikotak2an berdasarkan agama. Belum lagi contoh lain > > dimana seorang guru agama non Islam yang tidak diperbolehkan mengajar > > padahal sudah mendapat SK dari Diknas dan Bupati. Tapi dikalahkan oleh > > Komite Sekolah bahwa jika guru non Islam diijinkan mengajar agama non > > Islam maka dikhawatirkan anak2 muslim tidak mau sekolah. > > > > Tentu teman-teman semua sudah mendengar bahwa DOA BERSAMA sudah > > diharamkan oleh MUI. Inilah gerilya yang dilakukan oleh para penganut > > Wahabi di Indonesia. Dan virus ini sedang disebarkan diseluruh Indonesia. > > > > Saya sudah sering menyarankan kepada Desa Adat agar para penduduk > > pendatang jangan dibiarkan mengelompok. Harus dibaurkan dan diberi > > kewajiban seperti penduduk lokal, paling tidak harus turut bertanggung > > jawab untuk keamanan dan kebersihaan lingkungan. Tapi rupanya Desa > > Adat cukup puas menerima recehan-recehan rupiah dan membiarkan para > > pendatang tidak ambil tanggung jawab sosial. > > > > Tapi saya dapatkan seperti berbicara sama tembok. Kades, dan Kadus di > > mana saya tinggal cuek-cuek saja. Yang penting mereka bayar. > > > > Selama mereka dibiarkan hidup exclusive maka tidak dapat dihindarkan > > disintegrasi sosial pasti terjadi. Apalagi mulai dari tk sudah > > dimasukan ke dalam kotak. > > > > Saya tidak mengadatakan semuanya begitu. Masih banyak saudara-saurada > > yang beragama Islam memiliki wiweka dan tidak tepengaruh oleh virus > > itu, tapi sampai kapan? Jika mereka terus diteror, akhirnya akan cari > > selamat bukan? > > > > Solusinya? PENDIDIKAN. Pendidikan kita ini sudah mencabut anak-anak > > kita dari akar ke Indonesiaanya. Sistim pendidikan kita telah > > mematikan budhi pekerti yang ada dalam jiwa anak-anak kita. Pendidikan > > tidak harus di sekolah, di banjar, di pura, di mesjid, di gereja dll. > > Pendidikan untuk menyadarkan bahwa jika kita terus-terusan bagini maka > > kita tidak ubahnya dengan keadaan " HAPPY PASSANGERS ON A SHINKING > > SHIP", para penumpang yang bahagia dalam kapal yang sedang tenggelam. > > > > Jangan dipikir RUU Pornografi ini ide baru. Ini bagian dari strategi > > untuk memberlakukan syariat Islam di Indonesia.. > > > > Orang bijak bilang bahwa "HANYA DIBUTUHKAN SATU KONDISI UNTUK > > KEJAHATAN MERAJALELA YAITU KETIKA ORANG BAIK DIAM". Selama ini, inilah > > yang terjadi. Kita menikmati banget berada di comfort zone, dan > > berpikir, ngapain ribut2, toh saya tidak kena. Ya benar saat ini belum > > kena, tapi adakah jaminan tidak akan kena? > > > > Salam, > > pkesuma > > > > --- On Tue, 7/10/08, Bulantrisna Djelantik <btrisna@gmail. com > > <http://id.mc764. mail.yahoo. com/mc/compose? to=btrisna% 40gmail.com>> wrote: > > > > From: Bulantrisna Djelantik <btrisna@gmail. com > > <http://id.mc764. mail..yahoo. com/mc/compose? to=btrisna% 40gmail.com>> > > Subject: Re: [bali-bali] Re: [peradahdki] Pure Gabung dengan mesdjid > > dibali > > To: bali-bali@yahoogrou ps.com > > <http://id.mc764. mail.yahoo. com/mc/compose? to=bali-bali% 40yahoogroups. com> > > Date: Tuesday, 7 October, 2008, 11:48 AM > > > > Saya justru senang kalau ada praktek kerja sama seperti itu antar > > agama, yang ramah damai, tanpa saling mengganggu. Di Puri Cakranegara > > Lombok katanya juga ada langgar kecil karena salah satu selir Raja ada > > yang muslim. Di Bali kan banyak contohnya. Di Karangasem, > > kakekku selalu membina hubungan baik dengan kaum muslim yang > > keturunan pasukan selam dari Sasak. Aku ingat waktu G Agung meletus, > > kakek ikut acara korban kambing di Kampung Selam lalu daerah itu > > selamat dari lahar... Di sekitar Ujung, warga Hindu Islam 50-50, dari > > dulu acara prosesi Hindu didahului oleh Bedug yang dipukul orang > > selam. Masing2 teguh dengan ajarannya, tapi saling membantu dan > > menghargai,, > > > > Dalam buku Beryl de Zoete / Walter Spies, pernah ada ""Legong Amad > > Muhamad".. tapi jalan ceritanya sangat Bali.. Bali Hindu yang > > majoritas, tetap menghargai orang Bali Kristen, orang Bali Buda, orang > > Bali Islam dan orang Bali apa saja, yang minoritas.. kita pernah bisa. > > > > Apakah ini mimpi saja sekarang?? Karena setelah saya bertanya-tanya > > pada penduduk setempat di Ujung, rupanya kaum mudanya tidak saling > > sapa lagi. Begitu pula di Kintamani. Nah ini yang menurut saya > > mengkhawatirkan. . dan perlu antisipasi seperti yang diceritakan oleh > > Vieb, mulai dari Banjar harusnya kegiatan kedamaian antar umat juga > > bisa dimulai... . > > > > Salam, Shanti, Biyang > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > >
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar