Semeton,
Sebagai renungan langkah ke depan.
SALAM.
Nengah Sudja
From:
Sent: Thursday, September 18, 2008 3:35 PM
To: !
Subject: Re.: Lompatan industri pariwisata di
Importance: High
Sabtu, 13/09/2008 09:43 WIB
Lompatan industri pariwisata di Bali sudah kebablasan
oleh : S. Ardiansyah
Gede Kapli, adalah salah satu sosok masyarakat desa Bidong, Datah, Karangasem-Bali. Dia hingga saat ini m
Sementara itu, di sudut Kecamatan Ubud, awal bulan lalu menjadi ajang pertempuran massal antarwarga Banjar Semana, Singekerta, dan warga Ambengan, Sayan. Pemicunya, amarah ratusan
Di bagian lain, satu sudut
Bali tetap 'cantik dan memikat', begitu kata salah satu turis
Artinya menurutnya, adat dan tradisi budaya yang adiluhung, objek wisata yang mempesona, menjadikan Pulau Dewata ini mempunyai magnit kuat menarik wisatawan lokal dan asing.
Pendapat Erick memang tidak salah. Hanya saja jika semua mata ingin melihat Bali, tentunya Bali 'layak dijual mahal', sekaligus menarik dolar lebih banyak untuk menyejahterakan masyakatnya melalui pariwisata.
Tentunya tidak hanya berharap, tetapi perlu sentuhan dan kerja keras serta komitmen semua pihak terkait untuk mengemas, memoles, dan membangun
Namun faktanya, meski sudah memasuki HUT ke-50 Pemerintah Provinsi Bali, dan bersamaan dengan 100 Tahun Kebangkitan Nasional, juga Visit Indonesia Year 2008, serta HUT ke-63 RI, Bali belum bisa mewujudkan hal itu, apalagi berambisi menjadi The Island of God.
Krisis komitmen
Sebenarnya, semua akan sepakat jika dikatakan Bali identik dengan pariwisata, dan setuju juga jika dibilang tidak semua orang di Bali hidup dari industri jasa itu, karena industri pariwisata sampai saat ini hanya dinikmati masyarakat di Kuta, Nusa Dua, dan sejumlah kecil di Gianyar.
Sementara itu, krama Bali yang ada di perdesaan Karangasem, Buleleng, Jembrana, Tabanan, Bangli belum merasakan manisnya 'turis'. Lebih-lebih di Karangasem, sebagian besar masyarakatnya merasakan krisis air, juga Ubud m
Maka tidak salah jika saat ini banyak yang berpendapat karena terbuai dengan pariwisata,
Singkatnya di satu sisi pariwisata layak sebagai leading sector, telah membawa Bali mengalami lompatan struktur ekonomi, dari sekunder yang berbasis agraris menuju tersier yang berbasis jasa.
Memang sebelum bom Bali I dan II lompatan itu ada hasilnya, karena menurut statistik terjadi peningkatan pendapatan, seiring dengan pergeseran dominasi sektor tadi, yaitu pendapatan per kapita penduduk Bali jika pada 1969 hanya Rp16.032, melonjak tajam menjadi Rp2,4 juta lebih pada akhir 2000.
Namun setelah bom
Kemajuan pariwisata di daerah ini setidaknya telah mendongkrak indikator makroekonomi daerah ini, kendati faktanya biaya sosial yang harus dibayar masyarakat
Made Suryawan, mantan Ketua Parasparos dan tokoh masyarakat
Dia mencatat bahwa sampai pertengahan 2008 ini m
Demikian pula pengangguran terbuka dikatakan m
Pernyataan lainnya yang menyadarkan bahwa lompatan pariwisata Bali sudah kebablasan itu adalah dari Ketua Kadin Bali Gde Wiratha, yaitu dari sekitar Rp150 triliun aset pariwisata, hanya 6% milik orang Bali.
Melihat gambaran kesenjangan ekonomi
Yang pasti, komitmen masyarakat
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___
Tidak ada komentar:
Posting Komentar