Dari: Popo Danes <popo@popodanes.com>
Kepada: bali-bali@yahoogroups.com
Terkirim: Rabu, 8 Oktober, 2008 14:10:23
Topik: Re: Bls: [bali-bali] BALI OPEN SOCIETY (bos)
Hi biang,
Dalam pikiran saya, BOS itu bisa menjadi tempat menyampaikan opini yang obyektif, independent, dan professional, bagian dari tanggung jawab kita as a good citizen.
Tentunya kita berharap, apa yang menjadi bahan pemikiran kita bisa menjadi pertimbangan mereka yang menjalankan kekuasaan. Makanya saya tidak mau sebatas tempat nimbrung dan ngobrol saja, tetapi semuanya harus didokumentasikan dengan baik.
Lebih baik lagi kalau kita lebih banyak melihat pemasalahan- permasalahan secara futuristik, saat orang mulai gusar dengan sebuah permasalahan kita sudah siap dengan pemikiran-pemikiran yang bisa menjadi jawabannya. Keinginan tinggi boleh kan ? Nah itu yang dari kepala saya, teman-teman lain tentu punya cara berpikir yang lain yang sama-sama positif, yang menyadarkan kita bahwa kolaborasi itu perlu.
Salam,
pd
On 10/7/08 2:53 PM, "Bulantrisna Djelantik" <btrisna@gmail. com> wrote:
Dear Po, Sugi dan teman2...
Sudah saya catat tanggalnya.. mudah2an biang dapat hadir. Perlu dijelaskan visi misi, apakah BOS sekedar olah pikir melalui diskusi, think tank, yang mengharapkan anggota2nya akan melakukan sesuatu dengan tripple down effect.. atau akan berlanjut sebagai advocacy dan awareness melalui media, atau lebih lanjut lagi?
Saya pernah menjadi anggota yayasan TIFA, yang bertujuan penguatan masyarakat madani yang juga bagian dari open society. Kalau teman2 sekiranya ada yang memerlukan grant kecil untuk suatu proyek yang masuk kategori yang ditawarkan, bisa lihat www.tifafoundation. org <http://www.tifafoun dation.org/> .
George Soros mendirikan Open Society Insitute.. mengembaBersama ini sedikit penyegaran, cuplikan dari Wikipedia, salam damai... Bulan
The open society is a concept originally developed by philosopher Henri Bergson <http://en.wikipedia .org/wiki/ Henri_Bergson> . In open societies, government <http://en.wikipedia .org/wiki/ Government> is responsive and tolerant, and political mechanisms are transparent <http://en.wikipedia .org/wiki/ Transparency_ (humanities)> and flexible. The state <http://en.wikipedia .org/wiki/ State> keeps no secrets from itself in the public sense; it is a non-authoritarian <http://en.wikipedia .org/wiki/ Authoritarianism> society in which all are trusted with the knowledge of all. Political freedoms <http://en.wikipedia .org/wiki/ Freedom_( political)> and human rights <http://en.wikipedia .org/wiki/ Human_rights> are the foundation of an open society.
In Karl Popper <http://en.wikipedia .org/wiki/ Karl_Popper> 's definition, found in his two-volume book The Open Society and Its Enemies <http://en.wikipedia .org/wiki/ The_Open_ Society_and_ Its_Enemies> , he defines an "open society" as one which ensures that political leaders can be overthrown without the need for bloodshed, as opposed to a "closed society <http://en.wikipedia .org/wiki/ Authoritarianism> ", in which a bloody revolution <http://en.wikipedia .org/wiki/ Revolution> or coup d'état <http://en.wikipedia .org/wiki/ Coup_d%27% C3%A9tat> is needed to change the leaders. He further describes an open society as one "in which individuals are confronted with personal decisions" as opposed to a "magical or tribal or collectivist <http://en.wikipedia .org/wiki/ Collectivism> society".[1] <http://en.wikipedia .org/wiki/ Open_society# cite_note- 0> In this context, tribalistic and collectivist societies do not distinguish between natural laws and social customs. Individuals are unlikely to challenge traditions they believe to have a sacred or magical basis. The beginnings of an open society are thus marked by a distinction between natural and man-made law, and an increase in personal responsibility and accountability for moral choices. (Note that Popper did not see this as incompatible with religious belief.[2] <http://en.wikipedia .org/wiki/ Open_society# cite_note- 1> ) Popper argues that the ideas of individuality, criticism, and humanitarianism <http://en.wikipedia .org/wiki/ Humanitarianism> cannot be suppressed once people become aware of them, and therefore that it is impossible to return to the closed society.[3] <http://en.wikipedia .org/wiki/ Open_society# cite_note- 2>
2008/10/7 ngurah beni setiawan <setiawan_beni@ yahoo.com>
Bli Popo,
setuju. Bicara tentang segmentasi, saya teringat buku yang saya beli 4 tahun lalu waktu masih mahasiswa.
Ketika saya begitu menikmati kumpulan tulisan dari beberapa penulis/ tokoh Bali...
salah tiganya Bli Popo, Bli Sugi dan Mbo Luh de (kalo tidak salah) dan Bli Raka Panji Tisna (maaf kalau salah penyebutan nama)
membaca pandangan dari beberapa orang dengan latar belakang pendidikan, keahlian dan kacamata berbeda benar-benar membuka mata. Memandang kubus tidak hanya dari salah satu sisi, meskipun kubus (konon) memiliki ukuran sama di keenam sisinya. Namun tetap saja, setiap sisi akan memiliki corak yang (mungkin) berbeda.
Untuk itu, tyang sangat setuju dengan segmentasi masalah, latar belakang semeton dan dream dalam dimensi banyak (multi-dimensi) .
Konon, kakak tyange Bernhard Riemann yang (konon) menelurkan teori Limit Jumlah Riemann pun memberikan sebuah pendekatan luar biasa dalam menentukan luar area dibawah sebuah kurva.
Artinya, Bli Riemann memberikan sebuah pentunjuk tentang apa yang disebut dengan segmentasi atau partisi. Semakin kecil partisi kita, semakin baik pula pendekatan kita.
Lihat saja gambar dibawah ini. Menarik bukan? Tyang bukan ahli matematika, masih ada semeton lain yang lebih baik.
Paling tidak, konsep partisi bli Riemann ini harusnya mengilhami kita dan mempertegas usulan bli popo tentang "berbagi kaveling berpikir".
<http://en.wikipedia .org/wiki/ Image:MidRiemann 2.PNG> <http://en.wikipedia .org/wiki/ Image:TrapRieman n2.PNG>
*gambar ini diambil dari wikipedia
rahajeng
ngurah beni setiawan
P Save a tree...please don't print this e-mail unless you really need to
----- Pesan Asli ----
Dari: Popo Danes <popo@popodanes. com>
Kepada: bali-bali@yahoogrou ps.com
Terkirim: Rabu, 8 Oktober, 2008 09:57:28
Topik: Re: [bali-bali] BALI OPEN SOCIETY (bos)
Sangat setuju, ini pekerjaan yang tidak cukup pakai beberapa kepala saja.
Saya malah usulkan dan sangat appreciate kalau kita bisa tahu background teman-teman dengan jelas, sehingga memudahkan kita untuk berbagi kaveling berpikir, karena kita butuh pemikiran dari semua aspek. Pada saat kita memunculkan sebuah opini ke publik nanti, profile kita juga jelas. Sorry agak serem, tapi saya pikir ini hal yang baik.
Apalagi teman kita yang dapat award di Ku De Ta, dia pasti bisa kasih kita banyak support tentang hal hal yang menyangkut KesRa.
Jadi dalam pertemuan pendahulan nanti, kita akan identifikasi semua permasalahannya dan melihat peta teman-teman kita, dan tentu kita juga nanti harus approach teman-teman lain yang bisa mengcover issue yang belum ada ngamongin.
Salam,
pd
On 10/7/08 8:33 AM, "Asana Viebeke Lengkong" <asanasw@indo. net.id <http://net.id/> > wrote:

Sugi,
Usul: kelihatannya semua semangat hanya saja waktunya yang agak macet ya. Mungkin baik kalau dibuatkan saja daftar permasalahan, usul solusi dan schedule jadi walaupun tidak ketemu bisa di update terus lewat email dengan masukan lainnya.
vieb
----- Original Message -----
From: Popo Danes <mailto:popo@ popodanes. com> <mailto:popo@ popodanes. com>
To: bali-bali@yahoogrou ps.com <http://ps.com/>
Sent: Wednesday, October 08, 2008 5:56 AM
Subject: Re: [bali-bali] BALI OPEN SOCIETY (bos)
Dear Sugi,
Selamat menikmati Art Singapore 2008, dan saya harus absen kali ini. Pesan saya, pulang dari Singapore, kita tetap bahas tentang Bali ya, jangan tiba tiba berubah pikiran untuk konsentrasi menjadi art dealer saja, he he he ..... Kapah jumah itu bukan berarti sing nau jumah, seperti tulisan yang sering kita baca di belakang mobil truck itu.
Weekend ini teman saya Rajaretnam dari Ircenter Singapore akan datang ke Bali, untuk mempersiapkan forum diskusi Asian Dialogue Society, yang rencananya diikuti 15 – 20 orang dari berbagai negara Asia. Saya mau usulkan supaya kita bikin acaranya di daerah Sanur saja, untuk memudahkan semetons lokal yang mau ikut ikutan membicarakan masalah Asia ke depan, paling tidak kita tidak ketinggalan agenda dari teman-teman di pisaga yang berlari lebih kencang diatas track yang lebih mulus, pakai sepatu lebih bagus dan latihannya lebih intensif. Nanti akan saya update bagaimana rencana selanjutnya dan kita akan minta bantuan beberapa teman untuk terlibat di local comitee.
Saya sih tidak sedekan ngipi atau polih wangsit seperti Sugi bilang, cuman suka mikir, masak hidup di gumi setengah uug ini kita cuman bisa jadi nak beler, gitu aja.
Salam,
pd
On 10/6/08 8:06 PM, "Sugi Lanús" <sugilanus@gmail. com> wrote:

Bli Beni, biang Vieb, Aji OZ, bli Putu Kusuma, lan semeton sami,
Terkait dengan BOS (Bali Open Society), Popo sdh mengajukan tanggal rapat tapi saya belum bisa sampai tgl 13 Oct karena saya ada di Singapore menghadiri "ArtSingapore 2008". Sebaliknya, begitu saya di Bali, Popo yg berangkat ke Venice.. Sementara jadwal rapat BOS kami (POPO dan saya) sepakat tanggal 22 Oct. Itupun Popo pake nawah/menawar tanggal yg saya ajukan. Keweh ngajak semeton kapah jumah.
Tentang BOS, saya memang sdh punya "proposal kecil" yg bisa menjadi pegangan sementara, kurang lebih BOS bisa menjadi "pengatur lalu lintas pemikiran Bali"; mendiskusikan sesuatu tentang Bali secara sungguh.
Bercermin dari "The Open Society and Its Enemies" karya Karl Popper, sangat menarik ide ''masyarakat terbuka'' dalam kontek pemikiran Popper, khususnya relevan kalau kita pakai melihat Bali. Dari banyak bercermin pada pemikiran para pengelingsir Bali, dan ide Popper (tidak utk sekedar menyontek dan ikut-ikutan) , Bali memang perlu sebuah "bejana pemikiran" yg meramu dan mengkaji dgn jernih kearifan Bali dan berbagai persoalannya. Lewat BOS (Bali Open Society) mudah-mudahan bisa terwujud.
Di tempat Popo beberapa kali kami sempat juga kami kumpul utk membentuk sebuah tim diskusi bulanan, namun belum sempat jalan karena waktu itu para peserta diskusi beberapa punya afiliasi dgn pencalonan Gubernur (sebelum pilkada). Ketika sekarang pilkada dan urusannya sudah mulai "agak settle", ide rembug bulanan itu perlu segera diwujudkan.
Popo juga entah kenapa (mungkin ngipi dan polih wangsit) jog semangat gati sekarang. Minggu lalu on the way to Jakarta, saya di pesawat satu gerbong dgn Popo, lalu naik taksi bareng, ngalor-ngidul di taksi, embas telor pemikiran banyak, diantaranya BOS (walaupun belum berjudul ketika itu), dstnya.
Tanggal 22 Oct hari Rabu mari kita tetapkan (sementara waktu) sebagai hari rapat pertama BOS. Ngiring rauhin.
Rahajeng,
sl
----- Original Message -----
From: ngurah beni setiawan <mailto:setiawan_ beni@yahoo. com> <mailto:setiawan_ beni@yahoo. com>
To: bali-bali@yahoogrou ps.com <http://ps.com/>
Sent: Monday, October 06, 2008 5:20 PM
Subject: Bls: Bls: Bls: [bali-bali] THE RISE OF INDIA
bli Sugi,
alangkah bahagianya, jika benar komunitas nan sederhana ini bisa diwujudkan.
sekadi i bungan sandat, selayu-layune miik.
Sekecil apapun, niat baik tetap ada. Hal besar selalu diawali langkah bayi, seperti kata kawan tyang Sean Covey dalam 7 habits of highly effective peoples.
Bli Sugi, ngiring, apa bisa mulai kita atur stretegi untuk "dream of Bali" yang pertama? berlandaskan Tri Hita Karana.
rahajeng,
ngurah beni setiawan
P Save a tree...please don't print this e-mail unless you really need to
----- Pesan Asli ----
Dari: "sugilanus@gmail. com" <sugilanus@gmail. com>
Kepada: bali-bali@yahoogrou ps.com <http://ps.com/>
Terkirim: Selasa, 30 September, 2008 14:47:47
Topik: RE: Bls: Bls: [bali-bali] THE RISE OF INDIA
Semeton Beni lan semeton tiosan,
Bila perlu kita bisa online kalau pertemuan, tinggal pasang skype, teman bisa monitor dari kamarnya masing2, dimanapun berada. Yg jauh barangkali bisa buat handout saya print tiap pertemuan, lalu dibacakan. Jadi pokok2 bahasan disiapkan dari seminggu sebelumnya.
Saya punya data tentang lahirnya TRI HITA KARANA. Tak semua orang tahu bahwa THK punya hari kelahiran dan ada pergolakan pemikiran di dlmnya. Saya siapa bagi sebagai bahan/topik bahasan pertama.
Siapa tahu setelah dilengkapi teman2 yg hadir bisa saya cetak jadi buku.
Suksma,
sl
- original message -
Subject: Bls: Bls: [bali-bali] THE RISE OF INDIA
From: ngurah beni setiawan <setiawan_beni@ yahoo.com <http://yahoo. com/> <mailto:setiawan_ beni%40yahoo. com> <mailto:setiawan_ beni%40yahoo. com> >
Date: 30/09/2008 7:08 am
Bli Sugi,
tyang siap masi.
Tapi kanggoang, kari meburuh di gumin anak.
pesen bapak tyange, pang de cara blakas mangan di pisaga
makanya tyang ingin ikut serta mengawal Bali.
Ngiring, siapa tahu dari komunitas ini kita bisa luncurkan sebuah buku tentang harapan Bali masa depan (yang tanpa belog ajum)
ngurah beni setiawan
P Save a tree...please don't print this e-mail unless you really need to
----- Pesan Asli ----
Dari: "sugilanus@gmail. com <mailto:sugilanus% 40gmail.com> <mailto:sugilanus% 40gmail.com> " <sugilanus@gmail. com <mailto:sugilanus% 40gmail.com> <mailto:sugilanus% 40gmail.com> >
Kepada: bali-bali@yahoogrou ps.com <http://ps.com/> <mailto:bali- bali%40yahoogrou ps.com> <mailto:bali- bali%40yahoogrou ps.com>
Terkirim: Selasa, 30 September, 2008 13:53:20
Topik: RE: Bls: [bali-bali] THE RISE OF INDIA
Sementons,
Bali Open Society menjadi Balinese initiative utk kemajuan, membuka pintu bagi pemikiran2 Bali ke depan.
Biar sing liunan itungan lan mabukti, saya sipa jadi volunteer jadi koordinator sementara (tukang undang dan nyiapin pertemuan), yen bin mani puan ada ne lebih banyak punya waktu saya akan dgn senang hati silahkan teman lain mengkoordinasi.
Sebulan sekali siap ketemu? Kita atur jadwal krn semua sibuk, terutama Popo (saya juga sering PP Jakarta-Bali) . Kenken pak Popo?
Siap2 ne jani ngebug kulkul sangkep di kantor ente nah.
Suksma, sl
- original message -
Subject: Bls: [bali-bali] THE RISE OF INDIA
From: ngurah beni setiawan <setiawan_beni@ yahoo.com <http://yahoo. com/> >
Date: 30/09/2008 6:40 am
Bli Sugi, margiyang!!
open society...yang berlandaskan harapan jauh kedepan tentang bali. Tanpa menoleh kebelakang dan hanya melihat saat ini sebagai bekal masa datang. Tanpa belog ajum? patut asapunika...
dan tentunya, Tat Twam Asi
sik ne bli popo, wenten parkir sepeda?
rahajeng,
ngurah beni setiawan
P Save a tree...please don't print this e-mail unless you really need to
----- Pesan Asli ----
Dari: "sugilanus@gmail. com" <sugilanus@gmail. com>
Kepada: bali-bali@yahoogrou ps.com <http://ps.com/>
Terkirim: Selasa, 30 September, 2008 13:34:24
Topik: Re: [bali-bali] THE RISE OF INDIA
Bagaimana kalau kita sebut kumpulan itu sebagai BOS (Bali Open Society)? Kantornya di Popo Danes sawireh parkirne gede ngidang nampung banyak SUV.. Hehe.. Kita gali apa yg istimewa dari Bali, dan buang jauh2 belog ajum kita?
- original message -
Subject: Re: [bali-bali] THE RISE OF INDIA
From: Popo Danes <popo@popodanes. com>
Date: 30/09/2008 6:19 am
Coba Viebeke pakai sari, jidatnya dikecek, apalagi hidungnya ditindik, pakai
gelang mas barang 20 biji, sudah India banget kan ?
Bisa langsung dilamar Bollywood, jadi peran ibu tapi, ibunya Beni, hi hi hi
....
Kita omongin India positifnya saja, disana juga banyak yang negatif. Yang
baik kita ambil, yang jelek dibuang ke recycle bin.
Bagaimana kalau kita bikin small center of The Balinese Pride ? Kumpulin
khayalan kita tentang Bali in our dreams ?
pd
On 9/30/08 1:16 PM, "Asana Viebeke Lengkong" <asanasw@indo. net.id <http://net.id/> > wrote:
>
>
>
> 
> HAYOOOOOO mulai deh kritik 'orang bali'..... sekarang kita 'kretek' in orang
> balinya yuk, di jembatani untuk bisa melihat pride nya orang India, tapi saya
> juga nggak sreg kalau orang bali harus seperti orang India.... hehehe
>
> gimana ya caranya????
>>
>> ----- Original Message -----
>>
>> From: Sugi Lanús <mailto:sugilanus@ gmail. com> <mailto:sugilanus@ %20gmail. %20%20%20com> <mailto:sugilanus@ gmail. com> <mailto:sugilanus@ %20gmail. %20%20com>
>>
>> To: bali-bali@yahoogrou ps.com <http://ps.com/>
>>
>> Sent: Tuesday, September 30, 2008 12:57 PM
>>
>> Subject: Re: [bali-bali] THE RISE OF INDIA
>>
>>
>>
>>
>>
>> 
>> Soal naik motor, saya kalau jalan kaki entah di desa atau di Denpasar,
>> biasanya orang yang kenal saya akan berhenti, lalu bertanya: "Ngapain jalan,
>> ayo naik!". Lalu saya jawab: "Saya pingin jalan." Mereka biasanya tak
>> percaya dan memaksa naik.
>>
>>
>>
>> Lihat saja, tak ada orang kerja di Denpasar jalan kaki. Kalau di Denpasar
>> jalan kaki dibilang suba buduh, gila.
>>
>>
>>
>> Ini kisah nyata:
>>
>>
>>
>> Seorang doktor pengajar di Fakultas Sastra Udayana dibilang aneh dan buduh
>> karena pulang pergi jalan kaki. Kata rumor, "Setelah pulang dari kuliah
>> Doktor di India pak X sekarang suba buduh (sdh gila), mejalan gen jani
>> (jalan saja sekarang)!". Padahal saya tahu dia tersadar di India beberapa
>> kilo dia jalan kuliah dengan teman-temannya, dan menyenangkan jalan kaki,
>> lalu dia menyadari selama ini dia manja sekali, dan baliknya ke Bali jalan
>> kaki bolak-balok ke kampus yang hanya 1,5 kilo. Orang bilang dia buduh ikut
>> aliran kebathinan India!
>>
>>
>>
>> Begitulah, orang Bali memang semua "waras" dan tak mau jalan kaki walaupun
>> hanya pergi latihan megong di banjarnya...
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>>
>>> ----- Original Message -----
>>>
>>> From: I Wayan Warmada <mailto:warmada@ mail. ugm.ac.id> <mailto:warmada@ %20mail.% 20%20ugm. ac.id> <mailto:warmada@ mail. ugm.ac.id> <mailto:warmada@ %20mail.% 20ugm.ac. id>
>>>
>>> To: bali-bali@yahoogrou ps.com <http://ps.com/>
>>>
>>> Sent: Tuesday, September 30, 2008 12:32 PM
>>>
>>> Subject: Re: [bali-bali] THE RISE OF INDIA
>>>
>>>
>>>
>>>
>>>
>>> On Tuesday 30 September 2008 08:57, Sugi Lanús wrote:
>>>> >
>>>> > Satu yang jeli dari pengamatan Popo: "....rata-rata orang India, dari
>>>> > kemampuan financial dan intelektualnya, mereka masih hidup sederhana,
>>>> jauh
>>>> > dari glamour. Mereka seringkali kelihatan pacul untuk bicarakan uang
>>>> jutaan
>>>> > dollar. Kalau kita punya ratusan juta rupiah saja sudah mempertontonkan
>>>> > diri penuh kemilau."
>>>
>>> Pan sudah dibuktikan sama presiden India yang ahli fisika nuklir itu,
>>> keluar
>>> istananya cuman bawa 2 koper...:-). Yang menarik lagi (lihat di siaran DW
>>> yang disiarkan MetroTV), orang India yang sudah mapan, pensiun membangun
>>> sekolahan, dia hidup sederhana. Di Indonesia begitu dah diomongin
>>> tetangga...: -). Pergi pakai motor, ditanya kok cuman pakai motor...:-).
>>> Inilah pride yang dimaksud di kita, hik.
>>>
>>> IWW
>>
>>
>
>
____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers. <http://id.answers. /> <http://id.answers. /> <http://id.answers. /> yahoo.com/ <http://yahoo. com/>
____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
Yahoo! Toolbar kini dilengkapi dengan Search Assist. Download sekarang juga.
http://id.toolbar. <http://id.toolbar. /> yahoo.com/ <http://yahoo. com/> <http://id.toolbar. yahoo.com/> <http://id.toolbar. yahoo.com/>
Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru <http://sg.rd. yahoo.com/ id/mail/domainch oice/mail/ signature/ *http://mail. promotions. yahoo.com/ newdomains/ id/> <http://sg.rd. yahoo.com/ id/mail/domainch oice/mail/ signature/ *http://mail. promotions. yahoo.com/ newdomains/ id/>
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. br> Cepat sebelum diambil orang lain!
Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru <http://sg.rd. yahoo.com/ id/mail/domainch oice/mail/ signature/ *http://mail. promotions. yahoo.com/ newdomains/ id/>
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. br> Cepat sebelum diambil orang lain!
Nama baru untuk Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.
Cepat sebelum diambil orang lain! __._,_.___
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___
Tidak ada komentar:
Posting Komentar